Arsip: Kemuning
Kategori: Kemuning | Diterbitkan pada: 01-09-2009 | 1 Komentar »
kita tahu bahwa sesungguhnya tidak ada yang palsu dari setiap tatapan mata, hembusan nafas, wangi, keluh-kesah, dan sentuhan jemari yang bergetar, menghantarkan debar-debar detak dalam dada. Semua telah bangkitkan gairah dan gelora semangat untuk menyongsong hari esok yang cerah, merah bak bibirmu yang kadang tersenyum jujur dan kadang pula mencoba memainkan sandiwara rona yang menampilkan bibirmu sebagai salahsatu aktor utama.
Kategori: Kemuning | Diterbitkan pada: 30-06-2009 | Tak ada komentar »
Aku ikhlas membiarkannya… bahkan mendo’akannya… dan kuanggap ia sedang menjalankan tugas mulia. Sebagai orang yang sedang menjalankan tugas mulia, ia bias kembali, bias juga tidak akan pernah kembali. Tapi biarlah… setidaknya aku begitu merasakan kebahagiaan yang berselimutkan harapan. Kebahagiaan yang tiada duanya. Harapan yang bersemangat, hidup, dalam setiap detak langkah. Aku sangat berharap, ia kembali, dan bias menggapai harapan itu. Jika tidak, aku tetap akan mencoba untuk berbahagia menyaksikan angin, air, bumi, langit, dan semuanya: mengetahui arti sebuah kesendirian dan betapa agung cinta yang sesungguhnya.
Kategori: Kemuning | Diterbitkan pada: 01-06-2009 | 3 Komentar »
Catatan Kecil DHIPA GALUH PURBA
Pada suatu hari, sahabat dan kakak angkat saya, Pipiet Senja, memperkenalkan saya dengan seorang penulis bernama Syaeful G. Waton. Katanya, Syaeful sedang membutuhkan naskah skenario untuk sinetron “Kampung Dangdut”, yang akan dimainkan oleh Rhoma Irama. Ya Alloh, inikah jalan yang akan mempertemukan saya dengan Rhoma Irama dalam sebuah garapan yang idamkan? Setelah saya mendapat arahan tentang naskah yang harus saya susun, saya langsung membikin treatmen untuk beberapa episode, dan bahkan langsung menyusun menjadi skenario yang siap pakai. Betapa bersemangatnya saya saat itu, karena jalan yang saya tunggu-tunggu selama bertahun-tahun, akhirnya telah tampak, meski belum terbuka. Saya sudah lebih dulu bermimpi naskah saya digunakan dan diajak main pula dalam garapan tersebut.
Kategori: Kemuning | Diterbitkan pada: 01-06-2009 | 2 Komentar »
Catatan Kecil DHIPA GALUH PURBA
Dan pada saat duduk di bangku SMA, keinginan saya untuk bertemu Rhoma Irama telah terkabul. Pada hari Minggu, 6 November 1994, Rhoma Irama dan KH. Zaenuddin MZ menggelar konser bertajuk “Nada dan Da’wah” di Stadion Siliwangi Bandung. Hari itu, saya sangat berseri-seri, karena mau menonton Rhoma Irama. Saya berangkat sendirian, membeli karcis (tidak norobos lagi), dan menyaksikan idola saya di tengah terik matahari. Serasa bermimpi menyaksikan Rhoma Irama, yang sejak duduk di bangku SD begitu diidolakan. Tidak terasa, saya pun meneteskan beberapa titik air mata. Saya sangat bahagia, karena ternyata stadion Siliwangi sangat dipadati penggemar Rhoma Irama.
Kategori: Kemuning | Diterbitkan pada: 01-06-2009 | 3 Komentar »
Catatan Kecil DHIPA GALUH PURBA
Di kelas saya, ada seorang kawan yang tergila-gila pada lagu rock metal. Namanya Dani Sugandi. Itulah saingan saya selanjutnya, karena Maman kebetulan ditempatkan di kelas lain. Bahkan persaingan dengan Dani tidak hanya ketika menyanyi di depan kelas. Sebab, dalam setiap perbincangan tentang musik, kami sering berdebat. Dan puncaknya, terjadilah perkelahian saya dan D, karena saya tersinggung ketika D mencemooh lagu-lagu Rhoma Irama. Perkelahian itu terjadi sepulang sekolah, di dekat pintu gerbang SMPN Panjalu. Tentu, sangat menyita perhatian kawan-kawan lainnya. Ada yang langsung melerai, dan ada pula yang malah berhamburan menjauh dari kami. Dan mungkin saja saat itu kawan-kawan saya menertawakan, setelah mengetahui duduk persoalan yang mengakibatkan perkelahian saya dan D, yakni: saya tersinggung gara-gara D mencemooh lagu Rhoma Irama.
Kategori: Kemuning | Diterbitkan pada: 01-11-2008 | Tak ada komentar »

Kategori: Kemuning | Diterbitkan pada: 21-08-2008 | 6 Komentar »
Tiba-tiba ia yang mengajak beristirahat, beberapa meter sebelum sampai ke Curug Satu. Tapi bukan karena lelah, melainkan ingin menikmati suasana di tempat tersebut yang begitu sejuk. Pohon rindang menjadi tempatnya bersandar, angin tingtrim membelai rambutnya. Betapa indahnya alam Curug Tujuh. Kami berbagi cerita, merenung, dan merasakan berbagai gejolak di dalam jiwa. Tak ada rasa lelah seperti yang saya rasakan ketika naik gunung Ciharum bersama Dadan Sutisna. Tidak ada! Yang ada hanya kesejukan, kedamaian, keindahan.
Kategori: Kemuning | Diterbitkan pada: 15-08-2008 | 6 Komentar »
Serangan mag kali ini terasa lebih dahsyat. Dari jam 10.00 WIB sampai jam 14.00, saya masih merasakan sakit yang luar biasa. Akhirnya saya teringat kisah pertama kali terserang mag di Rental Cygnus. Solusinya adalah berbaring tanpa bergerak, dengan kedua tangan di atas dada. Kali ini, saya benar-benar sulit untuk bernafas, sehingga saya mulai komat-kamit membaca ayat-ayat Alloh, dan bersiap jika saya harus tutup usia. Selain membaca ayat-ayat Alloh, bibir saya pun bergetar memohon maaf kepada ibu saya, keluarga saya, saudara-saudara saya, sahabat-sahabat saya, atas segala kesalahan yang terasa dan tidak terasa. Tiba-tiba sayup-sayup terdengar suara Heri (seorang karyawan Cupumanik) mengaji Al-Quran. Saya semakin yakin, bahwa mungkin saat itulah akhir dari hidup saya. Dan saya sudah pasrah, karena bernafas pun sangat sakit. “Allohu Akbar… saya orang yang bergelimang dosa, telah siap menghadap-Mu, jika saat ini saya harus berpulang… Subhannalloh… subhannaloh… Astaghfirullohal adzim… Allohu Akbar… Ya Alloh ampuni dosa-dosa saya. Saya tidak pernah korupsi, kecuali darmaji waktu SMP. Saya tidak pernah menganiaya orang lain, kecuali berkelahi dan pernah menang, pernah juga kalah berlumur darah. Ampuni saya ya Alloh, saya pernah berpacaran dengan dua orang wanita dalam waktu yang bersamaan. Ya Alloh… saya bukan ahli surga, tapi tidak mungkin kuat jika dimasukan ke dalam neraka…” itulah beberapa hal yang sempat terucap di hati saya.
Kategori: Kemuning | Diterbitkan pada: 15-03-2008 | 4 Komentar »

Sejenak Ching-Ching tertegun sambil menatap saya. Dia seperti tengah berpikir keras. Tapi… entah berpikir apa. Yang pasti, sore hari, ketika saya mau pulang, Ching-Ching mengajak bicara dengan serius. Saya lupa lagi detail pembicaraannya. Yang pasti, Ching-Ching “mem-PHK” saya, dan menyuruh saya untuk melanjutkan sekolah. Ching-Ching memberi uang yang cukup banyak untuk ukuran anak SMP, rasanya lebih besar dari upah sebulan bekerja sebagai tukang aspal.