Senin, 04 Juni 2018

Mang Koko dan Kawih Murangkalih




Catatan DHIPA GALUH PURBA



BAGI siapa saja yang menyukai kawih Sunda, dapat dipastikan bakal mengenal atau mendengar nama: Mang Koko (alm). Seorang maestro karawitan, yang karya-karyanya abadi sampai kiwari. Meski beliau telah tiada, tetapi karya-karyanya masih bergema di panggung-panggung, radio, dan televisi. Nama aslinya Haji Koko Koswara (lahir di Indihyang, Tasikmalaya, 10 April 1917 dan wafat  4 Oktober 1985). Ibunya bernama Siti Hasanah, dan ayahnya bernama Mochamad Ibrahim Sumarta, yang bergaris keturunan Sultan Banten/Sultan Hasanuddin. Bagi yang pernah singgah di kota Tasikmalaya, tidak ada salahnya untuk mencoba melewati Jalan Mang Koko, yang baru diresmikan pada 17 Oktober 2005.

Mang Koko memulai kariernya pada 1937 menjelang masa-masa revolusi, bekerja di  Bale Pamulang Pasundan, Paguyuban Pasundan, Harian Cahaya, Harian Suara Merdeka, Jawatan Penerangan Propinsi Jabar, Guru, yang kemudian menjadi Direktur Konservatori Karawitan Bandung (1961‑1973); Dosen Luar Biasa di ASTI (Akademi Seni Tari Indonesia), Bandung. Namun, Mang Koko lebih dikenal sebagai pembaharu dalam bidang karawitan Sunda, melalui karya-karya monumentalnya. Mang Koko juga dikenal sebagai sosok yang nyantri. Dulu, waktu tinggal di jalan Jurang, hampir setiap Subuh, Mang Koko mengumandangkan adzan. Suaranya melengking merdu, membangunkan orang-orang di sekitarnya. Bahkan, kabarnya, jika mendengar adzan Mang Koko, orang yang tidak berniat sholat di Masjid pun segera bergegas menuju masjid (Untuk cerita ini, saya teringat Bilal, sahabat Rosululloh SAW, yang memiliki suara melengking merdu, menggedarkan dada manusia, setiap beliau mengumandangkan adzan).  

Berdasar prestasinya yang gemilang, Mang Koko pernah menerima berbagai piagam penghargaan dari pemerintah, lembaga dan organisasi massa, termasuk piala tertinggi dari pemerintah pusat/ Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta, dalam katagori pembaharu bidang seni karawitan. Baru-baru ini, Mang Koko juga menerima anugerah Rancagé 2004 (untuk Yayasan Cangkurileung), dan juga menerima anugrah Jabar Music Award 2005 dari Sekolah Tinggi Musik Bandung dan Disbudpar Jabar, pada kategori seniman musik yang sudah wafat. Selain Mang Koko, Jabar Musik Aword 2005 juga dihaturkan kepada Mang Udjo dan Harry Roesli, yang juga sama-sama telah berpulang ke pangkuan-Nya.

            Selain ahli kesenian, Mang Koko juga seorang organisator yang hebat. Pada 6 Maret 1959 mendirikan Yayasan Cangkurileung, yang berpusat di Bandung. Sedangkan cabang-cabangnya menyebar di hampir seluruh Jawa Barat. Sampai sekarang, sudah 47 tahun lebih, Yayasan Cangkurileung masih bertahan, diteruskan anak-anaknya, seperti Tatang Benyamin Koswara, Ida Rosida, dsb.

            Sampai hari ini, Yayasan Cangkurileung tetap konsisten membimbing siswa-siswi (terutama SD) untuk mempelajari kawih Sunda. Selain itu, tetap kontinyu menerbitkan majalah bulanan Seni Budaya Swara Cangkurileung. Berkenaan dengan bimbingan pada kawih, Yayasan Cangkurileung mewadahi perkumpulan kesenian yang bernama Taman Bincarung, Taman Cangkurileung, Taman Setiaputra, Gamelan Mundinglaya, dan Gandamekar.

            Taman Bincarung merupakan sebuah perkumpulan tempat berlatihnya para siswa Taman Kanak sampai Sekolah Dasar kelas III.   Taman Cangkurileung diperuntukkan bagi siswa kelas IV sampai VI SD. Taman Setiaputra untuk siswa SMP, dan Gandamekar untuk tingkat dewasa. Setiap hari Minggu, jam 13.30 s.d. 15.00 WIB, perkumpulan tersebut mengisi acara kakawihan di RRI Bandung, secara bergantian/ sekolah.

            Tradisi seperti itu, tetap bertahan sampai sekarang. Yang jadi masalah, apakah zaman sekarang anak-anak masih bisa diatur dalam menentukan lagu idolanya? Ketika seorang anak berusia tiga tahun disuruh menyanyi bebas, ada yang malah melantunkan lagu-lagu dewasa. Kawih-kawih seperti “Kembang Tanjung Panineungan” atau “Kembang Balébat” yang diperuntukkan bagi tingkat Ganda Mekar, ternyata banyak diminati juga oleh siswa SD ata SMP. Tidak seperti dulu, anak-anak kelas III atau IV SD sekarang sudah tidak mau lagi ngurusin “ucing-ucingan”, karena sudah sibuk ngurusin pacar-pacaran.

