Senin, 04 Juni 2018

“Apa sih Kawih?”



Oleh DHIPA GALUH PURBA

PERTANYAAN tersebut diutarakan oleh seorang remaja putri yang sedang berdiri di sebrang jalan gerbang Pendopo Walikota Bandung. Pertanyaan tersebut sekaligus merupakan jawaban dari pertanyaan penulis, kurang-lebih begini: “De, mau nonton kawih?” sambil menunjuk ke arah Pendopo. Lantas dijawab lagi dengan pertanyaan.  Ia melempar pandangannya ke arah Pendopo dengan raut wajah penasaran. Pintu gerbang Pendopo memang terbuka, tetapi dilihat dari kejauhan tidak tampak sedang ada pergelaran kawih. Tidak ada juga spanduk atau baligo yang berisi informasi pergelaran yang tengah berlangsung.

“Oh… lagu Sunda ya. Pingin sih nonton, tapi lain kali aja dech…” dari sikap dan ucapannya, ia seperti tertarik untuk menonton. Apalagi setelah dijelaskan bahwa juru kawih yang sedang manggung adalah remaja seusianya. Ia tidak menonton pada saat itu, tentu bisa dimaklumi. Mungkin karena sudah ada janji yang harus ditepati atau bisa jadi karena langit yang mulai mendung. Tapi penulis cukup puas dengan jawabannya, meski tidak sempat berkenalan atau bertukar nomor handphone.

            Pada hari itu (16/12/06) sedang berlangsung acara silaturahmi antara pemerintah kota, seniman kawih, dan para pecinta kawih. Tentu diperuntukan bagi siapapun yang mencintai seni kawih. Pada acara tersebut dimeriahkan oleh pintonan  pupuh dan kawih dari para siswa SD, SMP, SMA, serta umum.



Panitia tampaknya lebih memprioritaskan penampilan para siswa. Terbukti dengan perhatian pihak panitia untuk memilih tiga juru kawih terpilih dari setiap tingkatan, serta berhak mendapat penghargaan piala, bingkisan, dan sejumlah uang. Namun panitia tidak menyebutkan siapa yang menilai penampilan para siswa, dengan alasan bukan merupakan suatu pasanggiri atau perlombaan. Bukan pasanggiri, tetapi ada juara I, II, dan III.

Dengan percaya diri, pembawa acara mengatakan bahwa tidak usah khawatir pada kamekaran kawih, karena banyak para remaja yang bisa ngawih. Entah ditujukan kepada siapa. Yang pasti  beliau sedang berbicara di depan audien yang sebagian besar adalah para siswa jurusan karawitan SMKN 10 Bandung.

Berbeda dengan pendapat Nano. S, yang justru mengkhawatirkan regenerasi juru kawih. Salah satu penyebabnya adalah krisis kreator lagu Sunda untuk anak-anak (Majalah Seni Budaya/ Jan/ 06). Menurut Nano S, pasca Pak Mahyar dan Mang Koko, tidak ada lagi kreator yang melirik lagu anak-anak. Nano. S sendiri mengakui, bahwa dirinya juga terlalu asik dengan lagu-lagu dewasa, seperti Kalangkang, Anjeun, Teuteup jeung Imut, dsb. Maka dari itu, Nano S sedang mendalami dan membuat lagu anak-anak. Selain itu, Nano. S juga menulis ulasan berjudul “Nyaliksik Pupuh jeung Lagu Barudak” (Koran Sunda/12/5). Nano memandang lagu Sunda anak-anak merupakan agenda penting yang harus digarap lebih serius.

Tentu saja membangun regenerasi praktisi kawih merupakan agenda yang penting, sama pentingnya dengan membangun regenerasi para penikmat dan pecinta seni kawih. “Enjoy ghitu lho, nonton ABG yang ngawih dengan lantunan suara aduhai halimpu…” Hampir semua siswa tingkat SMA melantunkan kawih sanggian Mang Koko, seperti Kembang Balebat, Samoja, Kembang Impian, Salempay Sutra, Lembur Kakasih, dsb. Mereka tidak terkesan kolot atau hanya cocok sebatas manggung pada acara pernikahan.

Untuk membangun kecintaan masyarakat terhadap seni kawih, memang harus dimulai sejak anak-anak. Lantas Kawih apa yang cocok untuk diperkenalkan kepada murid TK atau SD? Cocok artinya kawih itu harus diminati dan dicintai oleh murid-murid, tidak karena tekanan atau paksaan. Dulu, Mang Koko (1917-1985) banyak menciptakan kawih untuk anak-anak, serta kawih tersebut bisa diterima tanpa  dan disukai anak-anak. Sebab, selain enak dinyanyikan dan didengarkan, tema kawihnya juga bisa ngindung ka waktu ngabapa ka jaman. Selain itu, ada usaha yang gigih untuk memperkenalkan kawih anak-anak, misalnya dengan roda organisasi bernama Yayasan Cangkurileung (berpusat di kota Bandung, serta cabang-cabangnya menyebar di kabupaten se-Jawa Barat). Saat ini Yayasan Cangkurileung masih tetap aktif berkegiatan, meski tidak ngagedur seperti zaman Mang Koko.

            Acara silaturahmi insan kawih di Pendopo bertujuan untuk menampung aspirasi para praktisi dan pecinta kawih. Sayang sekali walikota Bandung tidak bisa menghadiri acara tersebut, berkenaan dengan adanya kepentingan yang mendadak. Padahal sejak jauh hari, walikota sangat berharap untuk bisa hadir dan sangat mendukung acara tersebut. Demikian dijelaskan oleh Yoyo TSA, sebagai ketua panitia.

            Namun yang lebih disayangkan lagi, panitia kurang strategis menentukan waktu pelaksanaannya. Sebab, hari itu bertepatan dengan kegiatan ulangan umum yang tidak mungkin ditinggalkan oleh siswa, kecuali ada kebijakan dari kepala sekolah. Sehingga target untuk menampilkan siswa dari berbagai sekolah di Jawa Barat tidak tercapai. Misalnya dari tingkat SMA, hanya dihadiri oleh siswa SMKN 10 Bandung dan SMA Pasundan 1 Bandung. Untuk tingkat SD, dihadiri oleh sembilan sekolah kota dan kabupaten Bandung. Sedangkan tingkat SMP, dihadiri oleh lima sekolah kota dan kabupaten Bandung. Oleh karena itu, untuk kegiatan ke depan, panitia mesti merancang hari H dengan lebih matang.

Hal yang tidak kalah penting adalah penggarapan publikasi yang harus lebih optimal. Masih banyak masyarakat yang ragu-ragu karena malu (bahkan takut) untuk memasuki Pendopo tanpa ada undangan. Apalagi jika acaranya bertajuk silaturahmi seniman dan para pecinta kawih, maka penyebaran informasi merupakan garapan yang terpenting. Perlu ada ruang selebar-lebarnya untuk mempertemukan seni kawih dengan masyarakat yang lebih luas. Kabarnya dalam waktu dekat, akan didirikan Pangauban Kawih Sunda, untuk mewadahi para praktisi dan pecinta kawih. Namun, tampaknya akan lebih strategis jika Yayasan Cangkurileung saja lebih digiatkan kembali. Tentu, lebih teruji dan sudah terbukti! ***


Comments
0 Comments

0 komentar: