Sabtu, 02 Juni 2018

Memori Kampus Kista ‘95



Cerpen DHIPA GALUH PURBA

UNTUK menuju kampusnya, aku harus melalui gang sempit yang cukup rumit. Tapi tidak usah khawatir, sebab di manapun letaknya, pasti akan kucari sampai kutemukan. Keraguan yang kadang merasuki hati, segera kusingkirkan jauh-jauh. Kalau diibaratkan dalam peperangan, pilihanku hanyalah hidup atau mati. Memang keterlaluan. Tapi mudah-mudahan saja semua orang akan segera memaklumiku setelah memperhatikan ekspresi sang bintang, saat menatapku dengan sangat sangat tajam di gerbang kampus Kista.

“Kamu?” tampaknya ia masih tidak percaya pada penglihatannya.

“Ya, saya. Emmm… maaf, saya berani datang ke mari…” jawabku agak salah tingkah, sehingga hampir tidak kusadari ketika tanganku merogoh saku baju, mengambil sebatang rokok.

“Jangan merokok di sini!” larangan yang cukup sewot dan harus kutaati. Aku memang hampir melupakan pakaian yang membungkus tubuhku, putih-abu-abu, seragam SMA. Aku sangat dungu, jika memaksa untuk merokok. Ya, meski bukan di lokasi kampusku, tapi aku tetap harus menghargai kampusnya.

“Oh, iya, hampir lupa. Oh ya, sudah mau pulang kan? Ayo kita sama-sama!” aku hampir tidak percaya saat bibirku mengucapkan itu. Betapa beraninya aku. Dan sungguh luar biasa, kata-kata itu sanggup menggerakan kakinya, berjalan berdampingan, pun sesekali memperhatikan seragamku.

“Kamu anak sekolahan ya?” pertanyaan itu memang patut diajukan, sehubungan dengan beberapa hal yang pasti masih membuatnya bingung.

“Ya. Aku seangkatan sama kamu, Wi…” aku berusaha tenang, menjawab setiap pertanyaannya.

“Siapa namamu? Kalau gak salah, aku belum tahu namamu…” pertanyaaan itu pun sangat wajar. Ia memang belum tahu namaku, atau bisa jadi sebelumnya ia tidak berminat untuk mengetahui namaku. Ya, untuk apa mencari tahu namaku, meskipun aku sering mengantarnya pulang.

Sebaliknya, aku begitu mengenalinya, Dewi, bintang Panyileukan yang menerangi kampus Kista. Sekali lagi, aku sering mengantarnya pulang. Bahkan sekali waktu aku pernah mengantarnya jam duabelas malam. Ia mengenal wajahku, tetapi tidak pernah tahu namaku.

“Nama saya Among…”

“Di mana sekolahanmu?”

“Di Jalan Kebon Jati…”

“Kenapa ngambil sekolah yang jauh?”

“Saya tidak punya banyak waktu untuk tidur. Makanya saya sekolah di tempat yang jauh, biar bisa nyuri waktu buat tidur,”

“Maksudmu?”

“Ya, begitulah, perjalanan bisa sampai satu jam. Biasanya saya naik bis kota. Saat saya naik di Bunderan Cibiru, bis kota masih kosong. Saya bisa leluasa memilih kursi, lalu tidur sambil duduk, atau duduk sambil tidur. Nikmaaaat, tahu-tahu udah nyampai di Alun-Alun. Kemudian saya jalan kaki ke Kebon Jati, olahraga kan…”

“Waktu tidur di bis kota, kamu tidak pernah terjaga?”

“Enggak…”

“Berarti kamu orang yang egois. Bahkan kamu tidak peduli pada nenek-nenek yang berdiri berdesakan dan copet-copet yang bergentayangan…” ia mencibir sambil menahan senyum. Hatiku berdebar-debar saat ia meraih tanganku dan mengajak duduk di halte.

“Jangan GR, Mong. Aku cuma gak suka sama dia!” ucapnya sambil melirik ke arah seorang pemuda yang berdiri di ujung halte. Pemuda perlente yang matanya agak nakal.

“Kalau kamu mau, saya sanggup menghajarnya…” aku begitu yakin pada keberanianku.

“Sudahlah, Among. Aku tahu siapa kamu, tapi di sini bukan habitatmu. Jadi, kamu gak usah so jagoan, jika hanya mau carmuk di depanku…” jawabnya dengan datar. Cukup untuk membungkam mulutku dan sebagai peringatan agar aku tidak bicara sembarangan.

Dewi tahu siapa aku. Ya, kalau sekedar tahu, memang sangat mudah untuk menge
naliku—bagi orang yang tinggal di Panyileukan. Setiap hari, aku nongkrong di gerbang Panyileukan, kadang jadi calo angkutan kota atau penambang becak. Hidupku di jalanan, panas dan penuh resiko. Pergaulan di jalanan yang sangat keras, telah membentuk watakku menjadi keras pula. Di jalanan, tidak boleh ada rasa takut, karena hukum rimba masih berlaku. Tak jarang aku terlibat tawuran yang hampir membuatku celaka.

Tidak banyak yang tahu, bahwa propesi yang kujalani itu kukerjakan… sepulang sekolah. Sejak pertama kali duduk di bangku SMA, aku terpaksa harus menapkahi diriku sendiri; hidup di jalanan mencari rezeki yang halal, hanya untuk makan dan biaya sekolah. Namun, aku juga tidak bisa menahan gejolak hatiku saat pertama kali memandang Dewi. Aku sering mengantar sampai pekarangan rumahnya… dengan becakku. Tentu saja aku dibayar sesuai tarip yang berlaku, kadang Dewi mengikhlaskan uang kembaliannya. 

Masa remajaku habis di jalanan. Tapi aku tidak pernah menyesali—apalagi menyesali keluargaku yang miskin, sangat tidak! Sebab, justru latar belakang hidupku yang membuat Dewi akhirnya jatuh dalam pelukanku. Sungguh, Dewi bagaikan tokoh cerita dalam lakon fiksi. Ia mencintaiku dengan tulus. Dewi mengakui, bahwa cintanya mulai bersemi sejak pertemuan pertama di kampusnya. “Seandainya kamu bukan anak sekolah, aku tidak akan pernah menyukaimu. Namun seandainya kamu bukan penambang becak, belum tentu juga aku mencintaimu. Sisi lain dalam hidupmu yang membuat nuraniku tergugah…” kata-kata itu ditulisnya saat membalas suratku, surat cinta.

Tidak terkecuali anak jalanan, saat diterpa rasa cinta serasa jadi pujangga. Semuanya tampak begitu indah. Benar sekali filosopis yang mengatakan; At the touch of love, every one becames a poet. Buktinya, kami sepakat menyingkat kampus itu dengan KISTA, Kian Santang, ya, SMEA Kian Santang. Selain itu, KISTA juga merupakan singkatan dari: Kita Saling Cinta.***


Ranggon Panyileukan, 1995

 (Dimuat di HU. GALAMEDIA, Sabtu, 21 Januari 2005)

Comments
0 Comments

0 komentar: