Kategori: Seni Budaya | Diterbitkan pada: 05-10-2009 |
Catatan Kecil DHIPA GALUH PURBA
Jurusan Téater STSI Bandung usai menggelar rangkaian acara pertunjukan, workshop, dan seminar téater. Acara ini berlangsung di Kampus STSI
Dalam acara ini, panitia penyelenggara mengundang beberapa grup téater Indonésia terpilih untuk menampilkan karya terbaiknya. Dengan demikian, grup téater yang tidak diundang berarti bukan grup téater terpilih bersadasarkan penilaian panitia. Paling tidak, tidak terpilih untuk tahun ini, karena rencananya acara semacam ini akan digelar secara berkala. Sayang sekali, panitia tidak menjelaskan kritéria grup-grup téater terpilih yang diundang pada acara The First Invitation To The Theatre 2009. Misalnya di

Téater Payung Hitam menjadi pembuka rangkaian pertunjukan dalam The First Invitation To The Theatre 2009. Menampilkan pertunjukan berjudul “Puisi Tubuh Yang Runtuh” karya/sutradara Rachman Sabur, di Gedung Kesenian Déwi Asri STSI
Pada hari kedua, di Gedung Kesenian Sunan Ambu STSI Bandung, digelar pertunjukan téater dari Actors Unlimited Bandung, yang menampilkan “Ibu Pemberani dan Anak-anaknya Yang Mati”, karya Bertolt Brecht, disadur bebas serta disutradari oleh Fathul A. Husein. Secara kualitas, mémang pantas grup ini dipilih untuk ditampilkan pada The First Invitation To The Theatre 2009. Namun, karena Fathul A. Husein menjadi ketua pelaksana dalam acara tersebut, kesannya menjadi subyéktif. Dalam arti, ketika menjaring grup téater terpilih, Fathul memilih grupnya sendiri dan sekaligus menggugurkan grup-grup téater lain di
Hari ketiga, di gedung Kesenian Déwi Asri STSI Bandung, digelar pertunjukan dari Téater Satu Lampung, yang menampilkan “Aruk Gugat”, karya/ sutradara Iswadi Pratama. Sebuah pertunjukan yang sangat menarik dengan mengusung cerita berlatar daérah Lampung. Sayangnya terlalu banyak bermain komédi, sehingga durasinya mencapai kurang-lebih 2,5 jam. Padahal ceritanya bisa lebih diringkas lagi dengan mengurangi dialog atau adegan komédi, dan tentu akan lebih padat dan lebih bermakna.

Hari keempat, masih di Gedung Kesenian Dewi Asri STSI Bandung, digelar pertunjukan “Ketawang Bajingan”, karya/ sutradara Joko Bibit Santoso, produksi Teater Ruang Solo. Dan pada hari terakhir, di Gedung Kesenian Sunan Ambu STSI Bandung, digelar pertunjukan drup Téater Kammi Jakarta, yang menampilkan “Gegerungan”, karya/ sutradara Harris Priadie Bah. Saya tidak bisa menangkap makna dari pertunjukkan ini, karena kemungkinan besar daya afresiasi saya yang masih rendah. Meski begitu, saya mengagumi spanduk PÉSTA BUKU JAKARTA yang ditampilkan dalam pergelaran tersebut. Bravo Pésta Buku
Selama berlangsung acara The First Invitation To The Theatre 2009, di lobi gedung kesenian Sunan Ambu STSI Bandung digelar paméran dokuméntasi téater. Pada 1 Oktober, digelar pula workshop téater di Studio Téater STSI







