Minggu, 05 November 2017

Mengusung Bandung Lewat Senandung

Oleh Dhipa Galuh Purba


Beruntung Bandung memiliki sastrawan dan pencipta lagu yang piawai meracik lirik dan memanggungkan senandung. Nama Bandung melambung melalui lantunan lagu, dari jenis kawih, tembang, katem, sampai bandungan. Berbagai tema diangkat dalam rumpaka (lirik/syair) yang berkenaan dengan Bandung.

Tentu saja ada yang romantis, mengenang masa lalu, penuh keindahan, keprihatinan, kekhawatiran, optimisme, dan ada pula yang melontarkan kritik tajam. Pada dasarnya, jelas sekali terciptanya lagu-lagu tentang Bandung berangkat dari kecintaan para seniman terhadap Bandung.

Ada kerja sama yang harmonis antara sastrawan dan pencipta lagu sehingga lagu-lagu tentang Bandung bisa memasyarakat dan abadi, setidaknya bertahan sampai saat ini, tidak tergilas roda zaman. Radio-radio dan televisi lokal masih memutar lagu-lagu tentang Bandung yang disanggi oleh Mang Koko, semisal "Bulan Bandung Panineungan" (rumpaka Wahyu Wibisana), "Di Langit Bandung Bulan Keur Mayung" (rumpaka Deddy Windyagiri), "Reumbeuy Bandung" (rumpaka Hj Siti Rokayah), dan "Pagunungan Bandung" (rumpaka Mang Koko). Selain mencipta lagu, Mang Koko pun mahir dalam menulis rumpaka.

Tentu saja ada nama-nama lain yang melahirkan sanggian lagu bertema Bandung, misalnya Machjar Angga Kusumadinata, Sambas Mangundikarta, Nano S, Ubun Kubarsyah, Yoyo Risyaman, Ujang Suryana, OK Yaman (Barmara), dan Apung S Wiratmadja. Rata-rata mereka pun pandai menulis rumpaka. Lagu "Jalan Braga", "Babakan Siliwangi", "Bale Endah", "Bandung-Lembang", dan "Isola" adalah ciptaan Nano S yang rumpaka-nya ditulis sendiri oleh Nano S. Lagu katem yang bercerita tentang Bandung berjudul Dalem Bandung (Rumpaka Deddy Windyagiri).

Jika Nano S membuat racikan katem, Ubun Kubarsyah melahirkan bandungan. Lagu bandungan yang bertema Bandung di antaranya "Cikapundung" (rumpaka Syahir Syahri), "Bandung Alum Nguyung", dan "Nyawang Bandung" (rumpaka Eddy D Iskandar).

Lagu "Peuyeum Bandung" ditulis dan disanggi oleh Sambas Mangundikarta. Lagu "Kabaya Bandung", "Jalan Cihampelas", "Oncom Bandung", "Patepung di Dayeuh Bandung" adalah lagu ciptaan Ujang Suryana. Lagu "Di Bandung Kidul Hate Ngancikna", "Mojang Bandung", "Pasini di Dayeuh Bandung", "Pileuleuyan Dayeuh Bandung" adalah ciptaan Yoyo Risyaman. Lagu "Bandrek Bandung" adalah ciptaan Barmara. Pergolakan batin Apung S Wiratmadja mengenai nasib Bandung bisa disimak dalam buku Lagu Liwung Urang Bandung yang memuat puluhan dangding dan dua judul sawer.


Karya sastra
Hampir semua rumpaka lagu-lagu di atas layak disebut karya sastra karena di dalamnya mengandung tema yang jelas, rasa penulis, nada atau sikap penulis, dan amanat. Jika diselami, isinya akan terasa mengandung wirahma, wirasa, dan purwakanti, baik purwakanti sejenis pangluyu, maduswara, cakraswara, laras purwa, laras wekas, laras madya, margaluyu, maupun yang lain.

Rumpaka "Bandung Bermartabat" (ciptaan Nana) tidak termasuk dalam kategori karya sastra karena tampaknya hanya merupakan rumpaka "pesanan" untuk menyukseskan program "bermartabat", tidak mencerminkan rasa atau sikap penulisnya. Berbeda dengan lagu bandungan berjudul "Cikapundung", "Bandung Alum Nguyung", dan "Nyawang Bandung" yang jelas merupakan refleksi kejujuran seorang penulis rumpaka dalam memandang Bandung, mengenang Bandung, dan mengkritik Bandung dengan segala kecintaannya.




Wajah murung Bandung
Sampailah pada usia Bandung yang ke-198 tahun ini. Lagu-lagu tentang Bandung tetap mengalun dengan merdu meski wajah Bandung kian sendu. Peuyeum (tape) Bandung, oncom Bandung, dan bandrek Bandung semakin tersisih oleh makanan dan minuman impor. Kabaya (kebaya) Bandung pun hanya bisa dijumpai pada acara pernikahan atau seremoni lainnya yang langka. Terbilang jarang menyaksikan mojang Bandung yang sehari-hari merasa bangga mengenakan kabaya Bandung.

Nama Jalan Braga atau Jalan Cihampelas kemungkinan akan diganti. Entah apa pertimbangannya, Pemerintah Kota Bandung begitu bersemangat mengganti nama-nama jalan yang sudah akrab dengan masyarakat, dan tentunya memiliki nilai historis. Seandainya ada lagu berjudul "Jalan Kiaracondong", tentu saja ia akan kebingungan mencari letak jalan tersebut. Padahal, daripada menghambur-hamburkan anggaran untuk mengganti nama jalan, lebih baik digunakan untuk memperbaiki jalan-jalan yang sudah rusak.

Di mana pagunungan (pegunungan) Bandung seperti dalam lagu Mang Koko? Bandung kini tak lagi hijau karena pohon-pohon rindang ditebang, diganti dengan bangunan menjulang yang bermimpi mencakar langit. Wajar jika datang musim hujan, banjir melanda Bandung. Sebaliknya, pada musim kemarau, kekeringan merajalela. Sama sekali bukan salah hujan yang terlalu deras atau terlalu lambat turun ke bumi.

Kemacetan lalu lintas, kesemrawutan tata ruang, kebudayaan, dan kesenjangan sosial masih menjadi persoalan utama yang mayung Bandung. Mungkinkah Dedy Windyagiri akan tetap memilih Dalem Kaum sebagai tempat pertemuan sepasang kekasih yang sekian lama berpisah, seperti dalam rumpaka katem "Dalem Kaum"? Apakah Yoyo Rismawan akan tetap memilih Dayeuh Bandung sebagai tempat mengikat sepakat, seperti dalam lagu "Pasini di Dayeuh Bandung"? Masihkah ada heureuy (bercandaan) Bandung yang penuh kesopanan seperti dalam lagu"Reumbeuy Bandung"?

Mari merenung untuk Bandung, lalu bertarung demi mewujudkan Bandung menjadi kota adiluhung.


DHIPA GALUH PURBA Penyiar Acara Sasakala Tatar Sunda di Sebuah Radio Swasta dan Mengajar di  UIN Sunan Gunung Djati, Bandung




Dimuat di KOMPAS JABAR, Sabtu, 18 Oktober 2008 

0 komentar: