Statistik

≈ Tulisan: 1701 tulisan
≈ Kategori: 32 kategori
≈ Komentar: 12062 komentar
≈ Hit: 2.104.777 kali

Kingkilaban

Katumbiri

Taman Sekar

Arsip: Artikel Indonesia

Kategori: Artikel Indonesia | Diterbitkan pada: 03-02-2012 | Tak ada komentar »

Catatan Kecil DHIPA GALUH PURBA

Dalam konsep saya, Anugerah IKAPI Jabar merupakan sebuah penghargaan dari IKAPI Jabar untuk tokoh atau lembaga yang dinilai memiliki peran yang besar dalam meningkatkan minat baca masyarakat. Penghargaan tersebut berupa piagam dan uang tunai sebesar satu juta rupiah. Saya menyarankan agar setiap kali IKAPI Jabar mengadakan pameran buku, jangan pernah melewatkan penyerahan anugerah tersebut. Saya sendiri terinspirasi oleh Kang Ajip Rosidi, Ketua IKAPI pertama, yang kini senantiasa konsisten setiap tahun memberikan Hadiah Sastra Rancage kepada para pengarang sastra Sunda, Jawa, Bali, dan Lampung. Termasuk Hadiah Rancagé kepada tokoh atau lembaga yang dipandang memiliki jasa besar dalam kehidupan sastra Sunda, Jawa, Bali, dan Lampung.

Kategori: Artikel Indonesia | Diterbitkan pada: 27-09-2011 | Tak ada komentar »

Catatan Kecil DHIPA GALUH PURBA

Jika raja musyrik yang jelas-jelas tuli masih punya nurani untuk mengentaskan kemiskinan, apalagi seorang raja yang merasa dirinya tidak musyrik. Khalifah Abu Jafar Al-Manshur pernah marah besar, ketika beliau dituduh sebagai khalifah yang rakus dan tidak memperhatikan rakyat miskin. Namun beliau segera merasa malu dan menyadari kekeliruannya, setelah kritikus itu membandingkannya dengan kebijakan raja Majusi. Tentunya Khalifah Abu Jafar Al-Manshur tidak ikut-ikutan menyuruh rakyat miskin dan teraniaya mengenakan baju berwarna merah. Masih banyak warna lain di dunia ini, selain warna merah. Seperti juga masih banyak cara lain untuk mengatasi kemiskinan, selain membagi-bagikan uang secara langsung, apalagi tujuannya hanya sekedar pencitraan menjelang pemilu.

Kategori: Artikel Indonesia | Diterbitkan pada: 27-09-2011 | 1 Komentar »

Catatan Kecil DHIPA GALUH PURBA

Menjelang hari pertama bulan puasa, ada tradisi munggah yang sampai saat ini masih dipelihara baik di desa maupun di kota. Munggah berasal dari kata “unggah”, yang artinya mengawali sebuah pekerjaan (dari bawah ke atas, dari kecil menuju besar, dari hitungan 1 sampai…). Kata munggah memang sangat akrab dengan Islam, seperti juga dapat ditemui pada ibadah munggah haji. Biasanya pada malam munggah, anggota keluarga yang merantau pun menyempatkan diri untuk pulang dan berkumpul bersama sanak keluarga. Munggah bukan sekedar sahur bersama. Di sana ada silaturahmi, berdo’a bersama, saling mengingatkan untuk membersihkan diri, dan ada pula yang mengamalkan sidekah munggah (sedekah pada sehari menjelang bulan Puasa). Tentu sedekah di Bulan Ramadhan merupakan perbuatan mulia, sebagaimana menurut riwayat Al-Baihaqi, dari Aisyah radhiallahu ‘anha, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, jika masuk bulan Ramadhan membebaskan setiap tawanan dan memberi setiap orang yang meminta.”

Kategori: Artikel Indonesia | Diterbitkan pada: 14-07-2011 | 3 Komentar »

Oleh DHIPA GALUH PURBA

DARI mana datangnya cinta, dari mata turun ke hati. Dari mana datangnya Sunda, dari hati naik ke mana-mana. Dari mana Us Tiarsa memiliki data tentang bahasa Sunda semakin ditinggalkan para penuturnya, terutama kaum remaja? Dan dari sinilah tulisan ini bermula, berkenaan dengan pernyataan Us Tiarsa yang dimuat di sebuah koran Jawa Barat, beberapa pekan yang lalu.

Kategori: Artikel Indonesia | Diterbitkan pada: 14-07-2011 | Tak ada komentar »

Oleh DADAN SUTISNA

Sejak pendiriannya, LBSS telah delapan kali mengadakan KBS, dan tahun ini yang kesembilan. KBS I sampai IV diadakan di Bandung, yaitu tahun 1954, 1956, 1958, dan 1961. Dari empat kongres tersebut, rekomendasi yang paling nyata adalah dibukanya Jurusan Sastra Sunda di Unpad dan UPI, penyusunan pedoman ejaan bahasa Sunda dan penyusunan Kamus Umum Bahasa Sunda. Selain itu, diterbitkan pula buku-buku yang berkaitan dengan bahasa dan sastra Sunda.

Kategori: Artikel Indonesia | Diterbitkan pada: 14-07-2011 | Tak ada komentar »

Oleh DJASEPUDIN

Pertama, KBS kurang sosialiasi. Kabar akan berlansungnya kongres memang sudah mengemuka sekitar empat minggu kebelekang. Namun, ketika saya menanyakan kabar itu kepada beberapa aktivis kesundaan dan wartawan di seputar Bandung banyak yang tidak engeuh. Malah, wartawan sekaligus aktivis kesundaan Dhipa Galuh Purba mah hanya menjawab “teu nyaho nanaon, apalna ogé kakara ayeuna”.

Kategori: Artikel Indonesia | Diterbitkan pada: 14-07-2011 | 1 Komentar »

Oleh DADAN SUTISNA

Di Indonesia sendiri terdapat 13 bahasa ibu yang jumlah penuturnya di atas satu juta, yaitu Jawa (75 juta), Sunda (27 juta), Indonesia (17 juta), Madura (13 juta), Minangkabau (6,5 juta), Bali (3,8 juta), Bugis (3,5 juta), Aceh (3 juta), Betawi (2,7 juta), Sasak (2,1 juta), Batak Toba (2 juta), Makasar (1,6 juta), dan Batak Dairi (1,2 juta).

Kategori: Artikel Indonesia | Diterbitkan pada: 14-07-2011 | Tak ada komentar »

Oleh DHIPA GALUH PURBA

Iip telah berupaya untuk mengalihkan bahasa, dengan tetap mempertahankan rasa kesundaan, dan tanpa harus kehilangan saripati dari sajak-sajak Godi. Sebagai penerjemah, tampak Iip menempatkan posisinya secara netral. Dari 29 sajak Godi yang diterjemahkan, tampak tidak ada upaya penerjemah untuk memperindah apalagi memperburuk sajak-sajak Godi. Benar ada beberapa kata yang dihilangkan, sebagaimana yang dipersoalkan Soni, tetapi penerjemah tampak memiliki banyak pertimbangan untuk memutuskan hal tersebut.

Kategori: Artikel Indonesia | Diterbitkan pada: 14-07-2011 | Tak ada komentar »

Oleh B.F. SYARIFUDIN

Pada posisi mana Iip dalam menerjemahkan Sajak Dongeng Si Ujang ini? Menurut hemat penulis, Iip berada pada posisi di tengah itu, dia memosisikan dirinya pada penerjemah yang menilai antologi puisi tersebut pada posisi yang sesuai dengan bentuk puisi asalnya. Sebagaimana penyairnya sendiri (Godi Suwarna) bilang, bahwa proses penulisan puisi SDSU ini, dia memosisikan dirinya sebagai kanak-kanak (sudut pandang si ujang). Kita bisa lihat pada bentuk sajak-sajaknya, pada pola-pola kalimat yang dipakainya sebagaimana Bambang Q-Anees dalam prolog dari buku tersebut mengatakan bahwa dalam sajak-sajaknya Godi Suwarna menampilkan bahasa permainan kanak-kanak untuk kritik sosial.

Pencarian


InstaForex