            Lantas bagaimana dengan murid TK? Kawih apa yang cocok untuk diajarkan kepada murid TK? Kalau saya menulis cocok, artinya kawih itu harus diminati dan dicintai oleh murid-murid, tidak karena ada tekanan atau paksaan. Dulu, Mang Koko banyak menciptakan kawih untuk anak-anak, dan kawih tersebut bisa diterima tanpa ada tekanan, dalam arti disukai oleh anak-anak. Sebab, tema kawih tersebut sesuai dengan zamannya. Kalau berbicara polesan nada lagunya, tidak usah diragukan lagi, karena lagu-lagu Mang Koko sampai saat ini tetap énakeun.

            Berarti masalahnya adalah syair/ lirik/ rumpaka, yang sudah tidak selaras dengan zaman sekarang. Maka dari itulah, membuka tahun 2006, Majalah SB edisi Januari menurunkan berita “Krisis Kréator Lagu Sunda Barudak” (Krisis Kreator Lagu Sunda Anak-Anak), dengan memuat tulisan hasil wawancara dengan narasumber Nano. S. Menurut Nano, memang benar pasca Pak Mahyar dan Mang Koko, tidak ada lagi kreator yang melirik lagu anak-anak. Nano S sendiri mengakui, bahwa dirinya juga terlalu asik dengan lagu-lagu dewasa, seperti Kalangkang, Anjeun, Teuteup jeung Imut, dsb. Maka dari itu, sekarang Nano S sedang mendalami dan membuat lagu anak-anak.

            Selain itu, Nano S juga menulis ulasan berjudul “Nyaliksik Pupuh jeung Lagu Barudak”, dimuat dalam Koran Sunda (12/5). Nano melihat nahwa sekarang ini lagu anak-anak  ciptaan Mang Koko, sebagain tidak digunakan lagi, karena liriknya sudah tidak selaras dengan zaman. Nano mengambil contoh lagu “Céngcéléngan”, yang liriknya: Sapoé lima sén/ lima poé satalén.

            Sebenarnya masih banyak lagu-lagu Mang Koko yang liriknya sudah tidak sesuai dengan zaman sekarang. Seperti lagu “Tokécang” yang liriknya: Di buruan ulin papuntang-puntang/ Babarengan ngawih lagu tokécang/ Tokécang! tokécang! Balagendil tosblong/ angeun kacang! Angeun kacang/ sapendil kosong! Atau lagu “Tonggérét”, “Eundeuk-Eundeukan” “Béca”, “Sasaungan”, dsb. Saya jamin, lagu-lagu tersebut cocok untuk anak-anak, jika liriknya diganti, disesuaikan dengan zaman sekarang.

Jadi, masalahnya hanya lirik doang. Kalau Nano S menganggap lagu “Céngcéléngan” tidak aktual, solusinya bukan meninggalkan lagu tersebut, tetapi mengganti rumpakanya. Seperti juga pernah dicoba oleh Tatang Benyamin, mengganti lirik lagu “Céngcéléngan”, dilantunkan oleh Mila: Sapoé sarébu/ saminggu tujuh rébu.  Kita juga boleh mencoba mengganti lirik lagu “Tokécang”. Misalnya: Teu resep! Teu resep!/ maén Pé-éS bodo/ Jahat duit! Jahat duit!/ Mending ogé nabung!

Sambil menunggu kawih-kawih tersebut diganti liriknya, kita tidak mungkin hanya berdiam diri. Berdasarkan kenyataan bahwa anak sekarang lebih cepat berkembangnya, tidak ada salahnya mencoba untuk mengajarkan lagu tingkat “Taman Cangkurileung” kepada anak-anak tingkat “Taman Bincarung”. Saya telah berdiskusi dengan Lia Réfany, seorang guru dan penyanyi pop Sunda. Kami sepakat untuk mengajukan dua kawih berjudul “Karatagan Pahlawan” dan “Tanah Sunda”, untuk diperkenalkan kepada anak-anak TK (lirik dan notasi lagu dilampirkan).

Alasannya. Kawih tersebut memiliki jiwa penuh semangat, dengan lirik yang tampaknya tidak akan pernah basi. Mari kita mengajar anak-anak dengan lagu yang bermakna dan—Seperti yang dikatakan Nano S—lagu yang disukai anak-anak adalah lagu yang ekspresip. Beberapa waktu yang lalu, digelar pasanggiri lagu Sunda tingkat anak-anak. Dari sekian banyak peserta,  ternyata mereka lebih banyak yang memilih lagu: Aya hiji kurung/ pinuh ku japati/ japati kaluar/ disada nguk-ngukan. Sebuah lagu yang memang ekspresip. Tetapi, di Bandung sekarang sudah jarang melihat merpati. Saya lebih lebih sering menyaksikan yang jinak-jinak merpati, tetapi semakin langka menyaksikan janji merpati.***


Pondok Mustika, 20 Méi 2006

Comments
0 Comments

0 komentar: