Statistik

≈ Tulisan: 1701 tulisan
≈ Kategori: 32 kategori
≈ Komentar: 12062 komentar
≈ Hit: 2.104.824 kali

Kingkilaban

Katumbiri

Taman Sekar

Arsip: Cahaya Ilahi

Kategori: Cahaya Ilahi | Diterbitkan pada: 24-09-2008 | 1 Komentar »

Ku Asep Salahudin

“Hey sakabeh manusa, bulan Alloh nu kebek pinuh ku rohmat jeung pangampura geus ngarongheap. Hiji bulan pangonjoyna di antara sawelas bulan sejenna. Beurangna beurang petingan, peutingna peuting panghadena, pon kitu deui waktuna estuning waktu-waktu pinilih. Di bulan ieu, Alloh langsung ngulem kaum muslimin. Aranjeunna teh estuning tamu istimewa nu ngahaja kenging pangulem Manten-Na. Renghap napas aranjeunna di ieu bulan baris diajenan ku pahala. Nya di bulan ieu pisan, sagala amal ibadah jeung dunga-dunga aranjeun bakal ditarima….”

Kategori: Cahaya Ilahi | Diterbitkan pada: 24-09-2008 | Tak ada komentar »

Ku Asep Salahudin

Sakumaha nu geus kauninga, salah sahiji misi kanabian teh nyaeta ngadidik jeung ngatik masarakat dina raraga nyiapkeun sumber daya manusa nu mibanda kaparigelan, boh anu aya pancakakina jeung akal pikiran boh nu aya patalina jeung emosi. Lengkah sareng tarekah nu dilaksanakeun ku Kanjeng Nabi Muhammad SAW tangtos kalintang saena dijantenkeun tuludan ku urang sadaya.

Kategori: Cahaya Ilahi | Diterbitkan pada: 07-09-2008 | Tak ada komentar »

Oleh Dr. H. Ahmad Hasan Ridwan, M.Ag

Pelaksanaan shaum bertujuan untuk mencapai derajat ketakwaan, yaitu agar umat Islam belajar melaksanakan apa yang diperintahkan dan menghindari perbuatan yang dilarang Allah SWT. karena itu, pencapaian derajat ketakwaan ditentukan oleh kemampuan menjaga diri dan meinternalisasikan sikap menahan (al-Imsak) yang tidak hanya menahan diri dari makan minum dan jima, tetapi menahan secara ekstra psikologis terhadap segala bentuk perbuatan dosa (munkar) dan tidak baik (fakhsya).

Kategori: Cahaya Ilahi | Diterbitkan pada: 07-09-2008 | Tak ada komentar »

Oleh karena itu termasuk sebagian ungkapan rasa syukur seorang hamba atas pertolongan dan ampunan yang telah dianugerahkan kepadanya adalah dengan berpuasa setelah Ramadhan. Tetapi jika ia malah menggantinya dengan perbuatan maksiat maka ia termasuk kelompok orang yang membalas kenikmatan dengan kekufuran. Apabila ia berniat pada saat melakukan puasa untuk kembali melakukan maksiat lagi, maka puasanya tidak akan terkabul, ia bagaikan orang yang membangun sebuah bangunan megah lantas menghancurkannya kembali.

Kategori: Cahaya Ilahi | Diterbitkan pada: 06-09-2008 | Tak ada komentar »

Sebagian manusia dibebaskan dari Neraka padahal dengan berbagai dosanya ia semestinya masuk Neraka, maka Allah mensyari’atkan bagi mereka hari Raya setelah menyempurnakan puasanya, untuk bersyukur kepada Allah, berdzikir dan bertakbir atas petunjuk dan syari’at-Nya berupa shalat dan sedekah pada hari Raya tersebut.

Kategori: Cahaya Ilahi | Diterbitkan pada: 06-09-2008 | Tak ada komentar »

“Barangsiapa yang mengeluarkannya sebelum shalat ‘Id, maka zakatnya diterima, dan barang siapa yang membayarkannya setelah shalat ‘Id maka ia adalah sedekah biasa. “(HR. Abu Daud dan Ibnu Majah)
(Dan diriwayatkan pula Al Hakim, beliau berkata : shahih menurut kriteria Imam Al-Bukhari.)

Kategori: Cahaya Ilahi | Diterbitkan pada: 06-09-2008 | Tak ada komentar »

Ketika ditanya oleh seorang wanita: “Wahai Rasulullah, ibu saya telah meninggal sedangkan ia berhutang puasa nadzar, bolehkah saya berpuasa untuknya? Beliau menjawab :
“Bagaimana pendapatmu jika ibumu memiliki tanggungan hutang lantas kamu lunasi, bukankah itu membuat lunas hutangnya? la berkata, ‘Benar’.

Kategori: Cahaya Ilahi | Diterbitkan pada: 06-09-2008 | Tak ada komentar »

Wahai para pendosa -demikian halnya kita semua, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah, karena perbuatan-perbuatan jelekmu. Alangkah banyak orang sepertimu yangdibebaskan dari Neraka dalam bulan ini, berprasangka baiklah terhadap Tuhanmu dan bertaubatlah atas segala dosamu, karena sesungguhnya Allah tidak akan membinasakan seseorang pun melainkan karena ia membinasakan dirinya sendiri.

Kategori: Cahaya Ilahi | Diterbitkan pada: 06-09-2008 | Tak ada komentar »

Ia wajib meminta ampun kepada Allah dari segala dosa. Jika ia bertaubat dari sebagian dosa, maka taubat itu diterima di sisi Allah, dan dosa-dosanya yang lain masih tetap ada. Banyak sekali dalil-dalil dari Al-Qur’an, Sunnah dan Ijma’ yang menunjukkan wajibnya melakukan taubat. Dalil-dalil yang dimaksud telah kita uraikan di muka. Allah menyeru kita untuk bertaubat dan ber-istighfar, Ia menjanjikan untuk mengampuni dan menerima taubat kita, merahmati kita manakala kita bertaubat kepada-Nya serta mengampuni dosa-dosa kita, dan sungguh Allah tidak mengingkari janji-Nya.

Pencarian


InstaForex