Selasa, 29 Mei 2018

Impian Pemudik


Cerpen DHIPA GALUH PURBA


DENGAN cerita pendek ini, aku bisa mudik. Pendek cerita, telah kuputuskan untuk memendekkan cerita yang telah kuukir selama sekian tahun lamanya; Asih, kembang Simpar Kesumbar, kini tidak lagi mewangi, karena telah mati.
            
Sepanjang jalan, kutabuh kentongan, kentrong tilu. Berulang-ulang, di antara kemacetan lalu-lintas dan antrian pom bensin. Kulihat orang-orang mulai menyiapkan keranda mayat. Luar biasa. Di mana-mana, orang-orang disibukkan dengan usungan mayat, hanya untuk kematian Asih.

“Silahkan naik pasaran ini!” seseorang menghampiriku.

“Tidak. Aku masih bisa jalan kaki!” sepontan kujawab setengah ketus. Enak saja naik pasaran. Meski aku tidak bisa naik angkutan, bukan berarti mau naik sembarang tumpangan.

“Ayo, naik kurung dedes ini!”

“Tidak. Aku jalan kaki saja!”

“Mari naik dongdang, nak…”

“Kurang ajar! Aku memang tidak bisa bayar ongkos angkutan, tapi aku masih waras! Masa iya, aku harus naik keranda mayat? Yang benar saja, bung!” akhirnya amarahku hampir tak terbendung lagi.

“Lho, kenapa mesti marah? Bukankah kendaraan ini diperuntukkan untuk mayat?”

“Lantas? Apa kau tidak punya mata? Masa aku disebut mayat?”           

“Sudahlah, tidak usah menyangkal. Semua orang juga sudah tahu, kau ini mayat…” jawabnya sambil menoleh ke sebelahnya. Semuanya menganggukkan kepala, tidak ada yang menyangkal ucapannya. Berarti mereka benar-benar menuduhku sebagai mayat. Kurang ajar!

“Dengar semuanya! Aku ini masih hidup! Apa perlu kutunjukkan surat keterangan hidup?!”

“Tidak ada gunanya. Sekali mayat, tetap saja mayat! Sudahlah, lebih baik mengaku saja!”

”Tidaaak! Aku masih hidup! Yang meninggal dunia itu bukan aku, tapi Asih, kembang Simpar Kesumbar…!”

“Begitulah mayat zaman sekarang. Sudah jelas dirinya mayat, malah nuduh orang lain…” ia menggerutu.

Aku tidak mau mendengar lagi ocehannya. Tidak ada gunanya. Lebih baik melanjutkan perjalanan menuju kampung halaman. Aku rindu kicauan burung di pagi hari, suara ayam jantan, dan gemericik air di belakang rumah. Langkahku semakin cepat, hingga tidak terasa kakiku sudah menciumi tanah pekarangan rumah.

Aneh, banyak  orang  bergerombol sambil membawa janteke. Mereka antri  di pintu rumahku. Ada apa ini? Seperti ada yang meninggal dunia. Mang Ahro bergegas menghampiriku sambil menancapkan bendera hitam. Hansip Baron mengikuti Mang Ahro, dengan membawa bendera berwarna kuning.

“Jangan hitam! Lambang kematian adalah bendera kuning!”

“Tidak! Yang benar adalah putih! Putih, lambang kesucian.” Tiba-tiba Kadus Ukar muncul sambil membawa bendera berwarna putih.

“Lho, siapa yang meninggal dunia?” aku semakin penasaran.

“Jangan banyak tanya. Para pelayat sudah menunggu sejak tadi. Ayo, berbaringlah di tengah rumah!” jawab Mang Ahro.

“Maksud Mang Ahro?”

“Kamu sudah mati, kenapa masih keluyuran?”

“Mati? Aku belum mati, Mang…”

“Orang mati zaman sekarang, memang suka banyak protes…”

Aku semakin tidak mau untuk memasuki rumah. Lebih baik melangkah ke belakang rumah. Namun aku kembali terkejut, karena beberapa orang ahli ngaweredonan sedang membahas teknis memandikan jenazah.

“Kita harus segera menyiapkan drum yang besar dan gayung…” ucap Pak RT.

            “Tidak usah, cukup jambangan dan ceret saja!” Pak RW tidak mau kalah.

            “Apakah sudah membeli sabun?”

