Kategori: Kemuning | Diterbitkan pada: 01-06-2009 |


Catatan Kecil DHIPA GALUH PURBA

 

Suatu hari, saya berjalan-jalan ke Buahbatu, Bandung. Mata saya tertarik pada sebuah bangunan bernama STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia) Bandung. Saya masuk ke kampus STSI, dan melihat-lihat beberapa mahasiswa yang sedang latihan teater, musik, dan tari. Saya tertarik. Lalu saya ngobrol dengan seorang mahasiswa, mencari informasi pendaftaran ke STSI Bandung. Dan itulah babak baru dalam perjalanan hidup saya. Semangat berkesenian yang selama ini hanya bisa saya pendam, mulai menggelora kembali. Saya memiliki harapan baru dan semangat baru. Dan saya berharap, mungkin dengan jalan inilah Alloh SWT akan mengantarkan saya pada cita-cita saya yang tertanam di masa kecil.

 

Singkat cerita, saya daftar ke Jurusan Teater, dan Alhamdulillah lulus seleksi. Bahkan setelah melewati semester 1, saya mendapatkan IPK yang cukup tinggi, sehingga saya mendapatkan beasiswa PPA (Penghargaan Prestasi Akademis). Saya mulai ikut bermain téater, sandiwara Sunda, longsér, bahkan saya mendirikan sendiri grup longsér Damar Bumi Citraloka. Saya menulis naskahnya, menyutradarainya, dan mengadakan pementasan di beberapa tempat di kota Bandung. Tulisan ringan saya mulai dimuat di Majalah Manglé. Dan saya semakin bersemangat untuk belajar menulis cerita sastra. Baru pada tahun 2000, tulisan saya yang serius dimuat di Majalah Manglé, Galura, Giwangkara, Kudjang, Seni Budaya, Galamedia, Pikiran Rakyat, dsb. Selanjutnya saya diangkat menjadi redaktur Majalah Seni Budaya.

 

Saya berhenti ngojek, karena honor menulis sudah cukup untuk kebutuhan saya sehari-hari, meskipun ada kalanya kekurangan. Pada tahun 2001, saya mulai terjun dan berkenalan dengan dunia sinematografi. Saat itu, saya melamar ke ESA Production, untuk bekerja menjadi “Unit”. Waktu itu, ESA Production sedang menjalani masa keemasan. Sinetron-sinetronnya banyak yang bertema misteri, dan ditayangkan di RCTI, semisal “Impian Malam Pengantin”, “Jenglot”, dsb.

 

Alhamdulillah saya diterima menjadi unit dalam garapan sinetron “Tiga Pendekar” yang ditayangkan di TV7 (Sekarang menjadi Trans7). Pekerjaan menjadi unit sangat berat dan penuh dengan tantangan. Caci-maki sutradara sering menerpa saya, setiap kali ada kesalahan semisal pemain telat datang ke lokasi, perizinan lokasi bermasalah, gangguan pada saat shooting, konsumsi telat, bahkan sampai keadaan cuaca pun saya disalahkan. Saya masih ingat ketika saya dimarahi gara-gara hujan pas mau mulai shooting. “Katanya kamu udah nyuruh pawang hujan! Kenapa sekarang masih hujan?!” begitu katanya. Saya sering dimarahi habis-habisan di depan orang banyak, tetapi saya tidak pernah melawan. Saya sudah menghapus masa lalu saya yang begitu keras dan kelam di jalanan, serta tidak ingin menjalaninya kembali.

 

Pilihan sikap saya ternyata sangat tepat. Alhamdulillah, dengan bersikap diam dan mengalah, saya justru mempunyai banyak sahabat yang esok-lusa berjumpa di Jakarta. Selepas garapan “Tiga Pendekar” usai, saya dipanggil lagi oleh ESA Production, tetapi bukan untuk menjadi unit. Saya disuruh merevisi skenario “Pendekar Cilik”, dengan arahan sutradara senior Amrin Lubis. Pada saat itulah untuk pertama kalinya saya bertemu langsung dengan produser Esa Production. Dan tentu Bang Amrin adalah salahsatu sutradara yang sangat besar jasanya dalam langkah saya selanjutnya. Waktu itu, saya hanya merevisi naskah “Pendekar Cilik” episode 11 dan 12. Selain itu, Bang Amrin pun mengajak saya untuk memerankan salahsatu tokoh antagonis dalam cerita tersebut. Tentu saya menyambutnya dengan gembira. Sinetron tersebut ditayangkan di Lativi.

 

Setelah ESA tidak memproduksi lagi sinetron, saya sempat kehilangan komunikasi beberapa bulan dengan kawan-kawan, termasuk Bang Amrin. Sampai pada suatu hari, Bang Amrin menemui saya, dan mengajak saya menemui Mas Prawoto Soeboer Rahardjo ke perumahan dekat Lanud Sulaeman Soreang. Saat itu, Mas Prawoto sedang proses shooting sinetron “Vampir Cilik”. Mas Prawoto berniat akan menggarap sintreon “Si Rawing”, yang merupakan dongeng kesukaan saya waktu kecil. Makanya saya mencari-cari dulu rumahnya Yat R, pengarang dongeng tersebut. Alhamdulillah, rumah Kang Yat R bisa saya temukan, yakni di Jl. Cikutra, Bandung. Tentu, saya sangat bahagia bisa berjumpa dengan penulis dongeng legendaris “Si Rawing”, yang sempat menggegerkan Jawa Barat. “Si Rawing” pernah dibuat dalam film layar lebar, dengan diperankan oleh Barry Prima, dan disutradarai Mas Prawoto. Dan Mas Prawoto mau menggarapnya lagi menjadi sinetron bersambung.

 

Saya dan Yat R diajak ke Jakarta oleh Mas Prawoto, untuk bertemu dengan produser Diwangkara Production. Hasilnya sudah sepakat, “Si Rawing” akan digarap. Saya yang mengembangkan dongeng tersebut dan menerjemahkannya ke dalam sebuah skenario.  Untuk pekerjaan itu, kami sudah mendapatkan DP. Namun, entah apa kendalanya, sampai saat ini “Si Rawing” belum juga digarap. Bahkan skenarionya masih ada di komputer saya. Padahal saya sudah menyusun untuk 9 episode, tetapi saya tunda dulu sebelum ada kepastian lebih lanjut.

 

Meski “Si Rawing” ditunda garapannya, tetapi saya mendapat kesempatan untuk menulis skenario FTV yang disutradarai Mas Prawoto, dan diproduksi oleh Lunar Jaya Film. Bahkan selain menulis skenario, saya suka diajak Mas Prawoto untuk memainkan salahsatu tokoh yang saya bikin. Naskah saya yang disutradari Mas Prawoto adalah “Misteri Ronggeng Bentang” dan “Wadal Buta Hejo”. Pada garapan “Wadal Buta Hejo”, astradanya adalah Bang Amrin. Saya disuruh memerankan tokoh utama dalam sinetron tersebut, yaitu menjadi “Buta”… ha ha ha. Naskah lain yang saya tulis, sutradaranya pernah dipegang oleh Chakil, Acok, Gustom. Misalnya “Siluman Elang” , “Bisikan Gunung Kemukus”, dsb.

 

Di tengah kesibukan saya itu, suatu hari saya mendapat kabar dari saudara, bahwa ada pementasan Rhoma Irama di Hotel Saripan Pacivic. Saya langsung menuju ke sana, dan ternyata benar ada Rhoma Irama lengkap dengan Soneta Group. Saya bisa menyaksikan Rhoma Irama lebih dekat, lebih santai. Dan setelah selesai pertunjukannya, saya bisa bersalaman dengan Rhoma Irama, bahkan memeluknya, dan berpoto bersama. Sungguh bahagia pada hari itu, meskipun saya tidak punya kesempatan untuk berbincang-bincang dengan idola saya. Alhamdulillah… keinginan saya untuk bersalaman dengan Rhoma Irama telah tercapai.

