Kategori: Skenario | Diterbitkan pada: 03-10-2007 |
50. INT. RUMAH NYAI LAYUNG. SIANG.
Nyai Layung sedang termenung. Tiba-tiba Mak Ijah menghampirinya.
MAK IJAH
Sudahlah. Tidak usah kau pikirkan pemuda itu.
NYAI LAYUNG
Tapi, aku yakin, Mak. Dia benar-benar seorang perjaka. Lagi pula…
MAK IJAH
Kenapa?
NYAI LAYUNG
Malam Purnama akan segera tiba. Jika aku tidak berhasil menemukan seorang perjaka, maka berakhirlah hidupku…
MAK IJAH
Jangan berkata seperti itu. Kita masih punya waktu untuk berbuat.
NYAI LAYUNG
Aku bingung, Mak. Ke mana aku harus mencari perjaka itu?
MAK IJAH
Tenang saja, anakku. Malam nanti, kita pasti akan menemukan lelaki yang kita inginkan…
NYAI LAYUNG
Betulkah, Mak?
MAK IJAH
Percayalah sama Emak. Malam nanti, kita akan menggelar pertunjukan bajidor yang lain daripada yang lain.
Nyai Layung tersenyum
DISOLVE TO
51. EXT. ARENA PERTUNJUKAN RONGGENG. MALAM.
Suasana riuh seperti biasa mewarnai setiap pertunjukan Ronggeng. Namun ada yang berbeda, dibandingkan dengan pertunjukan yang biasa terjadi. Kali ini, yang menjadi para penari adalah kaum laki-laki. Sedangkan kaum perempuan yang biasanya menjadi Ronggeng, kini duduk santai sambil menikmati tontonan.
Insert: Nyai Layung duduk didampingi oleh seorang ronggeng yang bernama Relina tersenyum.
RELINA
Sekali-kali kaum wanita harus berada di atas, hi hi hi…
NYAI LAYUNG
Benar sekali katamu itu. (Berteriak) Hai kaum wanita, ayo kalian memilih Ronggeng yang kalian sukai. Bawalah ke mana pun kalian suka! Bayarlah Ronggeng laki-laki itu sesuai permintaannya!
RELINA
Ini suatu hal yang sangat luar biasa. Sudah lama aku memimpikan ini.
NYAI LAYUNG
Nikmatilah… Ayo nikmatilah hidup ini!
Keduanya kembali tertawa. Tapi sesaat kemudian berhenti, karena Iswari seperti melihat sesuatu.
Insert: Darma menyelinap di antara para penonton lainnya.
NYAI LAYUNG
Darma…! Benar, dia Darma! (menunjuk ke arah Darma)
RELINA
Lengkap sudah kebahagiaanmu. Aku akan membawakan dia untukmu.
Nyai Layung segera beranjak, berjalan menuju Darma.
DISOLVE TO
52 . INT. KAMAR RUMAH NYAI LAYUNG. MALAM.
Darma tertegun di depan jendela kamar. Darma seperti yang sedang berpikir keras.
O.S. Suara pintu terbuka.
Darma kaget. Ia membalikan tubuhnya.
Insert: Mak Ijah membawa baki minuman, memasuki kamar.
MAK IJAH
Punten Adén, Ema dipiwarang ku Endén Putri, kanggoi nyuguhan leueuteun.
(Sambil menempelkan telunjuk kanan pada bibirnya) Mak… Mak Ijah…
MAK IJAH
(tertegun) Aya naon, Adén?
Aku akan menikahi Bi Iroh, putri Emak.
MAK IJAH
(mengerutkan kening) Apan harita ogé ku ema tos diwartoskeun. Ema mah teu gaduh putra anu namina Irah.
DARMA
Sstttt….! Iroh menyuruhku memberikan ini pada emak. (mengeluarkan potongan kayu)
Mak Ijah menerimanya. Ia kaget sekali.
MAK IJAH
Nyai… Si Nyai aya kénéh! Di mana ayeuna? Di mana?
Sstt…! Besok pagi. Aku menunggu Emak di ujung jalan Pasir haur.
Mak Ijah mengerti. Cepat-cepat memasukan potongan kayu itu ke balik bajunya dengan wajah yang penuh kebahagiaan.
Bersama itu pula, Nyai Layung muncul di pintu.
Mak Ijah segera ke luar dari kamar, dengan terbungkuk-bungkuk. Tak lupa, Mak Ijah menutup kembali pintu kamar.
Nyai Layung menghampiri Darma, yang sedang memandang ke luar dari jendela. Tampak Nyai Layung menebar pengaruhnya untuk memikat Darma. Sampai akhirnya Darma pun terpengaruh oleh ilmu pemikat Nyai Layung.
Nyai Layung memeluk Darma dari belakang.
NYAI LAYUNG
Sudah lama aku rindukan saat seperti ini. Aku sempat khawatir, jangan-jangan kau dibunuh oleh orang yang bercadar itu.
DARMA
Aku berhasil melarikan diri.
NYAI LAYUNG
Bagaimana penelitianmu?
DARMA
Aku tak akan pulang, sebelum menyelesaikannya.
NYAI LAYUNG
Lihatlah ke mari, sayang. Kau tidak akan menemukan bahan apa-apa di sini. Apalagi tentang ronggeng.
DARMA
Maksudmu?
NYAI LAYUNG
Bukankah kau lihat sendiri? Di Pasir Haur tidak akan ada lagi ronggeng. Yang ada adalah para penari laki-laki, yang bisa diperlakukan semau kaum wanita. Apakah laki-laki itu akan kau beri nama ronggeng? Akang Ronggeng? (Tertawa)
DARMA
Diamlah. Kau merusak sebuah seni tradisi warisan leluhur.
NYAI LAYUNG
Aku tidak peduli! Mereka juga tidak mempedulikanku. Aku tidak hidup atas warisan leluhur. Aku tidak akan merasa sedih kalau pun seluruh seni warisan leluhur itu akan punah.
DARMA
Jalan pikiranmu sudah rusak.
NYAI LAYUNG
Terserah kau. Yang penting aku bisa memanfaatkan kehidupan ini dengan penuh kebahagiaan.
DARMA
Apa? Kudengar kau bahagia? Apa kau yakin, saat ini kau merasa bahagia?
Nyai Layung tersentak. Tapi hanya sesaat, Ia pun menarik tangan Darma.
NYAI LAYUNG
Kau terlalu banyak bicara, anak muda. Ayolah kita lalui malam ini dengan penuh kebahagiaan.
Darma yang sudah terperngaruh, akhirnya melayani hasrat Nyai Layung. Adegan percintaan pun segera terjadi.
Gelang kaki Nyai Layung mulai terdengar berkerincing. Makin lama, kian sering dan semakin keras.
DISOLVE TO
53. EXT. KUBURAN. MALAM.
O.S.: suara gelang kerincing kaki Nyai Layung.
Kuburan Si Leunyay kembali bergetar hebat. Tiba-tiba tanahnya berhamburan, dan keluarlah Si Leunyay dengan sangat menyeramkan.
CUT TO
54. EXT. JALAN DESA. MALAM.
Si Rewok dan Ustad Otong sedang berjalan. Tiba-tiba ada getaran yang cukup hebat. Keduanya terkejut.
USTAD OTONG
Astagfirullohal adzim. Dia pasti sudah bangkit. Kita terlambat.
REWOK
Bagaimana kalau kita ke rumah Nyai Layung saja, Ustad?
USTAD OTONG
Ya. Hanya itu satu-satunya jalan.
Si Rewok dan Ustad Otong segera berlari, meninggalkan btempat tersebut.
CUT TO
55. EXT. BELAKANG RUMAH NYAI LAYUNG. MALAM.
Suara gamelan dan gelang kerincing Nyai Layung terdengar seirama. Suasana tampak mencekam. Tiba-tiba muncul Nyai Leunyay.
Ketika akan menembus dinding, Si Rewok dan Ustad Otong datang.
SI REWOK
Iblis…! Kali ini aku tak akan mengampunimu…!
Si Rewok melemparkan keris pusaka. Tapi kali ini Si Leunyay menangkisnya. Keris itu berbalik menyerang Si Rewok. Untung saja, Si Rewok cepat menghindar. Keris menyambar sebuah pohon, dan pohon itu terbakar.
Si Leunyay menyerang Ustad Otong. Namun Ustad Otong sudah bersiap-siap untuk mengeluarkan ilmunya. Ustad Otong memejamkan matanya, seraya mengangkat tangannya ke atas. Tubuh Si Leunyay terpental, ketika menyentuh tubuh Ustad Otong.
CUT TO
56. INT. KAMAR RUMAH NYAI LAYUNG. MALAM
Cont. Scene 43
Nyai Layung dan Darma semakin mesra bercinta. Suara kerincing gelang kaki Nyai Layung terdengar lebih cepat.
Tiba-tiba terdengar suara Si Leunyay.
O.S SI LEUNYAY
Kita sedang terdesak. Kau harus membunuh pemuda itu dengan tanganmu sendiri…
Nyai Layung tertegun. Ia menatap Darma. Tampaknya Nyai Layung enggan melakukannya, karena ia sudah jatuh cinta.
O.S SI LEUNYAY
Cepat kau lakukan!
Nyai Layung kembali bimbang. Dia mau mencekik leher Darma, tapi urung lagi.
Akhirnya Si Leunyay muncul.
SI LEUNYAY
Kenapa kau tidak membunuhnya?
NYAI LAYUNG
Aku… aku…
SI LEUNYAY
Menyingkirlah!
NYAI LAYUNG
Tidak….Jangan
SI LEUNYAY
Kau mau berhianat?!
Si Leunyay marah. Ia menyerang Nyai Layung. Lalu mencabik-cabik tubuhnya.
Pintu jendela didobrak. Ustad Otong dan Si Rewok muncul.
Ustad Otong mengeluarkan sinar kuning dari tangannya. Lalu menghempaskannya ke tubuh Si Leunyay. Akhirnya tubuh Nyi Leunyay terbakar, diiringi jeritannya yang melengking.
Muncul Mak Ijah. Dia menangis sambil memeluk tubuh Nyai Layung.
Darma baru tersadar. Pengaruh ilmu Nyai Layung telah lenyap. Dia mengusap wajahnya.
DARMA
Astagfirullohaladzim
Sesudah mengusap wajahnya, tampak di pintu kamar, Nyai Iswari sudah berdiri.
Nyai Iswari tersenyum.
ISWARI
Darma, aku Bi Iroh…
Darma terkejut. Namun ia tersenyum penuh kebahagiaan.
Tiba-tiba mata Nyai Layung terbuka. Ia menatap Darma yang akan menghampiri Iswari.
Tangan Nyai Layung membuka gelang di kakinya. Dia melemparkan gelang itu ke arah Iswari.
Dengan sigap, Ustad Otong menangkapnya. Iswari selamat.
Si Rewok meloncat ke arah Nyai Layung, seraya menghunuskan sebuah golok.
MAK IJAH
Jangan, jangan bunuh anakku.
NYAI LAYUNG
(Terbata-bata) Biarkan Mak, Dia… dia sudah lupa pada hutangnya.
Si Rewok termenung. Nyai Layung mengambil pedang yang digenggam Si Rewok. Kini keadaan menjadi terbalik. Si Rewok seakan pasrah, menanti apa pun yang akan dilakukan oleh Nyai Layung.
Nyai Layung mengangkat pedang, siap ditebaskan pada tubuh Si Rewok.
Si Rewok memejamkan matanya.
Tiba-tiba Nyai Layung berteriak sangat keras, menahan rasa sakit. Pedangnya ternyata ditebaskan ke perutnya sendiri.
NYAI LAYUNG
Maafkan… maafkan aku, Mak…
MAK IJAH
Kenapa kau melakukan itu, nak? Kenapa…?
NYAI LAYUNG
(terbata-bata) Maafkan aku, Mak. Kematian akan lebih baik bagiku. Aku sudah tak akan berguna lagi…
ISWARI
Jangan berkata begitu, Teteh. Aku sangat membutuhkan kehadiranmu.
NYAI LAYUNG
Iswari… Maafkan Teteh…
ISWARI
Teteh tidak bersalah. Teteh…! Jangan tinggalkan aku…
USTAD OTONG
Nyai Layung, nyebutlah: Astaghfirullohaladzim…
Nyai Layung menggelengkan kepalanya.
NYAI LAYUNG
Dosa-dosaku sangat besar. Tuhan tak mungkin memaafkanku…
USTAD OTONG
Tidak, Nyai. Alloh Maha Pengampun. Ayolah, ucapkan: Astaghfirullohal adzim..
MAK IJAH
Ayo, Nak. Nyebut. Nyebut…
NYAI LAYUNG
(perlahan) Astaghfirullohal adzim…
Mak Ijah mempererat pelukannya sampai akhirnya Nyai Layung tak bernapas lagi. Nyai Layung mati.
Si Rewok mencabut pedang yang menancap di punggung Nyai Layung.
Mak Ijah menatap Iswari. Tiba-tiba Mak Ijah memeluk Iswari dengan erat, sambil menangis tersedu-sedu.








kagungan naskah film nu sanesna?hoyong ngaos,bade diajar tina macaan.hatur nuhun
Gaduh, mangga antos we nyaaa
DHIPA GALUH PURBA