Rabu, 30 Mei 2018

“Kokoro Manggih Mulud, Puasa Manggih Lebaran”?




Oleh DHIPA GALUH PURBA


DEMI makan, ada orang memakan makanan yang tidak boleh dimakan, bahkan kalau perlu saling memakan. Sementara ketika sedang berpuasa, tidak diperkenankan memakan makanan, baik yang boleh dimakan apalagi yang dilarang untuk dimakan. Dengan bubuka tersebut, saya mengajak para pembaca yang budiman untuk menyelami sebuah peribahasa (paribasa) Sunda yang berbunyi “Kokoro manggih Mulud, Puasa manggih Lebaran”.

Peribahasa tersebut ditujukan kepada orang yang serakah dan suka mangpang-meungpeung (menggunakan aji mumpung). Secara harfiyah, kokoro adalah miskin. Sedangkan yang dimaksud Mulud adalah bulan Rabiul Awal. Mulud berasal dari bahasa Arab, Maulud, yang artinya kelahiran. Hal ini berkenaan dengan kelahiran Nabi Muhammad Saw. pada bulan Rabiul Awal, sehingga bulan tersebut disebut Mulud. Tentunya sebagai penghormatan orang Sunda terhadap sosok panutan umat Islam.

Lantas, mengapa kokoro manggih Mulud diartikan serakah dan tidak tahu batas? Tentu akan berhubungan dengan tradisi muludan (memperingati maulud Nabi Muhammad Saw) yang biasa digelar oleh sebagian umat Islam. Pada acara peringatan tersebut, banyak yang bersedekah dan membagi kebahagiaan dengan orang miskin. Mereka bersedekah tanpa ada paksaan atau tekanan dari pihak manapun. Tidak ada kesan yang menunjukan orang miskin serakah, karena rasa-rasanya tidak pernah ada cerita orang miskin yang mendadak membeli mobil mewah, membangun villa, atau kawin lagi lantaran menerima sedekah di bulan Mulud.

Tidak semestinya memberi sambil menyindir dengan ungkapan yang menyakitkan hati. Bagaimanapun, Kokoro Manggih Mulud merupakan perumpamaan yang bukan saja tidak etis, melainkan terlalu dibuat-buat. Orang miskin tidak mungkin melupakan batas kewajaran ketika memakan makanan. Kalaupun ada, tentu harus surti dan memaklumi. Orang yang serakah tidak akan dijumpai pada acara muludan. Akan lebih pantas jika peribahasa tersebut diganti saja dengan Kokoro Manggih Korsi. Tentu bukan korsi (kursi) bis kota, melainkan kursi yang diduduki atas nama rakyat. Bukankah cukup realis? Sebab kasus korupsi yang melanda di jajaran ‘wakil rakyat’, bukan sekedar persoalan makan makanan, tetapi lebih jauh lagi ke masalah saling makan-memakan.  Oleh karena itu, sebaiknya pertimbangkan lagi penggunaan peribahasa Kokoro Manggih Mulud untuk menunjukan sipat tamak dan keserakahan manusia.


“Puasa Manggih Lebaran”
BIASANYA peribahasa Puasa Manggih Lebaran diawali dengan Kokoro Manggih Mulud, atau bisa dikatakan sebagai satu kesatuan kalimat yang tidak terpisahkan. Namun di dalam Kamus Basa Sunda karya R. Satcadibrata, saya menemukannya sebagai dua peribahasa yang terpisah, tetapi memiliki arti yang hampir sama.

Puasa berasal dari bahasa Sansakerta, upuwasa. Selanjutnya puasa dimaknai juga sebagai ibadah shaum di kalangan umat Islam, baik shaum sunat atau shaum wajib. Khususnya orang Sunda yang beragama Islam, berpuasa adalah shaum. Banyak yang sudah memahami, ibadah shaum bukan sekedar mengosongkan perut (tidak makan dan minum) di siang hari.

Meski demikian, tidak sedikit pula yang berpuasa hanya untuk menahan haus dan lapar belaka. Dan kategori puasa inilah yang dimaksudkan oleh peribahasa Puasa Manggih Lebaran. Kritikan yang cukup pedas bagi yang berpuasa hanya mengurusi makanan atau minuman. Maka pada saat tiba hari lebaran, terjadilah dendam pada makanan. Lebaran sendiri berasal dari kata lubar, yang artinya bebas. Jadi, maksudnya adalah lubar dari puasa. Jika berbicara seputar makanan, lebaran memang merupakan hari kebebasan. Tapi bukan berarti bebas memakan makanan yang dilarang untuk dimakan.

Berbeda dengan peribahasa Kokoro Manggih Mulud yang tampaknya kurang layak dipergunakan. Peribahasa Puasa Manggih Lebaran rasanya bisa mengenai sasaran untuk menunjukan orang yang serakah. Setidaknya realitas yang menjelaskan. Sepanjang bulan Puasa tahun kemarin, memang di antara para hidung belang berlibur, karena lokasi prostitusi ditutup. Para pemabuk berlibur, karena ada razia minuman keras besar-besaran. Para koruptor begadang sepanjang bulan untuk meraih “malam seribu bulan”, guna memohon ampunan.

Namun, bersama mentari pagi yang terbit pada hari lebaran, maka lubar-lah semuanya. Lokasi prostitusi dibuka lagi, minuman keras kembali marak, korupsi merajalela lagi. Mereka kembali memakan makanan yang boleh atau dilarang untuk dimakan, bahkan cerita saling memakan pun sering terdengar.

Bagaimana dengan puasa dan lebaran tahun ini? Jika tidak mau disebut puasa manggih lebaran, hendaklah berpuasa dengan daria, tidak sekedar menahan lapar dan haus, kecuali bagi anak kecil atau anak gede yang baru belajar berpuasa. ***


Tulisan ini dimuat di Rubrik Forum HU. KOMPAS, pada 26 September 2006

Comments
0 Comments

0 komentar: