Kategori: Tourism | Diterbitkan pada: 07-01-2009 |
Oleh ROCHAJAT HARUN
Kondisi geologi Jawa Barat, merupakan kekayaan daya tarik wisata. Jawa Barat yang terdiri dari dataran rendah, berbukit serta bergunung - gunung dan pantai, dengan ketinggian berkisar antara 0 sampai dengan 1.500 meter, membentuk daya tarik wisata yang khas pada lokasi - lokasi tertentu, seperti gunung - gunung di bagian tengah Jawa Barat serta daerah berbukit dengan sedikit pantai di sebelah selatan.
Gunung, bukit, dan pantai tersebut merupakan ragam daya tarik wisata yang terdiri dari sungai - sungai besar yang lebarnya lebih dari 100 meter, seperti Sungai Citarum, Sungai Cimanuk, Sungai Cisadane dan Sungai Ciliwung. Juga menawarkan pemandangan sungai dan kegiatan arung jeram sebagai daya tarik wisata. Kondisi geologi Jawa Barat yang menjadikan Jawa Barat semakin kaya akan keberagaman daya tarik wisata ini didukung dengan kondisi cuaca dan iklim yang umumnya sejuk sehingga menjadi lebih menarik bagi wisatawan. Berikut cakupan faktor lingkungan pariwisata yang mempengaruhi pengembangan kepariwisataan di Jawa Barat.
1. Aksesibilitas, secara umum aksesibilitas Provinsi Jawa Barat dapat dikategorikan cukup baik. Aksesibilitas menuju Objek Daerah Tujuan Wisata (ODTW) bukan hanya sekedar dapat dijangkau dengan mudah dengan berbagai model transportasi seperti kendaraan kecil dan atau mini bus bahkan bus. Untuk keperluan tersebut diperlukan kualitas jalan yang memadai.
2. Kebersihan lingkungan, menjadi cermin budaya suatu daerah. Kebersihan saat ini merupakan suatu keniscayaan. Secara umum kebersihan sekitar Objek daerah Tujuan Wisata (ODTW) sangat memprihatinkan. Hal ini sebagai dampak dari kebiasaan sehari - hari masyarakat yang masih menganggap bahwa kebersihan masih merupakan slogan, tetapi kenyataannya sangat berlainan. Membuang sampah sembarangan menjadi suatu kebiasaan yang tidak merasa bersalah. Demikian juga kebersihan di sekitar ODTW belum sepenuhnya menjadi kesadaran masyarakat termasuk para wisatawan itu sendiri.
3. Permukiman penduduk, umumnya berada disekitar ODTW dan bahkan di dalam lingkungan ODTW. Hal ini dapat berdampak pada eksploitasi wisata bagi kepentingan dirinya, tanpa memperhatikan wisatawan. Wisatawan merasa tidak nyaman jika masyarakat yang turut mengais masih di lingkungan ODTW. Wisatawan umumnya menghendaki kenyamanan terutama terlepas dari gangguan masyarakat lokal.
4. Kondisi sosial ekonomi masyarakat sekitar ODTW, yang sama - sama diketahui relatif memerlukan uluran tangan dalam pemberdayaannya. Hal ini turut memberikan kontribusi terhadap kekurang nyamanan wisatawan. Tujuan mereka adalah memanfaatkan peluang yang ada dengan adanya wisatawan, namun penerapannya yang keliru. Hal ini tidak terlepas dari peranan Pemerintah/Pemerintah Daerah, Tokoh Masyarakat/Agama yang belum memberikan pelayanan yang prima dan kebersihan yang handal.
5. Fasilitas bagi wisatawan seperti hotel/penginapan, restoran/ rumah makan belum memadai, terutama ditinjau dari aspek pelayanan dan kebersihannya di ODTW. Setiap orang terutama wisatawan memerlukan pelayanan yang prima dan kebersihan yang handal.
6. Beberapa aspek lingkungan dalam ODTW, yang memerlukan perhatian serius antara lain kebersihan, tanda - tanda peringatan dini khusus bagi ODTW yang memerlukan perhatian khusus, tim penyelamat/rescue, guide yang ramah dan menguasai materi ODTW, tempat melepas lelah/istirahat, dan toilet yang bersih.
Selain dari pada itu, perkembangan kepariwisataan Jawa Barat dipengaruhi pula oleh keberadaan dan perkembangan jalur jalan. Di wilayah Jawa Barat secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga jalur utama, yaitu Jalur Utara, Jalur Tengah, dan Jalur Selatan. Keberadaan dan kondisi aksesibilitas jalur jalan tersebut merupakan salah satu faktor penting yang berpengaruh terhadap perkembangan pariwisata di Jawa Barat saat ini.
Pergerakan wisatawan dari sumber pasar menuju daya tarik wisata Jawa Barat dipengaruhi oleh aksesibilitas jalur-jalur jalan tersebut. Kawasan wisata Puncak misalnya, terkait erat dengan perkembangan aksesibilitas di jalur tengah antara Jakarta dan Bandung sebagai sumber pasar wisatawan dengan Bogor dan Cianjur.
Berdasarkan hal tersebut, maka perkembangan kawasan Provinsi Jawa Barat terbagi mengikuti perkembangan ke tiga jalur jalan sebagai berikut:
1. Jalur Utara, dengan jalan lintas utara (pantura) sebagai unsur utama yang mencakup seluruh atau sebagian wilayah Kabupaten/Kota Bekasi, Kabupaten Karawang, Kabupaten Subang, Kabupaten Indramayu, Kabupaten/Kota Cirebon, Kabupaten Kuningan.
2. Jalur Tengah, dengan jalur lintas tengah sebagai unsur pengikat, yang mencakup sebagian wilayah Kabupaten/Kota Bogor, Kota Depok, sebagian sebagai unsur utama, yang wilayah Kabupaten/Kota Bekasi, Subang, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Cianjur, Kabupaten/Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Sumedang, sebagian Kabupaten Garut, Kabupaten/Kota Tasikmalaya, Kabupaten Ciamis, dan Kota Banjar.
3. Jalur Selatan, dengan jalur jalan/pantai selatan sebagai unsur pengikat kawasan, yang mencakup sebagian wilayah Kabupaten/Kota Sukabumi, bagian selatan Kabupaten Cianjur, Kabupaten Garut, Kabupaten Tasikmalaya dan Kabupaten Ciamis.
Tingkat perkembangan kawasan wisata di setiap jalur berbeda-beda, tergantung dari sumber daya (termasuk sarana dan prasarana) yang dimiliki, serta aksesibilitas terhadap sumber pasar wisatawan. Suatu kawasan wisata bisa berada pada tahap awal perkembangan, baru sedikit dikunjungi wisatawan, padahal memiliki potensi daya tarik wisata yang unik dan menarik. Kawasan wisata lain sudah sangat berkembang, dan bahkan mulai padat pada waktu peak season dan mulai menimbulkan permasalahan terhadap lingkungan fisik maupun sosial budaya.
Jika dilihat lebih rinci lagi di masing-masing jalur tersebut, terdapat pengelompokan daya tarik wisata yang memiliki keunggulan dengan skala provinsi, nasional dan bahkan internasional. Kelompok daya tarik wisata di kawasan Puncak misalnya merupakan kelompok daya tarik wisata vang terdapat di jalur tengah yang berbasis alam pegunungan dengan kegiatan pertanian, perkebunan dan tanaman pangan. Kelompok daya tarik di kawasan Bandung dan sekitarnya berbasis kegiatan perkotaan: industri, perdagangan dan jasa, yang didukung oleh kawasan alam pegunungan dengan kegiatan pertanian.








ass..
Kondisi geologi Jawa Barat memang merupakan kekayaan alam yang membentuk daya tarik wisata yang khas pada lokasi - lokasi tertentu, seperti gunung - gunung di bagian tengah Jawa Barat serta daerah berbukit dengan sedikit pantai di sebelah selatan.
adapun cakupan faktor lingkungan pariwisata yang mempengaruhi pengembangan kepariwisataan di Jawa Barat yang harus diperhatikan diantaranya : Aksesibilitas, Kebersihan lingkungan, Permukiman penduduk, Kondisi sosial ekonomi masyarakat sekitar ODTW, Fasilitas bagi wisatawan, Beberapa aspek lingkungan dalam ODTW.
ass Pak.
Bentuk permukaan bumi di Jawa Barat sangatlah eksotis, namun jangan salah, bentuk permukaan bumi yang menonjol sangat rentan akan bencana alam.
Selain aksebilitas, kebersihan, pemukiman, dan kesadaran penduduk, ada satu faktor pentingny, yaitu keamanan dari bencana, oleh karena itu disetiap DTW terdapat pengamat geografis’ny agar setiap bencana dapat diminimalisir dampakny. bener g Pak.?
wass.
Ass.Wr.Wb
Bade ngiringan ah…
ODTW nu aya di Jabar…memang asyik untuk dikunjungi..untuk sekedar melepas kepenatan rutinitas sehari2, mengajak liburan bareng keluarga tercinta, teman, pacar dsb. mungkin sama tujuannya dari mendatangi ODTW tersebut adalah agar hati kita jadi senang, riang, tentram, nyaman.(bengras)…hehe.
Agar tujuan wisatawan tersebut tercapai, salah satunya harus tersedianya aksesibilitas yang lancar!!, aman dan mudah dijangkau oleh kend. umum. Ketersediaan fasilitas pendukung lainnya pun harus ada ( tdk usah lengkap) tapi lengkap jg boleh, namun yang utama harus terjangkau oleh masy. menengah ke bawah, serta menyediakan fasilitas bagi org cacat dan orang Lanjut Usia,…biar adil..nya..
Didalam merencanakan suatu Kawasan ODTW, Beberapa hal yang perlu di perhatikan, seperti yg di utarakan diatas betul!! yang utama tinjauan adalah :
Fisik dasar ( geomorfologi, iklim Curah huj., dll.) serta yang tak kalah pentingnya adalah penggunaan lahan saat ini di sekitar lokasi seperti apa?… komponen2 tsb mrpkan daya dukung lingkungan yang harus di kaji secara detail, hasilnya yaitu kesesuaian lahan serta untuk mengetahui limitasi dan kendala (longsor, gempa, abrasi, banjir, kekeringan, dll.) bagi kaw. yg akan di jadikan kawasan ODTW diatas.
Agar tidak terjadi tumpang tindih kegiatan, maka perlu disusun suatu rencana yg lebih rinci lg…loh jangan seperti ” kaw. Puncak ” bisa anda lihat yg terjadi kan!!! ( banjir, yg di akibatkan oleh perubahan penggunaan lahan besar2an dari RTH jadi bangunan.) contoh yg lainya Punclut, gedung sabuga..terus di kab.Cianjur Selatan Hutan Jati jadi kebon cau…yang mengatas namakan “masyarakat KUMIS” pokonan loba lah…nu ngararaco teh..konsep awalna mah sae…tapi aduuuuh ayena jg kawas kitu patut…
Di era otonomi daerah ini masing2 kab/ kota berlomba meningkatkan PAD, salah satu penyumbangnya adalah sektor wisata. Syah - syah saja atuh, namun terkadang suka salah melangkah euy!! dalam menentukannya teh…sebagai contoh : jelas2 di Renc.Tata Ruang Wilayah-nya difungsikan sbg kawasan lindung deeeer…diaranggo kaw. wisata atuh jadi rame eta daerah teh…maksud sy, boleh aja di bangun kaw. wisata alam, tapi aksesibilitas dibatasi cuma utk pejalan kaki…kend.dilarang masuk,IMB hrs ketat, AMDAL dipatuhi, dengan begitu sy jamin kaw. itu tidak akan rusak da’ dan malah akan lestari…loh. lokasi penginapan pun di tempatkan jauh dari lokasi ODTW. artinya tidak langsung di tempat/ kaw. tersebut minimal pencapaian 10-15 km. bukan kita membatasi daerah itu tdk boleh berkembang ( terisolasi), namun harus proporsional saja dan lebih bijaksana lagi…
Sosial Ekonomi, yang terjadi sekarang adalah masyarakat setempat tidak di jadikan sbg “peran utama” dari kegiatan sekitarnya, dn kurangnya SDM. akibatnya “rombongan calo tanah” masuk, pejabat ambil kavling, akibatnya masy. sekitar jadi penonton aja. punten’ paling banter dagang gorengan, ojeg. bagus sih… jd ada tambahan penghasilan tapi adil kah ini semua…dan yang tak kalah pentingnya lagi jangan sampai kaw. wisata menjadi kaw. yang bukan sekedar menjual image saja, namun perlu digarisbawahi adalah hati2 bakal tumbuh dan berkembang “kawasan2 ikutan” alias prostitusi….loh!!!
Wass.
mangga, haturnuhun