Kategori: Seni Budaya | Diterbitkan pada: 29-06-2009 |


Catatan PANDU RADEA

 

          

  2 Mei, merupakan waktu bagi kami untuk berpisah. Baik dengan panitia maupun dengan tim dari Negara lain. Karena hari itu tim Wayang Ajen harus terbang ke Gran Canary untuk pementasan terakhir di kota Aguimes. Setelah dari Aguimes kami tidak kembali ke Los Realejos, namun terbang ke Madrid untuk memenuhi undangan pentas dari KBRI Madrid.

 

            Sebelum berpisah, malam tanggal 1 Mei, panitia menyelenggarakan fiesta (pesta) sederhana. Domingo Borges, Fransisco Briti, Filia Agrimanaki, dan para seniman boneka dari berbagai Negara berkumpul di panggung pertunjukan Casa de La Cultura Los Realejos, tepatnya setelah pertunjukan dari Teatro Atelier 313 (Bulgaria) yang menampilkan lakon El Baron De Munhusen selesai dipentaskan.

 

            Sebetulnya pementasan tersebut merupakan kesempatan kedua bagi saya untuk mengapresiasi pertunjukan boneka dari Negara lain. Namun karena kelelahan yang teramat sangat karena  siang harinya Wayang Ajen tampil di El Sauzal, saya hanya mampu bertahan 10 menit menyaksikan pertunjukan mereka. Selebihnya adalah  tidur pulas di kursi penonton deretan belakang. Saya sempat dibangunkan oleh Dodong Kodir dengan sodokan keras, gara-gara mendengkur nyaring

 

Malgosia dan Roberto dari  Teatro Dos Mundos (Espana) yang duduk didepan saya tampak nyengir mentertawakan. Berjuang melawan kantuk rasannya lebih berat dari tampil di atas panggung. ditambah lagi pertunjukan El Baron De Munhusen terasa berat untuk dicerna. Mereka bermain dalam dunia fantasi. Cerita tentang ayah dan ibu yang mencoba menidurkan anaknya dengan bercerita. Ditambah lagi dialog verbal yang mereka pakai adalah bahasa Bulgaria yang mendayu-dayu.

 

Berkali-kali saya membelalakan mata, sampai keluar air mata akibat perih menahan kantuk. Satu-satunya yang membuat saya bertahan adalah tatapan tajam Ana Spasova di atas balkon. Ana adalah gadis remaja jangkung yang cantik, putri dari pasangan actor Georgi Spassov dan Rossitza Spasova yang saat itu tampil diatas panggung. Ana bekerja sebagai musik director yang mengatur ilustrasi musik.

 

Saya akan merasa bersalah jika Ana mengetahui bahwa saya tertidur. Bukannya apa-apa, Ana adalah gadis bule pertama yang memeluk saya sebagai tanda persahabatan, sekaligus ucapan terima kasih karena saya telah membantunya mengangkat peralatan pentasnya beberapa hari yang lalu. Dirinya berkali-kali mengharapkan saya dapat melihat pertunjukannya. Jika dirinya tahu saya tertidur tentu akan kecewa.

 

            Usai pertunjukan Domingo menyuruh semua tim yang waktu itu hadir, naik ke atas panggung. Dirinya mengeluarkan 4 botol champagne. Untuk tim Wayang Ajen disediakan 4 botol jus apel tanpa alcohol. Sejauh ini Panitia sudah mengetahui bahwa kami yang muslim tidak meminum minuman yang beralkohol.

 

            Itu adalah malam terakhir kami bertemu mereka. Besoknya (2 Mei)  kami terbang ke Gran Canary. Sebuah pulau yang nyaris seluruhnya adalah steva dan savanna. Tempat ini sedikit gersang. Ini pulau terluar dari kepulauan Canarias. Berhadapan langsung dengan samudra Atlantis membuat anginnya bertiup lebih kencang dibandingkan dengan pulau-pulau lainnya.  Ditempat ini kami merasakan sesuatu yang berbeda dari tempat-tempat sebelumnya. Yaitu : rasa sepi, terasing dan menyeramkan !