Sabtu, 02 Juni 2018



 

Cerpen DHIPA GALUH PURBA


SURAT itu kukirimkan ketika Na masih memanggilku: Kakak Pramuka. Saat semilir angin desa membelai rambut Na yang terurai; saat  rintik-rintik hujan membasuh seragam merah-putihnya. Di simpang jalan Simpar Kesumbar, Na menghentikan langkahnya. Beberapa jenak tampak bimbang untuk memutuskan tempat berteduh. Kalau memilih pos ronda, mungkin ia khawatir pada beberapa pemuda yang suka iseng dan jahil. Hanya Masjid Jami, tempat yang aman baginya. Mana mungkin kalau aku jadi ancaman baginya.

“Na, mana surat balasannya? Kau bilang mau dibalas hari ini? Mana?” tanyaku saat kami sudah berdiri berdampingan.

Entah apa yang salah dengan pertanyaanku. Yang pasti, pertanyaan itu membuat wajah Na memerah. Bahkan pertanyaan itu pula yang membuatnya berlari meninggalkanku. Aku hanya mampu menatapnya sambil mematung. Tubuh mungil itu berkelebat di antara derasnya air hujan. Kedua tangannya melenggang bagai selendang bidadari dalam cerita dongeng. Lembut dan putih.

Na terus berlari. Wajahnya lurus ke depan, seolah tak sanggup menoleh dan melihat wajahku. Kakinya yang lurus dan panjang mengayun semakin cepat di atas genangan air, bagai derap kaki kuda liar menyibak air sungai pedalaman Sumbawa.

Aku berdiri tak bergeming. Batinku bertanya-tanya. Apakah salah akubertanya kepadanya? Apakah terlalu cepat menanyakan surat balasan kepadanya? Ah, aku tak menemukan jawabann. Hanya desah air hujan di atap masjid yang membuat batinku semakin resah. Itu tigabelas tahun yang lalu, saat Na masih berusia sebelas tahun.

Na tidak pernah mengatakan bahwa suratku tidak akan dibalas. Namun bukan berarti pula suratku akan dibalas. Buktinya, setelah Na melalui kurun waktu yang cukup panjang, suratku tetap tidak pernah dibalas. Apakah ini berarti guru SMP, guru SMA tidak berhasil mengajarkan surat-menyurat terhadap murid-muridnya? Khususnya kepada Na? Ah, tidak juga. Aku yakin, Na bisa menulis surat, tetapi Na tidak berminat membalas suratku.

 “Kenapa suratku tidak dibalas?” tanyaku pada suatu siang yang cukup cerah di Masjid Cimahi, ketika kami berjumpa lagi.

 “Surat?” Na termenung. Dahinya berkerut, seperti sedang mengingat-ingat sesuatu yang terlupakan. Bahkan mungkin Na sudah benar-benar melupakan surat yang kukirimkan pada waktu itu. Apapun adanya, aku harus belajar memaklumi hal itu. Betapa tidak, aku menanyakan surat yang kukirim tigabelas tahun yang lalu.

 “Apakah gue harus bales?” Na balik bertanya sambil melemparkan tatapannya ke pekarangan Masjid. Oh, ya, sekarang memang bukan lagi di Masjid Jami Simpar Kesumbar.

Kini Na tidak lagi mengenakan seragam merah-putih. Dia pun tidak berlari ketika aku menanyakan surat balasan. Betapa waktu berlalu begitu cepat. Waktu telah merubah segalanya. Kini kurasakan jemari tangan Na begitu hangat dalam genggamanku.

 “Surat itu harus dibalas, Na…”

Sebenarnya aku tidak pantas mengatakan hal itu. Buat apa balasan surat dari Na? Bukankah Na sudah berjalan di sampingku, bergandengan tangan; begitu indah; begitu mesra. Aku merasakan bahwa Na akan segera menjadi milikku untuk selamanya. Saat kukecup keningnya, Na menundukkan kepala.

“Aku tak akan melepaskanmu, Na. Tidak akan!” ucapku dengan tenang. Na mengangguk perlahan. Ada senyum yang selalu kurindukan selama bertahun-tahun.

Detik-detik melaju dengan cepat dan kembali mengubah segalanya. Entahlah, tiba-tiba aku merasakan suatu keraguan di balik langkah Na. Desas-desus yang memuakkan telah menggerogoti perasaan kami. Aku terus maju, untuk membuktikan kekuatan cinta. Namun, rona wajah Na kian meragu, dan akhirnya langkah Na semakin surut ditelan prahara.

“Aku ke Jakarta hanya untuk Na, dan kembali pun hanya untuk Na. Cinta kita adalah legenda Simpar Kesumbar yang tidak boleh pudar. Sejak Na memanggilku Kakak Pramuka, Aa, dan Akang, cinta itu terus hidup dan meronta-ronta dalam dada. Ia mengamuk mendorongku untuk memeluknya dan mengungkapkan dengan tegas: Aku mencintaimu, meski keluarga kita tidak merestui. Ada apa dengan keluarga kita? Bukankah jalinan yang retak, harus segera ditambal dengan cinta dan kasih sayang? Bukankah yang jauh mesti didekatkan?” kata-kata itu hanya kubisikan pada semilir angin desa; menerpa kembang Simpar Kesumbar yang tidak lagi mekar.

 “Inilah surat balasan dari gue…” seandainya Na berjumpa denganku, pasti kata-kata itulah yang akan meluncur dari balik bibir mungilnya. Surat undangan pernikahan Na. Surat yang tidak akan pernah kubaca untuk selama-lamanya. Biarlah kurobek bersama robeknya perasaanku yang penuh dengan ukiran cinta dan kasih sayang; selama limabelas tahun.

 “Legenda cinta Simpar Kesumbar, tidak akan pernah ada!” sungguh memuakkan suara itu. Suara yang sanggup menyurutkan langkah Na. Suara yang kucintai. Suara yang mengharapkan kebahagiaanku.

 “Meski demikian, cerita tetap belum berakhir. Masih ada sepenggal harapan, sebelum napasku berhenti, dan sebelum mataku tertutup untuk selama-lamanya…” di sela kepedihanku, masih ada untaian cita-cita. Namun, bukankah sangat berdosa menanti Na saat ini? Sebab bunga Simpar Kesumbar telah dipetik dari tangkainya. Betapa kemilau permata sungguh menyilaukan mata. Tapi itulah realitas yang tidak bisa dipungkiri, bahwa si kumbang tak bersayap tidak akan pernah menjadi pemenang. Siapa bilang tidak ada legenda cinta Simpar Kesumbar? ***


Situ Panjalu, 1990-2005

(Dimuat di HU. GALAMEDIA, Sabtu, 7 Januari 2006)

Comments
0 Comments

0 komentar: