Kategori: Kemuning | Diterbitkan pada: 01-06-2009 |


Catatan Kecil DHIPA GALUH PURBA

 

SUNGGUH terkesan ketika menonton acara “Satu Jam Lebih Dekat” di TV 1, pada Kamis malam, 28 Mei 2009. Bintang tamu yang dihadirkan adalag Raja Dangdut Rhoma Irama. Ada juga Mara Karma, Elvi Sukaesih, Duplikat Rhoma Irama (saya lupa namanya), dua orang pengagum Rhoma Irama (lupa juga namanya), dan seorang pengarang yang saya kagumi, Andrea Hirata.

 

Setelah nonton acara tersebut, saya pun jadi ingin bercerita tentang kekaguman saya kepada Rhoma Irama. Mungkin tidak jauh berbeda dengan Andrea, yang berjuang mati-matian untuk menyaksikan konser Soneta Grup, tetapi ceritanya tentu berbeda. Sejak kecil, saya pun berusaha untuk bertemu dengan Rhoma Irama. Bahkan sampai hari ini, saya masih mengharapkan pertemuan yang begitu saya rindukan.

 

Saya menyukai lagu-lagu Rhoma Irama ketika saya duduk di kelas III SD Negeri Panjalu IV, Ciamis, yakni pada tahun 1986. Ibu dan ayah (sekarang sudah alm), dan semua kakak saya, beserta para kerabat, tentu mengetahui betapa saya mengidolakan Rhoma Irama, sampai-sampai saya sangat bergembira kalau menemukan gambar Rhoma Irama di majalah atau koran, yang saat itu sangat jarang saya dapatkan. Saya mengguntingnya, lalu saya tempel di bilik rumah. Sayang sekali, kalau ayah membeli kalender, pasti gambarnya Elvi Sukaesih. Padahal saya sangat menginginkan gambar Rhoma Irama.

 

Naik ke kelas IV, saya sudah punya hobi mendengarkan dongeng radio dan nonton film. Dongeng radio yang masih saya ingat diantaranya “Si Rawing” (karya Yat R, dengan pendongeng Wa Kepoh). Celakanya, di rumah tidak punya radio apalagi televisi. Kalau mendengarkan dongeng radio, saya suka numpang di rumah tetangga. Begitupun kalau mau nonton televisi. Sayang, di televisi tidak pernah menayangkan lagu apalagi film Rhoma Irama. Saat itu, saya belum faham kenapa Rhoma Irama tidak suka tampil di televisi. Satu-satunya hiburan hanyalah di THR (Tempat Hiburan Rakyat), suka disebut misbar (gerimis bubar), karena tidak ada atapnya. Di THR, tiap malam Minggu diputar film-film nasional, dengan harga karcis Rp 350,- (saya pernah menceritakan THR, dalam artikel saya di H.U. Pikiran Rakyat, yang berjudul “Dongeng Si Rusuh”).

 

Hampir setiap malam Minggu, saya selalu hadir di THR Panjalu. Apalagi kalau filmnya Rhoma Irama, sejak jam 15.00 WIB, saya sudah berkeliaran di sekitar THR. Jarak dari kampung saya ke THR sekitar 5 KM, dan tentu saya harus berjalan kaki. Waktu itu, untuk memiliki uang Rp 350,- sangat sulit. Di saku saya, paling ada uang Rp 50,- atau Rp 100,-. Jadi, setiap malam Minggu, saya dituntut untuk kreatif mengakali para hansip penjaga THR, agar saya bisa masuk THR tanpa harus membayar (dulu dikenal dengan istilah “norobos”). Kadang saya norobos lewat samping, naik benteng, menerobos langsung melalui pintu depan ketika penjaga karcis sedang lengah, atau sejak siang hari sudah bersembunyi di dalam THR. Biasanya bada Magrib, hansip-hansip memeriksa THR sampai benar-benar steril dari siapapun yang bukan crew pemutar film. Suka duka nonton di THR, tidak akan saya ceritakan di sini.

 

Menginjak kelas VI, tahun 1990, di THR diputar film Rhoma Irama, berjudul “Bunga Desa”. Film itulah yang sangat berkesan. Sebab, ketika menonton film “Bunga Desa”, saya berkenalan dengan seorang wanita yang sudah sejak berbulan-bulan saya perhatikan setiap nonton di THR. Barulah pada saat menonton film “Bunga Desa”, saya memberanikan diri menyapanya, tentu dengan keringat yang hampir membanjiri tubuh. Mungkin benar apa yang dikatakan Arin, bahwa saya mengalami “dewasa sebelum waktunya”. Wanita yang saya sukai itu bernama Guswati, tinggalnya di Pabuaran, dan usianya satu tahun lebih tua dari saya. Saat itu, dia sudah kelas 1 SMP.

 

Itulah cinta monyet pertama yang saya alami, disaksikan layar lebar yang tengah menceritakan Rhoma Irama dan Ida Iasha dalam cerita “Bunga Desa”. Selanjutnya kami mulai saling berkirim surat, menyatakan perasaan masing-masing, dan setiap kali bertemu, saya segera berlari menjauh karena malu. Pacaran itu hanya kirim-kiriman surat, tidak lebih dari itu. Anehnya, saat itu saya tidak mau memperkenalkan nama asli kepada Guswati. Saya menggunakan nama “NS Jhony Margani”. Entah dari mana saya mendapatkan nama itu. Yang pasti, nama itulah yang pertama kali dikenal oleh Guswati. Tentu hanya beberapa bulan pun, Guswati langsung mengetahui nama saya yang sebenarnya. Dan dengan alasan itulah, Guswati memutuskan saya. Ia mengatakan bahwa saya tidak jujur dengan memperkenalkan nama “NS. Jhony Margani”. Saya sempat merasakan luka hati, ketika menerima surat terakhir dari Guswati. Dan saya balas lagi, bahwa saya tidak berdusta. Lihat saja kata “NS” di depan “Jhony”. NS adalah singkatan dari “Nama Samaran”. Jadi, sejak awal saya sudah menerangkan bahwa Jhony adalah nama samaran. Tapi, rupanya Guswati memang sudah ingin putus. Ya sudah, putus saja.

 

Kalau ada pelajaran Kesenian, sesekali Pak Guru menyuruh menyanyi di depan kelas. Nah… itulah pelajaran yang saya sukai. Serentak saya ambil sapu, memegangnya seolah sedang memegang gitar, dan mulailah saya menyanyikan lagu-lagu Rhoma Irama. Sedangkan saingan saya adalah Maman. Ia menyukai lagu-lagu rock. Setiap kali saya menyanyi Rhoma Irama, dia pasti menyanyi lagu rock.

 

Setelah lulus SD, saya melanjutkan ke SMPN Panjalu, Ciamis. Memang hanya SMPN Panjalu yang paling dekat dengan kampung tempat tinggal saya. Tentu, saya sekolah di tempat yang sama dengan Guswati. Tapi, saya sudah tidak berpikir untuk melanjutkan lagi kisah cinta yang saya jalin waktu kelas VI SD. Sebab, saya sudah jatuh hati kepada kawan sekelas saya bernama Arin. Gadis Cimendong yang sangat memukau, cantik, meskipun agak cerewet. Mungkin, itulah cinta pertama saya yang benar-benar saya jalani dengan lebih dewasa…. ha ha ha… (dan bisa bertahan sampai sekarang).

 

Tentu saja saya masih menyukai lagu-lagu Rhoma Irama, bahkan lebih tergila-gila. Saya tidak punya cita-cita lain, selain menjadi penyanyi dangdut seperti Rhoma Irama. Saya mulai menulis syair lagu, mendendangkannya di rumah, sambil berjalan, atau dimanapun setiap ada kesempatan. Sayang sekali, saat itu saya tidak mampu membeli gitar. Jadi, proses saya membuat sya’ir lagu, tidak diiringi dengan mempelajari musik. Saya baru berkenalan dengan gitar, ketika saya kelas 2 SMP, meminjam dari seorang teman. Tapi, temanku hanya meminjamkan beberapa jam, tidak boleh dibawa pulang ke rumah. Jadi, sedikit sekali kesempatan untuk mempelajari musik.

 

Sama halnya dengan di SD, dalam pelajaran kesenian ada kontes menyanyi di depan kelas. Dan sudah bisa dibayangkan oleh para pembaca, pasti saya menyanyikan lagu-lagu Rhoma Irama sambil memegang sapu. Sebelum menyanyi, saya pun suka meniru-niru Rhoma Irama, berda’wah dulu.

