Statistik

≈ Tulisan: 1701 tulisan
≈ Kategori: 32 kategori
≈ Komentar: 12060 komentar
≈ Hit: 2.104.630 kali

Kingkilaban

Katumbiri

Taman Sekar

Arsip: Obituari

Kategori: Obituari | Diterbitkan pada: 18-09-2010 | Tak ada komentar »

PIKIRAN RAKYAT , 22 AGUSTUS 2010

Sepeninggal Mang Koko tahun 1985, “Cangkurileung” tetap bersuara di bawah kepemimpinan Kang Tatang, sehingga pada tahun 2004 “Cangkurileung” mendapatkan Hadiah Sastra Rancage. Untuk menjaga kelangsungan penerbitan majalah berbahasa Sunda tersebut, Kang Tatang sering kali harus merogoh uang saku pribadi. Kang Tatang lahir di Bandung, 28 Januari 1949. Mewarisi kepiawaian Mang Koko, sejak duduk di bangku SMPN 9 Bandung, Kang Tatang sudah mahir bermain alat musik kecapi. Oleh karena itu, sejak kecil Kang Tatang sudah dilibatkan dalam berbagai pergelaran “Cangkurileung”. Namanya dikenal sebagai salah seorang seniman karawitan, bukan hanya karena ia putra Mang Koko, tetapi juga karena kepandaiannya dalam memainkan alat musik.

Kategori: Obituari | Diterbitkan pada: 16-08-2010 | Tak ada komentar »

Tatang Benyamin Koswara adalah putra keempat Mang Koko, sang maestro karawitan. Ia menjadi penerus Mang Koko dalam mengelola Yayasan Cangkurileung dan Majalah Seni Budaya Swara Cangkurileung. Tatang Benyamin lahir di Bandung, 28 januari 1949, dan wafat di Rumah Sakit Al-Islam Bandung, 14 Agustus 2010. Jenazah telah dikebumikan di TPU Rancacili, Cijawura, Margasari, Buahbatu, Bandung.

Kategori: Obituari | Diterbitkan pada: 31-12-2009 | Tak ada komentar »

Meski matanya tidak sempurna, tetapi mata jiwanya sangat tajam. Ia bisa melihat apa yang tidka terlihat oleh manusia yang punya mata normal. Gusdur adalah sang pemersatu bangsa, yang tidak alergi terhadap nilai kebudayaan bangsa, menghormati penganut agama lain, dan sangat peduli terhadap keadaan bangsa ini. Jelas, ia sosok kharismatik yang dicintai rakyat. Sejarah telah mencatat bahwa Gusdur pernah menjabat sebagai Presiden RI keempat, mulai 20 Oktober 1999 sampai 24 Juli 2001.

Kategori: Obituari | Diterbitkan pada: 13-06-2009 | 1 Komentar »

Allohu Akbar… Innalillahi wa inna ilaihi rozi’un… Maafkan saya, Ambu. Saya anak yang tidak tahu berbalas budi. Maafkan saya yang tidak sempat menemui Ambu selama berbulan-bulan… sungguh saya anak yang tidak tahu berterimakasih. Namun, saya akan menebusnya dengan selalu mendo’akan Ambu. Semoga Ambu mendapat tempat yang mulia mungguhing Alloh SWT. Semoga amal kebaikan Ambu diterima Allah SWT, dan menjadi bekal Ambu dalam meraih kebahagiaan yang kekal. Semoga Alloh SWT juga mengampuni dosa-dosa Ambu… Amiiin ya Allah… yaa robbal ‘alamiin…

Kategori: Obituari | Diterbitkan pada: 22-10-2008 | 1 Komentar »

Oleh Djasepudin

Buah kecintaannya berkarib dengan sastra Sunda salah satunya terus melahirkan pengarang Sunda potensial dan andal. Nama-nama pengarang kebanggaan sastra Sunda, yaitu Cecep Burdansyah, Hadi AKS, Budi Rahayu Tamsyah, Dian Hendrayana, Dadan Sutisna, dan sejumlah pengarang Sunda lainnya, sedikit banyak lahir dan nanjung berkat sentuhan Abah Duduh.

Kategori: Obituari | Diterbitkan pada: 22-10-2008 | 1 Komentar »

Oleh H Usep Romli H.M

DUNIA sastra Sunda kembali kehilangan putra terbaiknya sepanjang 2008 ini. Setelah Prof. Yosef Iskandar, kini Duduh Durahman menyusul menghadap Sang Khalik. Pengarang kelahiran Ciwidey, Kabupaten Bandung 26 Mei 1939 ini, meninggalkan alam fana Rabu (1 /9) pukul 15.30 WIB, setelah dirawat beberapa hari di RS Immanuel. Innalillahi wa inna ilaihi roji`un. Allohummaghfirlahu, warhamhu wa afihi wa fu`anhu, wa akrim nuzulahu.

Kategori: Obituari | Diterbitkan pada: 08-07-2008 | 4 Komentar »

didi-wiardiKuring rada cangcaya kénéh, da sacara saréat mah Kang Didi téh anom kénéh. Malah asa can kacaturkeun kawin. Ku kituna kuring nelepon balik ka Kang Dian, hayang ngayakinkeun éta béja. Tapi kang Dian ogé nampi wartos téh ti salahsawios personil kelompok musik Samba Sunda, sami deuih ngalangkungan SMS anu katampi jam 12 langkung cenah. Jadi, pupusna tiasa janten sekitar jam 00.00 WIB.

Kategori: Obituari | Diterbitkan pada: 30-03-2008 | 2 Komentar »

Yoseph Iskandar

Drama “Juag Toéd” (1984) dipentaskan berkali-kali di Bandung, Jakarta, dan berbagai kota lain di Jawa Barat. Drama komedi ini tidak bisa lepas dari sejarah perkembangan seni tari jaipongan yang dipopulerkan menjelang akhir tahun 1970-an oleh Gugum Gumbira, Tati Saleh (alm.), dan Euis Komariah. Cerita dalam “Juag Toéd” merupakan semacam bantahan dan pembelaan Yoseph terhadap seni jaipongan. Pada saat itu, jaipongan diprotes oleh kalangan istri pejabat karena dianggap terlalu vulgar, erotis, dan hanya membangkitkan nafsu berahi. Drama “Juag Toéd” menyindirnya dengan mengambil setting tatar Sunda sebelum zaman perang. Pada zaman itu, istri seorang wedana disebut juag toéd dan bupati pun masih disebut kangjeng dalem.

Kategori: Obituari | Diterbitkan pada: 06-02-2008 | 3 Komentar »

RAFRAF lahir di Banjarsari, Ciamis, 2 Oktober tahun 1929, buah pernikahan Bapak Udin Tampura dengan Ibu Ratna Permana. Pendidikan RAF dimulai dari HIS. Setelah itu, pada zaman Jepang, RAF melanjutkan pendidikan Pesantren, tepatnya di Pesantren Miftahul Huda Ciamis. Pada masa revolusi, RAF muda melanjutkan sekolah Pertanian di Tasikmalaya, dan Sekolah Menengah Atas di Bandung. Jenjang pendidikan tingginya di lalui di Fakultas Hukum Universitas Indonesia Jakarta, sampai tingkat Sarjana Muda. Minat pada kesusastraan, menurut pengakuannya karena pengaruh E. Soewitaatmadja, kakak ibunya yang mengasuh RAF senjak kecil. Pada tahun 1963, RAF diangkat sebagai pegawai Perkebunan Negara IX sampai dengan pensiun dari PTP XII pada tahun 1983.

Pencarian


InstaForex