Minggu, 05 November 2017

Serat Mata Luka

Cerpen DHIPA GALUH PURBA

kutatap hamparan di tanah serambi mekah
tak kutemukan lagi, rona wajahmu nan riang
kepedihan, luka menyayat jiwa, warnai rona manusia
entah di mana rona wajahmu, Rona…Cut Rona

AMARAHKU: seandainya tsunami itu nama seorang manusia, akulah yang akan mencabik-cabik dan membunuhnya. Jika ia nama binatang, aku pula yang akan memburu dan menyembelihnya. Kalau nama pepohonan, aku pun yang akan menebangnya, membakar, dan memakan abunya. Bahkan meskipun ia nama sebangsa iblis, siluman, atau dedemit, akan kuratakan semuanya! Apa  lagi yang kutakuti saat ini? Sebab, aku hanya takut kehilangan Cut Rona.

“Tsunami bukan sebangsa makhluk yang bernyawa, kawan. Tsunami artinya gelombang laut yang menerjang pelabuhan. Ia berasal dari bahasa Jepang, yang kemudian dipakai secara internasional dalam ilmu kebumian. ” kata Ilham sambil menerawang ke arah pantai. Sejak tadi, Ilham selalu mengomentari setiap ucapanku.

“Ya, aku tahu. Tapi sebaiknya, kau tidak lagi mengomentari ucapanku. Biarkan aku mengumbar amarahku, sebelum kita mati bersama-sama, di sini!” ucapku dengan nada menggebu, membuat Ilham pun berdiam diri. Hanya kedua bola matanya yang tampak memendam jutaan cerita, atas jutaan nyawa yang diterjang tsunami.

Jutaan, menurut Ilham. Karena ia tahu betul jejak sejarah tsunami di jagat raya, sejak masa silam. Betapa tidak, ia adalah seorang sarjana lulusan Geofisika dan Meteorologi ITB (Institut Teknologi Bandung). Kata Ilham,  tsunami bukan untuk pertama kalinya terjadi, khususnya di bumi Indonesia. Sekitar tahun 1883, ketika Gunung Krakatau meletus, reruntuhannya menimpa laut, dan mengakibatkan gelombang dahsyat yang menyapu pesisir Banten dan Lampung. Ribuan nyawa pun melayang di tangan tsunami.

Bukan hanya itu! Tsunami benar-benar telah merajalela di bumi Indonesia. Ilham punya catatan penting mengenai tsunami, seperti yang terjadi  pada tanggal 14 Agustus 1968 di Mapaga; tanggal 23 Februari 1969 di  pantai barat Sulawesi; tanggal 19 Agustus 1977 di Pantai Sumba; tanggal 18 Juli 1979 di Flores; 17 Juli 1998  di pantai barat laut Papua Nugini, dan lain sebagainya.

Aku sudah begitu muak mendengar cerita Ilham. Sejak di perjalanan, sepanjang Bandung menuju Aceh, Ilham hampir tidak henti-hentinya menuturkan sejarah tsunami dan lembaga-lembaga yang berkaitan dengan tsunami. Lalu apa gunanya  Ilham menyebutkan bahwa pada tahun 1977 telah dibentuk Kelompok Kerja Tsunami Indonesia? Apa manfaatnya juga, Ilham menuturkan pekerjaan berbagai lembaga, yang begitu sibuk melakukan penelitian tentang penyebab terjadinya malapetaka tsunami?



“Lembaga-lembaga itu hanya bisa ngomong setelah semuanya terjadi, bukan ngomong sebelumnya!” serangku.

“Tapi orang-orang yang berada di lembaga-lembaga itu, hanya manusia biasa, kawan.” Ilham selalu membelanya. Lembaga-lembaga itu, semacam  Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi Inventarisasi Sumber Daya Alam (P3TISDA), Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (DVMBG), atau apapun namanya. Aku tetap berharap agar semuanya dibubarkan. Percuma, kalau hanya pintar mengukur kekuatan gempa bumi, bukan mengingatkan bahaya yang akan terjadi.

“Kau juga bekerja di BMG, kan?” tanyaku.

“Ya, benar…” jawabnya, dengan rona wajah yang tak pernah berubah. Ia tetap dingin dan kaku, tanpa gairah.

“Lantas, kenapa kau tidak mengetahui bahaya yang mengancam tanah kelahiranmu sendiri? Kenapa?”

“Aku seharusnya melakukan penelitian di sini. Tapi…”

“Tapi apa?” aku penasaran.

“Saat itu, aku tidak mendapatkan izin, karena alasan keamanan. Kau juga pasti tahu, ketika tanggal 19 Méi 2003, darurat militer mulai diberlakukan lagi!” mata Ilham berapi-api. Hal itu pun membuat gejolak amarahku meninggi, teringat sebuah nama; GAM, Gerakan Aceh Merdeka.

Kenapa di tanah air yang sudah merdeka ini, masih ada yang ingin merdeka? Atau memang selama ini rakyat Aceh belum mengecap makna kemerdekaan? Lantas, apa sebenarnya yang dimaksud dengan merdeka atau kemerdekaan? Hasan Di Tiro, jelas cucunya Teuku Chik Di Tiro, pahlawan nasional yang ikut berjuang untuk meraih kemerdekaan Indonesia. Seharusnya ia bisa menikmati kemerdekaan, yang telah diperjuangkan oleh kakeknya. Sulit dipahami. Sehingga aku pun menjadi kurang yakin, apakah aku termasuk orang yang merdeka atau tidak merdeka?

Tentang merdeka, biarlah kusimpan dulu. Sebab, yang paling kusesalkan adalah peperangan antar saudara di tanah merdeka. Pertanyaan anak kecil; Apakah tak ada jalan lain untuk memecahkan persoalan, selain berperang? Kenapa, kenapa, dan kenapa?

Pernah tersirat dalam lamunanku, seandainya di tanah serambi mekah ini tidak ada peperangan antar saudara, mungkin saja Ilham bisa melakukan penelitian. Sekurang-kurangnya Ilham dapat memperhitungkan, bahwa di  Republik Indonesia Enol Kilometer ini akan terjadi bencana yang dahsyat. Rona tak akan hilang. Keluarga Ilham pun, mungkin akan selamat.

“Kau harus mengundurkan diri, dari pekerjaanmu, Ilham…!” bisikku, ketika pesawat akan mendarat di Bandara Blang Bintang.

“Benar, itu jalan terbaik bagiku. Kalau perlu, aku pun akan mengundurkan diri, dari kehidupan ini…” begitu jawabnya.

*

BARU kali ini kurasakan betapa kematian dianggap hal yang sangat biasa. Sejak aku turun dari pesawat, telah kurasakan suasana duka menyelimuti Bandar Udara Blang Bintang. Aku dan Ilham berpisah. Ia akan mencari jejak keluarganya, sedangkan aku mau menelusuri Cut Rona.

Sepanjang jalan menuju Lambaro, kusaksikan ribuan jenazah bergelimpangan dengan rona yang sama. Tentu saja aku sangat sulit mencari Rona. Aku pun bingung, kepada siapa mesti bertanya, karena rona-rona wajah manusia pun hampir sama.

Aku telah sampai di halaman Hotel Medan, yang terletak di kawasan Banda Aceh. Seorang lelaki setengah baya, tampak sedang termenung, sambil sesekali menengadah, menatap langit yang semakin kelam. Aku segera  menghampirinya, seraya menanyakan  Cut Rona.

“Rona?” ia malah balik bertanya. 

“Ya, Cut Rona…” jawabku sambil memperlihatkan secarik kertas, alamat Rona; Jln. Syiah Kuala Komplek YPUI Banda Aceh. Tampak ia mengerutkan keningnya. Aku segera mengerti, berkenaan dengan alamatnya yang kurang jelas. Kuperlihatkan lagi alamat neneknya; Jln. Imam Bonjol Lorong Halia No. 25, Seuneubok Kec. Johar Pahlawan, Kab. Meulaboh, Aceh Barat. Sayang, ia tetap menggelengkan kepala dengan rona yang tak berubah. Ia menyandar pada bangkai perahu nelayan. Sejenak aku mengerutkan kening, kenapa ada perahu yang parkir di depan Hotel Medan? Setahuku jarak antara Hotel Medan dan pantai, kurang-lebih 10 KM.

Selanjutnya, aku mencari Rona, mengikuti langkah kaki yang tiada terarah. Entah berapa kampung, berapa desa, berapa kecamatan, telapak kaki ini mencium tanah-tanah yang berbau kematian; Bireun, Blang Nibong, Sawang, Puluk, Kuta Krueng, Mata Ulim, Glumpang, Pie, Blang Mee Pulo Klat, Pidie, Blang Nibong, Berungin, dan entah apa lagi namanya. Tak lupa, aku pun mencoba mencari jejak Cut Rona ke Rumah Sakit Pemda Cut Meutia, Lhokseumawe. Tak ada. Aku hanya menemui rona-rona wajah yang sama, tetapi buka Rona.


*

KENANGAN bersama Rona memaksaku untuk mengusir semua ingatan lainnya. Hanya Rona yang memenuhi relung kalbuku, nafasku, detak jantungku, dan semua sumsum ingatanku. Cinta dan Rona.

Pertama kali aku mengenalnya, ketika tengah berlangsung kegiatan ta’aruf di kampus IAIN Sunan Gunung Djati. Saat itu, aku dan Rona sama-sama mahasiswa baru angkatan 2001. Aku diterima di Fakultas Dakwah, sementara Rona di Fakultas Adab. Memang beda fakultas, tetapi mataku cukup jeli untuk menemukan seorang mahasiswi istimewa, lain daripada yang lainnya. Bukan hanya kecantikannya yang membuat mataku dan mata hatiku tertarik. Aku lebih benyak memperhatikan sisi lainnya, seperti kecerdasan dan keberaniannya. Ia pernah berdebat dengan seorang dosen aqidah-filsafat, ketika menemukan persoalan yang tidak sesuai dengan keyakinannya.

Dorongan untuk mengenalinya semakin kuat. Sampai akhirnya aku mendapat kesempatan untuk menemuinya. Saat itu, aku langsung mengajak berkenalan, sambil mengulurkan tangan, mengajak bersalaman. Awalnya Rona hanya mengangguk, tanpa menerima uluran tanganku. Namun aku segera mengerti, ketika kulihat seulas senyum dari bibirnya. Ia hanya tidak mau bersentuhan tangan, bukan menolak perkenalanku.

“Namaku Cut Rona,” ucapnya.

“O ya? Saya Teungku Asep.” Aku pun segera memperkenalkan namaku,  sedikit bergurau.

Sejak itulah aku sering bertemu atau berpapasan dengan Rona, pada kegiatan ta’aruf. Terkadang aku sengaja mencari-cari kesempatan, agar bisa menemuinya. Tak akan banyak basa-basi, memang aku mulai jatuh cinta pada Rona. Kendati demikian,  aku berusaha untuk memendamnya, khawatir akan merusak hubungan persahabatan. Berlarut-larut kusembunyikan perasaanku. Namun, apapun adanya, aku tak bisa terus-menerus membendungnya. 

Bada subuh, setelah menyelesaikan kegiatan muhasabah dan solat subuh, aku menemuinya, hanya untuk mengatakan cinta. Meskipun mulanya sempat ragu, tetapi rasa itu menggedor-gedor dada, agar mulutku segera berucap. Aku nekat, dan siap  menerima segala macam resiko yang akan terjadi. Sederhana; diterima atau ditolak.

Keraguan dan kecemasan mulai terkikis habis, ketika Rona  menjawab pertanyaanku dengan selesai. Ia, ternyata memendam perasaan yang sama. Ia juga, ternyata hampir tak mampu memendamnya. Mudah ditebak; terwujudlah jalinan cinta. Selama menuntut ilmu di IAIN, aku dan Rona mempunyai banyak kesempatan untuk saling mengenali, terutama berbagai kelemahan yang dimiliki. Niatku kuliah memang untuk mencari ilmu, bukan mencari jodoh. Tapi sebagai remaja yang normal, apa salahnya jika aku dan Rona mulai belajar memaknai cinta, karena cinta itu adalah anugerah.

Cut Rona lahir di Nanggroe Aceh Darussalam, tanggal 4 Desember 1984. Meskipun bertepatan dengan ulang tahun GAM yang ke-8, tetapi keluarganya tidak ada yang mendukung GAM. Bahkan secara pribadi, Rona menyesalkan GAM di tanah kelahirannya. Hal itu berkenaan dengan keadaan  yang selalu tidak aman; kacau; dihinggapi rasa katakutan dan kecemasan.

Rona bercerita, sebenarnya ia sudah masuk kuliah di IAIN Ar-Raniry. Namun setelah ada kejadian yang menggemparkan, Safwan Idris, rektor IAIN Ar-Raniry yang ditembak, tepatnya tanggal 16 Séptémber 2000, Rona merasa ketakutan. Akhirnya Rona memilih berhenti kuliah, pindah ke Bandung, ikut saudaranya, dan daptar ke IAIN Sunan Gunung Djati.

“Siapa sih, yang nembak Pa Safwan itu?” tanyaku.