 

Di kelas saya, ada seorang kawan yang tergila-gila pada lagu rock metal. Namanya sebut saja “D” Itulah saingan saya selanjutnya, karena Maman kebetulan ditempatkan di kelas lain. Bahkan persaingan dengan D tidak hanya ketika menyanyi di depan kelas. Sebab, dalam setiap perbincangan tentang musik, kami sering berdebat. Dan puncaknya, terjadilah perkelahian saya dan D, karena saya tersinggung ketika D menyepelekan lagu-lagu Rhoma Irama. Perkelahian itu terjadi sepulang sekolah, di dekat pintu gerbang SMPN Panjalu. Tentu, sangat menyita perhatian kawan-kawan lainnya. Ada yang langsung melerai, dan ada pula yang malah berhamburan menjauh dari kami. Dan mungkin saja saat itu kawan-kawan saya menertawakan, setelah mengetahui duduk persoalan yang mengakibatkan perkelahian saya dan D, yakni: saya tersinggung gara-gara Dani mencemooh lagu Rhoma Irama.

 

Masih di SMP, saya kemudian menulis surat kepada Rhoma Irama. Kalau Andrea Hirata hanya mencantumkan alamat “Jakarta” (sebagaimana yang diceritakan di TV 1), saya menuliskan alamatnya secara lengkap. Dalam surat itu, saya menceritakan kekaguman saya pada lagu-lagu Rhoma Irama, dan juga semacam berkonsultasi bahwa saya pun ingin mengikuti jejak Rhoma Irama. Saya ceritakan bahwa saya sudah menulis puluhan sya’ir lagu untuk dibuat menjadi lagu dangdut. Selainitu, saya pun menyelipkan poto saya.

 

Alhamdulillah, surat saya dibalas. Betapa girangnya saya menerima balasan surat dari Rhoma Irama. Apalagi di dalam surat itu, ada poto Rhoma Irama dan istrinya, ditandatangan langsung oleh Rhoma Irama. Sampai sekarang, poto itu masih saya simpan. Sebab, tandatangannya itu saya anggap sangat berharga. Sedangkan suratnya sekarang sudah hilang. Tentu ada sebabnya. Saya agak kecewa membaca surat balasan dari Rhoma Irama, yang sama sekali tidak nyambung dengan isi surat yang saya kirim, meskipun surat itu memang ditulis tangan. Tidak ada komentar Rhoma Irama pada cita-cita saya, sya’ir-sya’ir yang saya buat, dan sebagainya.

 

Belakangan saya baru paham, bahwa Rhoma Irama tidak mungkin membalas smua surat dengan tangannya sendiri. Saya memaklumi, pasti Rhoma Irama sangat sibuk. Dan saya mulai sadar, bahwa surat itu pasti bukan Rhoma Irama yang membuatnya. Meski begitu, saya tetap menghargai balasan surat tersebut. Sebab, satu hal yang paling membuat saya jengkel adalah ketika surat tidak dibalas. Kalau saya sedang BT, pelarian saya adalah mengasuh ponakan, Jekong dan Itik. Saya senang mengasuh anak-anak. Kini, Jekong dan Itik sudah jadi mahasiswa. Jekong kuliah di STIE Ekuitas, dan Itik kuliah di UNISBA.

 

Kelas III SMP, mungkin saya mulai berpikir lebih dewasa. Saya kecewa, sampai kelas III SMP belum bisa bermain gitar dan belum mengerti notasi. Harapan saya menjadi penyanyi dangdut seperti Rhoma Irama mulai meredup. Namun, saya tetap menyukai lagu-lagu Rhoma Irama. Kalau saya berbicara di muka umum, saya suka meniru-niru Rhoma Irama. Waktu itu, saya menjadi salahseorang pengurus OSIS, sehingga seringkali mendapat tugas untuk berbicara di muka umum. Bahkan, ketika saya ikut pasantren kilat di Masjid Agung, saya terpilih menjadi juara 1 lomba da’wah, setelah saya menampilkan da’wah dengan cara meniru-niru Rhoma Irama. Jadi, cita-cita menjadi penyanyi sudah mulai sirna. Saat itu, saya hanya bercita-cita: semoga di masa yang akan datang bisa hidup bahagia dengan Arin. Ya… saya benar-benar mencintainya.***(Bersambung)

 

Kaki Gunung Manglayang, 30 Méi 2009