Kategori: Obituari | Diterbitkan pada: 13-06-2009 |
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakanmu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikanmu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenali….(Q.S. Al-Hujuraat: 13)
ITULAH salahsatu pendorong saya untuk terjun ke dunia broadcast, dan akhirnya mengantarkan saya menjadi seorang penyiar radio. Mulanya saya agak pesimis terhadap kekuatan radio, sehubungan dengan kian maraknya televisi swasta yang menyuguhkan acara-acara menarik. Saya sempat bertanya-tanya, apakah masih ada pendengar radio di zaman ini?
Jawabannya ternyata tetap ada dan sangat banyak. Tentu, jawaban itu saya temukan setelah saya menjalani langsung bersuara di jomantara, dari mulai Radio Burinyay FM (sekarang B FM), Kencana FM, Antassalam FM, dan Shinta Buana FM. Saya sangat menikmati profesi penyiar radio, dan semakin yakin bahwa ada masyarakat yang mendengar suara saya dengan segala kekurangan dan kelemahannya. Sebagai orang yang mencintai seni budaya bangsa, saya selalu meminta untuk mengasuh acara-acara yang berkenaan dengan seni dan budaya bangsa, khususnya Sunda.
Alhamdulillah, dengan menjadi seorang penyiar radio, saya mendapat banyak saudara, meski sebagian besar hanya saling mengenali di udara. Tentu, saya membiarkan hal itu, dengan cara tidak berusaha menemui para penggemar, kecuali pada saat-saat tertentu. Saya ingin membiarkan para pendengar untuk memainkan imajinasinya tentang suara saya, tanpa harus bertemu muka dengan saya. Kalaupun ada pertemuan, saya biarkan pertemuan itu terjadi seperti air yang mengalir, karena jika sudah waktunya bertemu, pasti bertemu juga. Persahabatan atau persaudaraan di udara, pertemuan antara suara dengan suara, ternyata terasa lebih indah. Dalam setiap acara kopi darat, saya sering menghindar atau juga sedikit “bercanda” kepada pendengar. Misalnya, ketika ada seorang pendengar yang datang ke studio menanyakan saya, “Maaf, kalau Kang Dhipa yang mana ya?” Saya jawab sambil menunjuk kepada salahseorang kawan saya. “Oh, Kang Dhipa yang itu…”. Setelah itu, saya segera bersembunyi.
Namun tidak demikian jika ada pendengar yang sakit. Saya selalu berusaha mencari alamatnya, dan menengoknya. Oleh karena itu, pertemuan itu selalu ada. Tidak selamanya saya bisa menghindar dari pertemuan. Dalam berbagai kesempatan, saya pun akhirnya berjumpa langsung dengan para pendengar. Selama siaran di radio, saya pernah dikejar-kejar oleh beberapa pendengar wanita. Diantaranya ada yang mengajak saya untuk umroh ke tanah suci (syaratnya saya harus menikah dengannya), ada yang mau ngasih rumah, ada yang mau ngasih sepeda motor, dan sebagainya. Jujur saja, saya sangat butuh rumah atau sepeda motor, tetapi saya tidak mampu melakukan persyaratannya. Jadi, semuanya tidak saya dapatkan. Beberapa kawan pernah menyindir-nyindir saya sebagai orang yang terlalu ja-im, sombong, dan sebagainya. Tapi… saya tidak peduli. Yang pasti, itulah sikap saya. Saya ingin menjadi orang kaya. Oleh karena itu, saya harus belajar menjadi orang kaya. Saya yakin, belajar menjadi orang kaya adalah lebih banyak memberi daripada menerima. Jika saya pelit dan selalu ingin diberi, maka saya sedang belajar menjadi orang miskin.
**
Suatu hari di Bulan Maret 2007, ketika saya sedang siaran di Radio Antassalam FM Bandung, saya menerima telepon dari seorang ibu bersuara serak, yang saya taksir usianya sekitar 60 tahun lebih. Sebut saja namanya Ambu. Ambu mengatakan bahwa sudah cukup lama menyimak acara yang saya asuh. Dan selanjutnya, setelah menyimak berbulan-bulan, barulah Ambu tertarik untuk menelpon dan berbincang-bincang dengan saya di udara. Selain itu, Ambu pun sangat mengharapkan kedatangan saya ke rumahnya, di Komplek Tirtawening, Cilengkrang 1, Cibiru, Bandung.
Seperti biasa, saya tidak memenuhi undangan dari pendengar radio. Namun setelah berkali-kali Ambu mengontak saya, akhirnya saya mau menurut. Masalahnya, Ambu mengatakan bahwa beliau sedang sakit, dan sebelum meninggal mau bertemu dulu dengan saya. Tentu saja saya kaget, dan keesokan harinya menemui Ambu ke rumahnya. Saya percaya kepada Ambu, karena hampir setiap siaran, selanjutnya Ambu selalu mengomentari tema yang saya bahas dengan cerdas, memperlihatkan cara berpikir yang rapi, dan saya yakin Ambu adalah seorang yang berwawasan luas. Yang lebih penting lagi, saya percaya kalau Ambu sangat mencintai seni budaya Sunda.

Ambu Hj. Tuti Wiartiningsih (1 Januari 1934 – 6 Februari 2009)
Memang, mulanya ada sedikit keraguan. Sebab, saya pernah juga dibohongin oleh seorang pendengar, seorang gadis berusia sekitar 22 tahun bernama S. Mungkin saking ingin bertemunya, dia membuat sebuah strategi yang saya anggap keterlaluan. Saya menerima SMS dari nomornya yang mengaku saudaranya, dan mengabarkan bahwa S telah meninggal dunia. Kontan saya sangat kaget, dan langsung mengucapkan Innalillahi wa inna illaihi rozi’un. Saya menanyakan alamat S kepada saudaranya. Dan setelah itu, saya langsung menuju ke rumahnya. Sekali lagi, keterlaluan! Sebab, S masih hidup dan sehat walapiat.
Bagaimana dengan Ambu? Tidak demikian dengan Ambu. Sebab, Ambu memang sudah sepuh dan benar-benar ingin bersilaturahmi. Nama aslinya adalah Hj. Tuti Wiartiningsih (l. Bandung, 1 Januari 1934). Sehari-harinya memang lebih dikenal Ambu. Beliau adalah pensiunan dosen di Sekolah Guru Pendidikan Luar Biasa (SGPLB). Ambu tidak mempunyai anak kandung, tetapi punya beberapa orang anak angkat. Suaminya telah lebih dulu dipanggil Yang Maha Kuasa.
Saya disambut dengan ramah oleh Ambu dan anak-anak angkatnya. Sebagai orang yang jauh dari ibu, tentu saya sangat terharu mendapat perlakuan istimewa, yang penuh kasih sayang, tampak tulus, dan bergembira. Dan saya benar-benar kaget ketika Ambu mengatakan bahwa beliau telah menyiapkan uang Rp 5.000.000,- untuk saya. “Ambu tidak punya apa-apa. Tapi Ambu punya simpanan uang 5 juta, mudah-mudahan bermanfaat…” demikian kata Ambu.
“Ambu, mohon maaf yang sebesar-besarnya, dan bukan berarti saya menolak rezeki. Namun, saya tidak biasa menerima uang yang bukan hasil keringat saya. Lebih baik, uang Ambu diberikan kepada orang yang lebih membutuhkan…” jawab saya. Memang, sejujurnya saya sedang butuh uang untuk bayar kost dan tunggakan SPP. Tapi… saya benar-benar tidak berani menerima uang itu. Bagi saya, uang Rp 5 juta itu jumlahnya sangat besar. Saya butuh waktu berbulan-bulan untuk bisa mengumpulkan uang Rp 5 juta.
Ambu termenung beberapa saat. Kemudian berkata lagi, “Dhipa kan seorang penulis. Jadi, Ambu mau minta tolong untuk mengumpulkan data-data tentang ‘kaulinan barudak’ beserta poto-potonya. Ambu mau menulis buku ‘kaulinan barudak’, karena Ambu sudah mengumpulkannya sejak dulu. Ambu ingin sekali membuat buku itu…”
“Nah, kalau itu, sangat saya dukung, Ambu. Saya pasti dengan senang hati mau mencari bahan-bahan lainnya dan poto-poto ‘kaulinan barudak’ untuk Ambu. Bahkan saya siap mengedit tulisan Ambu dan memperjuangkannya agar dimuat dulu di media massa. Tapi, uang Rp 5 Juta terlalu banyak. Saya hanya butuh sekitar satu atau dua juta saja…” jawa saya.
“Kalau begitu, sumbangkan saja sebagian ke Majalah Bina Da’wah dan Cupumanik. Orang tua Ambu dulu sangat suka dengan Majalah Bina Da’wah. Atur saja oleh Dhipa…” begitu kata Ambu.
Kalau sudah jelas, saya pun menerima uang tersebut. Selanjutnya saya berikan kepada Majalah Bina Da’wah Rp 2 Juta dan Majalah Cupumanik Rp 1,5 Juta (Saat itu, saya masih bekerja di Majalah Bina Da’wah sebagai Redaktur Pelaksana, dengan gaji Rp 250.000/ bulan). Untuk uang yang disumbangkan ke majalah, saya tidak berurusan lagi. Tanggungjawab saya hanya memberdayakan Rp 1,5 juta untuk mencari bahan dan foto ‘kaulinan barudak’. Dan saya telah melakukannya dengan segala kekurangan dan kelemahan yang saya miliki. Tulisan-tulisan Ambu telah saya sunting, ditambah dengan bahan-bahan dari saya, juga poto-potonya. Lalu saya kirimkan ke Koran Sunda, dan dimuat secara bersambung. Ambu mengatakan bahwa beliau sangat puas dan sangat bahagia melihat tulisan-tulisannya dimuat di Koran Sunda. Sayang sekali, Koran Sunda kini telah tiada. Bahkan saya tidak sempat mengambilkan honor tulisan ‘kaulinan barudak’ di Koran Sunda. Tapi tidak apa-apa, karena Ambu tidak mempersoalkan honor tulisan.
Sejak itu, Ambu sering memanggil saya ke rumahnya, untuk sekedar memberi makan atau bertukar pikiran mengenai berbagai persoalan yang tengah dihadapi Ambu. Misalnya, masalah rumah Ambu yang sudah diwakafkan kepada Rumah Sakit Al-Islam, untuk kemudian dijadikan “Poliklinik Tirtawening”. Sidang ikrar wakaf berlangsung pada 27 Ramadhan 1424 H. Sayang sekali, baru saja berlangsung satu tahun, Ambu menerima surat resmi dari RS. AL-Islam yang menyatakan bahwa Poliklinik Tirtawening ditutup, dengan alasan belum bisa memberikan pelayanan yang optimal. Ditutup dengan batas waktu yang tidak bisa ditentukan.
Saya tidak habis pikir dengan alasan RS. Al-Islam: “belum bisa memberikan pelayanan yang optimal”. Apakah dengan cara ditutup akan bisa memberikan pelayanan yang optimal? Lucu juga. Lalu, Ambu menyarankan agar saya menulis persoalan tersebut di media massa. Ya, saya pun menyampaikan keluh-kesah Ambu melalui tulisan berjudul KONFLIK POLIKLINIK, yang secara khusus saya sampaikan kepada dr. Rustama dan direksi Rumah Sakit Al-Islam. Saya menulisnya dalam bahasa Sunda, dan dimuat di Majalah Cupumanik Edisi April 2007. Namun, sama sekali tidak ada tanggapan dari pihak RS. Al-Islam. Bisa jadi, mereka tidak mengerti bahasa Sunda, atau tidak punya waktu untuk menanggapi tulisan saya. Tapi saya tidak memikirkan tanggapan, karena itu merupakan hak mereka. Sebagai penulis, tugas saya hanya menulis.
Saya telah menganggap Ambu sebagai ibu saya sendiri. Ambu pernah menyuruh saya untuk menempati salahsatu kamar di rumahnya. “Daripada kost, mendingan tinggal di sini saja…” demikian kata Ambu. Tentu saya menolak, karena di tempat tinggal Ambu tidak boleh ada asap rokok. Sedangkan saya adaalh perokok berat. Selain itu, di sana pun ada seorang anak angkatnya yang masih gadis, baru kelas III SMP. Kalau saya tinggal disana, khawatir menjadikan fitnah.
Setelah anak angkat Ambu lulus SMP, Ambu merasa khawatir pada anak angkatnya itu. Ambu mau membelikan saya sebuah sepeda motor, dengan catatan saya harus antar-jemput anak angkatnya. Jelas saya tidak mungkin melakukannya, karena saya sering kesiangan bangun. Jadi, saya pun menolaknya. Setelah saya menolak, kemudian Ambu meminta saya untuk merekomendasukan seorang laki-laki yang bisa dipercaya, untuk mengantar-jemput sekolah anak angkatnya. Motornya tetap akan diberikan, asalkan benar-benar melaksanakan kewajiban dengan baik, yakni mengantar-jemput anaknya. Saya agak bingung memikirkan hal itu, karena rata-rata sahabat saya tidak bisa tepat waktu dan sulit bangun pagi-pagi (pagi-pagi justru baru mau tidur). Misalnya Miftahul Malik, Agus Bebeng, Apip Chatrix, dan yang lainnya, tidak mungkin bisa melakukan hal itu. Belum lagi persoalan cunihin yang sulit disembuhkan. Sempat terbesit untuk merekomendasikan Rizal Jajurig, yang kebetulan selalu nganggur dan bisa bangun pagi-pagi. Tapi… saya tidak bisa menjamin kalau dia konsisten selama tiga tahun, karena terlalu hobi keluyuran. Dia pernah pinjam motor, bilangnya satu hari, tapi kenyataannya dua minggu baru dikembalikan. Masih untung kalau cuma motor yang menghilang. Kalau anak angkatnya Ambu turut menghilang, bisa berabe persoalannya. Jadi, akhirnya… saya putuskan untuk tidak merekomendasikan siapa-siapa.
Dan banyak lagi kenangan bersama Ambu yang tidak mungkin terlupakan. Yang pasti, Ambu adalah seorang yang sangat keibuan, humoris, bijaksana, penyayang, dan sangat patut menjadi suri taulanan. Rabu, 10 Juni 2009, ketika saya sedang menghadiri Pembagian Hadiah Sastra Rancage di Erasmus Huis (Kedutaan Besar Belanda), Jakarta, saya menerima telepon dari anak angkat Ambu. Ia mengabarkan bahwa Ambu telah meninggal dunia… Innalillahi wa Inna Illaihi Rozi’un…
Pada hari itu, merupakan hari keseratus meninggalnya Ambu. Berarti, Ambu meninggal dunia pada 6 Februari 2009. Sungguh saya merasa sangat berdosa, karena sudah berbulan-bulan tidak sempat menengok Ambu. Terkahir kali bertemu Ambu, ketika saya mengantar ke Rumah Sakit Boromios, sekitar akhir 2008. Setelah itu, saya benar-benar tidak sempat menengoknya lagi, berkenaan dengan berbagai kesibukan yang tiada berujung.
Allohu Akbar… Innalillahi wa inna ilaihi rozi’un… Maafkan saya, Ambu. Saya anak yang tidak tahu berbalas budi. Maafkan saya yang tidak sempat menemui Ambu selama berbulan-bulan… sungguh saya anak yang tidak tahu berterimakasih. Namun, saya akan menebusnya dengan selalu mendo’akan Ambu. Semoga Ambu mendapat tempat yang mulia mungguhing Alloh SWT. Semoga amal kebaikan Ambu diterima Allah SWT, dan menjadi bekal Ambu dalam meraih kebahagiaan yang kekal. Semoga Alloh SWT juga mengampuni dosa-dosa Ambu… Amiiin ya Allah… yaa robbal ‘alamiin…***
DHIPA GALUH PURBA








Isi artikel ini menyentuh hatiku. Karena istriku yang pertama, R. Enden Lulu Ruwaida adalah seorang guru juga, almarhumah meninggal karena sakit tumor timoma di Garut tanggal 30 Mei 2005 dalam usia muda 34 tahun. Innalillahi wainnalillahi rojiun.