Statistik

≈ Tulisan: 1701 tulisan
≈ Kategori: 32 kategori
≈ Komentar: 12088 komentar
≈ Hit: 2.110.851 kali

Kingkilaban

Katumbiri

Taman Sekar

Arsip: Seni Budaya

Kategori: Seni Budaya | Diterbitkan pada: 31-03-2009 | 2 Komentar »

ku MARUTA BAYU

Tina 100 peserta anu daftar, dina émprona mah ukur 67 peserta anu hadir téh. Sésana ngundurkeun diri. Nurutkeun déwan juri, umumna para patandang téh masih héngkér dina neuleuman eusining sajak. Aya ogé anu macana lir maca basa Malayu, anu antukna rasa Sundana henteu karasa. Lian ti éta, réa diantara patandang anu salah maca kecap, pangpangna masih réa nu bingung ngabédakeun cara maca “e”, “é”, jeung “eu”.

Kategori: Seni Budaya | Diterbitkan pada: 31-03-2009 | 1 Komentar »

Sabada salila 20 taun pamasrahan Hadiah “Rancagé” sok meunang tempat dina pérs, tapi tara meunang panitén pamaréntah boh pusat pon pilalagi daérah, dina ahir taun 2008, Yayasan Kabudayaan “Rancagé” babarengan jeung sawatara seniman jeung organisasi kasenian séjén, meunang “panyecep” ti Gubernur Jawa Barat (Rp. 10 juta dipotong pajak 15%).

Kategori: Seni Budaya | Diterbitkan pada: 31-03-2009 | 3 Komentar »

Oleh DHIPA GALUH PURBA

Jadi, masalahnya hanya lirik doang. Kalau Nano S menganggap lagu “Céngcéléngan” tidak aktual, solusinya bukan meninggalkan lagu tersebut, tetapi mengganti rumpakanya. Seperti juga pernah dicoba oleh Tatang Benyamin, mengganti lirik lagu “Céngcéléngan”, dilantunkan oleh Mila: Sapoé sarébu/ saminggu tujuh rébu. Kita juga boleh mencoba mengganti lirik lagu “Tokécang”. Misalnya: Teu resep! Teu resep!/ maén Pé-éS bodo/ Jahat duit! Jahat duit!/ Mending ogé nabung!

Kategori: Seni Budaya | Diterbitkan pada: 31-03-2009 | 1 Komentar »

Oleh DHIPA GALUH PURBA

T.S. Ellot, dalam bukunya yang berjudul “Notes Towards The Definittion of Culture”, mengungkapkan bahwa kebudayaan seseorang menunjukan agamanya. Hal inilah yang nampaknya menjadi sebuah dilema yang bagi sebagian orang Sunda. Ada semacam penafsiran atau pandangan, jika memang kebudayaan seseorang menunjukan agamanya, berarti orang yang berkebudayaan Sunda itu adalah penganut agama Sunda. Padahal tidak seperti itu adanya. Justru di sanalah letak keluhungan budaya Sunda itu. Seseorang akan tetap menjadi orang Sunda, meskipun agamanya bukan Sunda.

Kategori: Seni Budaya | Diterbitkan pada: 31-03-2009 | 1 Komentar »

Oleh DHIPA GALUH PURBA

Cigugur menjadi saksi bisu, tatkala sekitar awal abad ke-20, Pangeran Madrais menyebarkan agama Sunda. Tidak sedikit yang turut menjadi pengikutnya. Bahkan penyebarana agama Sunda tersebut diteruskan oleh generasi berikutnya, Pangeran Téja Buana. Sampai pada akhirnya, kurang lebih tahun 1964, Bung Karno mengeluarkan larangan memeluk agama Sunda, berdasarkan pada beberapa pertimbangan. Pangeran Teja Buana tidak menentang keputusan itu. Bahkan Pangeran Teja memberikan keleluasaan kepada pengikutnya, untuk memilih agama yang sesuai dengan keyakinannya masing-masing. Dan Pangeran Teja Buana sendiri, memilih untuk masuk ke dalam agama Katolik. Sehingga tidak heran, jika para pengikutnya pun banyak yang mengikutinya. Terbukti sampai sat ini banyak Komunitas Katolik yang menyebar di beberapa daerah Cigugur, Ciamis, Panawangan, Cilimus, dan sekitarnya. Dan upacara Sérén Taun sendiri, waktu pelaksanaannya adalah setiap tanggal 22 Rayagung, hari kelahiran Pangeran Teja Buana

Kategori: Seni Budaya | Diterbitkan pada: 15-02-2009 | 37 Komentar »

Oleh DHIPA GALUH PURBA

Ketika saya menjadi moderator dalam diskusi di acara “Pesta Buku Bandung” bersama Rieke Diah Pitaloka dan Lia Refani (10/02), saya sempat terpancing pada saat Rieke mengomentari tari jaipongan. Tanpa sadar, saya langsung berbicara cukup panjang-lebar mengenai jaipongan dan membantah fitnah Tifatul Sembiring. Saya baru sadar ketika Rieke, sambil berguyon, berkata, “Enya sok teruskeun, urang we jadi moderatorna. (Iya, silahkan teruskan, saya yang menjadi moderatornya)”.

Kategori: Seni Budaya | Diterbitkan pada: 30-10-2008 | 5 Komentar »

Oleh Pandu Radea

Nun jauh di mumunggang gunung, tepatnya di Desa Pagergunung Kecamatan Pangandaran, secercah harapan hadir kembali dalam puluhan mata api yang menyala terang dari 8 damar sewu yang terpasang di areal pakalangan, yang sengaja dipersiapkan untuk menerangi pagelaran Ronggeng Gunung dari Lingkung Seni Rasa Kagugat. Arena pakalalangan yang terletak disamping makam keramat Eyang Kertasedana, yang dikenal sebagai leluhur lembur, sontak dipenuhi penonton sejak sore. Nyaris semuanya membawa sarung maupun samping kebat. selain untuk mengusir rasa dingin, berfungsi juga sebagai pelengkap untuk bekal ngengklak di pakalangan.

Kategori: Seni Budaya | Diterbitkan pada: 30-10-2008 | 4 Komentar »

Oleh Nazharudin Azhar

BULAN bersinar penuh diatas Taman Budaya Bandung. Seperempat paruh malam, penontonpun mulai memenuhi tempat duduk teater terbuka. Beberapa rombongan bule sudah sejak sore kongkow di tribun atas. Kendati udara dingin musim kemarau mulai menusuk, tidak menjadi penghalang untuk menyaksikan pertunjukan Longser Wayang (Loyang) Sangkala dari Disbudpar Ciamis yang menggelar Lakon Kumbakarna Gugur. Pandu Radea selaku sutradara sekaligus pencipta seni Loyang terlihat gelisah ditempat duduknya. Masih terngiang ucapan rekannya di Taman Budaya, “ Jika seperempat jam tidak rame, penonton pasti bubar” ujar Agus Kabedag saat menyambut kedatangan 45 orang personel tim Loyang di siang harinya.

Kategori: Seni Budaya | Diterbitkan pada: 21-09-2008 | Tak ada komentar »

Oleh RETNO HY

MENGGUNAKAN busur panah besar, kepala Abu Jahal dipukul Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Rasulullah saw. Melihat hal itu, kaum Quraisy yang berkumpul di sekitar Kabah pun marah. Hanya, tidak seorang pun yang berani membalas perlakuan Hamzah terhadap pimpinan kaum Quraisy tersebut.

Pencarian


InstaForex