Kategori: Ruang Publik | Diterbitkan pada: 12-06-2010 |

 

Jendela Seni Bandung (JSB) didirikan pada 20 September 1998 oleh Erwan Juhara, Acep Iwan Saidi, Suhendra Juhara, Ida Rukmana, Wawan Ruswan, Riyanto Muradi, Haryawan, Dodo Abdullah, Eddy Hermanto, dan Supriyadi FZ. Jendela Seni mulanya mengusung motto “Wadah Pembibitan dan Pemupukan Kreativitas”. Namun selanjutnya diubah menjadi “Wadah Pengembangan Virus Seni Budaya Bangsa”.

 Sesuai dengan moto yang diusung, JSB didirikan untuk mewadahi kreativitas para seniman dan membina generasi muda yang tertarik untuk menggeluti bidang seni budaya, terutama proses kreatif menulis, seperti menulis cerita, esai, jurnalistik, dsb. Para penulis pemula tentunya belum mempunyai banyak pengalaman dan pengetahuan untuk mengembangkan potensinya. JSB mewadahinya untuk mengembangkan potensi tersebut.

 Tidak sedikit para penulis pemula yang mengalami prustasi dikarenakan ia tidak tahu dimana tempatnya untuk mengembangkan bakat dan potensinya. Selain itu, penulis pemula tidak akan sadar kelemahan karyanya jika tidak dikritisi oleh kawan-kawan penulis apalagi kritikus. Semakin banyak dikritisi, maka ia akan semakin tertantang untuk menghasilkan karya berkualitas. Oleh karena itulah diperlukan sebuah forum diskusi untuk mengasah kemampuannya, sekaligus membimbingnya untuk menyalurkan karya tersebut. JSB bertekad pula menjadi semacam jembatan untuk mempertemukan para penulis dengan media massa cetak/ elektronik atau penerbit buku. Dengan begitu, penulis pemula diharapkan lebih semangat dalam menggali potensi dirinya

 Selain mewadahi bakat dan potensi para penulis pemula, JSB pun merasa perlu untuk memperkenalkan karya tulis kepada masyarakat. Oleh karena itulah, JSB bertekad menularkan “virus-virus” kecintaan terhadap karya seni budaya bangsa. Dengan kata lain, JSB ingin membina penulis dan afresiatornya. Bukan hanya penulis yang perlu regenarasi, tetapi harus diikuti pula oleh pembacanya. Demikian pula dengan bidang seni-budaya lainnya, mengembangkan kreasi para seniman dan membina afresiatornya.

 

Kegiatan Jendela Seni Bandung

Jendela Seni mengadakan berbagai perlombaan, seperti lomba menulis, lomba membaca puisi, lomba membaca cerpen, dan lain sebagainya. Perlombaan menulis yang pernah digelar diantaranya Lomba Mengarang Roman Cerita Rakyat Jawa barat (2002), Lomba Mengarang Carpon Mini Sunda (2002), Lomba Menulis Surat Kepada Presiden, Lomba Menulis Artikel Tentang Bandung, dsb. Perlombaan menulis ada kalanya diperuntukan bagi tingkat SD, SMP, SMA, Mahasiswa, atau umum.

 JSB mengadakan pula pelatihan menulis puisi, cerpen, novel, resensi, dan artikel. Hasil dari latihan menulis dan mengafresiasi sastra, selanjutnya dipilih untuk dimuat dalam Jendela Newsletter yang pada awalnya terbit secara berkala dalam setiap bulan, serta dibagikan secara gratis kepada anggota Jendela Seni dan masyarakat umum. Hasilnya sungguh menggembirakan. Bermula dari Jendela Newsletter, terlahirlah beberapa orang penulis potensial. Misalnya Dewi RSD, yang mengawali menulis cerpen “Sikat Gigi” di Jendela Newsletter, selanjutnya menjadi bahan perbincangan hangat dalam surat kabar nasional. Bukan hanya karena Dewi RSD cantik, tetapi karyanya memang berkualitas. Seorang penyair SMA, Sylfi Purnamasari, mampu menyedot perhatian di kalangan sastra Indonesia. Bahkan penyair Sutardzi sempat terkagum-kagum dengan karya siswi SMA tersebut. Bukan hanya menulis puisi. Dia semakin terlatih untuk menulis apapun, sehingga dalam berbagai lomba penulisan sering menjadi juara, termasuk dalam lomba menulis esai tentang PLN. Demikian pula halnya dengan para siswa atau mahasiswa lain yang pernah bergabung di Jendela Seni, banyak diantaranya yang sudah terbiasa menulis cerpen, sajak, artikel, bahkan menyusun buku.

 JSB juga menerbitkan buku-buku yang merupakan antologi karya-karya anggota Jendela Seni, seperti Antologi Puisi “Bandung dalam Puisi”, Antologi Prosa dan Puisi “Bumi Nanggroe Aceh” (sebuah wujud keprihatinan terhadap bencana tsunami), Kumpulan Sajak Syilfi Purnamasari “Kesetiaan Rumput”, dsb.

             JSB mewadahi pula para seniman yang memiliki bakat dalam bidang musik, dengan cara mendirikan kelompok musik Jendela Bagavadghita. Kelompok musik tersebut memusikalisasi puisi-puisi yang dipilih dari media massa atau buku. Bagi yang memiliki minat menggarap event, JSB sering menjadi Event Organizer berbagai acara, seperti menggarap acara di Pameran Buku Bandung, Pesta Buku Bandung, Bandung Islamic Book Fair, dsb.

 Jendela Seni Bandung pun sering mengadakan kerjasama dengan komunitas lain dalam menggelar berbagai kegiatan, atau berpartisipasi pada acara yang digelar oleh komunitas lain. Misalnya bekerjasama dengan Komunitas Pecinta Sastra (KPS) Tionghoa, Forum Sastra Bandung, Komunitas Dewi Sartika, Paguyuban Panglawungan Sastra Sunda, dsb.

 

SSSI Tahun 2002

Contoh kegiatan lainnya, bulan April 2002, Jendela Seni menggelar kegiatan SSSI (Sanggar Sastra Siswa Indonesia), bekerjasama dengan The Japan Foundation dan Majalah Sastra Horison. Acara SSII waktu itu dibuka dengan diskusi sastra di Gedung Kesenian Rumentang Siang, dengan tajuk “Proses Kreatif Penulisan Karya Sastra Indonesia Sunda”, menampilkan para nara sumber; Wilson Nadeak dan Dian Hendrayana, dimoderatori oleh Erwan Juhara.

 Pada bulan Mei, masih diskusi sastra di tempat yang sama, menampilkan pembicara Nandang Darana, yang mengetengahkan tajuk “Filsafat Berkarya dan Proses Kreatif Penulisan Sastra”. Disusul pada bulan berikutnya menampilkan narasumber Soni Farid Maulana dan Edi Warsidi, yang membahas  tema “Proses Kreatif Membedah Karya/Buku Sastra”.

 Pada bulan Juli,  SSSI digelar pada momen Pameran Buku Bandung 2002 di LandMark Convention Hall, JL. Braga 129 Bandung. Berbagai acara diselenggarakan, diantaranya adalah lomba menulis surat sastra kepada sastrawan (Taufiq Ismail, Sutardzi Calzoum Bachri, Putu Wijaya, WS. Rendra, Gunawan Mohammad, Safardi Djoko Damono, Hamid Jabar, DLL). Selain itu juga mengadakan lomba acting baca puisi pendek. Lomba menulis puisi sepontan, cipta dan baca puisi. Para siswa juga diajak untuk menyaksikan Seminar Puisi dan Musikalisasi Puisi, bersama Acep Zamzam Noor, Ferry Curtis, Bilik sastra STIKOM Bandung, Sanggar Teater SMU PGRI 1 Majalengka, Monolog Teater ‘Nasib Seorang Pendengar Setia’, Karya Jujur Prananto, dengan aktor A. Faisal ER dan Sutradara Hafas Giring Angin.  Ada juga Baca Puisi Indonesia-Tionghoa Bersama Klub Pecinta Sastra (KPS) Bandung, Monolog Puisi Bersama dengan Aktor Ayi Kurnia  Iskandar.

 Bulan Agustus, Jendela Seni mengadakan diskusi sastra bertema “Proses Kreatif Penulisan Cerpen Indonesia-Sunda”, bersama nara sumber Yus R Ismail dan Usman Supendi. Disusul pada Bulan September mengadakan Lomba baca Puisi Islami, dengan menghadirkan bintang tamu Acil Bimbo. Sedangkan pada Bulan Oktober, bekerjasama dengan KPS Bandung mengadakan bedah buku Carpon Mini Sunda ‘Ti Pulpen tepi ka Pajaratan Cinta’, bersama nara sumber Abdullah Mustapa dan Hawe Setiawan. Ditutup oleh Gelar Afresiasi Seni Budaya Angklung Sunda Komunitas Tionghoa, menampilkan Kesenian Sunda Kelompok Tan Deseng dan baca Carpon Sunda oleh Asep Supriatna.

 Bulan November Jendela Seni bekerja sama dengan KPS (Komunitas Pecinta Sastra) menggelar Peluncuran Buku Puisi Gelombang Mata Langit, bersama Juniarso Ridwan dan Soni farid maulana, bertempat di Gelanggang Generasi Muda (GGM) Bandung. Dimeriahkan pula oleh gelar afresiasi Seni Budaya Kesenian Sunda Calung dan Baca Puisi Indonesia-Tionghoa bersama Faisal E., Keanan, Soeria Disastra/Xin Yue, dan Guo Xin Fang (KPS). Pada bulan itu juga Jendela Seni kembali bekerjasama dengan Pengurus Gedung Kesenian Rumentang Siang Bandung, dengan mengadakan diskusi sastra bertema “Menulis/ mengarang sebagai stimulus dunia kepengarangan”, dengan nara sumber Erwan Juhara. Disusul bulan berikutnya menampilkan nara sumber Ahda Imran, dengan tema “Menulis/Mengafresiasi Peristiwa Budaya”. Dan Bulan Januari 2003, Eriyanti Nurmala Dewi mengetengahkan tema “Mengarang Cerpen di  Media Massa”, dst.

 Setelah kegiatan SSSI berakhir, kegiatan pelatihan menulis tetap dilangsungkan di berbagai tempat, seperti di Rumentangsiang, Dezon, dan langsung mengunjungi sekolah-sekolah, mempertemukan sastrawan dan siswa.***