Kategori: Skenario | Diterbitkan pada: 03-10-2007 |

40. INT. RUANGAN RUMAH BI IROH. MALAM.

Darma memeluk BI IROH dengan eratnya.

DARMA

Kuatkan hatimu, Bi. Ibumu seperti yang hilang ingatann. Beliau tak bisa mengingat namamu lagi…

BI IROH

(Menangis) Sudahlah. Bibi sudah terbiasa menghadapi berbagai penderitaan batin. Bibi akan menerima apa pun yang terjadi pada hidup Bibi.

DARMA

Bibi harus ke Pasir Haur, menjemput…

BI IROH

(menukas) Darma, kau perlu istirahat. Besok pagi, kita akan berbincang-bincang lebih banyak lagi. Sekarang, bibi akan membuatkan kofi untukmu.

Darma melepaskan pelukannya. Lalu menuju ke dalam kamar. Sedangkan Bi Iroh mengambil cangkir yang ada di atas meja. Lalu membuat kopi.

CUT TO

41. INT. RUANGAN KAMAR RUMAH BI IROH. MALAM.

Darma sudah tertidur, terlentang sambil memeluk poto Iswari.

Insert: Gordeng pintu kamar terkuak Bi Iroh masuk membawa gelas di atas baki.

Bi Iroh meletakan gelas di atas meja. Lalu menatap Darma dengan penuh ekspresi. Ada air mata yang menetes di kedua belah pipinya.

Bi Iroh mengambil poto Iswari dengan hati-hati. Lalu ia duduk di kursi, depan meja. Kedua matanya menatap poto Iswari dengan penuh ekspresi.

Insert: Poto Iswari

FLASH BACK TO

42. EXT. ARENA PERTUNJUKAN BAJIDOR. MALAM.

Suasana Pertunjukan ronggeng yang meriah. Tampak para penari sedang mempertontonkan kemahirannya masing-masing. Iswari terlihat menjadi penari yang paling menonjol dari segalanya. Hampir semua mata terpaku kepada Iswari.

Nyai Layung dan Iswari menari bersamaan. Namun tetap Iswari lebih baik.

Ketika para lelaki masuk arena, Gan Ocen langsung menuju ke arah Iswari. Gan Ocen membuka jasnya, lalu memakaikannya pada tubuh Iswari.

Iswari dan Gan Ocen menari berpasangan.

Insert: Gan Ocen berbisik pada Iswari, seperti mengatakan sesuatu. Iswari hanya menggelengkan kepala, sambil terus menari.

DISOLVE TO

43. EXT. HALAMAN RUMAH ISWARI. SIANG.

Iswari dan Mak Ijah sedang membereskan pekarangan rumah..

MAK IJAH

Jadi, Nyai téh nampik pangaajak Gan Ocen?

ISWARI

Betul, Mak.

MAK IJAH

Bodo pisan. Batur mah mani pahayang-hayang ka Gan Ocen teh.

ISWARI

Biar saja. Aku tetap tidak mau, jika caranya seperti itu. Aku ingin membuktikan, kalau ronggeng pun mempunyai harga diri.

Tiba-tiba muncul Rewok.

ISWARI

Kang REWOK. Adakah yang bisa kubantu?!

MAK IJAH

Bagéa, Ujang…

REWOK

Terimakasih, Mak.

MAK IJAH

Aya naon, Ujang téh?

REWOK

Begini, Mak, Nyai, aku diutus oleh Gan Océn untuk memberikan ini pada Nyai.

Rewok menyerahkan kotak kecil yang sejak tadi dipegangnya. Iswari menerimanya.

MAK IJAH

Naon éta téh eusina, Jang?

REWOK

Silakan, buka saja sama Emak dan Nyai.

Iswari membuka kotak tersebut. Matanya terbelalak, melihat sebuah kalung mas yang sangat indah.

ISWARI

Sungguh indah sekali kalung ini. Apakah ini untukku?

REWOK

Ya. Gan Ocen berpesan, supaya kalung ini langsung dipakai.

Dengan girang, Iswari mengenakannya.

ISWARI

Terimakasih Kang Rewok.

REWOK

Sama-sama, Nyai. Dan… kalau bisa, aku juga ditugaskan untuk membawa Nyai ke rumah Gan Ocen.

Iswari terkejut. Wajahnya berubah. Bahkan ia langsung membuka kalung tersebut.

ISWARI

Jadi, kalung ini harus ditebus dengan kedatanganku? Tidak, Kang Rewok. Aku tidak akan pernah mau ke rumahnya. Kalau memang Gan Ocen seorang laki-laki, seharusnya Dia yang datang ke mari.

REWOK

Maafkan aku, Nyai. Akan kusampaikan pesan Nyai itu pada Gan Ocen.

ISWARI

Bawa lagi kalung ini!

REWOK

Gan Ocen menyuruhku untuk tetap memberikan kalung ini, meskipun Nyai menolak untuk datang ke rumahnya.

ISWARI

Kalau begitu, ambil saja sama Kang Rewok.

REWOK

(Terbelalak) Betulkah, Nyai?

ISWARI

Betul, Kang Rewok. Ambil saja.

REWOK

Terimakasih, Nyai. Terimakasih…

Rewok menyalami Iswari. Bersamaan itu, terdengar suara orang yang berteriak-teriak di luar.

O.S. AGNILAKSA

Nyai Bidadari…! Sambut kedatangan Pangeranmu, yang akan mempersuntingmu dengan penuh cinta…!

AGNILAKSA berdiri sambil berkacak pinggang.

AGNILAKSA

Ha ha ha… Wajahmu semakin menawan saja, Bidadariku. Oh… Kau benar-benar seorang bidadari yang nyasar ke Pasir Haur. Tempatmu adalah dalam pelukanku. Ke marilah, Bidadariku…

ISWARI

Apa yang kau inginkan?

AGNILAKSA

Aku ingin kau menjadi milikku siang dan malam, pagi dan sore, petang dan janari

ISWARI

Kotor sekali ucapanmu!

AGNILAKSA

Apa? Ha ha ha… Kau bilang ucapanku kotor?! Ha ha ha…Jangan banyak bicara, Bidadariku. Ayolah ke mari dengan penuh cinta. Kau tidak usah menari di hadapan para cecunguk. Lebih baik kau menari setiap saat, hanya di hadapanku.

ISWARI

Pergi kau! Aku muak melihat wajahmu!

AGNILAKSA

Apa? Ha ha ha… kau mengusirku?

Rewok menyerang Agnilaksa. Tentu saja amarah Agnilaksa memuncak. Pertarungan tidak bisa dihindari. Rewok terdesak. Ketika Agnilaksa mau membunuh Rewok, tiba-tiba Nyai Layung menyelamatkannya dengan ilmu yang dimilikinya.

Fokus shot: Nyai Layung sudah berdiri sambil bertolak pinggang.

NYAI LAYUNG

Kelakuanmu sudah keterlaluan. Aku akan menghabisimu sekarang juga!

AGNILAKSA

Bangsat! Beraninya seekor perempuan berkata seperti itu.

Nyai Layung mengangkat tangannya perlahan, keluar sinar merah. Dengan gerakan yang sangat cepat, Nyai Layung menyerang Agnilaksa..

Iswari terpekik, bersamaan dengan Agnilaksa yang roboh.

REWOK

(Kepada Nyai Layung) Seharusnya kau tidak membunuhnya.

NYAI LAYUNG

Kau yang seharusnya berterimakasih. Nyawamu hampir melayang.

REWOK

Baiklah. Aku berhutang nyawa padamu.

NYAI LAYUNG

Terserah.

ISWARI

Terimakasih, Teteh. Tak kusangka, kau sangat pandai bersilat.

NYAI LAYUNG

Perempuan tidak harus selalu lemah.

Iswari memeluk Nyai Layung.

DISOLVE TO

44. EXT. TEPI SUNGAI. SIANG.

Iswari dan Nyai Layung sedang mencuci pakaian sambil bergurau.

Tiba-tiba Nyai Layung tertegun.

NYAI LAYUNG

Sssttt… Sepertinya ada laki-laki kurang ajar, yang berani mengintip kita.

Nyai Layung tersenyum, sambil menyibakan sampingnya agak tinggi. Terlihat pahanya.

Lalu Nyai Layung memungut batu kecil, dan melemparkannya ke arah pengintip.

O.S.: SUARA LAKI-LAKI

Aaaaakh…!

Ketiganya tertawa cekikikan, sambil meneruskan kembali pekerjaannya.

Tidak lama kemudian, Mak Ijah muncul sambil berteriak-teriak.

MAK IJAH

Nyai…! Nyai…! Buru geura balik!

ISWARI

(Berteriak) Ada apa, Mak?!

MAK IJAH

Aéh, aéh… Na kalah loba tatanya! Balik wéh pokona mah. Itu Gan Océn ngadagoan di imah, rék ngalamar Nyai!

Iswari terkejut. Tapi wajahnya semakin berseri-seri.

ISWARI

Aku dilamar Gan Ocen!

Iswari berlari meninggalkan Iswari dan Nyai Layung, sampai lupa berpamitan.

Insert: Nyai Layung dan Iswari saling pandang.

DISOLVE TO

45. EXT. HALAMAN RUMAH ISWARI. MALAM.

Insert: Janur kuning yang digantungkan di depan pekarangan.

Orang-orang terlihat sibuk menata rumah Iswari. Ada yang menyapu halaman. Ada yang membereskan barang-barang, dsb. Layaknya persiapan untuk acara pernikahan di kampung.

CUT TO

46. INT. KAMAR RUMAH ISWARI. MALAM.

Iswari sedang sibuk menata kamar untuk malam pengantin.

Nyai Layung muncul, membawa segelas air di atas baki.

NYAI LAYUNG

(Berdecak kagum) Wow….

ISWARI

Bagus kan?

NYAI LAYUNG

Suangat bagus dan menggairahkan. Tapi jangan sampai lupa segala-galanya. Minumlah dulu.

Iswari menurut. Ia menerima gelas yang disodorkan Nyai Layung. Lalu meminumnya, tanpa ragu-ragu.Beberapa saat, Iswari seperti yang pusing. Pandangan matanya berkunang-kunang.

Bersamaan itu, pintu jendela ada yang mendobrak. Si Leunyay muncul. Dengan hanya satu gerakan kecil, ia mengangkat tubuh Iswari yang sudah lemah.

NYAI LAYUNG

Bawalah dia! Tapi jangan Nyai bunuh. Biarkan dia hidup dengan beban penderitaannya.

SI LEUNYAY

Ya. Dan kau pun harus kulukai, agar tidak ada yang mencurigaimu.

Si Leunyay pun melukai tangan Nyai Layung dengan kuku-nya. Membuat Nyai Layung terpekik kesakitan. Si Leunyay melompat lagi ke jendela sambil memikul tubuh Iswari, dan menghilang.

CUT TO

47. EXT. TEPI SUNGAI. MALAM.

Si Leunyay yang memikul tubuh Iswari, menghentikan perjalanannya. Ia meletakan Iswari yang tidak berdaya. Namun Iswari masih tetap sadar.

ISWARI

Apa… apa yang akan kau… kau lakukan? Siapa… siapa kau…

Si Leunyay menatap Iswari yang tergeletak sambil memperlihatkan kukunya yang tajam. Lalu merobek-robek pakaian yang dikenakan Iswari.

ISWARI

Jangan… jangan lakukan…

Si Leunyay tidak menggubris Iswari. Setelah puas merobek-robek pakaian Iswari, Ia mengangkat tubuh Iswari. Lalu melemparkannya ke sungai.

SI LEUNYAY

Hi hi hi….

DISOLVE TO

48. EXT. TEPI SUNGAI YANG BANYAK BATU. SIANG.

Tubuh Iswari mengambang. Kulitnya dipenuhi bintik-bintik hitam yang aneh. Wajahnya pun sudah berubah menjadi BI IROH. Iswari adalah Bi Iroh.

Kepala Iswari (Bi Iroh) membentur batu. Matanya terbuka perlahan. Ia menggerakan tubuhnya, lalu meringis kesakitan. Tapi tetap mencoba untuk bangun, sampai akhirnya berhasil. Lalu memperhatikan keadaan sekelilingnya. Tidak ada siapa-siapa. Namun Ia sangat terkejut ketika menyadari kulitnya yang berubah menjadi buruk. Ia menangis, meratapi nasibnya.

BACK TO REALITY

49. INT. KAMAR RUMAH BI IROH. PAGI.

Bi Iroh terkejut, ketika pundaknya disentuh oleh tangan Darma. Lamunannya menjadi buyar.

DARMA

Mengapa Bibi tidak tidur semalam?

BI IROH

Bibi… Bibi tak bisa tidur… Bibi ingat…

DARMA

Aku dapat memahaminya, Bi.

Bi Iroh tidak menjawab.

DARMA

Apakah Bibi pernah memiliki seorang suami?

Bi Iroh menggelengkan kepala.

DARMA

Bagaimana jika ada seorang laki-laki yang melamarmu?

BI IROH

(tersenyum) Jangan bergurau, Darma. Mana ada laki-laki yang mau bersanding dengan perempuan berwajah buruk seperti aku.

DARMA

Entahlah. Sejak tadi, aku memperhatikan Bibi. Tiba-tiba, aku jatuh cinta pada Bibi.

Bi Iroh terkejut. Dia menatap tajam pada wajah Darma.

BI IROH

Kau…

DARMA

Aku berkata serius, Bi. Aku sudah memutuskan untuk menikahi Bibi.

BI IROH

(meneteskan air mata) Kau tidak sedang bergurau?

DARMA

Sungguh, Bi. Aku sungguh menyayangi Bibi.

Bi Iroh memeluk Darma dengan eratnya. Lalu menangis tersedu-sedu. Ia seperti hendak mengatakan sesuatu. Namun niatnya diurungkan.

BI IROH

Kalau kau benar-benar mau menikahiku, kau harus kembali ke Pasir Haur. Apa pun yang terjadi, Ibuku harus bisa kau ajak ke mari.

DARMA

Bagaimana kalau dia menolak?

Bi Iroh sejenak termenung. Namun Ia seperti yang teringat sesuatu. Bi Iroh beranjak ke luar kamar. Tak lama kemudian muncul kembali sambil membawa selembar kertas. Lalu Bi Iroh menuliskan sesuatu.

DARMA

(membaca tulisan Bi Iroh) Usik Tandaning Hirup, Hirup keur Nu Kagungan.

Darma mengerutkan keningnya.

BI IROH

Kalimat itu pernah diutarakan oleh Raden Cece Somantri, seorang tokoh tari yang banyak berjasa dalam penyebaran dan pengembangan seni tari. Emak sangat mengagumi Beliau.

Darma mengangguk-anggukan kepalanya pertanda mengerti. Tanpa banyak membuang waktu, Darma segera pamitan untuk berangkat ke Pasir Haur.

CUT TO