Kategori: Di Belakang Layar | Diterbitkan pada: 06-10-2007 |
Oleh DHIPA GALUH PURBA
Ini adalah sekelumit perjalanan shooting sinetron ‘Tiga Pendekar’ (ESA Production–TV-7). Berdasarkan tuntutan skenarionya yang harus banyak mengambil setting di tengah hutan, goa, sungai, air terjun, dsb. Maka pada episode 6 sampai episode 13 dipilihlah sebuah lokasi yang lebih dikenal dengan nama ‘
*
Citarik reujeung Cimulu
Nu dianggo batas nagri
Garut Bandung jeung Sumedang
Batasna tilu ngahiji
Dina cai ngamuara
Ka hilir ngajadi hiji…
Itulah cuplikan bait kedua kinanti yang dilantunkan oleh Aki Sahir.
Walaupun Gunung Kareumbi rencananya akan dijadikan sebuah wisata Taman Buru, namun belum terlalu banyak masyarakat yang mengenal tempat ini. Padahal jika dibandingkan dengan Kebun Binantang Bandung, sepertinya tidak akan terlalu jauh berbeda. Di Gunung Kareumbi juga terdapat beberapa ekor binatang yang sengaja dipelihara. Seperti binatang kera, rusa, kuda hutan, si amang, dsb. Pak Ade-lah yang lebih dikenal oleh masyarakat sekitarnya, sebagai salah seorang karyawan pengelola Gunung Kareumbi. Kesehariannya selalu dihabiskan untuk mengurus seluruh binatang yang berada di Gunung Kareumbi.
Pak Ade pula yang pertama kali menyambut kedatangan rombongan crew sinetron, yang akan memulai kegiatan shooting. Menurut Pak Ade, ESA Production merupakan production house/PH yang pertama kalinya menggunakan kawasan Gunung Kareumbi sebagai lokasi shooting. Entah apa yang menjadi alasannya, padahal tempat tersebut penuh dengan nunsa indah yang cocok untuk setting sebuah sinetron. Mungkin dikarenakan jaraknya yang agak jauh dari jalan raya, atau barangkali sudah cukup puas dengan lokasi Curug Cinulang, yang jaraknya hanya beberapa KM sebelum Gunung Kareumbi. Contohnya film ‘Saur Sepuh’ atau sinetron ‘Jenglot, Impian Malam Pengantin, dsb’. Film dan sinetron tersebut menggunakan kawasan Curug Cinulang dan sekitarnya sebagai lokasi shooting.
Belum pernah dipakainya lokasi Gunung Kareumbi untuk kegiatan shooting, menjadikan sebuah tanda tanya yang cukup besar bagi sebagian crew. Apalagi ketika hari pertama shooting, tiba-tiba ada beberapa ekor ular yang muncul dengan mendadak. Padahal menurut Pak Ade, jarang sekali ada ular yang berani muncul. Terlebih lagi mendekati manusia, dan ada pula yang melilit pada sebuah gelas milik seorang crew. Tentu saja tak seorang pun yang berani untuk membunuhnya. Ular-ular tersebut digiringkan saja, menuju habitatnya kembali.
Selain dikagetkan oleh beberapa ekor ular yang muncul secara mendadak, para crew juga merasa heran oleh keadaan cuaca yang berubah dengan tiba-tiba. Ketika shooting akan dimulai, langit menjadi mendung. Awan menghitam, sebagai tanda akan segera datang hujan. Tentu saja untuk sementara harus brik dulu, menunggu redanya hujan. Sampai pada hari pertama, shooting tidak bisa dilaksanakan. Dan esok harinya pun persis kejadiannya seperti yang pertama. Sehingga pada suatu hari, pimpinan crew sengaja menemui Aki Sahir.
Aki sahir memang dikenal masyarakat sekitarnya, sebagai seorang yang memiliki kemampuan ‘menyarang’ hujan. Namun dengan rendah hati, Aki Sahir menolak disebut sebagai ‘pawang hujan’.
“Hujan itu adalah ciptaan Alloh SWT, yang merupakan anugerah bagi manusia yang membutuhkannya. Seperti untuk masyarakat Leuwi Liang, yang sebagian besarnya hidup dari bertani.” Begitulah yang dikatakan Aki Sahir. Dalam arti kata, hujan tidak bisa ‘disarang’ oleh manusia. Adapun Aki Sahir yang suka diminta pertolongan untuk menyarang hujan, hanyalah semata berdo’a kepada Alloh SWT. Tentang dikabulkan atau tidaknya, sangat tergantung dari keridoan-Nya. Yang pasti, sejak pimpinan crew lebih akrab lagi dengan Aki Sahir, maka kegiatan shooting mulai berjalan dengan lancar. Tapi bukan berarti tidak ada hujan. Melainkan waktu turunnya hujan disaat shooting telah brik.
“Itulah salah satu kebesaran Alloh SWT. Tanaman para petani tetap subur, tidak kekurangan air, dan crew ESA pun bisa melaksanakan kegiatan shooting dengan cukup lancar.” Kata Aki Sahri, ketika ditanya mengenai hujan yang sering turun pada malam hari.
Keadaan cuaca di Gunung Kareumbi, sempat juga membuat kaget dua orang mahasiswa Universitas Padjadjaran Bandung, yang sedang mengadakan penelitian hujan. Sebut saja namanya Helmut T Simamora S.Si, mahasiswa S-2, Manajemen Sumber Daya Alam. Beserta seorang rekannya yang bernama Asep Nurjaman, mahasiswa fakultas pertanian, jurusan tekhnik pertanian. Namun kendati demikian, Helmut mencoba untuk berpikir secara rasional. Tentang banyaknya curah hujan di kawasan Kareumbi, bisa dikarenakan oleh letak Gunung Kareumbi tersebut, yang berada di kaki gunung.
Berbeda lagi dengan pendapat Pak Ade, yang mempunyai keyakinan tentang hal-hal gaib. Menurutnya, keadaan cuaca di Gunung Kareumbi memang terkadang membingungkan. Jika para crew Esa kebetulan sedang turun ke
Memang di satu sisi, tentu saja dua orang mahasiswa Unpad tersebut sangat mengharapkan turun hujan. Yang tentunya sesuai dengan misinya, penelitian curah hujan. Tetapi di satu sisi lagi, para crew Esa mengharapkan keadaan cuaca yang cerah, untuk kelancaran shooting. Kendati demikian, tidak berarti dua kubu tersebut saling bertentangan atau bermusuhan. Justru semuanya berrsatu, saling bantu dan saling tolong menolong. Betapa tidak, lokasi Gunung Kareumbi letaknya cukup jauh dari kampung. Jika malam sudah datang, suasana pun akan mulai mencekam. Tak adanya penerangan listrik, yang membuat keadaan gelap gulita. Sehingga sejak waktunya adan Magrib pun, jarang sekali ada orang yang berani melewati Gunung Kareumbi. (Bersambung) ***
Dimuat di halaman satu HU. GALAMEDIA (Minggu, 14 Juli 2002)