            “Jangan pake sabun. Sebaiknya dimandikan sama air yang ditaburi tujuh macam bunga!”

            Rupanya pertentangan paham masih mewarnai sebuah kematian. Tidak jelas, siapa yang mati? Sudah kujelaskan berkali-kali, bahwa aku masih hidup. Dan aku pun tidak lupa mengabarkan tentang kematian Asih, bukan aku. Entahlah, sampai saat ini, di jalanan, di warung, di kantor balai desa, di pinggir sungai, di pematang sawah, kematian ini masih ramai menjadi bahan perbincangkan. Bahkan perhelatan semakin memanas, ketika beberapa orang sudah mulai menggali kuburan, membuat batu nisan; tutunggul, maesan, menyiapkan padung; dalika, keteb, tataban  sampai bulatan tanah; gegelu; anggel, gandu.

“Jangan dikubur! Lebih baik diperabukan!”

“Tidak! Yang benar adalah dihanyutkan ke sungai…”

“Kenapa dihanyutkan? Apa tidak sebaiknya diletakkan saja di goa?”

“Tidak boleh! Mayat itu harus dimumikan!”

“Siapa sebenarnya yang mati?”

Ada aja!”




*
“SIAPA yang mengatakan Asih sudah mati? Jaga lidah kalian!” tiba-tiba Rahmat menyeruak ke tengah kerumunan orang-orang.

“Dia!” hampir semua jari telunjuk dan ujung tatapan tertuju kepadaku.

Memang, sejak aku dituduh mati, maka aku pun semakin gencar menyebarkan isu kematian Asih. Kendati demikian, justru aku sendiri yang menolak penguburan atau upacara kematian apapun. Asih tidak perlu dimandikan atau dikuburkan! Sebab, ada kemungkinan Asih bisa hidup kembali.

“Saya tidak terima, jika Asih dikatakan sudah mati! Asih masih hidup, dan akan terus hidup selamanya!” begitu kata Rahmat.
        
     “Ya, memang begitu. Mohon, jangan samakan kematian realitas sosial dengan kematian organisme biologis. Asih adalah sebuah realitas budaya, bukan sosok makhluk hidup. Di ambang kematian pada konteks sosial-budaya, tidak sinonim dengan putus asa atau ketidakberdayaan. Justru keadaan seperti itu menyiratkan masa-masa perjuangan yang lebih gigih, untuk mempertahankan kehidupan Asih,”

“Hhm, kau harus tahu, bahwa Asih tidak akan pernah mati, sebelum ada dua golongan besar berperang hebat, padahal keyakinan keduanya sama!”

 “Saya sangat setuju. Sebab, peperangan itu sudah dan sedang berlangsung saat ini. Kita tengah berperang budaya, perang komunikasi, perang ekonomi, dan perang-perang sejenisnya!”

“Bukan perang itu! Tapi peperangan pisik!”

“O ya? Kalau begitu, hati-hati juga dengan ucapanmu. Bukankah kata-katamu adalah do’amu?”

“Itu bukan do’a, tetapi kecemasanku sebagai orang tua…”

“Ya, saya pun mengerti. Namun, kenapa kamu tidak mengerti, bahwa saya pun tidak sedang berdo’a, melainkan merasa khawatir. Saya rasa, kecemasan dan kekhawatiran itu sama…” 

Rahmat termenung sejenak, seperti yang sedang mencari-cari kelemahanku.

“Kenapa kau mengatakan Asih telah mati? Apakah hanya karena banyak orang yang tidak lagi menggunakan lagi bahasa Asih? Aku pun turut prihatin pada bahasa Asih. Namun, sebaiknya persoalan bahasa tidak terlalu dibesar-besarkan,”

“Justru peranan bahasa jangan dikecil-kecilkan, bung. Dari tujuh unsur identitas Asih, saya berpendapat bahwa bahasa merupakan masalah penting. Dari keragaman di dunia ini, tentunya ada karakteristik yang membedakan antara Asih dengan yang lainnya. Perbedaan di wilayah mana yang tampak secara khusus dimiliki Asih? Busananya? Mata pencahariannya? Sikap hidupnya? Saya pikir, bahasa merupakan identitas Asih yang patut dipertahankan semaksimal mungkin,”

 “Ya, sudah. Mari kita menyamakan persepsi mengenai Asih!” kata Rahmat, sambil menatap orang-orang yang berkerumun. Semua mata memandangku dan Rahmat, saling bergantian.

Aku menghampiri seorang lelaki tengah baya.

“Apa persepsi bapak, mengenai Asih?”

“Apa yang dimaksud persepsi?” lelaki tengah baya itu, malah balik bertanya. Aku tersenyum, sambil menjelaskan makna persepsi. Orang-orang mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Apa persepsi bapak mengenai Asih?” tanyaku kepada seorang petani.

“Asih adalah sosok yang mengolah sawah dan lahan garapannya tidak pernah kekurangan air, tidak tergusur oleh jalan tol atau pembangunan real estate,”” jawabnya.

“Kalau bapak?” tanyaku kepada seorang pedagang.

            “Asih adalah sosok pedagang  yang ladangnya tidak kasilih oleh mal-mal ciptaan para kafitalis,”

            “Bapak?” tanyaku kepada seorang pengangguran.

            “Asih adalah adalah sosok yang bisa terbukanya lapangan pekerjaanan, agar tidak kelaparan dan menjadi gelandangan di lemah cai sendiri.”

            Demikian, aku telah menanyakan persepsi Asih kepada orang-orang yang berada di tempat tersebut. Sangat variatif, meskipun ada di antaranya yang sama. Sehingga, aku berpandangan bahwa persepsi itu tidak bisa dipaksa untuk disamakan. Tidak ada persepsi mutlak mengenai Asih. Kalau pun ada, siapa yang berhak membuatnya? Dan siapa pula yang berhak merealisasikannya?

“Solusi yang bijak, bukan menyamakan persepsi, melainkan mencari persamaan persepsi. Saya yakin, di antara keragaman perbedaan persepsi tentang Asih, pasti ada pula persamaannya, yang dalam logika disebut konklusi atau natijah pada ilmu Mantiq.”

Selain itu, aku pun tidak menutup mata pada menggeliatnya sekelompok Asih—seperti yang diungkapkan Rahmat. Terlepas dari apakah itu merupakan proses penyembuhan dari yang sedang gering nangtung ngalanglayung atau geliat lulungu orang bangun dari tidur panjang, atau geliat itu merupakan proses “patah tumbuh, hilang berganti”.

Hanya saja, aku menyarankan agar jangan pula melupakan geliatnya sekelompok atau seseorang yang bukan Asih secara genetis, tetapi memiliki rasa cinta terhadap Asih.

Di tengah semangat mempertahankan kehidupan Asih, baik yang terbersit dari sikap optimistis ataupun yang berangkat dari rasa khawatir, aku menyarankan agar semuanya tetap husnudzon. Tentu saja, sikap husnudzon penting artinya selama gairah itu didasari oleh kecintaan terhadap Asih, yang bermula dari rasa cinta kepada Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

            “Jadi, bagaimana sekarang?” tanya seorang lelaki muda, yang telah baru saja  merampungkan penggalian kuburan.

            “Saya sudah mengatakannya berkali-kali, bahwa Asih jangan dikubur. Asih harus dihidupkan kembali!” jawabku lebih tegas.

            “Lebih baik kita berbuat, daripada hanya mengumbar kekhawatiran!” ada celetukan yang tidak jelas dari mana.

            “Hanya orang dungu, yang menghabiskan hidupnya untuk mengumbar kekhawatiran! Setiap orang yang merasa khawatir, pasti berbuat sesuatu, lepas dari kualitas dan kuantitasnya!” jawabku dengan agak geram.

            Orang-orang mulai membubarkan diri.

*

“ASIH benar-benar telah mati!”

Sepasang kekasih yang tengah memadu asmara, terperanjat dan langsung menghampiriku.

“Asih? Sebuah realitas budaya?” tanya lelaki.

“Bukan. Ini adalah Asih Setiasih…”

“Berarti, organisme biologis?” tanya perempuan.

“Ya,” jawabku.

            “Kalau begitu, kita perlu memandikan dan menguburkannya,” kata lelaki.

“Omong kosong! Aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri, Asih masih hidup. Bahkan ia baru saja melangsungkan pernikahannya di Simpar Kesumbar!” tegas perempuan itu, tanpa memberi kesempatan kepadaku untuk menjelaskannya.***

Ranggon Panyileukan, 1426 Hijriyah


Comments
0 Comments

0 komentar: