Rabu, 29 Januari 2020

Belenggu “Dunungan”


Oleh Dhipa Galuh Purba


Orang Sunda menyebut atasan dengan dunungan. Presiden adalah dunungan di lembaga eksekutif. Namun, pada realitasnya saat ini, tampaknya presiden pun sekaligus menjadi dunungan dari lembaga legislatif dan yudikatif. Sebab, Susilo Bambang Yudhoyono merupakan dunungan dari ketua DPR di partainya. Wajar jika ketua DPR senantiasa bersikap sumuhun dawuh pada setiap kebijakan presiden.

Dunungan harus dikawulaan oleh para kula. Dalam Kamus Basa Sunda karya RA Danadibrata, terdapat dua arti kata kula. Pertama, menunjukkan orang yang mudah diatur atau disuruh oleh sang dunungan. Kedua, menjadi kata ganti orang pertama, sama halnya dengan kuring, aing, dan sebagainya. Ngawulaan atau mengabdi kepada dunungan bukanlah hal negatif.

Akan tetapi, sikap selalu sumuhun dawuh jelas menunjukkan kepribadian buruk dan sudah layak disebut tukang lélétak (penjilat). Sebab, sikap sumuhun dawuh sangat subyektif. Ia akan menuruti semua yang diinginkan dunungan sekalipun dalam pandangannya dianggap keliru. ABC, asal bapak cuka.

Karuhun Sunda tidak bermental ABC. Mari kita menengok masa keemasan kerajaan Sunda Galuh. Saat itu sang papayung agung begitu pantang bersikap sumuhun dawuh pada kerajaan lain, termasuk kerajaan sekuat Majapahit. Sunda Galuh cadu untuk takluk pada Majapahit. Itu sebabnya, Gadjah Mada, panglima perang Majapahit, menghalalkan berbagai cara untuk membuat Sunda Galuh bertekuk lutut.

Namun, dalam situasi terdesak di Bubat pun Maharaja Linggabuana tetap pantang menghaturkan upeti kepada Hayam Wuruk. Apalagi, upetinya adalah kembang keraton, Putri Citraresmi Dyah Pitaloka. Kisah inilah yang sesungguhnya merupakan pesan bagi urang Sunda, bahwa dalam kondisi apa pun, jati diri apalagi harga diri tidak bisa dibeli.

Maka, cukup mengherankan jika selanjutnya urang Sunda justru sangat doyan bahkan terkesan mengistimewakan dunungan. Simak saja rumpaka lagu Sunda, terutama tembang Cianjuran, yang di antaranya banyak menyelipkan kata dunungan. Misalnya, ka saha abdi nya ngabdi, mun dunungan rék ninggalkeun dalam "Papatet" yang rumpaka-nya ditulis Ibu Iloh Safe'i, atau pikasediheun dunungan ku harianeun dalam "Ngabungbang" yang ditulis Mang Engkos.

Bahkan dalam lagu "Es Lilin" pun masih terselip kata dunungan, seperti dalam bait Itu saha dunungan nu nungtun munding/digantelan geuning ku saputangan/itu saha dunungan ku ginding teuing/sing horeng mah aduh geuning jungjunan...

Dalam rumpaka tersebut biasanya dunungan mendapatkan posisi yang sangat istimewa. Ada rumpaka yang sekadar berinteraksi dengan dunungan dan ada pula yang khusus dihaturkan untuk dunungan. Selain itu, jejak penghormatan urang Sunda kepada dunungan dapat disimak dalam sajak, cerpen, novel, dan drama Sunda.

Dalam novel pertama di Indonesia, Baruang ka nu Ngarora karya DK Ardiwinata (Bale Pustaka, 1914), misalnya, tampak begitu jelas sikap hormat dan ketakutan masyarakat kepada Aom Usman yang anak bupati meski ia menjadi tokoh antagonis penghancur rumah tangga Ujang Kusen dengan Nyi Rapiah. Bahkan pengarangnya tidak berani memvonis Aom Usman. Yang akhirnya begitu menderita justru Ujang Kusen, yang istrinya direbut Aom Usman.

Ketabuan untuk menentang dunungan diperkuat oleh peribahasa yang berbunyi ngijing sila bengkok sinembah yang berarti melawan dunungan dan dikategorikan sebagai perbuatan tidak terpuji. Maka, profil para Presiden RI yang dipaparkan Iip D Yahya dalam artikel "Urang Sunda Menjadi Presiden, Apa Mungkin?" (Kompas Jawa Barat, 29/09), menunjukkan bahwa mereka sebenarnya menganggap masyarakat Sunda memiliki loyalitas tinggi kepada dunungan.

Memberontak "dunungan"
Respons terhadap belenggu dunungan dalam dunia sastra mulai muncul ketika sastrawan Godi Suwarna menghadirkan cerpen-cerpen Sunda eksentrik. Dalam majalah Mangle nomor 677 tahun 1979, Godi menulis cerpen Uwak-awik. Dalam cerpen tersebut Godi menceritakan pemberontakan wayang golek yang sudah sekian lama diperbudak dalang, yang kemudian mengakibatkan peperangan antara wayang dan dalang.

Adapun reformasi dalam rumpaka lagu Sunda mulai terasa ketika muncul kawih kreasi anyar karya Mang Koko. Dalam rumpaka kawih Mang Koko kata dunungan mulai ditinggalkan. Terlebih ketika Mang Koko memusikalisasi sajak-sajak karya sastrawan Sunda, semisal Wahyu Wibisana, RAF, Winarya Art, dan Dedy Windiagiri.

Hal itu lebih terasa ketika muncul lagu-lagu pop Sunda karya Doel Sumbang. Tidak ada lagi ketakutan yang berlebihan kepada dunungan. Dalam beberapa lagunya, Doel secara terang-terangan "menggugat" dunungan yang dianggap tidak adil. Dalam lagunya, Doel tanpa ragu memarahi dokter, polisi, dan wali kota yang tidak memerhatikan rakyat kecil. Kalau perlu, memaki-maki dengan kata-kata bebel siah.

Pagelaran dalam acara Nyiar Lumar di Astanagede, Kawali, Ciamis, Jawa Barat



Mengubah impian
Jika Asep Salahudin begitu percaya akan kekuatan bahasa, sebagaimana dalam artikelnya yang berjudul "Hasrat Utopia Presiden Sunda" (Kompas Jabar, 7/10), tentu Kang Asep pun akan percaya pada kekuatan harapan dan cita-cita, atau sebut saja impian. Mari kita simak cuplikan cerpen Sunda karya Dian Hendrayana yang berjudul "Pucuk-pucuk Baluas" (cerpen terpilih Mangle November 2004). "Emh, engkang. Sing lungsur-langsar neang milik di Jakarta. Dibabarikeun neang rejeki nu halal. Dipiasih ku dunungan". Itulah impian urang Sunda: dipikanyaah dunungan.

Impian tersebut menjadi salah satu penyebab sulitnya urang Sunda menjadi presiden. Apalagi, kalau kita sepakat kepada Eleanor D Roosevelt (1884-1962) yang mengatakan bahwa masa depan adalah milik orang-orang yang memercayai keindahan mimpi mereka. Jika impiannya dipikanyaah dunungan, tentu saja akan sulit menjadi dunungan. Sampai hari ini masih banyak orang Sunda yang berharap agar anak, adik, atau suaminya dipikanyaah dunungan. Para peziarah di makam keramat pun banyak yang curhat kepada kuncen bahwa ia ingin dipikanyaah dunungan. Jarang ada orang Sunda yang mengungkapkan sing jadi dunungan.

Jadi, percuma menambah uga seperti yang disarankan Mang Jamal dalam tulisannya, "Urang Sunda Jadi Presiden" (Kompas Jabar, 18/9), jika impiannya hanya sekadar dipikanyaah dunungan. Yang lebih penting adalah mengubah harapan, dari sing dipikanyaah ku dunungan menjadi sing jadi dunungan. Lalu, meminjam kata-kata Mario Teguh, perhatikan apa yang terjadi!


Comments
0 Comments

0 komentar: