Rabu, 08 November 2017

Ekspresi Kebudayaan dalam Upacara Seren Taun di Cigugur

catatan Upacara Seren Tahun Cigugur Tahun 2003

Oleh DHIPA GALUH PURBA

Acara seren taun (pergantian tahun) Cigugur sudah rutin digelar setiap tahun. Hal itu tentunya mengundang perhatian masyarakat sampai pada tingkat nasional, bahkan internasional. Namun ironisnya, sebagian masyarakat Kuningan nampaknya justru bersikap apatis dan apriori. Mereka beranggapan bahwa acara seren taun dan mapag taun tersebut, merupakan sebuah upacara ritual bagi penganut paham kepercayaan. Dan alasan itu selalu dikaitkan dengan historis awal mula pelaksanaannya.

Cigugur, Kuningan, Jawa Barat. Sebuah kota kecamatan yang terletak di lereng gunung Ciremai. Keadaan tanahnya cukup subur, sehingga sebagian besar masarakatnya pun memiliki mata pencaharian bercocok tanam (agraris). Ada juga yang beternak. Yang pasti, masyarakat Cigugur tergolong sejahtera dan sudah berpikiran maju. Ada upaya untuk mengembangkan bibit-bibit unggul pertanian, dengan dukungan berdirinya sebuah koperasi yang dikelola secara baik.

Cigugur menjadi saksi bisu, tatkala sekitar awal abad ke-20, Pangeran Madrais menyebarkan agama Sunda. Tidak sedikit yang turut menjadi pengikutnya. Bahkan penyebarana agama Sunda tersebut diteruskan oleh generasi berikutnya, Pangeran Téja Buana.

Sampai pada akhirnya, kurang lebih tahun 1964, Bung Karno mengeluarkan larangan  memeluk agama Sunda, berdasarkan pada beberapa pertimbangan. Pangeran Teja Buana tidak menentang keputusan itu. Bahkan Pangeran Teja memberikan keleluasaan kepada pengikutnya, untuk memilih agama yang sesuai dengan keyakinannya masing-masing.

Dan Pangeran Teja Buana sendiri, memilih untuk masuk ke dalam agama Katolik. Sehingga tidak heran, jika para pengikutnya pun banyak yang mengikutinya. Terbukti sampai sat ini banyak Komunitas Katolik yang menyebar di beberapa daerah Cigugur, Ciamis, Panawangan, Cilimus, dan sekitarnya. Dan upacara Sérén Taun sendiri, waktu pelaksanaannya adalah setiap tanggal 22 Rayagung, hari kelahiran Pangeran Teja Buana



Sampai saat ini idiologi agama yang dianut masyarakat Cigugur, tergolong heterogen. Ada yang memeluk agama Islam, agama Katolik, dan kepercayaan. Termasuk pada lingkungan intern keluarga Jati Kusumah, ketua acara Seren Taun, agama yang dianutnya heterogen. Contohnya terlihat di keluarga Siti Jenar, adik perempuan Jati Kusumah, yang memiliki sembilan orang keturunan. Ternyata di antara sembilan orang anaknya itu, agama yang dianutnya berbeda-beda. Kendati memang keluarga Jati Kusumah masih memegang tradisi warisan leluhurnya, termasuk yang feodal hirarki.

Keterkaitan antara Kota Cigugur dan Kota Kuningan tak mungkin terpisahkan. Sebab Kota Cigugur merupakan bagian dari Kota Kabupaten Kuningan. Sedangkan kelahiran Kota Kuningan begitu erat hubungannya dengan perkembangan agama Islam di Tatar Sunda.

Bahkan nama kota yang luasnya kurang-lebih 1092 km2 ini, diangkat dari nama Pangeran Kuningan, putra Syeh Syarif Hidayattullah (Sunan Gunung Djati), dari istrinya yang bernama Ratu Ontin Nio atau Ratu Rara Sumanding. Sampai sekarang, tanggal 1 September diperingati sebagai hari jadi kota Kuningan, sebab pada saat itulah (tepatnya tahun 1498) Pangeran Kuningan dilantik menjadi pemimpin kerajaan, dengan mendapat gelar Pangeran Arya Adipati Kuningan.

            Ada semacam dilema, dalam menyikapi Upacara seren dan mapag taun di Cigugur tersebut. Tentu saja sangat beralasan. Seperti yang sudah diutarakan sebelumnya, bahwa tradisi yang sudah berlangsung sejak tahun 1930-an tersebut dianggap sebagai ‘perayaan’ kaum penganut kepercayaan.

Perjalanan sejarah, memang tak mungkin terhapus begitu saja. Kendati Jati Kusumah sudah menegaskan bahwa acara tersebut bukan perayaan suatu agama (Baca; Kepercayaan). Ini adalah acara silaturahmi orang-orang Sunda, dan juga suatu momen untuk memperkenalkan kekayaan seni budaya Sunda, dalam rangka memelihara, melestarikan, serta mengembangkan warisan leluhur, di tengah maraknya arus budaya barat, yang semakin mengakar di masyarakat.

*




ACARA Seren dan Mapag Taun pada tahun ini bertepatan dengan tanggal 24 Pebruari 2003. Kendati demikian, acara perayaannya sudah dilangsungkan sejak empat hari sebelumnya. Ada yang berbeda jika dibandingkeun dengan acara Sérén taun sebelumnya. Biasanya hanya menggelar Tari Buyung dan mengumpulkan hasil pertanian dari empat penjuru mata angin, kemudian ditutup oleh acara makan bersama. Namun pada perayaan tahun ini, penuh dengan acara pertunjukan kesenian tradisi dari luar Kota Cigugur. Seperti Ronggeng Gunung (Padaherang, Ciamis), Tarawangsa (Sumedang), Angklung Baduy, Pesta Dadung, dsb.

Semua acara tersebut dikemas sedemikian rupa, dan dipusatkan di sekitar Paseban Cagar Budaya Cigugur. Sehingga nampak sekali bahwa acara seren taun kali ini terkesan lebih menonjolkan aspek ferpormance. Sepertinya hal ini dimaksudkan untuk lebih meyakinkan masyarakat, bahwa acara sérén taun bukan merupakan acara ritual satu agama. Bisa dilihat juga dari susunan panitia acaranya, yang terdiri dari sebagian masyarakat muslim dan katolik. Tak heran jika acara ini dihadiri pula oleh para pajabat pemerintahan, saperti H. Memet Hamdan, Kepala Disbudpar (Dinas Kebudayaan dan pariwisata) Jabar, Bupati Kabupaten Kuningan, Dirjen Pariwisata Pusat. Tak ketinggalan para sesepuh dari masyarakat adat  Kampung Dukuh, Kampung Naga, Baduy, dsb.

Seperti yang sudah dilaksanakan sejak tahun 1999, pada acara kali ini pun, panitia mengadakan acara Dialog Kebudayaan yang bertema aksara Sunda dan kala atau filsafat waktu di Sunda. Selain itu, panitia juga menyediakan beberapa stand, yang dimanfaatkan untuk mengadakan pameran produk pertaian, kerajinan tangan, dsb. Ada juga stand khusus untuk masyarakat Kanekes (Baduy) dan Lembaga Pelestari Budaya Sunda Bandung, yang saat itu memamerkan aksara sunda dari jaman ke jaman, penelitian kampung adat, sampai penayangan VCD tentang kebudayaan Sunda.

Tentu saja acara tersebut menjadi perhatian para pemerhati budaya, antropolog, seniman, mahasiswa, dsb. Beberapa stasiun TV swasta dan média massa, tak ketinggalan meliput acara ini. Selama empat hari, wajah Cigugur menjadi lain dari biasanya. Lebih hidup, lebih meriah, penuh dengan nuansa tradisional. Sangat cocok jika lokasi Cigugur menjadi salah satu tujuan utama wisata Kota Kuningan, di samping lokasi wisata lainnya  seperti  Taman Wisata Longgajati Indah, Bangunan Sajarah Linggajati, Gedong Naskah Linggajati, Taman Wisata Linggajati Indah, Museum Linggajati, Taman Purbakala Cipari, Cibulan, Balong Keramat Darmaloka, Waduk Darma, Sangkanurip, dan sebagainya.


Gedung Paseban Tripanca Tunggal bisa disebut pusat kebudayaan masyarakat Cigugur. Beberapa kali mengalami pemugaran, dan kini gedung tersebut menjadi Cagar Budaya Nasional berikut nilai seni budaya di dalamnya. Disana tersimpan benda-benda bersejarah, seperti keris, tombak, dan lain-lain. Ada juga  koleksi alat-alat kesenian daerah masa lampau, sehingga Gedung Paseban menjadi tempat untuk latihan seni karawitan, seni tari daerah, termasuk  tari buyung yang selalu ditampilkan pada upacara seren taun. Gedung Paseban menjadi   pusat digelarnya upacara Seren Taun.


            Para pengunjung yang memadati Lokasi Cagar Budaya Cigugur sangat berjubel. Terdiri dari anak-anak, remaja, dewasa, sampai kepada orang tua. Mereka begitu antusias menyaksikan setiap pertunjukan yang digelar oleh panitia. Dari mulai pagelaran kesenian Pésta Dadung, yang konon menurut mitosnya pertunjukan ini diadakan untuk mengusir segala jenis hama. Kemudian pada Malam Sabtunya, para penonton diajak  untuk menyaksikan pagelaran kasenian tradisional dari Ciamis, Ronggeng Gunung. Disusul malam Minggunya dengan pagelaran Tarawangsa. Kendati bersamaan dengan turunnya hujan yang cukup lebat, namun Pagelaran Tarawangsa tetap bisa dilaksanakan. Rencananya memang akan digelar di luar, namun karena hujan, terpaksa dipindahkan ke Paseban.

Para penonton tetap berjubel. Sehingga gelar Tarawangsa yang dimulai dari pukul sembilan malam, bisa rampung sampai menguinjak pukul tiga dini hari. Sebagai puncak acara (malam Senin), digelar gending karesmen yang berjudul 'Layang Salaka Domas'. Kemudian esok harinya, sebelum acara ditutup, digelar juga acara 'Ngarérémokeun'. Sebuah acara yang bertujuan untuk mendoakan agar benih yang akan ditanam bisa tumbuh dengan subur.

Ngarérémokeun dan ngararamékeun Upacara Sérén dan Mapag taun di Cigugur. Pada dasarnya acara ini merupakan sebuah usaha merevitalisasi spirit tradisi. Tak nampak adanya sisi ritualitas, jika dilihat dari kajian antropologi  agama. Bentuknya memang masih mitis, tapi fungsinya sudah cenderung ontologis. Hal ini sangat lumrah. Terlebih jika menyimak setiap untaian kalimat Jakob Sumardjo tentang ‘Persoalan Seni di Indonesia’ (Filsafat Seni, ITB, 2000). *** 

0 komentar: