Kategori: Sajak Indonesia | Diterbitkan pada: 13-08-2008 |
Senyum ini bukan kedok luka
Melainkan luka kedok
Senyum ini bukan topeng derita
Melainkan derita topeng
Senyum ini bukan cadar nestapa
Melainkan nestapa cadar
Senyum ini bukan badut duka
Melainkan duka badut
Badut tersenyum tanpa duka
Badut menari, menyanyi
Membaca puisi nada hati
Badut tersenyum
Sebab ia tak ingkar janji
Sebab ia tlah disakiti
Sebab ia tlah dikhianati
Badut tersenyum
Tersenyum dan tersenyum
Mungkinkah bumi tlah berupah arah?
Sehingga:
Yang ingkari janji menangis
Yang diingkari tersenyum
Badut tersenyum
Bukan kedok luka
Bukan topeng derita
Bukan cadar nestapa
Buahbatu, 13 Agustus 2008








Syukurlah, badut itu kembali ceria, walau barangkali tak seceria semula
Keceriaan badut itu kamuplase, mungkin.
DHIPA GALUH PURBA
Utuk siapakah puisi ini? Apakah untuk seseorang yang sangat dicintai tapi menyakiti? Atau cinta yang kita berikan pada dasarnya hanya sebuah kedok belaka?
Puisi ini sangat indah tapi jauh dari romantis, he..he..he..maaf, itu hanya asumsi saya saja yang sama sekali bukan seorang sastrawan apalagi budayawan.
Puisi ini tidak dibuat untuk siapa-siapa. Puisi ini hanya karya fiksi yang mengalir begitu saja, tanpa disadari romantis atau tidak romantis. Ini hanya puisi jelek, sebagai kotretan untuk belajar menulis puisi yang baik.
DHIPA GALUH PURBA
Di Balik Topeng
maukah sang badut
bertanya pada Rokib-Atid
untuk melihat catatan-catatan
tanpa harus sembunyi di balik topeng
(dan menyatakan diri yang paling benar)
di sanalah wajah asli yang tampak
siapa yang coreng-moreng
siapa yang dihianati
siapa yang disakiti
bukan membalut nista dengan kata-kata
bukan juga menebar kemunafikan
di sana siapapun tak mampu berkelit
meski sejuta mantra ditaburkan
badut hanya ingin ditonton
tak menoleh muka siapa
yang ia pakai di balik topeng
badut selalu sembunyi
agar dunia tak melihat wajah aslina
apakah kelabu
hitam
pekat
atau bahkan coreng-moreng
badut diberi mata oleh Tuhan
tapi tak bisa melihat wajahnya sendiri
ia hanya mengamati coreng-moreng orang lain
berkelit dibalik kata sangatlah mudah
(karena hanya itulah yang badut mampu)
badut hanya ingin tampak benar
tanpa ingin meresapi
keadaan apa yang terjadi sebenarnya
di mata dunia badut menyatakan putih bersih
dan menusuk yang lain dengan kata kamuflase
tapi mari kita bertanya
pada Yang Maha Penulis Kebenaran
untuk melihat cacatan
masing-masing
dengan dagelannya
badut ingin membela
dirinya sendiri
tanpa menyadari
bahwa dalam setiap hidup
ada yang dinamakan karma
selamat berkarma.
Wah… bagus sekali komentarnya. Komentar puisi berupa puisi. Bahkan tampak lebih bagus puisi komentar dibanding puisi yang dikomentari. Selamat berkarya, saudara tampaknya lebih berbakat menulis puisi.
DHIPA GALUH PURBA
Dari Abu Hurairah r.a., katanya Rosululloh SAW bersabda: ”Apabila seseorang berkata CELAKALAH KAU!!! Maka orang yang berkata itulah yang paling celaka.
Puisi bagi saya adalah karya sastra yg hemat kata tetapi teramat luas dan sarat makna. Jangankan kata, frase, atau kalimat, tanda baca pun memberi makna tersendiri yg banyak memberi dampak apresiasi. Pada puisi, penikmat bebas mengapresiasi walaupun tak sama dg yg dimaksud oleh si penulis. Bagaimana pun itu, yang jelas puisi tak mungkin lahir kecuali dari dasar sanubari si penulisnya. Wallahu’alam