Kategori: Kemuning | Diterbitkan pada: 01-09-2009 |


Dari relung kalbu terdahulu yang menggebu di sepanjang waktu, kita tahu bahwa sesungguhnya tidak ada yang palsu dari setiap tatapan mata, hembusan nafas, wangi, keluh-kesah, dan sentuhan jemari yang bergetar, menghantarkan debar-debar detak dalam dada. Semua telah bangkitkan gairah dan gelora semangat untuk menyongsong hari esok yang cerah, merah bak bibirmu yang kadang tersenyum jujur dan kadang pula mencoba memainkan sandiwara rona yang menampilkan bibirmu sebagai salahsatu aktor utama.  Aku tahu dan dapat membedakan segala kata yang terucap, karena apapun yang terucap tak dapat merubah konsekwensi dari segala sikap dan gairah. Itu sebabnya aku sudah terbiasa dengan sandiwara rona, dan terbiasa pula dengan sentuhan damai dan keteduhan sepasang matamu yang tak lulus teater. Kita telah lalui jalan yang tanpa kita sadari, semua itu adalah tujuan dan kebahagiaan, dan biarkan caci-maki itu sebagai penghibur kesunyian yang selalu mencekam, membuat hati kita berdebar-debar setiap kali melepas asa dan membunuh putus asa. Kita telah bersama, bahagia, merantai kasih murni, semurni namamu, untuk buktikan bahwa sebenarnya kita telah saling menyinta sejak 19 tahun silam. Arin, kupanggil namamu! Sekokoh apapun, tembok penghalang itu harus dihancurkan, runtuhkan! Atas nama cinta yang bergelora sejak 19 tahun silam…

Arin… sungguh tak kuasa menuntaskan kata-kata kisah kita. Kupanggil namamu, Arin. Kata-kataku telah kaku dan mati.