Kategori: Skenario | Diterbitkan pada: 03-10-2007 |
Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang
ADA banyak buku-buku yang berisi penuntun untuk membuat skenario sinetron atau film. Juga situs-situs yang menyediakan tempat untuk belajar skenario secara khusus. Buku-buku tersebut harus dibaca oleh siapa saja yang berminat menjadi penulis skenario. Di samping itu, ada baiknya juga membaca contoh skenario yang sudah digarap, untuk bahan pebandingan. Atas pertimbangan itulah, saya hadirkan naskah skenario ini. Semoga ada manfaatnya bagi para pengunjung situs saya yang mencintai bahan bacaan. Kritik dan saran, tentu sangat saya harapkan.
Naskah Mistéri Ronggéng Béntang (MRB) dibuat untuk sinetron lepas berdurasi 90 menit. Alhamdulillah telah digarap dengan lancar, serta ditayangkan beberapa kali di layar Televisi Pendidikan Indonesia (TPI). Saya tidak bisa mengingat nama-nama para pemeran dan kru MRB, karena saya tidak punya kewajiban untuk itu. Meski begitu, saya selalu menulis nama-nama orang yang pernah bekerja sama, tetapi kali ini dokumentasinya terkena serangan virus di komputer, sehingga saya benar-benar lupa. Yang saya ingat, hanya nama pemeran utamanya: Syilfi Damayanti (memerankan Nyai Layung), Rina Ismadewi (memerankan Nyai Iswari), Agam (memerankan Darma), Zacky Artha (memerankan Gan Ocen), Vivi Young (memerankan Relina), Lusiana Grace (memerankan Nyi Leunyay), Abu Rara Sumanding (Dukun Dinta), Andi Depok (memerankan Ustad Otong), Dewi(memerankan Mak Ijah) dan Yoga Asmara (memerankan Agnilaksa). Saya sendiri kebetulan diajak main oleh sutradaranya, Mas Prawoto Soeboer Rahardjo, dan mendapat kesempatan memerankan tokoh Rewok.
MRB digarap untuk ditayangkan pada program acara “Legenda Misteri” di layar TPI (Selanjutnya acara tersebut diubah menjadi “TV Legenda”). Saya tidak tahu banyak tentang program-program di TPI, karena hubungan saya hanya dengan pihak Production House (PH).
Biasanya seorang penulis skenario tidak perlu ikut campur urusan di lapangan. Naskah mau digimanain juga, terserah sutradara. Sangat wajar jika naskah direvisi oleh sutradara, berdasarkan beberapa pertimbangan di lapangan. Namun, sekali lagi, alhamdulillah saya diberi kesempatan oleh Mas Prawoto untuk ikut turun ke lapangan. Dalam beberapa garapan lain Mas Prawoto, saya sering diajak, seperti ketika menggarap Wadal Buta Hejo, Palasik Kuduang, dan sebagainya. Oleh dari itu, saya bisa memperhatikan cara kerja kru.
Tentu penulis skenario tidak punya kewenangan untuk menentukan pemain. Biasanya sutradara dan produser yang memiliki kewenangan itu. Namun, di beberapa PH Jakarta, urusan pemain diserakan kepada manager casting. Kendati demikian, selalu ada jalan lain jika kita mau mencari.
Ada tiga hal penting yang harus diperhatikan oleh siapa saja yang akan mencoba untuk memulai menulis skenario, khususnya skenario sinetron lepas berdurasi 60 atau 90 menit. Langkah pertama adalah menentukan tema cerita yang kita buat dan membuat sinopsisnya. Kita juga sebaiknya mendata tokoh-tokohnya, dari mulai tokoh utama, pembantu, dan figuran. Untuk tokoh utama dan pembantu, penting untuk dijelaskan karakteristiknya: jenis kelamin (biasanya dari nama sudah menunjukkan jenis kelaminnya, tetapi perlu ditegaskan lagi), usianya, ciri-ciri fisik, dan karakternya.
Sebagai catatan, kita tidak boleh “semena-mena” membuat tokoh, dalam arti jangan terlalu banyak menampilkan tokoh. Biasanya jumlah tokoh dalam sinetron lepas 10 sampai 12 tokoh (tidak termasuk figuran). Hal itu berkenaan pada kefokusan cerita. Selain itu, yang tidak kalah pentingnya, manajemen PH akan mengkalkulasikan biaya untuk membayar pemeran. Semakin sedikit tokoh, semakin kecil pengeluaran PH (saya pernah disuruh merombak skenario Bisikan Gunung Kemukus, karena pemainnya terlalu banyak). Banyak skenario yang gugur sebelum dibaca, karena jumlah pemainnya sakampungeun.
Kedua, perhatikan penempatan lokasi. Jangan terlalu banyak lokasi, karena hal inipun berhubungan dengan bazet. Memang penulis tidak harus memikirkan hal itu, tetapi bagaimanapun juga dua hal tersebut menjadi bagian dari pertimbangan PH, untuk memutuskan digarap atau tidaknya skenario tersebut. Banyak skenario yang gugur sebelum dibaca, karena jumlah pemainnya sakampungeun atau lokasinya yang terlalu banyak.
Ketiga, perhatikan lima scene awal. Buatlah adegan yang sangat menarik pada scene awal, usahakan bisa membuat orang penasaran. Jika adegan awal sudah tidak menarik, lantas apa yang diharapkan pada adegan berikutnya? Jika dalam penulisan artikel, saya selalu ingat pepatah Hawe Setiawan; kita harus memikat pembaca sejak kata pertama. Artinya, dimulai dari judul. Sebab, kata pertama adalah judul.
Seorang kawan yang lainnya bertanya, mana yang lebih sulit: menulis cerpen atau skenario? Bagi saya, menulis cerpen rasanya lebih sulit. Saya bisa merasakannya pada saat memaparkan suasana atau keadaan di suatu tempat. Misalnya, kalau kita akan menggambarkan tokoh Nyai Layung dan Darma bermesraan di dalam kamar pada tengah malam, apa yang akan kita tulis dalam sebuah cerpen?
Sebaliknya, untuk skenario, saya cukup menuliskan: INT. KAMAR TIDUR NYAI LAYUNG. MALAM, kemudian diberi paparan singkat: Nyai Layung dan Darma sedang bermesraan. Sutradara pasti akan mengerti, karena tidak ada sutradara yang tidak cerdas. Penata Artistik pun tidak ada yang bodoh, karena pada saat saya menulis adegan di dalam kamar, tentu mereka tidak akan menata ruangan dapur, tidak mungkin ada kompor atau katel. Ya, tentu saja yang akan disiapkannya adalah rombongan properti kamar tidur, seperti: kasur, bantal, lukisan, dsb. Begitu juga dalam menafsirkan kata “mesra”, mereka akan segera mengerti bahkan mengumbar imajinasi sesuai kreatifitasnya masing-masing. Yang pasti, ketika saya menulis “mesra”, tidak mungkin menjadi adegan perkelahian.
Akhir kata, saya menucapkan banyak terimakasih kepada produser dan sutradara yang telah memberi kesempatan kepada saya untuk berkreasi, terutama Ibu Titin Suryani (Produser PT. Lunar Jaya Film), Prawoto Soeboer Rahardjo, Amrin Lubis, Acok, Cakil, Castam Gunawan (Gustom), Zacky Artha, Anto Agam, Buyung, Petrus, dsb.
Juga kepada para penulis, yang telah banyak membimbing saya, sehingga saya tidak ragu untuk menganggapnya sebagai guru: Dadan Sutisna, Erwan Juhara, Agus Ahmad Syafei, KH. Asep Syaeful Muhtadi, Asep Syamsul M. Romli, Hawe Setiawan, Dedi Suryadi, Pipiet Senja, dsb.
Semoga segala kebaikannya mendapat balasan yang berlipat dari Alloh SWT, amiin.***
Ranggon Panyileukan, Desember 2005
Dhipa Galuh Purba








mas mbak pak bu…
punten,..
saya laghi belajar bikin skenario legenda2 juga. tp masih rancu ma prosedur pembuatan skenarionya.
bs bantu nda ya?
Panggil saja “Akang”. tentu saja, kalau saya bisa membantu, tentu akan saya bantu.
DHIPA GALUH PURBA
Kang, saya mau tanya.
Saat ini saya sedang nulis skenario drama (rencana 13 episode, udah ditulis 3 episode).
Tapi… saya nggak tahu gimana memasarkannya. Banyak yang “menakut-nakuti” untuk berhati-hati ngirim ke PH, soalnya bisa disalahgunakan.
So… saya harus pergi kemana ya?
Thanks before!
Wah, hebat tuh. Jangan terlalu takut, karena yang takut hanya cecurut, demikian kata Harry Rusli (alm).
Untuk sekedar berbagi pengalaman, pertanyaan ini sudah diajukan oleh pengunjung lainnya, dan sudah saya jawab pula. Silahkan klik disini atau cari di bagian lain dengan fasilitas pencarian yang saya sediakan. Semoga sukses yaaaa…. Biasanya kalau sudah menghisap udara Jepang, semangat kerjanya pun ketularan ma orang Jepang…
DHIPA GALUH PURBA