Kategori: Di Belakang Layar | Diterbitkan pada: 06-10-2007 |

Oleh DHIPA GALUH PURBA
Pada bagian pertama diceritakan kesulitan crew Esa Production mengadaptasikan kegiatan shooting ‘Tiga Pendekar’ dengan cuaca di Gunung Kareumbi. Namun syari’atnya atas do’a Aki sahir, maka shooting pun bisa berjalan cukup lancar. Namun bukan berarti tak ada lagi keahengan yang terjadi.
Sebut saja namanya Anita C, seorang crew yang kebetulan menjadi penata mic-up pada sinetron tersebut. Gadis berusia tujuh belas tahun ini mendadak ‘kesurupan’ pada waktu magrib, bertepatan dengan malam selasa kliwon. Apa yang terjadi? Berikut penuturan ceritanya untuk semua pembaca Galamedia.
*
Seperti yang biasa dilakukan oleh seorang penata mic-up sinetron, Anita pun bekerja dengan tekun dan berusaha untuk menyulap wajah para pemain berdasarkan karakter yang dituntut dalam skenario. Apalagi untuk sebuah sinetron laga, Anita benar-benar harus ekstra keras dalam menjalankan tugasnya. Sebagai penata mic-up, Anita juga dituntut untuk memiliki imajinasi dan daya khayal yang kuat. Tentunya disamping harus terlebih dahulu menguasai berbagai tekhnik dalam ilmu penataan mic-up.
Dalam kesehariannya, Anita selalu disibukan oleh tugas-tugasnya yang sangat penting. Dari mulai persiapan, pelaksanaan, sampai pada akhir shooting, Anita harus tetap berada di lokasi shooting. Sehingga sangat sulit untuk menyempatkan waktu, walau hanya untuk sekedar refresing di tengah kesejukan Gunung Kareumbi. Tidaklah terlalu heran jika pada suatu hari, ketika ada waktu luang disaat brik, Anita memanfaatkannya untuk menikmati pemandangan Gunung Kareumbi.
Dengan ditemani oleh dua orang kawannya, Anita pun mulai menelusuri wilayah rerimbunan Gunung Kareumbi. Entah mengapa, ada sebuah dorongan pada Anita untuk menuju suatu tempat yang cukup jauh dari lokasi shooting. Menaiki tebing yang cukup tinggi, menerobos kawasan yang dipenuhi oleh pohon-pohon nan rindang. Sampai pada akhirnya Anita merasa lelah. Lalu duduk di atas rerumputan, sambil melemparkan pandangannya ke arah yang jauh. Terbentang luasnya Gunung Kareumbi, mungkin juga bagi Anita dapat mendatangkan inspirasi untuk karya-karya penataan mic-up selanjutnya.
“Nit, ayo kita pulang!” ajak Yuni, seorang kawan Anita yang selalu setia menemani Anita kemanapun pergi. Tapi Anita tidak menjawab, bahkan tidak melirik sedikit pun ke arah Yuni. Membuat Yuni merasa heran beberapa saat lamanya. Lalu bulu kuduknya mulai berdiri, tatkala memperhatikan sikap Anita yang berubah secara tiba-tiba. Apalagi saat itu, waktu telah menunjukan jam setengah enam sore, atau wanci sareupna.
Tiba-tiba Anita menjerit dengan sangat kerasnya. Tubuhnya bergulingan di atas rerumputan. Kontan saja Yuni dan seorang kawannya bertambah kaget. Tanpa dikomando lagi, semuanya menuju ke arah Anita. Tampaklah sorotan kedua mata Anita yang begitu tajam, bagaikan memendam sebuah kebencian yang sangat dalam. Tanpa banyak basa-basi lagi, Yuni dan seorang kawannya memegang tubuh Anita yang mulai mengejang. Tatkala tubuhnya digotong, Anita meronta-ronta seraya ingin melepaskan diri. Tenaganya sangat kuat, membuat kedua kawannya hampir saja kewalahan.
Tentu saja kejadian Anita yang ‘kesurupan’ tersebut, menjadikan gegernya seluruh penghuni Gunung Kareumbi. Anita dibawanya ke sebuah ruangan yang dianggap aman. Lalu para crew mencoba untuk mengobati Anita dengan berbagai kemampuan yang dimiliki mereka. Dari mulai crew yang memiliki ilmu reiki sampai kepada crew yang membacakan ayat-ayat suci. Tapi belum juga Anita sembuh, tiba-tiba tubuh seorang crew laki-laki mendadak mengejang. Sebut saja namanya Ajat, yang secara tiba-tiba dari bibirnya keluar suara yang sangat aneh. Mirip suara seorang kakek-kakek berusia puluhan tahun. Padahal usia Ajat yang sehari-harinya menjadi seksi properti itu, belum mencapai duapuluh tahun.
“Tong ngaganggu incu kaula…! (Jangan mengganggu cucu saya!)” begitulah ucapan yang terlontar dari mulut Ajat. Dijawab oleh suara gelak tawa Anita, persis seperti suara seorang nenek-nenek. Demikian keduanya saling melontarkan kata-kata, yang sama sekali tidak dapat dipahami.
Sampai larut malam, keadaan Anita dan Ajat kian menghawatirkan. Belum ada seorang pun diantara crew, yang mampu untuk mengobati Anita. Sehingga pada akhirnya Pimpinan Produksi, Ir. Meidi Eriyanto berinisiatip untuk memanggil seorang sesepuh dari kampung Leuwi Liang. Tadinya mau mengundang Aki Sahir. Tapi dikarenakan Aki Sahir sedang sakit, maka giliran Abah Rukanda yang diundang. Abah Rukanda pun merupakan seorang sesepuh yang dikenal memiliki kelebihan dalam bidang ilmu gaib. Menurut keterangan dari beberapa warga Leuwi Liang, usia Abah Rukanda sudah mencapai seratus tahun lebih. Kendati demikian, Abah Rukanda masih terlihat sehat dan bugar.
Alhamdulillah, berkat do’a Abah Rukanda dan seluruh crew, Anita dan Ajat pun dapat pulih kembali. Dengan air mata berlinang, Anita memeluk semua sahabatnya silih berganti. Lalu menceritakan pengalaman misteriusnya yang begitu menakutkan. Menurut Anita, ada sesosok bayangan makhluk mengerikan yang memanggil-manggil namanya. Entah mengapa, Anita ingin berlari, tapi kakinya serasa kaku. Tak dapat bergerak sama sekali. Sehingga ketika makhluk tersebut mendekati dirinya, Anita hanya bisa menjerit. Selanjutnya Anita pun tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Yang pasti Anita merasakan tubuhnya melayang-layang tiada arah. Dalam pandangannya, ada wajah kawan-kawan kru yang terlihat sekilas demi sekilas. Sampai pada akhirnya Anita tersadar kembali, dan menemui dirinya yang sedang dikerubungi oleh seluruh kru, para petugas KSDA satker Sumedang, dan sebagian masyarakat Leuwi Liang.
Abah Rukanda tak lupa memberikan pepeling tentang berbagai kejadian aneh yang banyak menimpa para kru. Jika sesama manusia harus menjaga etika, maka antara manusia dengan makhluk gaib pun harus tetap menjaga etika juga. Contohnya pada waktu menjelang magrib, tidak boleh membuat kegiatan yang bisa menimbulkan kebisingan. Seperti main gitar atau sebangsanya. Tidak boleh berkata dengan nada yang sompral, tidak boleh kencing di sembarang tempat, dan tidak boleh merusak lingkungan Gunung Kareumbi. Demikian kata Abah Rukanda, yang maksudnya tiada lain untuk menjaga agar kejadian yang menimpa Anita dan Ajat tidak pernah terulang lagi oleh kru lainnya.
Pak Ade menambahkan tentang kata sompral yang dimaksudkan Abah Rukanda. Selain maksudnya tidak boleh berkata sombong, di Kampung Leuwi Liang pun ada sebuah anggapan, bahwa sangat ‘dipantrang’ untuk menyebut nama ‘Embe’ (kambing). Nama hewan tersebut harus diganti menjadi ‘Uncal Kolong’. Tentang akibatnya jika dengan sengaja menyebut ‘Embe’, sudah banyak sekali pengalaman yang terjadi. Tentunya akan berakibat buruk bagi orang yang mengatakannya. Mungkin perbandingannya tidak akan jauh berbeda seperti dengan di Situ Lengkong Panjalu, yang di
Rudi Kalces dan Yoga Asmara, dua orang pemain ‘Tiga Pendekar’ yang kebetulan turut mengurusi Anita, sangat setuju dengan apa yang dikatakan oleh Abah Rukanda. Bahkan Rudi justru merasa betah dengan suasana Gunung Kareumbi. Mungkin juga dikarenakan banyaknya ular di Gunung Kareumbi. Sebab bagi Rudi, ular itu adalah sahabatnya. “Ular tidak akan mengganggu manusia, jika manusia juga tidak mengganggunya.” Begitulah yang dikatakan Rudi. Membuat Anita pun merasa tertarik untuk menelusuri dunia ular. Dengan bimbingan Rudi, lama-kelamaan Anita bisa akrab dengan ular. Tanpa rasa takut dan ragu-ragu lagi, Anita berani melilitkan ular ke sekujur tubuhnya. Memang benar, ular tersebut tidak melukai Anita. ***
Dimuat di halaman satu HU. GALAMEDIA (Minggu, 21 Juli 2002)







