Kategori: Skenario | Diterbitkan pada: 03-10-2007 |

28.  INT. KAMAR VILLA ANDI. MALAM.

 

Nyai Layung baru saja mengenakan pakaiannya. Ia tampak sedang berdiri di hadapan cermin. Senyumannya mengembang.

 

O.S. ANDI

Sudah kau ganti bajunya?

 

NYAI LAYUNG

Sudah.

 

ANDI

Kalau begitu, akang boleh masuk kan?

 

NYAI LAYUNG

Masuklah!

 

Pintu terbuka. Andi masuk. Dan ia langsung terbelalak menyaksikan kecantikan Nyai Layung.

 

ANDI

Oh, sungguh kau ini seorang bidadari. Akang mencintaimu dengan istimewa, seperti Rama pada Shinta, seperti Romeo pada Juliet, seperti Prameswari Pitaloka pada…eh, maaf salah.

 

Andi berusaha memeluk Nyai Layung. Namun Nyai Layung menolaknya.

 

NYAI LAYUNG

Maafkan aku, Kang Andi. Aku bukan wanita murahan. Aku hanya akan menyerahkan mahkotaku pada seorang yang sudah resmi menjadi suamiku.

 

ANDI

Oh, iya. Maafkan akang. Ini karena Akang sangat mencintaimu. Akang berjanji, tak akan melakukan itu, sampai tiba saatnya malam pertama kita.

 

Andi berlari meninggalkan Nyai Layung. Nyai Layung hanya tersenyum.

Tak lama kemudian, Andi muncul lagi sambil membawa brankas berisi tumpukan uang. Lalu melemparnya ke atas kasur. Uang pun berhamburan.

 

ANDI

Ambillah semuanya! Ambil untukmu!

 

Nyai Layung tetap menggelengkan kepala. Tentu saja Andi kebingungan. Tapi kemudian ia tersenyum, seperti yang mendapatkan akal. Andi ke luar lagi.

 

CUT TO

 

29.  INT. RUANGAN DAPUR VILLA ANDI.MALAM.

 

Andi mengambil sebuah gelas. Lalu mengisinya dengan air putih. Tangannya merogoh saku celana, mengeluarkan sebuah plastik kecil, berisi serbuk berwarna putuh.

Serbuk tersebut dimasukannya ke dalam gelas yang sudah diisi air. Lalu menguceknya dengan sendok.

CUT TO

 

30.  INT. KAMAR VILLA ANDI. MALAM.

 

Cont. Scene 28

 

Nyai Layung masih berdiri menghadap cermin sambil mengamati wajahnya. Tangannya mebgusap pipi kanan, yang sebelumnya ada bekas luka.

Pintu kamar terbuka. Andi masuk sambil membawa segelas air.

ANDI

Sayang,  akang mencintaimu dengan tulus, bukan karena berahi.

 

NYAI LAYUNG

Terimakasih, Kang.

 

ANDI

Minumlah dulu.

 

Nyai Layung menerima gelas tersebut. Dan tanpa ragu-ragu, meminumnya.

Sesaat kemudian, Nyai Layung seperti yang kehilangan keseimbangan. Tubuhnya hampir jatuh, kalau tidak ditahan Andi.

Andi mengangkat tuibuh Nyai Layung seraya merebahkannya di atas kasur, di atas uang yang berserakan.

Andi membuka pakainnya sendiri. Lalu menghampiri Nyai Layung.

Ketika Andi memeluk tubuh Nyai Layung, tiba-tiba terdengar bunyi kerincing dari gelang kaki Nyai Layung. Semakin lama, bunyi kerincing itu semakin sering dan kian keras.

 

DISOLVE TO

31. EXT. KUBURAN. MALAM.

OS: Suara gelang kaki Nyai Layung.

Tampak sebuah kuburan bergetar. Semakin lama getarannya kian hebat. Lalu kuburan itu meledak, tanahnya berhamburan. Kemudian muncullah Si Leunyay (arwah sesosok wanita yang menyeramkan, mengenakan pakaian serba putih).

SI LEUNYAY

(Tertawa terbahak-bahak)

Hi hi hi…

Si Leunyay meninggalkan kuburan.

CUT TO

32. INT. KAMAR VILLA ANDI. MALAM.

Cont. Scene 30

Andi semakin bernafsu menggauli Nyai Layung. Tiba-tiba ruangan kamar bergetar. Diikuti oleh Jendela yang tiba-tiba terbuka. Munculah Si Leunyay dengan menyeramkan. Tanpa banyak membuang waktu, Si Leunyay menyerang Andi sampai tewas mengenaskan.

SI LEUNYAY

Kau beruntung tidak menjadikan manusia keparat ini untuk persembahan di malam purnama.

NYAI LAYUNG

Maksud Nyai?

SI LEUNYAY

Dia bukan seorang perjaka.

NYAI LAYUNG

(bergumam) Pantas…

SI LEUNYAY

Ingat. Malam purnama tinggal beberapa hari lagi. Kau harus segera menemukan seorang perjaka.

NYAI LAYUNG

Baik, Nyai…

DISOLVE TO

33. EXT. RUMAH NYAI LAYUNG. SIANG.

Nyai Layung sedang berbincang-bincang dengan Mak Ijah.

MAK IJAH

Ia pasti orang baru. Rasanya Emak pun belum pernah melihatnya.

NYAI LAYUNG

Ya. Dia memang orang baru. Tapi itu tidak terlalu penting. Yang pasti, apakah dia seorang perjaka atau bukan?

MAK IJAH

Sulit untuk menebak hal itu.

NYAI LAYUNG

Tapi Emak harus memikirkannya.

MAK IJAH

Tentu saja.

NYAI LAYUNG

Pandangan matanya membuat dadaku bergetar. Sampai saat ini, seakan-akan napasnya bergemuruh dalam relung kalbu ini.

MAK IJAH

Jangan terbawa oleh perasaan seperti itu. Dia tidak akan menjadi suamimu, karena dia akan mati.

Nyai Layung termenung.

MAK IJAH

Aku akan membawa pemuda itu, sekarang juga.

NYAI LAYUNG

Jangan! Biarkan semua berjalan apa adanya.

MAK IJAH

Lalu, bagaimana mungkin Ia bisa datang ke mari.

NYAI LAYUNG

Persiapkan pementasan bajidor nanti malam di halaman rumah.

CUT TO

34. EXT. ARENA PERTUNJUKAN BAJIDOR. MALAM.

Suasana pergelaran ronggeng yang meriah. Para ronggeng memamerkan kepandaiannya dalam menari. Nyai Layung yang paling menonjol di antara para ronggeng lainnya. Penonton sangat riuh, bersorak sorai.

Insert: Tarian Nyai Layung yang menantang.

Di antara para penonton, Darma menyelinap, ingin menyaksikan pertunjukan lebih dekat. Lalu duduk di barisan penonton yang paling depan.

Para lelaki hidung belang mulai masuk ke arena. Berpasangan dengan para ronggeng, termasuk berpasangan dengan Nyai Layung. Namun mata Nyai Layung lebih tertuju kepada Darma, meskipun berpasangan dengan seorang lelaki.

Insert: Nyai Layung mengerdipkan matanya ke arah Darma.

In Frame: Darma tersentak. Tidak percaya pada penglihatannya.

Darma tetap diam di tempat. Tidak tertarik untuk turut menari dengan para ronggeng. Akhirnya Nyai Layung yang menghampiri Darma, meninggalkan pasangan tarinya.

Nyai Layung mengalungkan selendang-nya pada leher Darma, seraya mengajak Darma berdiri.

Darma terpaksa bangun dari duduknya. Ia melayani keinginan Nyai Layung dengan gerakan tari yang kaku, karena tidak terbiasa.

Insert: Wajah Pak Isud memerah. Dia menyedot rokoknya dalam-dalam, dan menghempaskan asapnya. Puntung rokok dilemparkan dengan penuh amarah.

Insert: Ujang yang tengah asik menikmati tarian para ronggeng, tiba-tiba berteriak kesakitan, karena puntung rokok yang dibuang Pak Isud, kena kepalanya.

UJANG

Adaw…! Bedul siah! Saha nu miceun udud pararadu.

Ujang menengok ke arah Pak Isud, tapi cepat-cepat berbalik lagi, karena takut. Ujang malah memungut puntung rokok yang tadi kena kepalanya. Lalu menghisapnya.

Pertunjukan Ronggeng semakin seru.

DISOLVE TO

35. INT. KAMAR RUMAH NYAI LAYUNG. MALAM.

Insert: Pintu terbuka. Ujang masuk, diikuti oleh Darma.

UJANG

Silahkan beristirahat dengan tenang di sini. Sebentar lagi, Nyai Putri akan menyusul ke mari.

DARMA

Nyai Putri? Siapa itu?

UJANG

Maksudku, Nyai Layung.

Ujang ke luar lagi. Pintu ditutup.

Darma memandang ke sekeliling kamar. Lalu menghampiri ranjang, untuk kemudian duduk. Bahkan Darma pun langsung merebahkan tubuhnya.

In Frame: Mata Darma terpaku pada lukisan yang terbalik.

Darma segera bangkit, menuju lukisan tersebut. Lalu mengambilnya, dan membalikannya. Terlihat lukisan Iswari. Tentu saja Darma terkejut.

DARMA

(Perlahan) apa arti semua ini…

O.S: Suara Pintu terbuka.

Darma cepat-cepat menyimpan lukisan seperti semula. Lalu membalikan tubuhnya ke arah pintu.

Insert: Nyai Layung berdiri di pintu, mengenakan gaun putih yang tipis.

DARMA

Nyai…

NYAI LAYUNG

(Tersenyum) Bagaimana menurutmu pertunjukan tadi?

DARMA

Bagus.

ISWARI

Apanya yang bagus? kau tidak tampak seperti seorang afresiator yang so tahu.

Nyai Layung menutup pintu, dan menguncinya. Lalu melangkah menuju ranjang. Nyai Layung duduk di pinggirnya, menghadap Darma.

NYAI LAYUNG

Ke marilah…

Darma menggelengkan kepalanya.

NYAI LAYUNG

Kenapa? Kau takut? Atau… hanya pura-pura?

DARMA

Maafkan, Nyai. Aku datang ke Pasir Haur untuk mengadakan penelitian tentang ronggeng.

ISWARI

O ya? Bagus kalau begitu. Aku akan memperlihatkan tarian seorang ronggeng di hadapanmu, tanpa ditutupi selembar kain pun. Kau bisa langsung menyelesaikan penelitianmu. Tak ada lagi yang perlu kau teliti, setelah kau menyaksikan semuanya. Bukan begitu?

Nyai Layung membuka kancing gaunnya satu persatu.

Darma menutup mata dengan kedua tangannya.

O.S. NYAI LAYUNG

Bukalah matamu. Aku siap mempersembahkan tarian terbaik untukmu. (mendesah) Hanya untukmu.

CUT TO

36. EXT. PEKARANGAN BELAKANG RUMAH NYAI LAYUNG. MALAM.

E.S. Rumah bagian belakang. Keadaan cukup gelap. Tapi kaca jendela yang tertutup gordeng tipis, tampak terang.

Siluet tubuh Iswari membentuk bayangan indah, dengan tarian yang terlihat sangat menawan.

Rewok mengendap-endap menuju arah pintu jendela kamar. Ia menengok kiri-kanan, memperhatikan keadaan sekelilingnya. Lalu mengintip dari jendela.

Tiba-tiba Rewok menerjang kaca jendela, dan masuk dengan cara meloncat secepat kilat.

CUT TO

37. INT. KAMAR RUMAH NYAI LAYUNG. MALAM

Continity Scene 35.

Nyai Layung kaget. Dengan cepat meraih kembali pakainnya, menutupi tubuhnya. Darma pun tampak kaget. Ia memasang kuda-kuda.

NYAI LAYUNG

Siapa kau?

Si Rewok tidak menjawab. Ia malah menyerang Darma. Tanpa banyak perlawanan yang berarti, Darma kena totokan. Darma tidak bisa bergerak.

NYAI LAYUNG

Tolooong…!

Si Rewok berbalik ke arah Nyai Layung, mau menotok. Namun Pintu sudah didobrak dari luar. Akhirnya Si Rewok meraih tubuh Darma, mengangkatnya, dan melompat ke jendela sambil memikul tubuh Darma.

CUT TO

38. EXT. TENGAH HUTAN. MALAM.

Si Rewok yang memikul tubuh Darma, menghentikan langkahnya. Lalu merebahkan tubuh Darma. Kedua tangannya bergerak cepat, melepaskan totokan pada tubuh Darma.

Insert: Darma terperanjat.

DARMA

Siapa kau?

Si Rewok duduk dengan tenang. Lalu membuka penutup wajahnya. Tampaklah wajah Si Rewok.

REWOK

Kau tidak perlu tahu.

DARMA

Apakah kau akan membunuhku? Atau… mau membunuh Nyai Layung?

REWOK

Jika aku berniat untuk membunuhmu, sejak tadi aku bisa melakukannya.

DARMA

Jadi, apa maksudmu melakukan ini?

Si Rewok berdiri, membelakangi Darma. Melepaskan pandangannya ke arah yang jauh.

REWOK

Aku tidak suka pada Nyai Layung. (menarik napas) Tadinya aku mengira, Nyai Layung itu mau meneruskan perjuangan Nyai Iswari. Seharusnya dia tahu diri.

DARMA

Perjuangan? Apa yang diperjuangkan Nyai Iswari?

REWOK

Terlalu panjang untuk kuceritakan saat ini. Kau belum tahu banyak tentang Pasir Haur. Sebaiknya kau tinggalkan kampung ini, sebelum Iblis itu membunuhmu.

DARMA

Aku tidak punya urusan apa pun dengan Iblis.

REWOK

(Membalikan tubuhnya) Dengarlah! Nyawamu kini terancam! Tinggalkan Pasir Haur sekarang juga!

Tiba-tiba ada suara gemerisik di balik pohon. Keduanya kaget.

Insert: Si Rewok mengenakan kembali cadarnya.

REWOK

Siapa itu? Keluarlah, jika kau seorang pemberani!

Si Leunyay muncul di hadapan Si Rewok dan Darma. Si Rewok menyerang Si Leunyay. Pertarungan tak dapat dihindarkan lagi. Sementara Darma tadinya mau membantu Si Rewok, tetapi Si Rewok melarangnya.

REWOK

Cepat tinggalkan tempat ini! Kau dalam bahaya!

Darma segera berlari. Sementara Si Rewok mengeluarkan keris pusaka.

REWOK

Allohu Akbar…!

Tiba-tiba Si Leunyay menghilang. Tapi terdengar tawanya yang menyeramkan.

O.S SI LEUNYAY

Hi hi hi… kali ini kau masih bisa selamat, Rewok. Tapi jangan harap kau bisa lepas dari cekikanku nanti…

CUT TO

39. EXT PEKARANGAN RUMAH BI IROH. MALAM.

Pekarangan rumah Bi Iroh tampak gelap. Tapi di dalamnya agak terang. Tampak siluet tubuh Bi Iroh yang sedang menari, terlihat di jendela yang tertutup gordeng transparan.

Insert: Darma masuk ke pekarangan. Sejenak Darma tertegun. Lalu mengintipnya dari jendela beberapa lama.

Insert: Seekor cecunguk merayap pada kaki Darma, membuat Darma terkejut dan berteriak.

DARMA

Aaakh…!

O.S. BI IROH

Siapa di luar?

DARMA

Aku!

Pintu terbuka. Bi Iroh melongo.

BI IROH

Kenapa kau tidak mengetuk pintu?

DARMA

Maafkan aku, Bi. Aku baru saja tiba.

BI IROH

Masuklah.

Darma segera masuk.

CUT TO