Senin, 20 Mei 2019

Keluarga Membutuhkan Tontonan Yang Baik

Oleh M SUDAMA DIPAWIKARTA


"Si Bolang", tayangan televisi yang layak untuk segala usia, disiarkan di Trans7


TERUTAMA di pedesaan, pada tahun 1980-an televisi masih sangat jarang. Hanya orang-orang tertentu yang di rumahnya mempunyai televisi. Itupun rata-rata masih hitam putih. Maka menonton tayangan televisi menjadi pengalaman yang langka dan “mahal”. TVRI adalah satu-satunya stasiun televisi yang bisa dinikmati. Jadi, meski tidak banyak yang punya pesawat televisi, tetapi jadwal tayangan begitu melekat di hati.

Anak-anak akan berembuk menentukan pintu rumah siapa yang akan diketuk, untuk bersama-sama menonton serial boneka Unyil atau klip lagu-lagu anak. Menonton bersama dengan bergembira, sesuai dengan klasifikasi usia tontonan. Anak-anak menonton tayangan yang cocok dikonsumsi oleh anak. Maka anak-anak pun mendendangkan lagu yang liriknya sesuai dengan usia anak. Lagu-lagu anak, yang kini disebut ”lagu odong-odong”, karena sampai hari ini diputar dengan volume tinggi pada kendaraan mainan balita. Itulah lagu lama anak-anak yang sulit tergantikan, karena kurang terjaganya re-generasi kreator lagu anak-anak.

Kini, hampir semua rumah dilengkapi televisi, termasuk di pedesaan. Berwarna pula. Ratusan stasiun televisi bersaing menawarkan berbagai mata acara yang menggairahkan mata. Mata anak-anak hingga mata lanjut usia. Lembaga Sensor Film (LSF) melakukan penyensoran terhadap berbagai mata acara yang akan disiarkan televisi. Untuk tayangan yang lolos sensor, sekaligus ditentukan pula klasifikasi usianya, yang mengacu pada UU Perfilman Tahun 2009, terutama Bab III, Pasal 7. Yakni, tayangan untuk  Semua Umur (SU), 13 Tahun Keatas, 17 Tahun Keatas, dan 21 Tahun Keatas.

Setiap hari, ada ratusan tayangan yang harus disensor oleh LSF, meliputi tayangan untuk berbagai stasiun televisi, bioskop, dan palwa (penjualan dan penyewaan dalam bentuk cakram DVD). Dari semua itu, sangat minim tayangan yang cocok untuk dikatagorikan sebagai tontonan SU, atau dalam kata lain layak untuk disaksikan oleh anak-anak yang berusia dibawah 13 tahun. Sebut saja hiburan yang mendidik untuk anak-anak. Selain Laptop Si Unyil, Si Bolang, dan beberapa judul film kartun, begitu sulit mendapatkan tontonan hiburan yang layak untuk anak-anak. Bahkan beberapa judul film kartun terpaksa dikatagorikan 13 tahun keatas, karena kontennya banyak mengandung kekerasan, yang dikhawatirkan akan ditiru oleh anak-anak.

Serial sinetron didominasi oleh tayangan untuk 13 tahun keatas dan 17 tahun keatas. Apalagi klip lagu anak, sangat jarang ditemukan lagi. Wajar jika dalam kompetisi menyanyi, anak-anak melantunkan lagu bertema remaja bahkan dewasa. Termasuk film untuk bioskop, film anak-anak hampir tidak nampak atau setidaknya terbilang jarang.

Minimnya produksi film anak dari para sineas Indonesia, sangat menguntungkan produsen film impor. Salahsatu indikasinya bisa terlihat jelas di tengah-tengah masyarakat. Anak-anak tergila-gila pada pernak-pernik yang bergambar Minion atau tokoh dalam film Frozen, misalnya. Padahal, pada tahun 1980-an, tokoh Si Unyil benar-benar menjadi tuan rumah di negeri sendiri, ketika anak-anak sangat bangga mengenakan kaos bergambar Si Unyil. Bandingkan sekali lagi dengan sekarang, ketika anak-anak begitu berbunga-bunga mengenakan baju, tas, sepatu, bahkan mukena yang bergambar Elsa dan Anna dalam tokoh film yang diproduksi Walt Disney Animation Studios.

Keluarga yang baik sangat membutuhkan tontonan yang baik. Sementara tradisi nonton bersama-sama dengan anggota keluarga sudah langka, apalagi nonton bareng tetangga. Sebab, pesawat televisi semakin mudah didapati. Di satu rumah bisa saja dilengkapi lebih dari satu pesawat televisi. Anak-anak menonton sendiri,  orangtua asyik sendiri. Padahal anak-anak masih perlu mendapat bimbingan dalam menentukan mata acara yang akan disaksikan. Jika ada anak-anak yang menonton tayangan televisi diatas jam 23, maka peran orangtua di tengah keluarga perlu dimainkan. Sebab, sudah tertera dalam aturannya, bahwa tayangan untuk 21 tahun, diperbolehkan diputar di televisi dengan syarat harus diatas pukul 23.00 WIB.

Keluarga yang baik sangat membutuhkan tontonan yang baik. Terutama tontonan yang baik untuk disaksikan oleh anak-anak. Semoga para sineas film Indonesia tetap peduli untuk melahirkan karya untuk anak-anak. Majulah film Indonesia! Bangga Film Indonesia!***


Dimuat di Majalah Sensor Film, Edisi V, Tahun 2015

Ikhlas Diatas Ikhlas dalam ”Surga Yang Tak Dirindukan”
Catatan DHIPA GALUH PURBA




TEMA poligami tentu bukan hal  baru yang diangkat ke layar lebar. Sebelumnya, ada beberapa film bertema poligami yang digarap secara apik dan menarik, semisal film besutan sutradara Nia Dinata berjudul ”Berbagi Suami” (2006) atau film karya sutradara Hanung Brahmantyo ”Ayat-ayat Cinta” (2008).  Pada tahun ini, dalam suasana Idul Fitri 1436 H, hadir lagi sebuah film bertema poligami berjudul ”Surga Yang Tak Dirindukan”.

Diangkat dari sebuah novel karya Asma Nadia, ”Surga Yang Tak Dirindukan” dibintangi oleh Fedi Nuril, yang sebelumnya pernah memerankan tokoh yang kurang-lebih hampir mirip dengan perannya dalam film ”Ayat-ayat Cinta”. Mirip maksudnya sama menjadi tokoh lelaki yang berpoligami. Dan memang Fedi Nuril tampaknya masih belum bisa membebaskan diri dari ”Ayat-ayat  Cinta”, meski sudah berganti nama dari Fahri bin Abdilla menjadi Prasetyo. Terlalu kuat pengkarakteran yang yang dibangun sutradara Hanung terhadap aktor Fedi Nuril, sehingga sulit terlepas saat memerankan tokoh lain. Terlebih lagi karakter tokohnya mirip.

Dari judulnya pun sudah tercium aroma penolakan kaum hawa terhadap poligami. Ketika semua orang merindukan kehidupan di surga atau minimal tidak berharap terjerumus ke neraka, judul ini sudah lebih awal dengan tegas menolak masuk surga jika caranya harus dipoligami. Masih banyak jalan menuju surga, selain harus dipoligami. Suatu keresahan kaum hawa yang tetap aktual. Poligami diperbolehkan dalam ajaran Islam, tetapi dengan syarat-syarat ketat yang harus dipenuhi.

Dalam cerita ”Berbagi Suami”, kesimpulannya yang saya baca, jelas sangat tegas 99% memvonis para lelaki yang berpoligami hanyalah dilatarbelakangi oleh nafsu birahi. Sebab, alasan poligami untuk menghindari perzinahan merupakan alasan lucu dan dipaksakan. Lucu, karena tidak ada jaminan lelaki yang berpoligami tidak akan berzinah. Dan secara sadar atau tidak sadar,  alasan ”menghindari perzinahan” tentu saja sedikit-banyaknya telah memojokkan kaum adam yang tidak berpoligami.

Berbeda dengan film ”Surga Yang Tak Dirindukan”. Alasan Pras berpoligami adalah demi menyelamatkan nyawa seorang wanita cantik bernama Meirose, yang diperankan oleh Raline Shah. Mei ditolong oleh Pras, ketika ia berusaha untuk bunuh diri dengan sengaja membanting mobilnya hingga terperosok ke tebing.

Pras yang kebetulan melewati lokasi kejadian, langsung menolongnya dan membawa ke rumah sakit. Mei ternyata sedang mengandung, dan pada saat itu bayinya lahir di rumahsakit. Setelah ditolong, Mei tetap berusaha bunuh diri dengan cara mau melompat dari lantai atas Rumah Sakit. Pada momentum itulah, Pras berjanji akan menikahi Mei, asalkan Mei tidak melanjutkan niatnya untuk bunuh diri. Perlu digaris bawahi, bahwa Pras berjanji mau menikahi Mei adalah semata-mata untuk menyelamatkan nyawa Mei dan tidak mau anaknya Mei kehilangan ibunya.

Itulah awal konflik dalam cerita ”Surga Yang Tak Dirindukan”. Jelas saja, Arini, istri Pras yang telah dikaruniai seorang anak dari hasil pernikahannya, sangat murka ketika mengetahui suaminya telah menduakan cintanya. Berbeda dengan Mei, yang sudah mengetahui Pras sudah beristri. Mei memilih bersenandung ”jadikan aku yang kedua”. Mei resmi menjadi istri Pras. Anaknya Mei, diberi nama ”Akbar” oleh Pras.

Kuntz Agus, sutradara ”Surga Yang Tak Dirindukan” piawai dalam mengolah struktur dramatik, sehingga film ”Surga Yang Tak Dirindukan” menjadi tontonan yang memikat untuk disimak. Cara pengambilan gambar, pencahayaan, dan tata musiknya menyatu dalam sebuah karya film yang sangat layak untuk diapresiasi.

Wajar jika film ini memiliki daya tarik luar biasa untuk mempengaruhi emosi penonton. Saya menonton film ini di tengah isak tangis kaum akhwat yang nampaknya sesekali tak tertahan. Ketika pertunjukan selesai, banyak terlontar pujian  untuk film ini dari wajah-wajah penonton yang menunjukkan ekspresi kepuasan. Film ini mengulang kesuksesan ”Ayat-ayat Cinta” yang laris manis. Sebab, saya sendiri, beberapa kali harus bolak-balik ke bioskop untuk bisa menonton film ini, karena kursi sudah penuh atau tinggal tersisa satu kursi di jajaran depan.
          

Kebetulan vs Usaha Gigih Manusia
Cerita yang disuguhkan memang banyak mengandung hal-hal yang kebetulan. Dimulai dari pertemuan Pras dengan Arini. Kebetulan ada seorang anak yang jatuh dari sepeda, lalu ditolong oleh Pras, untuk kemudian diantarkan ke masjid. Di sana Arini sedang mengajar mengaji. Selanjutnya pasti sudah diduga, dari pertemuan itulah bermula terbangunnya cinta kasih antara Pras dan Arini, yang dilanjut ke jenjang pernikahan. Kemudian, Mei secara kebetulan  mencoba melakukan bunuh diri di tempat yang akan dilewati Pras. Lalu masuklah ke masalah  permasalahan poligami.

Di tengah kekalutan Pras menghadapi Arini dan Mei, kebetulan pada suatu malam Pras melihat seorang wanita yang akan diperkosa. Pras turun, dan menolong wanita tersebut. Namun naas bagi Pras, karena disana banyak preman. Pras babak-belur dihajar preman dan perutnya ditusuk senjata tajam. Lalu, Pras dirawat di rumah sakit. Di sanalah, pada saat Pras dirawat, menjadi momentum yang bisa menyatukan Mei dan Arini untuk ikhlas menerima poligami.

Maksud saya menggunakan kata kebetulan, karena usaha manusianya kurang terasa. Tentu usaha manusia yang dimaksud adalah perjuangan yang dilakukan Pras untuk mencari solusi dalam menyelesaikan konflik akibat poligami. Pras kurang gigih dalam mengupayakannya. Hanya ada satu adegan yang cukup mengesankan, yaitu ketika Pras mau menyaksikan pertunjukan Nadia, anaknya, tiba-tiba ditelepon oleh Mei yang mengabarkan Akbar sakit. Dari peristiwa itulah, benih-benih keikhlasan Arini mulai terasa. Terutama terlihat ketika Arini memandu cara perawatan Akbar melalui telepon seluler.

            Adegan-adegan lain sudah tidak begitu asing, meskipun tetap menarik dikarenakan struktur dramatiknya yang terpola dengan baik. Misalnya, ketika ibu Pras berlari dari lorong gang menuju ke jalan raya, dan langsung tertabrak mobil. Itu merupakan adegan yang sering disaksikan dalam film-film sebelumnya. Atau juga adegan Mei yang melompat dari atap gedung, kemudian tangannya dipegang Pras.          

Acting Fedi Nuril itu sudah tidak perlu diragukan. Namun dalam pengkarakterannya yang terasa agak dipaksakan. Pras terlalu dipaksakan menjadi sosok setengah malaikat, yang setiap kali menemukan peristiwa berbahaya, Pras harus tampil sebagai penolong. Bahkan hampir tidak memiliki rasa takut sedikit pun. Misalnya, ketika menolong anak kecil yang jatuh dari sepeda, ia mengajaknya naik mobil. Di zaman sekarang, apa yang dilakukan Pras justru bisa mencelakakan dirinya, karena jangan-jangan malah disangka tukang culik anak.

Ketika mobil Mei terperosok, Pras juga tidak punya rasa takut sedikit pun untuk langsung berlari ke TKP. Secara logika, apa tidak takut mobilnya meledak. Atau... apa tidak takut Pras justru tersangkut kasus, dianggap orang yang menyebabkan terjadinya kecelakaan Mei. Masalahnya di TKP tidak ada orang sama sekali.

Dan yang lebih berani, ketika Pras menolong seorang wanita yang akan diperkosa, malam hari, di tengah guyuran hujan. Tanpa merasa takut sedikit pun, Pras langsung turun daan mencoba menolong.

Pras ditampilkan sebagai tokoh yang sangat pemberani. Tampaknya tidak pernah merasa takut. Namun, ketika berhadapan dengan klien yang mempermasalahkan keterlambatan proyeknya, Pras tidak seberani menghadapi preman. Bahkan ia hampir melontarkan jawaban yang tidak gentleman, jika saja tidak disambar oleh dialog sahabatnya.

Sementara untuk pengkarakteran Arini dan Mei, sepertinya sudah sangat memuaskan.  Mei, karakter yang harus dimainkan Raline Shah sangat berat. Dari seorang wanita liar harus berubah menjadi rapuh, dan kemudian berubah lagi jadi sosok akhwat solehah. Maksud wanita liar adalah dengan kemunculan pertamanya sebagai sosok seorang wanita yang hamil di luar pernikahan. Anggaplah wanita liar, karena dia hamil bukan karena diperkosa. Lalu, Mei menjadi rapuh dan hampir runtuh. Memang sosok Raline terlalu kuat untuk rapuh, tetapi ia telah berjuang untuk menampilkan akting yang wajar sebagai seorang mantan wanita liar.

Jika kemudian Arini ikhlas dipoligami, perubahan karakternya tidak terlalu jauh, karena sejak awal Arini sudah menjadi sosok muslimah solehah. Berbeda dengan Mei, dari wanita liar menjadi muslimah solehah yang ikhlas. Bahkan pada akhirnya, proporsi keikhlasan Mei ada satu tingkat diatas Arini. Film yang begitu mengesankan.”Surga Yang Tak Dirindukan” adalah salahsatu karya sineas Indonesia yang sangat layak untuk disimak.***
Doktrin Pokok dalam Agama Buddha



BAB I
PENDAHULUAN

  1. Agama Buddha
Lahirnya agama Buddha merupakan protes terhadap sistem kasta yang diterapkan dalam Hindu dan juga dalam cara pelepasan dari samsara. Menurut Soekmono (2009:17). Pada mulanya  Buddha bukan agama, dalam arti adanya Tuhan atau Dewa yang dipuja, melainkan suatu ajaran yang bertujuan membebaskan manusia dari lingkaran samsāra (moksa).  Buddha tidak bedanya dengan ajaran-ajaran lainnya yang sudah dikenal, seperti Wedānta dan Yoga. Memang agama Buddha berpangkal kepada kupasan-kupasan Upanisad pula, hanyalah jalan yang ditempuh olehnya sebagai hasil pencariannya berlawanan degnan jalan Wedānanta dan lebih dekat kepada Sāmkhya dan Yoga.
Dalam usaha mendapatkan jalan menuju moksa, ada dua aliran yang sangat berbeda. Aliran pertama ialah yang berpendirian bahwa dasar untuk menempuh jalan moksa itu adalah ajaran-ajaran yang terdapat dalam kitab-kitab Weda. Alian kedua sebaliknya tidak mengakui sama sekali kitab-kitab weda itu.
Agama Buddha masuk dalam aliran kedua. Agama ini yang telah menempuh jalan sendiri, dan nantinya bahkan dapat mengembangkan sayapnya jauh melampaui batas-batas agama-agama lainnya yang seasal. Kitab sucinya tersendiri pula, dan bahasanya yang dipakai bukanlah bahasa Sansekerta melainkan baahasa Pāli, yang mula-mula adalah bahasa rakyat daerah Magadha, tetapi kemudian menjadi bahasa suci agama Buddha.  Kitab itu disebut Tripittaka yang sebenarnya berarti “Tiga Keranjang”. Dinamakan demikian karena terdiri atas tiga himpunan, yang masing-masing berisi pokok ajaran agama Buddha itu.
Ketiga pittaka itu ialah:
  1. Winayapittaka, berisi segala macam peraturan dan hukum dalam menentukan cara hidup para pemeluknya;
  2. Sûtrānapittaka, berisi wejangan-wejangan Sang Buddha;
  3. Abhidarmapittaka, berisi penjelasan-penjelasan dan kupasan mengenai soal-soal keagamaan.
Tujuan dari agama buddha adalah membebaskan manusia dari samsara atau kesengsaraan. Dan kemudian ajaran tersebut diyakini sebagai agama buddha oleh para pemeluknya. Agama buddha yang lahir di India, pertama kali diajarkan oleh seorang pangeran yang bernama Sidharta Gautama.
Dia merupakan putra dari Raja Sudhodana yang berasal dari kerajaan Kosala di Kapilawastu. Pangeran Sidharta tidak suka dengan kemewahan, lalu kemudian dia meninggalkan istana dan kemudian dia pergi ke hutan di Bodh Gaya untuk melakukan tapa.
Dia melakukan tapanya dibawah pohon dan akhirnya mendapatkan Bohdi atau Penerangan yang sempurna. Dan kemudian pohon tersebut dikenal dengan nama pohon bodhi. Peristiwa tersebut terjadi pada tahun 531 SM disaat usia dari pangeran Sidharta Gautama 35 tahun. Setelah memperoleh bodhi pangeran Sidharta Gautama dikenal sebagai Sang Buddha atau yang bersinar.
Dari saat itulah sang buddha mulai mengajarkan agamanya untuk melepaskan diri dari samsara atau kesengsaraan. Hal tersebut merupakan bentuk dari kasih sayang Sang Buddha pada masyarakat dan juga umat manusia. Manusia dilarang untuk hidup yang bermewah-mewahan karena bisa menjadi bagian dari sebuah nafsu.

  1. Doktrin Agama Buddha
Para pemeluk agama Buddha mempunyai ikrar, yang disebut Triçarana (tiga tempat berlindung) dan berbunyi:
  1. Saya berlindung kepada Buddha,
  2. Saya berlindung kepada Dharma,
  3. Saya berlindung kepada Sanggha
Berkenaan dengan Triçarana, Soekmono (2009: 22-23) menjelaskan Buddha sebenarnya bukan nama orang, melainkan sebutan untuk menamakan orang yang telah mencapai “Bodhi”, yaitu orang yang telah mendapatkan wahyu dan karena itu sadar akan makna hidupnya dan terbukti nyata jalannya utnuk melepaskan diri dari kekangan karma. Adapun Buddha yang kita kenal dari sejarah sebagai orang yang mendirikan agama Buddha mula-mula ia adalah seorang anak raja, bernama Sidhartaha.
Perkataan dharma sudah terdapat dan memegang peranan penting dalam jaman Brahmana. Arti sebenarnya adalah apa yang menjadi dukungan atau beban manusia sebagai anggota masyarakat, anggota isi alam. Maka dari itu dipakai dalam arti hukum, peraturan, ketertiban, jumlah kewajiban, yang mengikat manusia, baik lahir maupun batin.
Dalam agama Buddha, dharma dipakai dalam arti ajaran-ajaran Buddha, bahkan agama Buddha itulah yang disebut Dharma. Adapun ajaran-ajaran itu berpokok kepada Aryasatyani dan Patityasamatpada, dua hal yang diperoleh Buddha waktu mendapat bodhi dan yang menjadi keyakinan sebagai pembuka jalan ke Nirwana.
Aryasatyani artinya kebenaran-kebenaran utama yang berjumlah empat, yaitu:
Hidup adalah menderita; Menderita disebabkan karena trsna atau haus, yaitu haus (hasrat) akan hidup; Penderitaan dapat dihentikan, yaitu dengan menindas trsna; Trsna dapat ditindas  dengan melalui jalan delapan:
  1. Pemandangan (ajaran) yang benar
  2. Niat atau sikap yang benar
  3. Perkataan yang benar
  4. Tingkah laku yang benar
  5. Penghidupan (mata pencaharian) yang benar
  6. Usaha yang benar
  7. Perhatian yang benar
  8. Samadi yang benar
Patityasamatpada adalah rantai sebab akibat, yang terdiri atas 12 hal yang berangkai, merupakan sebab dari hal yang berikutnya, atau menjadi akibat dari hal yang terdahulu.
Pemeluk agama Buddha ada dua macam, yaitu mereka yang terus meninggalkan masyarakat ramai dan hidup dalam biara dan mereka yang tetap tinggal sebagai anggota masyatakat biasa. Mereka dari golongan pertama disebut bhiksu untuk laki-laki, dan bhiksuni untuk perempuan. Mereka yang tetap dalam masyarakat disebut upasaka (laki-laki) dan upasika (perempuan). Adapun yang disebut sanggha adalah masyarakat para bhiksu  dan bhiksuni. Mereka meninggalkan segala keduniawian, dan harus hidup dalam wihara dengan mengindahkan dacacila, yang terdiri atas:
  1. Tidak boleh menyakiti/mengganggu sesama makhluk (ahimsa),
  2. Tidak boleh mengambil apa yang tidak telah diberikan,
  3. Tidak boleh berzina,
  4. Tidak boleh berkata tidak benar,
  5. Tidak boleh minum apa yang memabukkan,
  6. Tidak boleh makan tidak pada waktunya,
  7. Tidak boleh menghadiri (menonton) kesenangan duniawi,
  8. Tidak boleh bersolek,
  9. Tidak boleh tidur di tempar yang enak,
  10. Tidak boleh menerima hadiah uang.
Aturan No 1 – 5 berlaku pula untuk upasaka/ upasika. Mengenai no 3, yaitu tidak boleh berzina, bagi para bhiksu/ bhiksuni berarti kewajiban wadat. Di dalam menjalankan dharma, para pemeluk agama Buddha memuja-muja sang Buddha. Tidak hanya Buddha Gautama yang dipuja-puja, tetapi semua Buddha yang telah ada dan yang akan datang. Termasuk semua apa yang berasal dari Buddha Gautama atau benda miliknya, seperti: potongan kukunya, potongan rambutnya, bekas giginya, bekas bakaiannya, bekas mangkoknya untuk meminta-minta, dan sebagainya. Lebih-lebih dipuja lagi adalah bekas tulang-tulangnya serta abunya setelah jenazah Buddha itu dibakar. Benda-benda yang dipuja itu disimpan dalam stupa.
Salah satu pilar ajaran Buddha yang mendasari cara berpikir Buddha adalah seperti yang tersirat di dalam Empat Kebenaran Mulia (cattari ariya sacca). Di berbagai bagian Sutta Pitaka[1] dapat ditemukan cara berpikir analisis seperti yang terdapat pada konsep Empat Kebenaran Mulia. Cara berpikir tersebut adalah:
  1. Memahami Suatu Masalah dan menganalisa masalah tersebut
  2. Menyadari dan menemukan ada penyebab masalah tersebut
  3. Mengetahui bahwa masalah dapat teratasi dan mencari cara penyelesaiannya
  4. Menemukan cara mengatasi masalah tersebut dan Menjalankan caranya
 Empat Kebenaran Mulia disadari oleh Buddha Gautama ketika beliau mencapai pencerahan:

“Ketika pikiranku yang terkonsentrasi telah demikian termurnikan, terang, tak ternoda, bebas dari ketidaksempurnaan, dapat diolah, lentur, mantap dan mencapai keadaan tak terganggu, aku mengarahkannya pada pengetahuan tentang hancurnya noda-noda[2]. Secara langsung aku mengetahui sebagaimana adanya: ‘Inilah penderitaan’, ‘Inilah asal mula penderitaan’, ‘Inilah berhentinya penderitaan’, ‘Inilah jalan menuju berhentinya penderitaan’; Secara langsung aku mengetahui sebagaimana adanya ‘Inilah noda-noda’, ‘Inilah asal mula noda-noda’, ‘Inilah berhentinya noda-noda’, ‘Inilah jalan menuju berhentinya noda-noda’”[3]

Empat Kebenaran Mulia adalah ajaran yang pertama kali diperkenalkan oleh Sang Buddha dalam khotbah pertamanya di Benares[4]. Selain itu Empat Kebenaran Mulia juga adalah ajaran khusus para Buddha[5], yang berarti setiap Buddha selalu mengajarkan 4 Kebenaran Mulia ini walaupun dengan bahasa yang berbeda atau sistematisasi pembagian ajaran yang berbeda.
Empat Kebenaran Mulia tersebut adalah  sebagai berikut:
  1. Kebenaran Mulia tentang adanya ‘penderitaan’ (dukkha)
  2. Kebenaran Mulia tentang penyebab penderitaan
  3. Kebenaran Mulia tentang lenyapnya penderitaan
  4. Kebenaran Mulia tentang jalan menuju lenyapnya penderitaan
  



BAB II
DELAPAN JALAN KEBENARAN AGAMA BUDDHA

  1. Kebenaran Mulia
Dalam ajaran Buddha dikenal adanya Kebenaran Mulia tentang Adanya ‘Penderitaan’ (dukkha). Kata penderitaan sini mewakili kata dukkha, walaupun tidak sepenuhnya dapat mewakili makna kata dukkha. Adapun definisi dukkha yang ada di dalam Kitab Suci Tripitaka.

“Kelahiran adalah penderitaan; menjadi tua adalah penderitaan; penyakit adalah penderitaan; kematian adalah penderitaan; kesedihan, ratap tangis, rasa sakit, kesengsaraan (ketidaksenangan) dan keputusasaan adalah penderitaan; tidak memperoleh apa yang diinginkan adalah penderitaan Dengan kata lain Lima kelompok kehidupan (Pancakhandha) yang dipengaruhi kemelekatan adalah penderitaan (dukkha).”[6]

Definisi dukkha (penderitaan) di dalam Kitab Tripitaka terdapat di dalam beberapa sutta[7]. Pengulangan yang berkali-kali menunjukkan betapa pentingnya pemahaman terhadap Empat Kebenaran Mulia, salah satunya memahami bahwa hidup itu diliputi dukkha (penderitaan).
            Jika diterjemahkan sebagai penderitaan, kata dukkha akan membuat seolah-olah bahwa agama Buddha memandang hidup adalah pesimis. Namun, dukkha bukan hanya berarti penderitaan dalam artian biasa. Penderitaan disini yang dimaksud adalah penderitaan dari ketidakpuasan seseorang terhadap suatu hal, yang padahal apapun pasti berubah. Dukkha bisa diartikan sebagai penderitaan karena tidak bisa menerima perubahan.
Ciri semua hal yang ada di dunia ini bersifat ‘selalu berubah’. Perubahan selalu terjadi, entah disadari atau tidak, diakui atau tidak. Perubahan itu kemudian lebih lanjut dijabarkan dalam kerangka buddhisme sebagai tilakkhana (tiga corak umum). Tiga corak umum mempunyai arti bahwa tiga hal tersebut pasti dan selalu berlaku, yakni ketidakkekalan (anicca), penderitaan atau ketidakpuasan (dukkha), dan tidak ada diri/sesuatu yang tetap (anatta). Ketiganya tak lain mewakili realitas dunia yang selalu berubah.
Maka dukkha sebenarnya adalah cara pandang manusia terhadap perubahan itu. Dukkha adalah penderitaan atau ketidakpuasan karena manusia tidak bisa hidup kekal (anicca). Konsep perubahan diwujudkan dari 3 sisi pandang yaitu:
  1. Bagi alam atau benda mati dikatakan sebagai anicca (tidak kekal)
  2. Bagi cara pandang manusia terhadap dirinya sendiri dikatakan sebagai dukkha (menderita karenamerasakan perubahan)
  3. Bagi manusia atau mahkluk hidup dikatakan sebagai anatta (tidak ada diri yang tetap abadi tanpa perubahan atau roh/jiwa yang kekal tanpa perubahan)
Di dalam sammaditthi sutta[8] dikatakan berhentinya penderitaan adalah pemudaran dan penghentian tanpa sisa, penyerahan, pelepasan, membiarkan pergi, dan penolakan nafsu keinginan. Jadi Sang Buddha mengajarkan bahwa keinginan berlebihan yang melekat dapat dihilangkan dari pikiran kita. Ketika keinginan manusia menjadi wajar, tidak melekat, tidak serakah maka kebahagiaan sejati (nibbana) telah ia alami.
Sang Buddha mengatakan bahwa beliau hanyalah seorang penunjuk jalan menuju kebahagiaan sejati (nibbana). Beliau mengajarkan bagaimana melatih diri untuk mengendalikan sifat-sifat negatif. Buddha tidak bisa membawa sesorang ke Nibbana karena nibbana hanyalah sebuah kondisi batin (pikiran, perasaan) yang berbeda pada setiap orang. Adapun yang dapat membuat diri kita mengalami nibbana (kebahagiaan sejati) adalah diri sendiri dengan melatih seperti yang diajarkan beliau yakni Jalan Mulia Berunsur Delapan. Jadi berhentinya penderitaan (dukkha) sama artinya dengan tercapainya nibbana.
Sang Buddha memberikan gambaran akan realitas kehidupan, yakni ketidakpuasan atau penderitaan, penyebabnya dan setiap orang dapat mencapai kebahagiaan sejati (nibbana) saat ini juga dengan melenyapkan penderitaan (dukkha). Untuk dapat mencapai kebahagiaan sejati, Buddha mengajarkan suatu cara yang dapat dilakukan setiap orang. Cara tersebut dinamakan Jalan Mulia Berunsur Delapan.
Jalan Mulia Berunsur Delapan yang akan membawa siapapun kepada kebahagiaan sejati jika telah sempurna dilaksanakan dan telah menjadi bagian dari setiap tindakan yang dilakukan seseorang baik dari agama, ras, suku apa pun juga. Jadi ketika cara pandang seseorang serta tindakannya sesuai dengan Jalan Mulia Berunsur Delapan—baik ia seorang beragama atau tidak—pasti kebahagiaan sejati akan dialaminya.
Dalam Dhammacakkappavattana Sutta; Samyutta Nikaya 56.11 {S 5.420}, Guru Buddha mengajarkan Empat Kebenaran Ariya (Cattari Ariya Saccani) kepada Lima Bhikkhu Pertama (Panca Vaggiya Bhikkhu), yang di dalamnya terdapat Jalan menuju terhentinya Dukkha. Jalan itu disebut dengan Jalan Mulia Berunsur Delapan (Ariya Atthangiko Magga).
Di dalam Jalan ini mengandung unsur sila (kemoralan), samadhi (konsentrasi), dan panna (kebijaksanaan). Berikut pengelompokan unsur yang terkandung di dalamnya:
1. Pengertian Benar (sammâ-ditthi)
2. Pikiran Benar (sammâ-sankappa)
3. Ucapan Benar (sammâ-väcä)
4. Perbuatan Benar (sammâ-kammanta)
5. Pencaharian Benar (sammâ-ajiva) Samâdhi
6. Daya-upaya Benar (sammâ-vâyama)
7. Perhatian Benar (sammâ-sati)
8. Konsentrasi Benar (sammâ-samâdhi)

  1. Unsur-unsur Delapan Kebenaran

Jalan Mulia Berunsur Delapan (Ariya Atthangiko Magga) dipaparkan sebagai berikut:

  1. Pengertian Benar (Sammã Ditthi)
Pemahaman Benar adalah pengetahuan yang disertai dengan penembusan terhadap:
a. Empat Kesunyataan Mulia
b. Hukum Tilakkhana (Tiga Corak Umum)
c. Hukum Paticca-Samuppäda
d. Hukum Kamma

  1. Pikiran Benar (Sammã Sankappa)
Pikiran Benar adalah pikiran yang bebas dari:
a. Pikiran yang bebas dari nafsu-nafsu keduniawian (nekkhamma-sankappa).
b. Pikiran yang bebas dari kebencian (avyäpäda-sankappa)
c. Pikiran yang bebas dari kekejaman (avihimsä-sankappa)

  1. Ucapan Benar (Sammã Vãca)
Ucapan Benar adalah berusaha menahan diri dari berbohong (musãvãdã), memfitnah (pisunãvãcã), berucap kasar/caci maki (pharusavãcã), dan percakapan-percakapan yang tidak bermanfaat/pergunjingan (samphappalãpã). Dapat dinamakan Ucapan Benar, jika dapat memenuhi empat syarat di bawah ini :
a. Ucapan itu benar
b. Ucapan itu beralasan
c. Ucapan itu berfaedah
d. Ucapan itu tepat pada waktunya

  1. Perbuatan Benar (Sammã Kammantã)

Perbuatan Benar adalah berusaha menahan diri dari pembunuhan, pencurian, perbuatan melakukan perbuatan seksualitas yang tidak dibenarkan (asusila), perkataan tidak benar, dan penggunaan cairan atau obat-obatan yang menimbulkan ketagihan dan melemahkan kesadaran.


  1. Penghidupan Benar (Sammã Ãjiva)
Penghidupan Benar berarti menghindarkan diri dari bermata pencaharian yang menyebabkan kerugian atau penderitaan makhluk lain. "Terdapat lima objek perdagangan yang seharusnya dihindari (Anguttara Nikaya, III, 153), yaitu:
a. makhluk hidup
b. senjata
c. daging atau segala sesuatu yang berasal dari penganiayaan mahluk-mahluk hidup
d. minum-minuman yang memabukkan atau yang dapat menimbulkan ketagihan,
e. racun

Terdapat pula lima pencaharian salah yang harus dihindari (Majjima Nikaya. 117), yaitu:
a. Penipuan
b. Ketidak-setiaan
c. Penujuman
d. Kecurangan
e. Memungut bunga yang tinggi (praktek lintah darat)

  1. Usaha Benar (Sammã Vãyama)
Usaha Benar dapat diwujudkan dalam empat bentuk tindakan, yaitu: berusaha mencegah munculnya kejahatan baru, berusaha menghancurkan kejahatan yang sudah ada, berusaha mengembangkan kebaikan yang belum muncul, berusaha memajukan kebaikan yang telah ada.

  1. Perhatian Benar (Sammã Sati)
Perhatian Benar dapat diwujudkan dalam empat bentuk tindakan, yaitu:
- perhatian penuh terhadap badan jasmani (kãyãnupassanã)
- perhatian penuh terhadap perasaan (vedanãnupassanã)
- perhatian penuh terhadap pikiran (cittanupassanã)
- perhatian penuh terhadap mental/batin (dhammanupassanã)
Keempat bentuk tindakan tersebut bisa disebut sebagai Vipassanã Bhãvanã.

  1. Konsentrasi Benar (Sammã Samãdhi)
Konsentrasi Benar berarti pemusatan pikiran pada obyek yang tepat sehingga batin mencapai suatu keadaan yang lebih tinggi dan lebih dalam. Cara ini disebut dengan Samatha Bhãvanã. Tingkatan-tingkatan konsentrasi dalam pemusatan pemikiran tersebut dapat digambarkan dalam empat proses pencapaian Jhana, yaitu:

-          Bebas dari nafsu-nafsu indria dan pikiran jahat, ia memasuki dan berdiam dalam Jhãna pertama, di mana vitakka (penempatan pikiran pada objek) dan vicãra (mempertahankan pikiran pada objek) masih ada, yang disertai dengan kegiuran dan kesenagan (piti dan sukha).

-          Dengan menghilangkan vitakka dan vicara, ia memasuki dan berdiam dalam Jhãna kedua, yang merupakan ketenangan batin, bebas dari vitakka dan vicãra, memiliki kegiuran (piti) dan kesenangan (sukha) yang timbul dari konsentrasi.

-          Dengan meninggalkan kegiuran, ia berdiam dalam ketenangan, penuh perhatian dan sadar, dan merasakan tubuhnya dalam keadaan senang. Dia masuk dan berdiam dalam Jhãna ketiga.

-          Dengan meninggalkan kesenangan dan kesedihan, dia memasuki dan berdiam dalam Jhãna keempat, keadaan yang benar-benar tenang dan penuh kesadaran di mana kesenangan dan kesedihan tidak dapat muncul dalam dirinya.

Orang yang telah berhasil melaksanakan Delapan Jalan Utama akan memperoleh :

  1. Sila-visuddhi - Kesucian Sila sebagai hasil dari pelaksanaan Sila dan terkikis habisnya Kilesa (Kekotoran batin).
  2. Citta-visuddhi - Kesucian Bathin sebagai hasil dari pelaksanaan Samadhi dan terkikis habisnya Nivarana (Rintangan batin).
  3. Ditthi-visuddhi - Kesucian Pandangan sebagai hasil dari pelaksanaan Pañña dan terkikis habisnya Anusaya (Kecenderungan berprasangka).



BAB III
SAMSARA

            Umat Buddha tidak percaya bahwa kematian adalah akhir kehidupan. Ketika seseorang meninggal, kesadaran seseorang pergi dan memasuki salah satu dari enam jalan kelahiran kembali.  Samsara atau sangsara dalam agama budha adalah sebuah keadaan tumumbal lahir (kelahiran kembali) yang berulang-ulang tanpa henti.
Dalam agama Buddha dipercayai adanya suatu proses kelahiran kembali (Punabbahava). Semua makhluk hidup yang ada di dalam semesta ini akan terus menerus mengalami tumimbal lahir selama mkhluk tersebut belum mencapai tingkat kesucian Arahat. Alam kelahiran ditentukan oleh karma makhluk tersebut. Bila ia baik akan melahirkan dia alam bahagia, bila ia jahat ia akan terlahir di alam yang menderita. Kelahiran kembali juga dipengaruhi oleh Garuka Kamma yang artinya karma pada detik kematiannya. Bila pada saat ia meninggal dia berpikirran baik maka ia akan lahir di alam yang berbahagia, dan jika sebaliknya akan terlahir di alam yang menderitakan.
Ketika seseorang meninggal, kesadaran seseorang pergi dan memasuki salah satu dari enam jalan kelahiran kembali, yaitu:
  1. Deva-Gati dalam bahasa Sanskerta, yaitu makhluk surgawi yang penuh dengan kesenangan
  2. Makhluk di Neraka. Naraka-Gati dalam bahasa Sansekerta, yang merupakan dunia terendah dan terburuk, penuh dengan penyiksaan.
  3. Hantu Lapar. Preta-Gati dalam bahasa Sansekerta, yaitu alam roh lapar, ditandai dengan keinginan besar dan kelaparan abadi;
  4. Hewan. Tiryagyoni-Gati dalam bahasa Sansekerta, yaitu dunia hewan dan ternak, yang ditandai dengan kebodohan dan perbudakan.
  5. Asura Asura-Gati dalam bahasa Sanskerta, yaitu alam marah, cemburu, dan perang konstan. Asura (Asyura) adalah dewa, semi-makhluk kuat yang diberkati,  sengit dan suka bertengkar seperti halnya manusia, mereka sebagian baik dan sebagian jahat. Mereka memiliki banyak hal yang baik dalam kehidupan. Muncul di langit atau di bumi sebagai orang atau hewan.

  1. Manusia. Manusya-Gati dalam bahasa Sansekerta, yaitu alam manusia, makhluk yang baik dan yang jahat. Pencerahan adalah dalam genggaman mereka, namun kebanyakan dibutakan dan dikonsumsi oleh keinginan mereka.

Di bagian atas adalah surga, di mana semua orang hidup dengan kesenangan. Di bawah adalah neraka, di mana penderitaan bertubi-tubi. Makhluk-makhluk dapat naik atau turun dari satu tingkatan ke tingkatan yang lain. Jika seseorang melakukan perbuatan baik, dia akan lahir kembali di jalan para dewa, manusia, atau asura. Jika seseorang melakukan perbuatan-perbuatan jahat, dia akan lahir kembali di jalan binatang, hantu kelaparan, atau makhluk neraka. Dari satu kehidupan ke kehidupan yang berikutnya seseorang dapat tiba-tiba berubah dari seorang manusia ke hewan atau dari hantu ke makhluk neraka, sesuai hal-hal yang telah dilakukannya.
Roda kehidupan dan kematian tetap berputar akibat tiga racun dari Ketamakan, Kebencian, dan Kebodohan. Dengan memotong tiga racun ini, dapat melepaskan diri dari roda kehidupan dan menjadi tercerahkan.
Ada 4 tingkatan Pencerahan :
  1. Para Buddha – sempurna dalam pencerahan
  2. Para Bodhisattva – mencerahkan diri sendiri maupun orang lain
  3. Para Pratyekabuddha – para petapa yang mengasingkan diri dan mencapai pencerahan atas usaha sendiri
  4. Para Arahat –  mencerahkan diri sendiri


BAB IV
KARMA

                 Dalam agama Buddha dikenal dengan istilah Karma, yang merupakan penentu kehidupan setelah kematian seseorang. Jika ia banyak memupuk karma baik maka ia akan memetik hasilnya pada kehidupan berikutnya. Sebaliknya, jika ia sering berbuat karma buruk maka ia akan terlahir di alam sengsara. Kelahiran kembali ini sering disebut dengan istilah reinkarnasi. Namun dalam agama Buddha, hal yang menentukan kelahiran kembali ini adalah hukum karma yang diperbuat dalam kehidupan masa lalunya.
            Kata “kamma“ dalam bahasa Pali, dan kata “karma“ dalam bahasa Sansekerta, memiliki arti yang sama, secara harfiah berarti “aksi“ atau “perbuatan“. Akan tetapi, tidak semua aksi dianggap sebagai karma. Pertumbuhan rambut dan kuku serta pencernaan makanan, merupakan contoh dari aksi yang demikian, bukan merupakan karma. Aksi refleks juga bukan termasuk karma, tetapi merupakan kegiatan tanpa makna moral. Karma adalah suatu hukum alam yang bekerja secara ketat sesuai dengan tindakatan kita[9].
Secara umum, karma berarti perbuatan. Umat Buddha memandang hukum karma sebagai hukum kosmis tentang sebab dan akibat yang juga merupakan hukum moral (Kitab Hukum Karma) yang impersonal. Menurut hukum ini sesuatu (yang hidup maupun yang tidak hidup) yang muncul pasti ada sebabnya. Tidak ada sesuatu yang muncul dari ketidakadaan.
Tidak ada sesuatu atau makhluk yang muncul tanpa ada sebab lebih dahulu. Rumusan agama Buddha tentang sebab akibat (Paticcasamuppada) adalah :

Dengan adanya ini, terjadilah itu. Dengan timbulnya ini, timbulah itu. Dengan tidak adanya ini, maka tidak ada itu. Dengan lenyapnya ini, maka lenyaplah itu. (Khuddhaka Nikaya, Udana 40)

Menurut agama Buddha, semua fenomena di alam-semesta ini bekerja menurut salah satu dasar lima hukum alam (niyama), yaitu:
  1. Hukum-hukum fisika (utu niyama) mengatur keberaturan fisik anorganik, mengatur temperatur didih air, kecepatan cahaya, siklus musim, dan sebagainya.
  2. Hukum-hukum biologis (bija niyama) mengatur pertumbuhan, reproduksi, hukum genetika/penurunan sifat dan semua aspek makhluk hidup.
  3. Hukum-hukum psikologik (citta niyama) mengatur fungsi-fungsi kesadaran serta fenomena ekstrasensorik seperti telepati, kewaskitaan (Inggeris: clairvoyance) dan sebagainya.
  4. Dibawah hukum-hukum semesta (dhamma niyama) bekerja hukum gaya-berat, termodinamik dan segala fenomena semacamnya diseluruh alam-semesta ini.
  5. Hukum Karma (kamma niyama).

Hukum karma dapat di lihat dari dua aspek, yaitu aspek kosmis dan aspek moral. Hukum karma dalam aspek kosmis meliputi alam fisik dan psikis. Dipandang dari sisi kosmis, makhluk-makhluk hidup seperti manusia dan binatang adalah fenomena materi. Keberadaan manusia dan binatang adalah fenomena relatif karena mereka ada disebabkan adanya hal-hal lain seperti adanya makanan, minuman, matahari, dunia dan sebagainya. Mereka mengalami perubahan, muncul dan lenyap, seperti semua hal di dunia. Dunia pun akan mengalami proses perubahan, muncul dan lenyap. Demikian pula dengan alam semesta yang berisi banyak galaksi serta tata surya yang tidak terhitung banyaknya selalu berproses, muncul dan lenyap.
Ajaran karma Buddhis sebagai hukum moral menitik beratkan pada perbuatan-perbuatan manusia yang dilakukan melalui perbuatan jasmani, ucapan dan pikiran. Perbuatan perbuatan itu diklasifikasikan sebagai karma bila suatu perbuatan dilakukan karena adanya niat atau kehendak (Cetana). Suatu perbuatan tanpa niat atau kehendak tidak dapat disebut karma karena perbuatan itu tidak akan menghasilkan akibat moral bagi pembuatnya. Niat atau kehendak yang dimaksudkan dengan karma, seperti yang dikatakan Sang Buddha dalam Angutara Nikaya III :

“O para bhikkhu, kehendak yang saya maksudkan dengan karma. Seseorang karena memiliki kehendak dalam pikirannya maka ia melakukan perbuatan dengan jasmani, ucapan dan pikiran.”


Perbuatan yang tidak mengandung unsur kehendak dengan sendirinya adalah:
-          Perbuatan yang netral murni. Misalnya duduk, berdiri, berjalan, tidur, melihat dan lain-lain menurut keadaan yang wajar.
-          Perbuatan-perbuatan yang kelihatan baik atau jahat, namun tidak disertai kehendak. Misalnya ketika berjalan, ada semut yang terinjak sampai mati. Atau contoh lain, ketika sedang berjalan tanpa disadari uangnya jatuh dan dipungut oleh seorang cacat yang amat memerlukan uang.
Suatu perbuatan (karma) yang dilakukan oleh seseorang karena adanya sebab yang mempengaruhinya. Karma bukan hanya sebagai sebab untuk menimbulkan akibat (vipāka), tetapi juga sebagai akibat dari suatu hal. Karma yang dilakukan seseorang diakibatkan oleh beberapa sebab yang mempengaruhi. Menurut Kalupahana , tingkah laku atau perbuatan (karma) seseorang ditentukan atau disebabkan oleh tiga faktor, yaitu rangsangan luar, motif yang disadari, dan motif yang tidak disadari. [10]
Perbuatan (karma) yang dilakukan seseorang didasari oleh salah satu dari ketiga faktor tersebut. Perbuatan (karma) yang disebabkan oleh rangsangan luar dipengaruhi oleh kontak (phassa). Kontak yang dimaksud adalah enam landasan indera yaitu mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan pikiran mengalami kontak dengan objek. Indera mata (cakkhu) kontak dengan objek bentuk (rupa), telinga (sota) kontak dengan objek suara (sadda), hidung (ghana) kontak dengan objek bau (gandha), lidah (jivha) kontak dengan objek rasa (rasa), tubuh atau badan jasmani (kaya) kontak dengan objek sentuhan (phoṭṭabba), dan pikiran (mano) kontak dengan objek kesan-kesan batin (dhamma). Perbuatan yang dipengaruhi oleh rangsangan dari luar seperti gerak refleks. Contohnya seorang bayi yang menyentuh api dengan tangan maka dengan cepat akan menarik tangannya dari api tersebut.
Semua perbuatan akan menimbulkan akibat dan semua akibat akan menimblkan hasil perbuatan. Akibat perbuatan disebut kamma-vipaka, dan hasil perbuatan disebut kamma-phala. Dari segi perbuatan atau salurannya, kamma dibedakan atas:
-          Mano-kamma = perbuatan pikiran
-          Vaci-kamma = perbuatan kata-kata
-          Kaya-kamma = perbuatan badan jasmani
Sedangkan menurut sifatnya, kamma dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu Kusala-kamma = perbuatan baik dan Akusala-kamma = perbuatan jahat
Kusala-kamma berakar dari kusala-mula, tiga akar kebaikan:
-          Alobha : tidak tamak
-          Adosa : tidak membenci
-          Amoha : tidak bodoh
Akusala-kamma berasal dari akusala-mula, tiga akar kejahatan:
-          Lobha : ketamakan
-          Dosa : kebencian
-          Moha : kebodohan
Hukum Karma adalah hukum perbuatan yang akan menimbulkan akibat dan hasil perbuatan (kamma-vipaka dan kamma-phala). Hukum kamma bersifat mengikuti setiap kamma, mutlak-pasti dan harmonis-adil.
Pembagian kamma menurut fungsinya:
  1. Janaka-kamma: Kamma yang berfungsi menyebabkan timbulnya suatu syarat untuk kelahiran makhluk-makhluk. Tugas dari Janaka-kamma adalah melahirkan Nama-Rupa. Janaka-kamma melaksanakan Punarbahava, yaitu kelahiran kembali dari makhluk-makhluk di 31 alam kehidupan (lapisan kesadaran) sebelum mereka mencapai pembebasan Arahat.
  2. Upatthambaka-kamma: Kamma yang mendorong terpeliharannya suatu akibat dari suatu sebab yang telah timbul. Mendorong kusala atau akusala-kamma yang telah terjadi agar tetap berlaku.
  3. Upapilaka-kamma: Kamma yang menekan kamma yang berlawanan agar mencapai kesetimbangan dan tidak membuahkan hasil. Kamma ini menyelaraskan hubungan antara kusala-kamma dengan akusala-kamma.
  4. Upaghataka-kamma: Kamma yang meniadakan atau menghancurkan suatu akibat yang telah timbul, dan menyuburkan kamma yang baru. Maksudnya kamma yang baru itu adalah garuka-kamma, sehingga akibatnya mengatasi semua kamma yang lain.





Menurut kekuatannya, Kamma dibagi menjadi empat jenis, yaitu:
  1. Garuka Kamma
Garuka Kamma adalah kamma yang berat dan bermutu. Akibat dari kamma ini dapat timbul dalam atau kehidupan, maupun kehidupan berikutnya. Garuka kamma terdiri dari Akusala-garuka-kamma dan  Kusala-garuka-kamma.
Pancanantariya-kamma adalah lima perbuatan durhaka, diantaranya membunuh ayah, membunuh ibu, membunuh seorang Arahat, melukai seorang Buddha, memecah belah Sangha. Mereka yang melakukan salah satu dari lima  perbuatan durhaka di atas, setelah meninggal akan lahir di alam Apaya (duka/rendah), yaitu alam neraka, binatang, setan dan raksasa.
Kusala-garuka-kamma adalah perbuatan “bermutu”, yaitu dengan bermeditasi, hingga mencapai tingkat kesadaran jhana. Ia akan dilahirkan di alam sorga atau lapisan kesadaran yang tinggi, yang berbentuk atau tanpa bentuk (16 rupa-bhumi dan 4 arupa-bhumi)
Kamma yang berat  adalah Niyatamicchaditthi. Yaitu pandangan yang salah. Maksudnya memandang yang salah adalah benar dan yang benar diartikan salah. Terdapat 10 pandangan hidup yang salah, diantaranya:
  1. Tidak murah hati. Tidak pemaaf atau tidak suka menolong kesukaran orang/makhluk lain.
  2. Tidak mengerti faedah berdana. Mengangap bahwa berdana adalah suatu kebodohan yagn tidak ada hasilnya.
  3. Tidak memberikan hadiah pada tamu. Tamu adalah seorang atau sekelompok orang yang kedatangannya membahagiakan kita atau yang kedatangannya kita harapkan. Memberikan hadiah pada tamu yang dewasa ini di kota terutama berarti memberikan minuman.
  4. Perbuatan baik atau perbuatan jahat dianggap tidak ada hasil atau akibatnya. Seorang yang yakin perbuatan baik akan membawa hasil tentu berusaha menambah kebaikan pada setiap kesempatan di manapun ia berada, dan sebaliknya berusaha menghndari perbuatan yang salah setiap kali akan dilakukan.
  5. Tidak percaya pada dunia ini, tidak percaya akan kebenaran Dhamma, hukum-hukum kesunyataan; yaitu kelompok manusia yang penuih dengan kekecewaan, kebencian, ketamakan, dan kebodohan.
  6. Tidak percaya pada dunia yang akan datang; tidak percaya akan tumimbal lahir, kehidupan yang akan datang.
  7. Tidak mengerti fungsi seorang ibu, dan
  8. Tidak mengerti fungsi ayah, menganggap tidak membawa akibat apapun yang dilakukan pada mereka.
  9. Tidak mempercayai adanya makhluk yang mati atau yang dilahirkan kembali.
  10. Tidak melakukan disiplin menyendiri (khusus untuk para Buddha/Arahat)

  1. Asanna-kamma
Kamma yang dilakukan sebelum saat mati seseorang, baik lahir maupun batin, terutama dengan pikiran. Misalnya memikirkan perbuatan baik atau jahat yang telah dilakukan di masa lalu. Jadi mempunyai pikiran yang baik di kala akan meninggal adalah merupakan hal yang penting, yang akan menentukan bentuk kehidupan berikutnya menjadi lebh baik. Asanna-kamma berlaku apabila tidak melakukan garuka-kamma.

  1. Acinna-kamma atau Bahula-kamma

Apabila seorang dalam hidupnya tidak melakukan garuka-kamma dan di saat akan meninggal tidak pula melakukan Asanna-kamma, maka yang menentukan corak kelahiran berikutnya adalah acinna-kamma. Acinna-kamma atau Bahula-kamma adalah kamma kebiasaan, baik dengan kata-kata, perbuatan maupun pikiran. Walaupun seorang hanya sekali berbuat baik, namun karena selalu diingat, menimbulkan kebahagiaan hingga menjelang kematiannya, hal ini akan menyebabkan kelahiran berikutnya mnjadi baik. Demikian juga seorang yang hanya seklain bernuat jahat, karena selalu diingat menimbulkan kegelisahan hingga akhir hidupnya, sehingga akan lahir di alam yang tidak baik. Oleh karena itu apabila kita pernah berbuat jahat, maka perbuatan jahat itu harus dilupakan; demikian pula sebaliknya kalau kita pernah berbuat baik, perbuatan itu perlu selalu diingat.



  1. Katatta-kamma
Bila seorang tidak berbuat Garuka-kamma, Asanna-kamma atau Acinna-kamma, maka yang menentukan bentuk kehidupan berikutnya adalah katatta-kamma, yaitu kamma yang ringan-ringan, yang pernah diperbuat dalam hidupnya.
Karma atau perbuatan dalam aspek moral mencakup nilai-nilai etika tentang baik dan buruk. Hal ini merupakan konsep yang lebih luas daripada persoalan tentang benar dan salah bila dilihat dari sisi pandangan sehari hari tentang makna dari kata itu. Apa yang dianggap benar menurut pandangan umum Mungkin tidak baik dalam pengertian moral, demikian pula dengan kata buruk.  Prinsip dasar dari hukum karma adalah barang siapa yang menanam maka dia yang akan memetik hasilnya apakah hasil itu baik atau buruk.



BAB V
Punabhava

 Punabhava adalah istilah yang dikenal dalam agama Buddha sehubungan dengan kelahiran kembali suatu mahluk hidup dalam alam kehidupan yang sama atau berbeda serta tidak membawa kesadaran akan kehidupan dari alam sebelumnya. Punarbhava adalah kelahiran kembali atau tumimbal lahir. Dalam agama Buddha dikenal juga dengan penerusan dari nama (patisandhi vinnana). Ketika seseorang akan meninggal dunia, kesadaran ajal (cuti citta) mendekati kepadaman dan didorong oleh kekuatan-kekuatan kamma. Kemudian kesadaran ajal padam dan langsung menimbulkan kesadaran penerusan (patisandhi vinnana ) untuk timbul pada salah satu dari tiga alam kehidupan sesuai dengan karmanya.
Keinginan tak terpuaskan akan keberadaan dan kenikmatan inderawi adalah sebab tumimbal lahir. Dengan memadamkan nafsu keinginan maka kita dapat menghentikan tumimbal lahir. Nafsu keinginan ini merupakan salah satu sebab yang menimbulkan karma dan menimbulkan proses kelahiran kembali[11].
Dengan adanya proses menjadi maka terjadilah kelahiran, dengan adanya kelahiran maka terjadilah kelapukan dan kematian. Kelapukan dan kematian menyebabkan kelahiran. Itu adalah mata rantai yang tidak dapat terputus, kelahiran terjadi setelah ada kematian dan kematian terjadi karena ada kelahiran. Makhluk hidup setelah mati akan langsung terlahir kembali (patisandhi) tanpa menunggu jeda.
Semua makhluk hidup yang ada di dalam semesta ini akan terus menerus mengalami punarbhava selama makhluk tersebut belum mencapai tingkat kesucian Arahat. Alam kelahiran ditentukan oleh karma makhluk tersebut. Bila ia baik maka dia akan terlahir di alam bahagia, bila ia jahat ia akan terlahir di alam yang menderitakan. Kelahiran kembali juga dipengaruhi oleh Garuka Kamma yang artinya karma pada detik kematiannya, bila pada saat ia meninggal dia berpikirran baik maka ia akan lahir di alam yang berbahagia, namun sebaliknya akan terlahir di alam yang menderitakan, sehingga segala sesuatu tergantung dari karma masing-masing.
Kaharuddin menjelaskan dua macam bhava, yaitu kammabhava (proses karma, yaitu bentuk-bentuk karma yang dapat menyebabkan kelahiran kembali) dan uppatibhava (proses kelahiran kembali akibat dari bentuk bentuk karma yang dilakukan). Dalam hal ini, keinginan dan kemelekatan akan menimbulkan kammabhava, yaitu proses karma (bentuk-bentuk karma).
Sebagai contoh, seseorang yang memiliki keinginan (taṇha), yaitu keinginan
untuk memiliki perhiasan yang mewah, jika hal tersebut terus-menerus dilakukan maka akan menimbulkan kemelekatan (upadana). Keinginan dan kemelekatan terhadap perhiasan mewah membuat seseorang melakukan berbagai bentuk perbuatan.  Perbuatan yang menimbulkan perwujudan (bhava) atau lebih tepatnya kammabhava dalam paṭiccasamuppada disebut sebagai perbuatan sekarang.[12]
Ada empat cara kelahiran, yaitu:[13]
-          Jajabuja-Yoni : Makhluk yang lahir dari kandungan, seperti manusia, kuda, kerbau dan lain-lain.
-          Andaja-Yoni: Makhluk yang lahir dari telur, seperti Burung, ayam, bebek, dan lain-lain.
-          Sansedaja-Yoni : Makhluk yang lahir dari kelembaban, seperti nyamuk, ikan dan lain-lain.
-          Opapatika-Yoni: Makhluk yang lahir secara spontan, langsung membesar, seperti para dewa, brahma, makhluk neraka, setan dan lain-lain.

Bagi mereka yang diambang kematian, karma yang akan menentukan kelahiran kembali terwujudkan dalam salah satu dari empat cara sebagai berikut:[14]
-          Suatu karma yang akan menghasilkan kelahiran kembali di keberadaan kehidupan berikutnya.
-          Suatu pertanda karma, yaitu suatu objek yang berhubungan dengan perbuatan baik ataupun buruk yang akan menentukan kelahiran kembali atau alat yang digunakan untuk melakukan perbuatan tersebut. Contohnya: seseorang yang taat mungkin melihat gambaran seorang bhikkhu.
-          Suatu pertanda tujuan, yaitu suatu lambang alam tempat akan terlahirnya orang yang akan mati. Contohnya: seseorang yang akan terlahir di alam surga mungkin mendengarkan musik surgawi, dan seseorang yang akan terlahir di alam neraka mungkin merasakan panasnya api yang sangat mengerikan.
-          Karma yang akan menghasilkan kelahiran kembali keberadaan berikutnya tidak tampil sebagai gambaran ingatan tentang sesuatu yang telah dilakukan sebelumnya, melainkan tampil pintu pikiran sehingga seakan akan perbuatan itu sedang dilakukan pada saat sebelum kematian tersebut. Contohnya: orang yang akan mati tersebut mungkin merasa seakan dia sedang melakukan perbuatan jahat, walaupun perbuatan tersebut telah terjadi bertahun-tahun yang lalu.

Ada 31 Alam Kehidupan yang merupakan tempat diam makhluk-makhluk. Sedangkan Nibbana (Nirvana) adalah di luar dari 31 Alam Kehidupan itu. Nirwana sebagai kedamaian atau kebahagiaan sejati adalah ketika penderitaan lenyap, ketika akar penderitaan yaitu keserakahan (lobha), kebencian (dosa) dan kebodohan batin (moha) telah lenyap. Itulah Nibbana, kebahagiaan sejati yang saat ini dapat kita alami karena sifat keserakahan, kebencian dan kebodohan batin dapat kita hancurkan saat ini juga dengan ketidakserakahan atau ketidakmelekatan (berdana), ketidakbencian atau cinta kasih dan welas asih, serta dengan kebijaksanaan sejati.
 Adapun makhluk-makhluk yang diam di 31 Alam Kehidupan itu masih mengalami kelahiran dan kematian, masih mengalami derita. 31 Alam Kehidupan tidak kekal. Sebaliknya, Nibbana itu terbebas dari kelahiran dan kematian, terbebas dari derita, tidak termusnah, ada dan tidak berubah, kekal adanya.
Jika seseorang belum mencapai kesucian tingkat arahat, setelah ia meninggal dunia, ia akan dilahirkan kembali dalam salah satu alam dari 31 Alam Kehidupan sesuai dengan karmanya.
            Adapun 31 alam kehidupan tersebut terbagi dalam tiga kelompok, yaitu:
    1. Kama-Bhumi, berjumlah 11. Yakni 11 Alam Kehidupan yang makhluk-makhluknya masih senang dengan napsu indera dan melekat pada panca indera.
    2. Rupa-Bhumi, berjumlah 16. Yakni alam Kehidupan yang makhluk-makhluknya mempunyai Rupa Jhana (Jhana Bermateri, hasil dari melaksanakan Samata Bhavana).
    3. Arupa-Bhumi berjumlah 4. Yakni  alam kehidupan yang makhluk-makhluknya mempunyai Arupa Jhana (Jhana Tanpa Bermateri, hasil dari melaksanakan Samatha Bhavana)
Kama-Bhumi 11 terdiri dari: Apaya-Bhumi 4 atau empat alam kehidupan yang menyedihkan, yaitu Niraya-Bhumi (Alam Neraka), Tiracchana-Bhumi (Alam Binatang), Peta-Bhumi (Alam Setan), dan Asurakaya-Bhumi (Alam Raksasa Asura).
Kamasugati-Bhumi 7  atau tujuh alam kehidupan napsu yang menyenangkan, yaitu: Manussa-Bhumi (Alam Manusia), Catummaharajika-Bhumi (Alam Empat Dewa Raja), Tavatimsa-Bhumi (Alam 33 Dewa, yang di Sorga ini Sang Buddha mengajarkan Abhidhamma kepada Ratu Mahamaya/ Ibunda-Nya dan para dewa lainnya), Yama-Bhumi (Alam Dewa Yama), Tusita-Bhumi (Alam Kenikmatan, sorga tempat Ratu Mahamaya dan Maitreya Bodhisattva tinggal), Nimmanarati-Bhumi (Alam Dewa yang menikmati ciptaannya), Paranimmita-vasavatti-Bhumi (Alam Dewa yang membantu menyempumakan ciptaan dewa-dewa lainnya).
Apaya-Bhumi 4 adalah suatu alam disebut Niraya-Bhumi (alam neraka),  tanpa  kesenangan dan kabahagiaan. Niraya-Bhumi terbagi pula dalam beberapa kelompok alam, diantaranya dikenal kelompok Maha-Naraka 8, yaitu: 1). Sanjiva-Naraka, tempat penyiksaan makhluk yang diam di neraka; 2) Kalasutta-Naraka, makhluk yang diam di Neraka ini tubuhnya dipotong-potong sampai terpisah; 3) Sanghata-Naraka, Makhluk yang diam di Neraka ini tubuhnya ditindih dengan berbagai macam alat berat; 4) Roruva-Naraka, Makhluk yang diam di Neraka ini mengalami siksaan berat sehingga menjerit-jerit; 5) Maharoruva-Naraka, Makhluk yang diam di Neraka ini mengalami siksaan lebih berat sehingga suara jerit dan tangisan lebih keras; 6) Tapana-Naraka, Makhluk yang diam di Neraka ini mengalami siksaan dengan api yang menyala di tubuhnya; 7) Mahatapana-Naraka, Makhluk yang diam di Neraka ini mengalami kepanasan sepanjang masa; 8) Avici-Naraka (Devadatta diam di alam Avici Naraka ini), Makhluk yang diam di Neraka ini mengalami siksaan berat berulang-ulang dalam kelahiran dan kematian di alam Neraka ini: Setelah mati hidup kembali dan disiksa seterusnya.



  

DAFTAR PUSTAKA
    1. Kitab Suci
Kitab Suci Agama Buddha. 2004. Majjhima Nikaya 1. Klaten: Vihara Bodhivamsa Wisma Dhammaguna.
Kitab Suci Agama Buddha. 2005. Majjhima Nikaya 2. Klaten: Vihara Bodhivamsa Wisma Dhammaguna.
Kitab Suci Agama Buddha. 2006. Majjhima Nikaya 3. Klaten: Vihara Bodhivamsa Wisma Dhammaguna.
Kitab Suci Agama Buddha. 2002. Petikan Anguttara Nikaya 2. Klaten: Wisma Meditasi dan Pelatihan Dhammaguna

    1. Buku
Abu Su’ud. 2006. Asia Selatan. Semarang: UNNES Press.
Bhikkhu Aggacitta. 2008. Mati di sini, Hidup di sana (Peranan Kamma dalam Kematian dan kelahiran Kembali). Medan: Bodhi Buddhist Centre Indonesia.
David J Kalupahana. 1986. Filsafat Buddha (Sebuah Analisis Historis). Jakarta: Erlangga
Mahathera Piyadassi. Spektrum Ajaran Buddha. Yayasan Pendidikan Buddhis Tri Ratna.
 Pandit J Kaharudin. 2004. Abhidhammatthasangaha. Jakarta: CV Nitra Kencana Buana
Soekmono, R. 2009. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2. Yogyakarta: Kanisius.
Sri Dhammananda. 2007. Keyakinan Umat Buddha. Kuala Lumpur: Pustaka Karaniya
Willy Yandi Wijaya. 2008. Pandangan Benar. Yogyakarta: Insight Vidyasena Production.

    1. Website
http://artikelbuddhist.com/2012/03/empat-kebenaran-mulia.html (Diakses pada 20 Desember 2016)
http://artikelbuddhist.com/2011/05/hukum-karma.html (Diakses pada 20 Desember 2016)
http://buddhissmansa.blogspot.co.id/2011/01/punarbhava.html (Diakses pada 20 Desember 2016)
http://idsejarah.net/2016/03/proses-agama-hindu-dan-buddha.html (Diakses pada 20 Desember 2016)
https://id.wikipedia.org/wiki/Karma_dalam_agama_Buddha (Diakses pada 20 Desember 2016)
https://id.wikipedia.org/wiki/Samsara (Diakses pada 20 Desember 2016)
http://intisaribuddha.blogspot.co.id/2011/06/samsara.html (Diakses pada 20 Desember 2016)
http://kadeksismul.blogspot.co.id/2014/04/samsara-dalam-hindu-dan-budha.html (Diakses pada 20 Desember 2016)
https://kaskus.co.id/thread/52f742f51acb17a63c8b47dc/8-jalan-kebenaran-8-sila-nya-agama-buddha-bagi-yang-mau-tau-aja (Diakses pada 20 Desember 2016)
http://samaggi-phala.or.id/naskah-dhamma/doktrin-kelahiran-kembali (Diakses pada 20 Desember 2016)
http://seputarpengetahuan.com/2016/08/sejarah-berkembangnya-agama-buddha-lengkap.html (Diakses pada 20 Desember 2016)
http://studybuddhism.com/web/id/archives/sutra/level1_getting_started/general_introductory_material/endpoint_samsara_suffering_dharma_happiness.html (Diakses pada 20 Desember 2016)


[1] Sutta Pitaka adalah bagian dari Tripitaka (Kitab Suci Agama Buddha)
[2] noda-noda=tiga akar kejahatan yaitu: keserakahan (lobha), kebencian (dosa) dan ketidaktahuan atau kebodohan-batin (moha)
[3] Dapat ditemukan di dalam Majjhima Nikaya (MN) 4.31 atau MN 36.42
[4] MN 141.2
[5] MN 56.18
[6] Definisi ini dapat ditemukan di dalam Anguttara Nikaya (AN) VI,63 atau MN 9.15 atau MN 28 atau MN 141.1 atau Samyutta Nikaya (SN) 56.11 (semuanya sama persis)
[7] Sutta adalah ucapan Buddha Gotama yang tertulis di dalam Kitab Suci Tripitaka
[8] MN 9.17
[9] Sri Dhammananda,Keyakinan Umat Buddha, (Kuala Lumpur: Pustaka Karaniya, Cetakan ke5 agustus 2007), hlm. 125.
[10] Kalupahana, David J, Filsafat Buddha (Sebuah Analisis Historis),(Jakarta: Penerbit Erlangga, 1986),hlm. 46
[11] Sri Dhammananda,Keyakinan Umat Buddha, (Kuala Lumpur: Pustaka Karaniya, Cetakan ke5 agustus 2007), hlm. 146.
[12] Kaharudin, Pandit J, Abhidhammatthasangaha (Jilid I), (Jakarta: CV Nitra Kencana Buana. 2004), hlm.296. 11Ibid.,hlm. 27-28.
[13] Ibid, hlm.126-127.
[14] Bhikkhu Aggacitta,Mati di sini, Hidup di sana (Peranan Kamma dalam Kematian dan kelahiran Kembali), (Medan: Bodhi Buddhist Centre Indonesia,2008), hlm. 33-34.