Arsip: Cerpen Indonesia
Kategori: Cerpen Indonesia | Diterbitkan pada: 06-10-2007 | Tak ada komentar »
Oleh DHIPA GALUH PURBA
MALAM sunyi. Terpancarlah seberkas cahaya, membentur gelap gulita yang membayangi seluruh bundaran jagat raya. Terang benderang beradu dengan gelap gulita. Cahaya terpisah dan hampir menghilang. Tak ada lagi percikan sinar. Tinggallah kegelapan dalam pekatnya malam yang mencekam. Kalaupun ada percikan sinar, tidak bisa menyatu dengan kegelapan. Keduanya terpisah. Tak ubahnya […]
Kategori: Cerpen Indonesia | Diterbitkan pada: 06-10-2007 | Tak ada komentar »
Oleh DHIPA GALUH PURBA
JEJAK darah itu tak mungkin terhapus pada titian anak tangga yang pernah kau lalui. Seraya tinggalkan sepenggal memori di dasar lubuk hati. Sekejap keindahan atau setitik kasih yang—mungkin—sangat tulus. Saat itu—tapi tidak saat ini—ingin kucercah semua kisah yang memenuhi […]
Kategori: Cerpen Indonesia | Diterbitkan pada: 03-10-2007 | Tak ada komentar »
Oleh FITRI SULASTRI
DARI hari ke hari, terasa begitu membosankan. Sama sekali tak ada perubahan yang berarti. Si Burhan yang setiap pagi kerjaannya cuma nongkrong (tak lupa sebelumnya ngebon dulu rokok dan air kopi ke warung Bi Darti). Mang Omad yang sejak beduk subuh, sudah menawarkan dagangan bubur ayamnya. Si Marni yang baru pulang dari […]
Kategori: Cerpen Indonesia | Diterbitkan pada: 22-09-2007 | Tak ada komentar »
Oleh DHIPA GALUH PURBA
UNTUK menuju kampusnya, aku harus melalui gang sempit yang cukup rumit. Tapi tidak usah khawatir, sebab di manapun letaknya, pasti akan kucari sampai kutemukan. Keraguan yang kadang merasuki hati, segera kusingkirkan jauh-jauh. Kalau diibaratkan dalam peperangan, pilihanku hanyalah hidup atau mati. Memang keterlaluan. Tapi mudah-mudahan saja semua orang akan segera memaklumiku […]
Kategori: Cerpen Indonesia | Diterbitkan pada: 22-09-2007 | 1 Komentar »
Oleh DHIPA GALUH PURBA
INI adalah kenangan dua tahun lalu yang tidak mungkin terhapus dari lubuk sanubari yang terdalam. Tepatnya ketika kasawelasan Persib bertanding dengan Persija di lapangan hejo Stadion Siliwangi. Saat itu, hujan deras mengguyur Bandung, hingga baju pun basah kuyup. Tapi aku tidak peduli, karena sik asik nongton di kelas cacah (sebaliknya […]
Kategori: Cerpen Indonesia | Diterbitkan pada: 22-09-2007 | 1 Komentar »
Oleh DHIPA GALUH PURBA
Di tanah ini bertabur bunga
Bunga-bunga air mata
Sungkawa
…
LUKA itu semakin menyayat hati, saat lantunan ‘Sajak dan Do’a’ menggema dari setiap sudut t ruangan pengap bergumul asap; kamar kost Pondok Mustika di lantai tiga. Entah sampai kapan lantunan lagu itu merasuki setiap sudut jiwanya bergumul duka. Diputarnya berulang-kali, sepanjang hari, sepanjang […]
Kategori: Cerpen Indonesia | Diterbitkan pada: 22-09-2007 | Tak ada komentar »
Oleh DHIPA GALUH PURBA
KETUKAN palu tiga kali! Rapat ditutup! Semua peserta segera beranjak meninggalkan kursinya masing-masing. Termasuk Kartono, ketua dewan tertinggi. Ia merapihkan kembali berkas-berkas dokumen yang baru saja diperbincangkan panjang lebar.
Rapat berjalan dengan lancar. Tak ada perhelatan pendapat, yang bisa menuju perpecahan. Apalagi sampai terjadi perkelahian dalam sidang, sangat dihindari, bahkan diharamkan. […]
Kategori: Cerpen Indonesia | Diterbitkan pada: 22-09-2007 | Tak ada komentar »
Oleh DHIPA GALUH PURBA
MALAM takbir di Ibu Kota. Gema puja-puji atas keagungan Yang Mahakuasa, berkumandang dari setiap menara masjid. Diiringi oleh bunyi beduk bertalu-talu sampai memenuhi jalan raya. Hiruk-pikuk, lalu-lalang, dan berbagai kesibukan lainnya memenuhi hampir di setiap sudut dan pelosok Ibu Kota. Arus mudik para perantau membuat suasana menjadi ingar-bingar. Senyum bahagia, […]
Kategori: Cerpen Indonesia | Diterbitkan pada: 22-09-2007 | Tak ada komentar »
Oleh DHIPA GALUH PURBA
Keindahan, kedamaian, bangkitnya gairah hidup, dan berbagai kesan lainnya muncul dalam setiap benak hati penonton.. Tentu saja akan menjadikan bermacam multi tapsir bagi insan yang memenuhi ruangan gedung kesenian tersebut. Walau tak ada yang tahu persis, makna apa sebenarnya yang terkandung dibalik tarian kontemporer seorang Intan Dewi Ayu berjudul Menembus […]