Statistik

≈ Tulisan: 1701 tulisan
≈ Kategori: 32 kategori
≈ Komentar: 12062 komentar
≈ Hit: 2.104.947 kali

Kingkilaban

Katumbiri

Taman Sekar

Arsip: Cerpen Indonesia

Kategori: Cerpen Indonesia | Diterbitkan pada: 17-04-2009 | 2 Komentar »

Oleh Marissa Haque Fawzi

Tiba-tiba dunia terasa semakin kelam dari malam sesungguhnya. Aminah tak mampu lagi bernafas. Namun ia masih berusaha menghirup udara sebanyak-banyaknya. Dalam lemahnya ia berdoa: “La ilaha Illa anta subhanaka inni kuntu minadz dzalimiin.” Yang artinya ‘Maha suci Engkau, Maha Mulia Engkau, hamba ini seorang aniaya’ (doa Nabi Yunus ketika diperut ikan Paus). Tidak ada tempat lain untuk berlindung serta memohon pertolongan kecuali kepada Nya.

Kategori: Cerpen Indonesia | Diterbitkan pada: 20-11-2008 | 1 Komentar »

Oleh DHIPA GALUH PURBA

Ketika aku sedang mengafresiasi kenikmatan goreng bala-bala, gadis itu tiba-tiba datang dan duduk di sampingku; mengenakan kaos ketat dan rok mini, satu jengkal di atas lututnya. Tentu saja kedua mataku secara replek pula mencuri pandang ke arah wajahnya. Tampak matanya masih merah, seperti yang baru bangun tidur. Namun permukaan wajahnya sudah ditebali make-up. Tidak ketinggalan, hidungku segera melaporkan semerbak aroma yang menyengat.

Kategori: Cerpen Indonesia | Diterbitkan pada: 20-11-2008 | 3 Komentar »

Cerpen RIEKE DIAH PITALOKA

Setiap pagi, bila langit sedang bahagia, kalangkang gunung menyerung kota kecil itu. Warnanya lebih tua dari langit, meski sama-sama biru. Saat matahari menggeliat, raut pegunungan ikut merona. Lekuk-lekuk ngarai ditutup rerimbun hijau bagai pinggang dan pinggul gadis-gadis menari.

Kategori: Cerpen Indonesia | Diterbitkan pada: 24-09-2008 | 2 Komentar »

Cerpen DHIPA GALUH PURBA

Masuk ke Jalan Simpang Dukuh. Sampailah ke pesisian sungai Kalimas. Airnya mengalir dengan tenang. Tidak bening, malah kotor, namun pohon-pohon yang menghiasi sepanjang sungai, membawa suasana yang sejuk dan segar. Di sebrangnya pun terdapat sebuah taman bunga yang terlihat begitu indahnya. Walau malam hari, ditambah dengan mendungnya langit, tapi keasriannya tetap terlihat dan terasa. Lampu yang remang-remang di taman Kalimas, sepertinya masih dianggap terlalu terang. Sebab beberapa pasang manusia malah bersembunyi dibawah pohon yang cukup rindang, atau di tempat yang lebih gelap lagi.

Kategori: Cerpen Indonesia | Diterbitkan pada: 24-07-2008 | Tak ada komentar »

Berita besar. Tentu saja, sebab untuk pertama kalinya hampir semua pemuka agama sepakat terhadap keputusan raja, tanpa melakukan protes atau demonstrasi besar-besaran. Tidak ada seorang pun yang berani meragukan kebenaran perintah tersebut. Termasuk kaum agamawan dan kaum spiritualis di seluruh penjuru negeri Maksiat. Hal inilah yang membuat semua rakyat kompak memberlakukan perintah itu.

Kategori: Cerpen Indonesia | Diterbitkan pada: 07-10-2007 | Tak ada komentar »

Oleh TS. ASIKIN

ANGIN yang menerpa tubuh ini masih sedingin tujuhbelas tahun yang lalu. Belaiannya masih sesyahdu dulu, dan hembusan nan sejuk membuat aku terlena dalam buaiannya. Walau kini aku datang membawa hati yang terluka, menghambur ke pelukanmu dengan kepedihan yang tiada terperi. Tapi engkau tetap ramah menyambutku.
Kusangka engkau dulu adalah kota yang berkabut. Yang […]

Kategori: Cerpen Indonesia | Diterbitkan pada: 07-10-2007 | 1 Komentar »

Oleh: DHIPA GALUH PURBA

KAWANKU adalah seorang penulis amatir yang tinggal nun jauh di kampung halaman, Cigorowek tercinta. Beliau sangat rajin mengirim surat. Hampir setiap jam, beliau mengabarkan perkembangan terakhir di Cigorowek melalui surat elektronik alias e-mail.

Belakangan ini, kawanku banyak mengirim kabar tentang kasus pencurian. Seperti yang terjadi pada keluarga Aki Ukro. Malam Rabu […]

Kategori: Cerpen Indonesia | Diterbitkan pada: 06-10-2007 | Tak ada komentar »

Oleh DHIPA GALUH PURBA

kutatap hamparan di tanah serambi mekah
tak kutemukan lagi, rona wajahmu nan riang
kepedihan, luka menyayat jiwa, warnai rona manusia
entah di mana rona wajahmu, Rona…
*
AMARAHKU; seandainya tsunami itu nama seorang manusia, akulah yang akan mencabik-cabik dan membunuhnya. Jika ia nama binatang, aku pula yang akan memburu dan menyembelihnya. Kalau nama pepohonan, aku […]

Kategori: Cerpen Indonesia | Diterbitkan pada: 06-10-2007 | 4 Komentar »

Oleh DHIPA GALUH PURBA

KABARNYA ibuku mengadakan acara syukuran di kampung, sebagai tanda suka cita atas kelulusanku. Kambing jantan kesayangannya pun, akhirnya jadi juga disembelih. Entah karena (pada akhirnya) aku mau menuruti pesan mendiang ayahku, yang sangat mengharapkan agar aku kuliah di IAIN. Atau mungkin juga dikarenakan hanya akulah satu-satunya yang menjadi harapan keluarga, untuk […]

Pencarian


InstaForex