 

Keinginan saya selanjutnya adalah bekerja dengan Rhoma Irama. Saya sangat ingin menulis skenario film yang dimainkan oleh Rhoma Irama. Apalagi kalau bisa turut main film bersama Rhoma Irama. Tentang keinginan menjadi penyanyi dangdut seperti Rhoma Irama, sudah saya kubur sejak lama. Sebab, saya sudah merasa tidak berbakat menjadi penyanyi. Meski begitu, saya bisa membuat lagu. Dan lagu saya pernah dituangkan dalam sebuah drama berjudul “Badog”. Ada 14 grup teater yang pernah menggarap naskah “Badog”. Otomatis grup-grup téater tersebut menyanyikan lagu ciptaan saya. Kalau yang direkam baru sekali saja, yaitu lagu berjenis pop Sunda yang dilantunkan oleh penyanyi Lia Refani.

 

Pada suatu hari, sahabat dan kakak angkat saya, Pipiet Senja, memperkenalkan saya dengan seorang penulis bernama Syaeful G. Waton (kata Téh Pipiet, beliau adalah suami Aneke Putri). Katanya, Syaeful sedang membutuhkan naskah skenario untuk sinetron “Kampung Dangdut”, yang akan dimainkan oleh Rhoma Irama. Ya Alloh, inikah jalan yang akan mempertemukan saya dengan Rhoma Irama dalam sebuah garapan yang idamkan? Setelah saya mendapat arahan tentang naskah yang harus saya susun, saya langsung membikin treatmen untuk beberapa episode, dan bahkan langsung menyusun menjadi skenario yang siap pakai. Betapa bersemangatnya saya saat itu, karena jalan yang saya tunggu-tunggu selama bertahun-tahun, akhirnya telah tampak, meski belum terbuka. Saya sudah lebih dulu bermimpi naskah saya digunakan dan diajak main pula dalam garapan tersebut.

 

Tapi… mungkin belum saatnya bisa bekerjasama dengan Rhoma Irama. Tiba-tiba, komunikasi saya dengan Pak Syaeful terputus. Naskah-naskah yang telah saya kirim via e-mail, tidak ada kelanjutannya. Saya tidak berusaha menanyakan kejelasannya, karena Téh Pipiet Senja sudah lebih dulu mengontak saya, dan meminta maaf atas ketidakjelasan tersebut. Saya heran, kenapa malah Téh Pipiet yang minta maaf, karena Téh Pipiet tidak pernah punya salah apa-apa. Tapi ya sudah saja… saya serahkan semuanya kepada Alloh SWT. Sinetron “Kampung Dangdut” telah ditayangkan di Indosiar, dan saya sangat kecewa karena naskah saya tidak digunakan. Tapi saya juga tetap bermuhasabah, mungkin saja naskah saya memang tidak layak digarap. Setiap orang kan punya selera masing-masing.

 

Saya menganggap peristiwa itu merupakan kegagalan terbesar dalam perjalanan saya di dunia kesenian. Saya belum menulis lagi skenario, tetapi tentu saja akan menulis kembali. Dan akhirnya saya putuskan untuk menerima tawaran dari Radio Shinta Buana 97,2 FM Bandung, untuk mengasuh acara “Terajana” setiap malam Senin, pukul 20.00 s.d. 22.00 WIB. Acara “Terajana” adalah sebuah acara yang dikemas khusus membahas perjalanan Rhoma Irama dan karya-karyanya, sekaligus memutar lagu-lagu Rhoma Irama. Saya sangat enjoy siaran acara tersebut. Terlebih lagi… ternyata masih buanyak pendengar radio, yang begitu mengagumi lagu-lagu Rhoma Irama.

 

Banyak diantaranya yang tidak mempercayainya jika saya mengasuh siaran lagu-lagu Rhoma Irama. Sebab, sebelumnya saya siaran di Radio Antassalam FM, mengasuh acara kebudayaan Sunda. Selama ini pun saya lebih banyak berbicara atau menulis masalah kebudayaan daripada masalah dangdut. Ya… mereka tidak tahu bahwa saya pengagum dan penggemar berat Rhoma Irama. Saya bisa meneteskan air mata kalau menonton film Rhoma Irama. Sementara itu, kini Arin bercita-cita menikah dengan seorang ABRI. Apakah saya harus prustasi? Tentu tidak. Sebab, ABRI yang dimaksud Arin adalah singkatan dari: “Anak Buah Rhoma Irama”.***

 

Kaki Gunung Manglayang, 30 Méi 2009