“Gak tahu. Pokoknya baik itu GAM atau Militer Indonesia, malah saling tuding. Tidak ada yang berani ngaku…” jawabnya, sama seperti halnya berita yang pernah kubaca dari beberapa media massa.

Berbincang dengan Rona memang mengasyikan. Ia benar-benar sosok mahasiswi cantik, cerdas, lincah, dan berwawasan luas. Selain mendalami ilmu keagamaan, rupanya ia pun tertarik pada masalah kebudayaan. Buktinya, ia pernah membahas masalah Rafa’i Daboh, yang menurut bahasaku adalah seni debus. Kata Rona, seni debus hampir sama dengan Rafa’i Daboh. Keduanya merupakan media kesenian yang dianggap layak untuk menyebarkan agama Islam. Debus  atau daboh, erat kaitannya dengan tarekat Rifa’iyah, yang dibawa oleh Nurrudin Ar-Raniry ke Aceh, kurang-lebih abad ke-16. Bahkan Rona mengetahui grup Rafa’i Daboh yang sampai saat ini masih eksis, seperti  Lempia Grup (Kota Banda Acéh), Payung Meuapuy (Kabupaten Bireuen), Meureundam Dewi (Kabupatén Acéh Jaya), Rapa’i Macam (Kota Sabang), Lestari Budaya (Kabupatén Acéh Selatan), Teratai Putih (Kabupatén Simeuleu), dan lain sebagainya.

*

Ketika putus asa menyelimuti relung jiwa, aku berdiri dalam bisu di halaman Masjid Baiturrahman. Kutatap seorang lelaki yang tengah berdiri di puncak sebuah rangka bangunan. Itulah Ilham, sahabatku. Aku pun segera beranjak dari halaman masjid, seraya menemui Ilham. Sampai akhirnya aku metahui, bahwa Ilham telah kehilangan orang tuanya, saudara-saudaranya, sahabatnya, kekasihnya, dan… semangat hidupnya.

“Baiklah, kini sudah saatnya aku melompat dari sini. Aku mau bunuh diri…!” tiba-tiba Ilham berkata dengan lirih. Tanpa ragu-ragu, Ilham melompat untuk menyongsong ajalnya. Kupejamkan mataku, ngeri. Tapi secepat itu pula, kubuka lebar-lebar. Ada bisikan yang mengingatkanku; kenapa mesti ngeri atau takut? Bukankah di sini, kematian sudah merupakan hal yang biasa? Bukankah aku pun mau melakukannya?

Ya, kini aku tidak perlu gentar lagi. Akan kujalani kematian seperti Ilham, karena aku tidak sanggup melalui kehidupan tanpa rona wajah Rona. Aku melangkah dengan pasrah.

“Tunggu…!” ada teriakan dari belakangku. Suara yang ditujukan kepadaku.

“Il… Il… Ilham?” aku hampir tidak percaya menyaksikan Ilham, yang sudah berdiri lagi di hadapanku. Betapa cepatnya ia menjadi hantu gentayangan.

“Aku bukan hantu, kawan. Aku masih manusia seperti kau…” Ilham seperti yang mengetahui semua yang berkecamuk dalam dadaku.

“Tapi, bukankah tadi kau telah bunuh diri?”

“Memang benar, tadi aku telah berusaha untuk untuk bunuh diri. Tapi di bawah sana, sudah tak ada lagi tempat untuk mati,”

“Apa?”

“Ya. Bukankah kau juga telah melihat mayat yang bergelimpangan sepanjang jalan? Kau harus percaya, bahwa kau juga tidak mungkin berhasil untuk bunuh diri. Tak ada lagi tempat untuk mati!” tambahnya.

“Lalu? Apakah kau akan berusaha lagi untuk bunuh diri?”

“Tidak. Justru aku bersyukur, karena saat ini masih hidup. Berarti aku bisa menanyakan sesuatu padamu, kawan…” kata Ilham, dengan rona wajah yang mulai berubah.

“Apa yang ingin kau tanyakan?”

“Aku penasaran pada sesumbarmu tadi. Jika tsunami  adalah manusia, kau akan membunuhnya. Jika tsunami adalah binatang, kau akan menyembelihnya. Tapi,  apa yang akan kau lakukan, jika tsunami itu adalah Tuhan?”

Pertanyaan Ilham membuatku terperanjat. Tubuhku serasa melayang tak tentu arah dan terjerembab di atas kerasnya batu karang. Bibirku bergetar, mengucap istighfar. Ampuni aku ya Alloh...***

Panyileukan, 1 Muharam 1426 H


0 komentar: