Kamis, 30 Januari 2020

Hadiah Sastera Rancagé 2020 dan Napak Tilas 82 Tahun Ajip Rosidi
Hari ini akan digelar acara pengumuman pemenang Hadiah Sastera Rancage 2020 untuk sastera berbahasa Sunda, Jawa, Bali, Batak, Lampung, Madura, dan Hadiah "Samsoedi". Acara ini diselenggarakan atas kerjasama Yayasan Rancage dan Jatiwangi Art Factory, yang merupakan rangkaian dari acara "Napak Tilas 82 Tahun Ajip Rosidi". Rencananya acara ini akan berlangsung mulai pukul 14.00 WIB, di Jl. Makmur No. 71, Jatisura, Kec. Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat.

Selain pengumuman pemenang Hadiah Sastera Rancage 2020, akan digelar pula pementasan musik, baca sajak, hingga Pidato Kebudayaan Ajip Rosidi.

Para pemusik dan seniman yang akan memeriahkan acara ini diantaranya Mukti mukti, Ary Julian, Lair, Iman Soleh, dan lain-lain. 
 
Acara terbuka untuk umum, tanpa dipungut tiket. Para pengunjung juga dapat memburu buku-buku favorit di bazzar buku. Tentunya termasuk buku yang akan diluncurkan pada hari ini. Buku berbahasa Jerman yang berjudul "Das Kind Des Vaterlandes", diterjemahkan dari buku berbahasa Indonesia "Anak Tanah Air" karya Ajip Rosidi.

Rabu, 29 Januari 2020

Berburu di Belantara Ilmu



Oleh DHIPA GALUH PURBA

TIDAK perlu memaksakan diri pergi ke Negeri China untuk menunutut ilmu. Terlebih lagi kalau tidak punya buat ongkosnya. Sebab, orang China sendiri yang berbondong-bondong datang ke tanah air, dan kemudian banyak yang akhirnya memilih menjadi Warga Negara Indonesia (WNI). Tentu, ada banyak hal menarik di bumi Indonesia, yang membuat mereka “jatuh cinta” kepada tanah air tercinta ini. Harta, tahta, atau wanita, kemungkinan bukan daya tarik utama. Sebagai keturunan negeri yang direkomendasikan Arab menjadi lautan ilmu, maka penghuninya pun tentu didominasi oleh orang-orang yang haus akan ilmu. Berarti, mereka memandang Indonesia sebagai belantara ilmu yang harus diburu berpacu dengan waktu.

Ada banyak hal yang perlu dibaca di Negeri Indonesia. Khususnya di tatar Sunda, nenek moyang tidak terlalu berambisi mewariskan barang-barang pusaka atau bangunan megah. Para leluhur Sunda lebih banyak mewariskan untaian kata-kata melaui aksara, yang kemudian disebut dengan nama naskah Sunda kuna dan prasasti. Naskah Sunda tertua adalah Sanghyang Siksakandang Karesian (1518 M). Naskah-naskah lainnya ada Bujangga Manik, Ramayana, Carita Parahiyangan, Amanat Galunggung, Sewaka Darma, Sanghiayang Ragadewata, Dharmajati, dsb. Sedangkan prasasti yang telah ditemukan diantaranya Juru Pangambat, Nyalindung, Batutulis (Bogor), Sanghiyang Tapak, Pasir Datar (Sukabumi), Cikapundung (Bandung), Cikajang (Garut), Geger Hanjuang (Tasikmalaya), Kawali, Galuh, Mandiwuna. Sadapaingan (Ciamais), Huludayeuh (Cirebon) Kebantenan (Bekasi), dsb.

Selain memiliki bahasa Sunda, nenek moyang Sunda pun berhasil menciptakan huruf tersendiri: huruf Sunda Kuno. Menurut catatan sejarah, sebelum abad 19 sampai sekarang di tatar Sunda menggunakan huruf latin, ada beberapa huruf yang pernah dipakai, seperti Pallawa, Pranagari, Jawa (cacarakan), Arab (Pegon), dan tentunya huruf Sunda kuno yang jelas merupakan hasil karya leluhur Sunda.

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka pada tahun 2008 huruf Sunda pun telah resmi diakui oleh unicode. Ini adalah hasil kerja keras Dadan Sutisna dan kawan-kawan yang tergabung dalam “Tim Unicode Aksara Sunda”, dibawah koordinasi Balai Pengembangan Bahasa Daerah (BPBD) Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Barat

Sekedar catatan, Unicode Consortium adalah sebuah lembaga independen yang berdiri pada tahun 1991. Lembaga tersebut dirintis oleh perusahaan-perusahaan komputer ternama di dunia, seperti Apple Computer, Microsoft, IBM, Xerox, HewletPackard Adobe Inc, dsb. Lembaga inilah yang selanjutnya membuat standar encoding character set dalam sistem komputer, yang bisa menampilkan berbagai jenis huruf dalam komputer.

Dengan resminya huruf Sunda masuk dalam unicode, berarti huruf Sunda sudah sejajar dengan huruf lainnya di Indonésia yang sudah lebih dulu diakui unicode, seperti huruf Bali, Bugis, Rejang, dsb. Hal-hal semacam inilah yang menjadi penyumbang bagi khazanah kekayaan budaya Indonesia. Maka dalam revisi keempat UUD 1945, dipaparkan bahwa negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah-tengah peradaban dunia dan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya (Pasal 32, ayat 2).

Tentu tidak cukup hanya sekedar diakui unicode. Langkah selanjutnya yang lebih penting adalah realisasinya dalam kehidupan nyata di zaman sekarang. Memang beberapa nama-nama jalan di Jawa Barat telah menggunakan huruf Sunda (disamping huruf latin), tetapi para sineas sinematografi Sunda belum terketuk hatinya untuk merasa bangga dengan huruf miliknya sendiri. Coba perhatikan film-film Jepang, China, Korea, atau India. Selain huruf latin, mereka tetap bangga dan sangat percaya diri menghiasai film-film mereka dengan huruf Hiragana, Katakana, Kanji, Hangul, dsb.

Tradisi menulis dan membaca sudah tertanam sejak zaman baheula, yang kemudian diwariskan dari generasi ke generasi. Sudah sepantasnya jika disebutkan bahwa nenek moyang Sunda gemar membaca, para leluhur perintis buku. Berburu ilmu salahsatunya bisa melalui buku. Kenapa harus berilmu? Sebab, pada sisi tertentu, kualitas manusa sangat ditentukan oleh ilmu yang dimilikinya. Ilmu dapat menjadikan seorang manusia lebih mulia dari yang lainnya. Dengan ilmu, seseorang bisa memiliki iman, taqwa, dan pandai bersyukur. Singkatnya, kedudukan ilmu sangat tinggi. Dan ilmu bukan merupakan hasil manusia secara otonom, sebab dalam proses perburuannya ada keterlibatan Yang Maha Kuasa. Akal menjadi semacam jendela atau pintu untuk masuknya ilmu, seperti halnya juga hati yang menjadi penerima pancaran Illahi. Dengan membaca, berarti telah berupaya untuk membuka jendela atau pintu manusia dalam proses transper ilmu. Sebab dunia ilmu bukanlah dunia berbicara, melainkan dunia membaca. Jadi, bacalah buku untuk berburu ilmu.

Buku tetap menjadi bacaan yang praktis dan aman, untuk sekarang, sepuluh tahun kedepan, duapuluh tahun, dan mungkin puluhan atau ratusan tahun lagi. Perkembangan website yang begitu marak, tidak akan mampu mematikan peran buku. Memang banyak para pengamat yang memprediksi bahwa buku cetakan akan segera tersisih oleh e-book (buku elektronik). Namun prediksi mereka hanya berdasarkan fenomena sekilas. Buktinya, maraknya perkembangan dunia maya justru lebih menguntungkan  bagi dunia perbukuan. Semua orang bisa membuat blog atau fortal yang memuat konten seputar buku, baik membedah, mengupas, mendiskusikan isi buku, maupun menjual buku via internet. Jadi, dunia maya dan buku cetak sama-sekali tidak bermusuhan, bahkan bisa menjadi partner dalam meningkatkan minat baca masyarakat. Keduanya memiliki kelemahan dan kelebihan masing-masing, saling melengkapi, seperti halnya sepasang kekasih yang selalu saja ada kekurangan disamping kelebihannya.

Contoh nyata kelemahan file komputer adalah sangat rentan oleh serangan virus. Jangan lupa, perkembangan virus komputer pun semakin pesat dan ganas. Dengan sekali “klik” saja, maka semua file di komputer bisa menjadi hilang atau rusak. Buku cetak cenderung lebih aman, karena sulit ditembus virus. Namun Buku cetak pun bisa rusak atau hilang jika dicuri, kebakaran, kebanjiran, atau dimakan rinyuh.  Nah, untuk menghindari virus, pencuri, kebakaran, kebanjiran, dan rinyuh, pelajarilah ilmunya dalam buku-buku. Menurut sahabat saya, Dadan Sutisna, anti virus yang paling mujarab adalah: ilmu pengetahuan  tentang komputer. Jadi, kembali lagi kepada ilmu; kembali lagi kepada buku; dan mari berburu ilmu lewat buku!***


Kaki Gunung Manglayang, 21 Januari 2009

Pesta Yang Tidak Berakhir



Oleh DHIPA GALUH PURBA

MAKA selamatlah kata “Pesta” jika diikuti dengan kata “Buku”.  Tentu saja selamat yang dimaksud, bukan semacam terhindar dari kecelakaan atau terlepas dari ancaman api neraka. Selamat di sini lebih berhubungan dengan kesan kata pesta, yang selama ini dianggap identik dengan kegiatan semacam hura-hura, pamer kemewahan, dan segala kesan negatif lainnya. Berbeda dengan pesta lainnya, Pesta Buku adalah sarana yang sangat efektif dan bermanfaat bagi masyarakat. Betapa tidak, berbicara seputar buku artinya berbicara belantara keilmuan. Sementara pahala manusia yang tidak akan berhenti mengalir, salah satunya adalah sumbangan ilmu yang bermanfaat. Jika demikian, maka Pesta Buku merupakan jenis pesta yang tidak akan berakhir. Kendati demikian, hal tersebut sangat berkaitan dengan buku apa dan bagaimana yang dipestakan.

Buku sangat layak untuk dipestakan. Kita bisa menyaksikan—minimal  membaca atau mendengar berita—betapa meriahnya ketika pada tahun yang lalu digelar “Pesta Buku Antarbangsa” di Kuala Lumpur. Pesta Buku tersebut diikuti oleh beberapa negara, seperti New Zealand, Mesir, Amerika, China, Thailand, Singapura, Brunei, Indonesia, dsb. Masih pada tahun 2005, di Indonesia pun digelar “Pesta Buku Jakarta 2005” yang berlangsung di Istora Gelora Bung Karno Senayan, Jakarta.

Kiranya manusia di belahan bumi sepakat bahwa buku merupakan lautan ilmu, guru kedua, jendela dunia, dan berbagai ungkapan positif lainnya. Tampaknya murid Sekolah Dasar pun sudah mengetahui hal itu—mengetahui tidak berarti menyadari. Jika sudah menyadari akan pentingnya buku, setidaknya ada dorongan untuk membaca buku—membaca saja tidak menjadi jaminan untuk memahami. Kalau begitu, bagaimana jadinya bagi yang tidak membaca buku sama sekali? Seandainya boleh mengubah sedikit saja ungkapan Joseph Brodsky, yang mengatakan bahwa kejahatan yang lebih buruk daripada membakar buku adalah—salah satunya—tidak membaca buku. Saya akan menggantinya dengan “kebodohan” bukan “kejahatan”, kecuali jika sudah ada undang-undang bagi yang tidak membaca buku, perlu ditangkap dan dimasukkan penjara.

Sejak zaman dulu, berbagai pesta telah diagungkan dalam buku. Tentu saja sangat lumrah jika kali ini buku yang diagungkan dalam sebuah pesta. Berjuta kata yang terkandung dalam berjuta lembar buku merupakan kandaga ilmu yang tidak ternilai harganya. Tidak berlebihan jika buku meupakan media yang sanggup mengubah wajah dunia. Semuanya bisa berawal dari buku. Seperti juga yang pernah diungkapkan oleh Barbara Tuchman, bahwa Buku adalah pengusung peradaban. Tanpa kehadiran sosok yang bernama buku, maka sejarah akan menjadi sunyi, sastra dirundung bisu, ilmu pengetahuan terjangkit lumpuh,  begitu kata Tuchman.

            Di Indonesia, potensi untuk menerbitkan buku sangat besar. Mari kita memandang luasnya alam Indonesia dengan segala kesuburannya. Pohon rindang nan hijau mewarnai belantara hutan. Setidaknya, mustahil kehabisan bahan dasar untuk membuat kertas. Sayang, kita telah kehilangan banyak pepohonan yang membuat hutan menjadi rata. Dan pohon-pohon yang ditebang membabi buta, sangat tidak sebanding  dengan jumlah buku yang terbit saban tahun. Bukan buku, yang mengakibatkan tanah kita gundul dan merebaknya musibah banjir. Jadi, buku tidak berpesta di atas penderitaan manusia.***


Ranggon Panyileukan, 13 Dzulhijjah 1426 H

Sahabat Buku



Oleh DHIPA GALUH PURBA

MENJALIN sebuah persahabatan, tentu memerlukan suatu pengorbanan yang tulus. Baik persahabatan dengan sesama manusia, hewan, tumbuhan, atau dengan alam sekitarnya. Meskipun namanya tetap ‘persahabatan’, tetapi ada beberapa perberbedaan  dalam tata cara memperlakukannya. Tentunya sesuai dengan porsinya masing-masing. Namun yang pasti, menjalin persahabatan dengan apapun akan melahirkan nilai dan makna tersendiri dalam kehidupan.

Tidak terkecuali jika kita memilih untuk bersahabat dengan buku. Pengorbanan itu harus selalu ada. Ia harus mengorbankan sebagian materi, untuk mendapatkan buku. Sementara itu, timbal baliknya buku akan memperkaya sahabatnya dengan khazanah ilmu pengetahuan, tergantung jenis pengetahuan yang terkandung dalam buku tersebut.

            Orang yang gemar membaca dan selalu haus ilmu pengetahuan, dapat dipastikan bersahabat dengan banyak buku. Ia tidak akan merasa rugi untuk menyisihkan materinya, demi mendapatkan sahabat baru. Semakin banyak sahabatnya, semakin bertambah wawasan ilmu pengetahuannya. Sedangkan untuk menentukan kulaitas seseorang, ada satu sisi yang bisa ditentukan oleh ilmu pengetahuan yang dimilikinya.

            Sahabat yang sangat dicintai, tidak mungkin dipinjamkan apalagi diberikan kepada orang lain.  Oleh karena itu, sangat wajar jika ada seseorang yang enggan untuk meminjamkan buku, apalagi memberikannya. Ia begitu khawatir akan keselamatan sahabatnya, kalau sampai jatuh ke tangan orang lain. Ia pasti akan kecewa bahkan sakit hati, kalau sahabatnya tidak kembali lagi. Maka dari itu, dalam hal ini, jangan berprasangka buruk kepada orang yang tidak mau meminjamkan buku. Lebih baik kita berkorban, untuk mencari sahabat sendiri, daripada merebut sahabat orang lain.

            Bagi yang belum mengerti makna persahabatan dengan buku, pasti menganggap berlebihan terhadap para sahabat buku. Ia akan menganggap persoalan sepele ketika suatu saat meminjam buku dan tidak mengembalikannya. Jika persoalan itu dibesar-besarkan, ia akan segera mengatakan “Pilakadar buku…” tanpa mau memahami perasaan orang yang kehilangan sahabatnya. Tidak heran jika orang semisal Drew Barrymore, seorang artis dunia yang cukup ternama, lebih rela memberikan barang yang lebih mahal, daripada harus memberikan buku. Meskipun Drew Barrymore enggan memberikan buku yang telah menjadi sahabatnya, tetapi bukan berarti Drew Barrymore tidak dermawan. Persahabatan yang telah terjalin dengan erat, tidak bisa diukur oleh materi, tidak terkecuali persahabatan dengan buku.

            Ajip Rosidi, seorang budayawan dan ilmuwan yang memiliki ribuan sahabat bernama buku. Dalam suatu perbincangan live di radio Kencana Bandung (30/5/03), beliau mengatakan bahwa siapapun boleh membaca buku-bukunya, tetapi tidak dipinjamkan. Silahkan membaca buku sepuas-puasnya di ruang perpustakaan pribadi, bakal disuguhan deuih. Demikian kata Ajip, yang tampaknya cukup mewakili untuk menepis prasangka buruk bagi orang yang tidak mau meminjamkan buku. Ajip lebih senang membelikan buku, untuk kemudian memberikannya. Kalau buku yang sudah menjadi sahabatnya, kita mesti berpikir ribuan kali untuk meminjam apalagi memintanya.

            Dari waktu ke waktu, kebiasan masyarakat untuk membaca (reading habit) tampaknya mulai semakin meningkat. Sayang sekali, persoalan yang terjadi masih berkisar pada rendahnya minat uktuk membeli buku. Benarkah masyarakat tidak mampu membeli buku? Ada yang memang benar-benar tidak mampu. Namun di kalangan orang yang tergolong mampu juga, minat untuk membeli buku tetap saja sangat rendah. Setidaknya gejala seperti itulah jika kita mengamati hasil jejak pendapat Kompas pada bulan Januari 2005.   Sekitar 88 persen responden mengakui bahwa dirinya tidak menganggarkan dana khusus untuk membeli buku. Hanya 12 persen responden, yang benar-benar memandang buku sebagai kebutuhan yang serius.


Meminjam Buku

ORANG yang punya banyak sahabat buku juga, ada saatnya harus meminjam buku. Tentu saja alasannya sangat masuk akal. Misalnya dikarenakan buku yang dibutuhkan itu sudah berusia lanjut, dan tidak beredar lagi di pasaran. Maka dari itu, meminjam ke perpustakaan atau rumah baca adalah jalan keluarnya. Orang yang memahami nilai buku, akan meminjam buku dengan cara yang baik, dan pasti mengembalikannya. Maka dari itu, pemerintah atau swasta berusaha memenuhi kebutuhan buku bagi masyarakat, dengan cara mendirikan perpustakaan. Masalahnya tinggal bagaimana mengelola perpustakaan tersebut, supaya benar-benar memenuhi kebutuhan masyarakat pembaca. Meminjam buku ke perpustakaan pun memerlukan pengorbanan. Sekurang-kurangnya kita akan mengeluarkan materi, untuk ongkos perjalanan dari rumah menuju perpustakaan.

Di antara perpustakaan yang tersebar di beberapa daerah, ada juga personal di tengah lingkungan masyarakat, yang berusaha menyediakan kebutuhan buku. Misalnya Ua Sasmita (l. Tasikmalaya, 15-5-1951), yang memutuskan untuk membuka “Rumah Baca Buku Sunda Jeung Sajabana” di tempat tinggalnya, Komplek Perumahan Margawangi, Jl. Margawangi VII No.5, Bandung.

Ketika diundang untuk berdialog live di Radio Antasalam Bandung (10/06/05), Ua Sasmita—lebih akrab dipanggil Ua Sas—mengatakan  hanya satu sarat untuk meminjam buku di Rumah Baca, yakni harus dikembalikan. Ua Sas yang dikenal sebagai kuncen (moderator) Kusnet (Komunitas Urang Sunda di Internet), tidak berniat bisnis dalam mengelola rumah baca tersebut. Tujuannya adalah untuk membangkitkan gairah membaca di lingkungan masyarakat. Rumah Baca Ua Sas bersedia meminjaman buku untuk orang yang benar-benar tidak mampu membeli buku, sedangkan minat bacanya tinggi. Namun yang lebih menarik, di Rumah Baca Ua Sas terdapat buku-buku yang usinya tergolong tua, seperti buku-buku wawatjan, pantun, sampai kamus Sunda-Inggris (Jonathan Rigg,  Dictionary Sunda Language”,  1862). Ua Sas  memiliki lebih dari 600 judul buku berbahasa Sunda, 200 judul buku bahasa Indonesia tentang Sunda, dan 300 judul buku pengetahuan  di bidang sastra, agama, dan humaniora.

            Ua Sas bukan satu-satunya orang yang membuka rumah buku, dan bersedoa meminjamkan bukunya secara gratis. Tentu, masih banyak sahabat buku lainnya yang seperti Ua Sas. Yang pasti, orang seperti Ua Sas sangat senang apabila ada orang yang meminjam buku kepadanya. Ua Sas akan lebih senang lagi, kalau buku tersebut dikembalikan tepat pada waktunya. Ma dari itu, tidak ada alasan untuk tidak membaca buku.

            Tulisan ini saya tutup dengan sebuah harapan, khususnya kepada para musisi atau pencipta lagu, lebih khusunya lagi kepada Kang Iwan Fals. Tolong, buatlah sebuah lagu yang berjudul: “Buku ini aku beli”.***

Ranggon Panyileukan, 20 Jumadil Awal 1426 Hijriyah.


Wi...
Fotograper: Turi Syahdarina




Cerpen DHIPA GALUH PURBA

JEJAK darah itu tak mungkin terhapus pada titian anak tangga yang pernah kau lalui. Seraya tinggalkan sepenggal memori di dasar lubuk hati. Sekejap keindahan atau setitik kasih yang—mungkin—sangat tulus. Saat itu—tapi tidak saat ini—ingin kucercah semua          kisah yang memenuhi ingatan. Lalu hantarkan aku pada gerbang kedamaian nan abadi, yang sangat kuimpikan sejak masa silam. Dan saat ini aromamu selalu mengahantui hidung yang sudah sesak oleh bau-bau busuk.

            Juga gemulai tarianmu meronta-ronta pada kedua pelupuk mataku, yang sudah kupejamkan. Oh, cintaku (entah semangatku, amarahku, atau nafsu birahiku) selalu menarik kedua kaki ini untuk mencium tanah gersang kampungmu. Dan kegersangan itu akan semakin menjadi-jadi, dalam tatapanmu yang kini semakin gersang.

            Sebab kudengar kabar dari hantu-hantu jinak, yang dulu menghantui kita. Raut wajahku pura-pura lukiskan bahagia. Namun secangkir kopi itu pun, tak kusentuh sama sekali. Sepertinya kurang gula dan kurang pahit. Atau kurang kopi dan kurang manis.

Ah, terkutuklah batin ini! Yang menyesali melajunya waktu. Tak seharusnya aku kecewa atas kesetianmu saat ini. Tetapi mengapa tak kau lakukan itu padaku? Saat itu.

*

AKU hapal benar wangi tubuhnya. Tak mungkin terhapus dari ingatanku; saat kami bercumbu rayu di pematang sawah, angin semilir tebarkan asmara, seruling mengalun, meremas kasmaran yang terpendam. Aku terlena dalam dekapannya; dari kokok ayam hingga rembulan, yang belum puas kami tumpahkan. Saat itu, rintik-rintik hujan kecil di pematang, membasahi tubuhnya yang sudah banjir air keringat. Semilir angin syahdu bagaikan rindu-rindu yang pudar, mengiringi permainan cinta yang binal. Dekap, kudekap; kupeluk tubuh moleknya. Kuda jantan, kuda liar, tengadah kehausan.

            Kerinduan itulah yang mengantarkanku untuk menginjak lagi kampung halamannya. Tempat yang telah kutinggalkan selama lima tahun. Kampung halaman yang menjadi saksi bisu atas pernikahan kelabu. Tak ada pesta meriah. Tak ada malam pertama yang didamba. Hanya bisik-bisik tentang beban hidup yang sarat.  Bakul-bakul tua yang mesti  diangkat, kambing-kambing gemuk, kerbau-kerbau sehat, yang tak bisa dibiarkan untuk hidup dengan gelisah.

            Perceraian itu adalah keinginanku. Aku yang menandatanganinya dengan penuh kesadaran. Tak peduli isakan tangisnya. Tak kuhiraukan pelukan kasihnya yang terasa begitu tulus. Aku juga tak ingin tahu tentang apa yang akan terjadi pada dirinya. Kubiarkan saja ia melangkah, meninggalkanku.

Wi. Sebuah nama yang telah menghancurkan istana  yang telah dibangun dengan cucuran keringat dan air mata. Wi memang pendusta. Ia sangat bejat. Kemurnian kasihnya telah dikotori oleh noda hitam yang sulit untuk dihapus.

            “Maafkan aku, Kang. Aku memang bersalah. Tapi…tapi semua itu kulakukan demi kelangsungan kasih kita,” Itulah  ucapannya yang masih terngiang dalam ingatanku. Namun ucapan itu tak bisa merubah keputusanku.

            “Baiklah, Kang. Aku rela melepas kepergianmu. Namun, berilah aku kesempatan untuk menumpahkan kasih sayangku untuk terakhir kalinya…” ucap Wi sambil memeluk tubuhku. Kubiarkan jemari tangannya mengelus tubuhku. Kuikuti juga arah hatinya. Kuda liar, kuda jantan, tengadah kehausan.

            Seminggu kemudian Wi mengajakku lagi ke ladang cinta. Tentunya untuk menabur benih-benih kasih yang tiada suci lagi. Membuatku semakin terpuruk dalam beban dosa yang sangat dalam, terhempas pada jurang kenistaan.

            “Kita sudah terperosok pada kemaksiatan. Ini adalah zinah…” aku mencoba memperingatkan Wi—meski sejujurnya kuakui, bahwa aku pun ingin melakukannya lagi. Untung saja, ucapan Pak Jajat kupegang dalam lubuk hatiku. Memang Wi tidak akan tahu, bahwa pada malam harinya aku telah berkonsultasi dengan Pak Jajat, salah seorang tokoh yang dituakan di kampungnya.

            “Jika kalian tidak menghentikan perbuatan itu, maka kalian akan semakin terjerumus pada dosa yang lebih besar lagi. Dan kau tinggal menunggu waktu saja, adzab apa yang akan diberikan Tuhan atas semua itu. Mumpung belum terlambat, hentikanlah dan bertobatlah!”  itulah ucapan Pak Jajat yang membawa angin kesejukan dalam sanubariku.

            “Namun, bagaimana caranya?” tanyaku.

            “Bagaimanapun caranya, yang penting adalah…hentikan!” Pak Jajat mengakhirinya dengan penuh ketegasan.

            Wi mengerutkan keningnya sesaat. Tentunya ia merasa kaget atas perubahanku yang mendadak dan secara tiba-tiba.

            “Apakah aku tidak salah dengar?” sepertinya Wi ingin meyakinkan perkataanku.

            “Tidak. Wi. Kita memang harus menghentikannya. Kita harus menghapus semua yang telah kita jalani, sebab kita sudah bercerai,” jawabku dengan tegas.

            “Tapi, aku tetap merindukanmu, Kang. Walau suatu saat aku menikah dengan orang lain, aku ingin tetap seperti ini. Percayalah, aku hanya bisa mendapatkan kebahagiaan dari Akang,” Wi seakan memelas. Ia mulai menyandarkan lagi kepalanya pada pundakku.

“Tidak ada artinya, Wi. Semuanya telah berakhir seperti ini. Kau telah mati dalam jiwaku, sebab kaulah yang telah mematikanku,” jawabku dengan tenang.

 “Mati? Apa maksudnya, kang?” tentu saja Wi penasaran.

            “Mati, Wi. Tuhan telah menurunkan azab-Nya kepada kita. Kau harus tahu, bahwa Aku menderita penyakit yang sulit untuk  diobati. Aku telah mati, dan tak mungkin lagi bisa…”

            “Akang, apakah akang mengalami…?”

            “Mungkin tak perlu  kuucapkan.” jawabku.

Aku tak tahu dan tak ingin tahu reaksi Wi terhadap perkataanku. Yang pasti, itulah kata-kata terakhir yang terucap dari bibirku. Memang berdusta. Tapi aku begitu yakin, jika dusta itu adalah dusta yang sangat suci. Kukatakan demi menghindari perbuatan dosa yang selalu dan selalu ingin kulakukan bersamanya. Walau kuakui, betapa berat rasanya untuk menahan gejolak hasrat itu.

Lima tahun telah berlalu. Bukan waktu yang sebentar untuk menghapus nama Wi. Selama lima tahun, aku menjauh dari Wi. Kucoba untuk mencari jalan yang lurus dan merintis sebuah  kehidupan baru. Di belantara kota  tempat pengembaraanku, telah kuukir berbagai goresan kisah yang tak begitu indah. Ternyata sangat sulit untuk menemukan lagi ketulusan seorang perempuan. Semuanya semu.  Tidak seperti Wi. Ia berani mengorbankan dirinya demi kelangsungan cinta kasihnya. Meski berdosa, tapi itu tak lepas dari kekhilapannya sebagai manusia.  Sangat manusiawi. Kusadari itu.

Bayangan Wi kembali menari-nari dalam pelupuk mataku. Pancaran matanya yang penuh keteduhan. Sikapnya yang membawa kedamaian. Dan semua yang ada pada diri Wi, kembali membayangi ingatanku. Kerinduan ku semakin mengamuk. Aku rindu pada hembusan nafas wanginya. Aku pun sudah tidak peduli lagi pada sorak-sorai yang bergemuruh dalam setiap langkahku. Akan kubiarkan semuanya mengartikan sebuah tanda tanya.

*

LANGKAHKU kian cepat. Tekadku untuk kembali kepada Wi, rasanya semakin bergelora. Kusadari bahwa cintaku dan Wi adalah cinta yang tulus. Cinta yang tak bisa dilunturkan oleh cobaan yang sangat berat sekalipun. Aku yakin. Wi akan menerimaku dengan penuh kebahagiaan. Dan akan kutiti lagi jembatan rumah tangga yang baru. Masa lalu akan kukubur untuk selama-lamanya. Itu sangat  pasti.

            Aku berdiri di depan pintu rumah Pak Jajat. Maksudnya tiada lain, ingin berkonsultasi dulu dengan pak Jajat. Sebab di kampung halaman Wi, hanya Pak Jajat yang kukenal dengan baik. Pak Jajat pun bisa mengerti dan memahami jalan pikiranku. Sepanjang usia rumah tanggaku dengan Wi, Pak Jajat adalah tempatku mencurahkan segala macam problema yang menghantui jiwa.
Pak Jajat adalah tempatku mengadu dalam setiap persoalan yang kuhadapi dengan Wi.  Aku begitu yakin, Pak Jajat akan menyambut  rencanaku untuk rujuk kembali dengan Wi.
            Perlahan-lahan, kuketuk pintu rumah Pak Jajat. Tak lama kemudian, pintu pun terbuka. Tapi, tiba-tiba aku hanya bisa tertegun beberapa saat. Pak Jajat tidak ada di rumah. Tapi bukan itu masalahnya. Bukan. Bukan itu. Walaupun Pak Jajat ada di rumah, aku pasti akan mengurungkan niatku.

            Aku segera meninggalkan rumah Pak Jajat. Dan aku pun tahu kalau kepergianku diantarkan oleh pandangan mata istri Pak Jajat. Entah kapan Pak Jajat  mengakhiri masa dudanya, setelah delapan tahun yang lalu ditinggal mati istrinya. Tapi itu semua tidak penting. Yang pasti, Pak Jajat telah melangsungkan pernikahannya tanpa mengundangku. Aku paham sekali akan hal itu. Dan seharusnya aku mengucapkan ‘selamat’ pada istrinya. Sayang sekali, aku tak mampu mengatakan itu. Justru air mataku mulai bercucuran, membasahi  kedua belah pipiku.… Sebab aku hapal benar pada wangi tubuhnya. Saat bercumbu rayu di pematang sawah, angin semilir tebarkan asmara. Seruling mengalun, meremas kasmaran yang terpendam. Dari kokok ayam hingga rembulan, yang belum puas kita tumpahkan. Kuda betina, kuda liar, tengadah kehausan.***
 
Péso Pangot, 2002

Si...!

Carita Pondok M Sudama Dipawikarta

            Teu pati resep ngadéngé sora anjing téh. Boh anu ngagogog, sumawona anu babaung. Sajabana ti sieun digégél, katambah bulu punduk ogé sok rada carengkat. Mangkaning ceuk kolot ogé, lamun aya sora anjing tengah peuting téh, mangrupa hiji totondén anu kurang hadé. Lamun taya patula-patalina jeung urusan ririwa, moal pati jauh hubunganana jeung jalma jahat. Tapi aya ku édasna jalma téh, bet ku aya waé anu pirajeunan ngukutna. Padahal naon araheunana atuh. Keur kuring sorangan mah, da euweuh anu dipikatineung tina sato anu ngaranana anjing téh. Dagingna teu beuki. Rupana geuleuh-geuleuh acan. Pon kitu deui kana sorana mah teu kudu dicaturkeun deui.

            Anjing Sarkowi anu pikasebeleun pisan mah. Enya maksud téh, anjing kukutan Mang Sarkowi. Keur goréng dodongésna téh, katambah tukang ngagogog lain wayah, lain mangsa. Kurang-kurangna mah matak ngarawingkeun daun ceuli. Leuheung éta téh mun sok dicangcang. Da ieu mah carék ning dikencarkeun téh, da mani sangeunahna pisan atuh. Poé mangkukna ogé, Si Among diudag-udag nepi ka méhméhan rék digégél, geus sagewewek-gewewekeun. Lamun teu kaburu diténggor ku Jang Iyus mah, teuing kumaha tah nasib Si Among téh.

            Moal béda jeung anjing RT pikasebeleunna mah. Sangkilang boga dunungan kasebutna RT. Tapi kana pulang-paling téh geus jadi pagawéanna sapopoé. Geus karuhan ari kana dahareun mah, teu kudu dicaritakeun deui. Ieu mah nurustunjungna téh nepi ka sendal kulit Mang Lurah ogé, da digodod atuh. Teuing dihakan, teuing dikumahakeun ku anjing RT téh. Piraku sugan ari digadékeun mah. Karunya pisan Mang Lurah, nepi ka kokotéténgan néangan sendal. Hanas geus riweuh ngaduduh Si Buruy. Bubuhan di lembur Cigorowék mah geus rada katelah, euweuh deui tukang nyumputkeun sendal mah kajaba Si Buruy. Malah béjana sok tuluy diarah tur dijualan. Kitu atuda ari geus sakali nyieun codéka téh. Sanajan Si Buruy geus pangsiun tina pagawéan nyumputkeun sendal, tapi palebah aya kajadian anu sarupa mah, angger baé moal teu kasabit deui. Cacakan lamun Si Ukro teu manggihan anjing RT keur ngagigiwing sendal mah, moal henteu Si Buruy bakal keuna ku fitnah. Apan geus pidorakaeun wungkul éta téh. Anjing RT.

            
Fotograper: Turi Syahdarina


Rajeun aya anjing anu tara pati ngagogog, hanjakal pisan kalakuanna mah ku angger matak ngajangarkeun uteuk.  Pangpangna mah keur anu kabeneran boga kebon. Atuda kalakuan anjing Nundut mah, geus katelah tukang ngaranjah kebon batur. Nepi ka Haji Suha mah susumpahan sagala, nepi ka rup ku padung, rap ku lemah ogé, moal weléh panasaran satungtung can ngabanting anjing Nundut. Puguh baé ninggang ka Si Nundut anu jalmana teu kaopan, geus matak pipaséaeun deui baé. Tungtungna mah Bi Haji Suha paséa rongkah jeung Bi Iwah.  Apan cukang lantaranna mah anjing Nundut-anjing Nundut kénéh. Bi Haji Suha ngontrog imah Mang Nundut, basa kebon suukna digaley ku anjing Nundut. Kasampak di imahna téh, Bi Iwah, pamajikanna Mang Nundut téa,  keur mirun seuneu di hawu. Puguh baé Bi Haji téh nasteung ka Bi Iwah. Der baé paséa, paréa-réa omong. Pokona mah lembur Cigorowék téh kasebut rada geunjleung.

            “Kang, aya nu keketrok...” Nyi Iseu ngaharéwos. Biwirna méh antel kana daun ceuli. Puguh baé ngaranjugna mah. Engapan ogé rada ditahan heula. Hayang leuwih ngécéskeun kana sora di luar. Anjing beuki ragég.  Ku kira-kira jumlah anjing téh aya kana sapuluhna. Nu apal kana sorana téh diantarana  anjing RT, anjing Sarkowi, anjing Ojo, jeung anjing Unéd. Teu pati wawuh kana sora anjing séjénna mah. Komo deui anjing anu babaung mah, asa anjing anyar sigana téh.

            “Kang...” sora Nyi Iseu rada ngeleper. Katara paromanna mani pias konéas. Gedug jajantungna ogé, karasa ngagancangan, bubuhan tatadi mula ogé awakna rapet pisan jeung kuring. Késang badag, késang lembut mani rarenung maseuhan sakujur awakna.

            “Buka anjing...!” enyaan. Lain keketrok deui éta mah, sidik pisan anu gegedor kana panto. Nyi Iseu beuki ngeleper. Leungeunna ngarongkong simbut anu patulayah na tunjangeun, dipaké nutupan awakna anu bulucun. Satuluyna Nyi Iseu ngahéphép na ranjang beulah juru.

            “Anjing, buka...!” sora anu hohoak téh lain teu kadéngé. Tapi mémang geus asa tungkeb bumi alam. Poék. Teu hayang mikiran, sabab geus moal kapikiran. Teu manggih pipataeun, pikeun nyanghareupanana. Pangpangna mah kacida wanohna kana éta sora anu hohoak téh. Si Kardun. Enya, moal salah, Si Kardun. Tapi anu matak teu kaharti téh, apan écés pisan basa kamari Si Kardun indit nyaba ka kota. Sasarina paling sakeudeung ogé mulangna téh saminggu sakali. Apal pisan. Da puguh lain sakali dua kali...

            “Wang dobrak baé ku saréréa!” geuning lain Si Kardun wungkul di luar téh. Sora jalma mani kacida sahéngna. Aya sora Mang RT, sora Mang Nundut, sora Mang Sarkowi, jeung sora-sora séjénna. Teu pamohalan, upama jalma di luareun imah téh sakabéh pangeusi Cigorowék.

            “Hayu atuh, wang dobrak! Tuman anjing téh!”

            “Entong! Duruk baé sakalian imahna. Sina malodar wéh sakalian! Anjing téh!”

            “Nyaah, Mang.”

            “Nyaah nanahaon. Ceuk aing duruk, duruk! Imah, imah aing ieuh!”

            Nyi Iseu geus ngalempréh kapaéhan. Seuneu beuki ngabebela. Sora anjing beuki ragég. Sora jalma tingceuleuweung patémbalan. Anu hohoak mah beuki ngalaunan. Kaganti ku hiji sora lalaki anu ceurik ngagukguk. Aya ogé anu kadéngéna ngabeberah. Tapi lila-lila mah kabéhanana ogé kasilep ku sora anu ngocéak matak pikaketireun. Deukeut pisan jeung ceuli kuring.

            “Ampun Gusti...na kawas sato baé!” najan hawar-hawar. Tapi masih kénéh kareungeu ku dua ceuli kuring. Sora Mama Haji Iking.


***

Cipadung, 2002

Lain Dongéng

Carita Pondok DHIPA GALUH PURBA


            MÉMANG ukur impian. Najan kasebutna ahéng ogé, da geus ilahar ieuh. Pamohalan disebut anéh tapi nyata, da sidik anéh tapi teu nyata.  Kilang kitu, ari keur Among mah, éta impian téh dianggap hiji hal anu ngandung harti séjén. Katara tina sikepna ogé. Sasarina mah, upama Among kakara hudang saré téh, sok tuluy gura-giru ka kamar mandi. Ari harita, kalah ngahuleng di sisi ranjang. Teu waka cengkat. Kalah ngaleupaskeun paneuteupna ka lebah jandéla. Teuteupan kosong. Sari-sari anu keur  ngimpleng atawa nginget-nginget deui lalampahan di hiji alam anu kakara réngsé disorang. Dibawa ider-ideran ku hiji tokoh anu mindeng jadi bahan catur tukang ngadongéng; Nyi Roro Kidul. Ceuk saha baé Nyi Roro Kidul ukur aya dina dongéng. Kabuktian pisan, Nyi Roro Kidul ogé geuning bisa hirup dina dunya impian. Antara dongéng jeung impian, tangtu baé kalintang bédana. Ku sabab ari dongéng mah bisa diréka-réka ku jalma. Tapi urusan ngimpi mah nepi ka kiwari ogé asa can kungsi kabéjakeun aya jalma anu bisa nyusun scenario-na. Dina ayana ogé merelukeun prosés anu ceuk Jin Jikka mah Terlalu rumit Tuk diterangkan. Cacak lamun aya nu boga pangaweruh saperti kitu, kawasna bakal loba jalma anu sayagi ngaluarkeun waragad, dina raraga pesen carita hadé keur ngimpi. Malah moal boa, réntal VCD ogé bakal éléh payu ku ‘réntal film' keur ngimpi.

Sakali deui, ieu mah lain dongéng. Tapi ngimpi Among sapeuting jeput. Panggih jeung Nyi Roro Kidul di sisi laut kidul.. Tuluy wawanohan. Malah harita kénéh ogé, Among langsung diajak ngalalanglang satungkebing jagat.  Anjog  ka hiji tempat anu ceuk Nyi Roro Kidul mah nagri Cina. Harita diidek pisan ku dua suku Among. Moal boa, asa enya jeung asa nyata. Sabab ngitung ramo leungeun ogé, tetep baé kabéhna aya sapuluh. Ditambahkeun deui jeung ramo suku, angger jumlahna teu robah, duapuluh. Antukna Among teu ngarasa cangcaya deui kana lalakon anu keur disorangna. Ti dinya, manéhna ngaleupaskeun paneuteupna. Teu écés, tapi samar-samar aya anu gugupay ti peuntaseun walungan. Najan ukur katara dedeganana, tapi Among wanoh pisan ka éta wanoja. Yun Lié. Pamohalan nepi ka salah téténjoan. Ku sabab Yun Lié téh sasatna jadi kembang pupujaning ati, geusan panyileukan beurang peuting, paragi neundeun harepan éndah dina carita asmara saban mangsa.

“Yun Lié …!” méh sataker kebek, Among ngageroan manéhna. Sorana handaruan. Abong impian, ngan sakilat Among luncat ka peuntaseun. Enya,  walungan Yangtze. Tapi teuing ka mana ngilesna, da Yun Lié geus taya di tempatna. Ukur karasa aya angin ngahiliwir anu nebak embun-embunan. Rét kana cai anu ngamalir di walungan. Katingali, panjangna ngembat nepi ka satungtung deuleu. Dina impian ogé, Walungan Yangtze téh tetep minangka walungan ka-opat pangpanjangna saalam dunya.

“Na apal ti mana, maké jeung nyaho ka-opat pangpanjangna saalam dunya?” Nyi Roro Kidul geus nangtung tukangeun Among. Puguh baé, Among rada ngaranjug.

“Apal baé, da diajarkeun di sakolaan. Kahijina Walungan Nil di Afrika, kadua Amazon, katiluna Missisipi,”

“Na panjang mana kitu, jeung Walungan Bahan Dongéng?”

“Ké, ké, asa karék ngadéngé…” sakedapan mah Among kalah kurang-kerung.

“Katingali tara macana téh. Bisi can apal, sumber dongéng di Lautan Kisah Agung téh, lain baé ti mata cai dongéng. Tapi lolobana mah sumberna ti Walungan Bahan Dongéng. Panjangna moal kataékan tuk diukur. Sabab unggal nagara di alam dunya, pasti kaliwatan ku Walungan Bahan Dongéng. Malah perkara éta pisan, anu ngalantarankeun di Lautan Kisah Agung, nyampak sagala rupa carita ti unggal nagara,” ceuk Nyi Roro Kidul.

“Kélanan, naha ujug-ujug kana carita Harun Dan Lautan Dongéng?”

“Ayeuna mah geus lain Harun dan lautan dongéng. Tapi Among dan lautan ngimpi!”

“Ah asa cangcaya kénéh kuring mah. Piraku kuring bisa nyambung jeung lautan dongéng?” Among mimiti baluweng deui.

“Na maké jeung teu percaya sagala rupa? Hayu ayeuna kénéh wang indit ka Nagara Kahani!”

“Numpak naon?”

“Biasa, ngapung,”

“Embung, ah,”

“Na kunaon?”

“Sieun saukur ngimpi. Sabab lamun ngimpi ngapung, éta téh alamat moal panjang umur,”

Saméméh Nyi Roro Kidul ngawalon, teuing ti mana datangna, aya hiji mahluk anu dedeganna mahiwal. Ngabedega di hareupeun maranéhna. Malah Nyi Roro Kidul ogé ngarénjag, semu anu reuwas naker. Ari Among mah, ukur molohok mata simeuteun, bari panonna teu leupas neuteup kana tangtungan éta mahluk. Awakna teu pati badag, tapi rupana matak hémeng anu ningali. Mata cureuleuk, bréwos minuhan buleudan beungeutna, beuteung bucitreuk, suku leuwih pondok batan leungeun.

“Kumaha ieu téh, kalah abur-aburan teu puguh? Itu aya langganan anu butuheun carita Nyi Roro Kidul!” kitu pokna éta mahluk, semu ngagelendeng.

“Ah, bété atuda cicing baé mah. Sakali-kali hayang ngurilingan dunya,” témbal Nyi Roro Kidul.

“Hayoh wang balik ayeuna!”

“Heug. Asal jeung jalma ieu…” pokna bari ngarérét ka Among.

“Saha éta téh?”

“Lain sasaha. Tapi manéhna teu percayaeun ka lautan dongéng,”

“Étah-étah, naha maké jeung cangcaya sagala? Yeuh, apan kuring téh anu katelah Jin Cai téa. Ngaran kuring Lamun. Sakali deui; Lamun! Kapiadina Jin Cai Jikka,”

“Lamun? Ké, ké…Jin Cai…” Among teu kebat, sabab kaburu aya nu némpas ti beulah luhur.

“Namung, namung, namung silaing masih kénéh cangcaya nya?” kitu pokna. Puguh baé Among ngarénjag. Sabab anu nyarita téh bet bisa ngabadé gerentes haténa. Rét ka luhur, bréh katingali aya hiji manuk mesin anu awakna rubak.

“Enya bener, apan kuring téh barayana manuk Tappi. Ngaran kuring mah Namung téa.” Pokna manuk, kalayan pamatukna mah teu  katingali engap. Puguh baé, Among beuki hémeng. Sabab manéhna hayang nanya sarupa kitu. Antukna Among ngarasa yakin, anu keur disanghareupan ku manéhna téh taya lian para pangeusi Lautan Dongéng.

“Sok buru atuh geura naraék!” Manuk Namung ngagorowok. Tapi angger ari pamatukna mah teu engap.

Teu talangké deui, Jin Lamun, Nyi Roro Kidul, katut Among, naraék kana tonggong Manuk Namung. Ukur sakédét nétra, Manuk Namung hiber.


*
           
“Ké, ké, ari itu dongéng naon?”

            “Apan lalampahan silaing, sababaraha tahun kaliwat, basa ditampik sapajodogan ku Néng Lina, budak Lurah Ukar. Ngaran kampungna Simpar…”

            “Geus, heup! Heup! Teu kudu dituluykeun deui. Da éta mah masa lalu ieuh. Tapi naha bet asup kana Lautan Dongéng ieu téh?”

            “Pokona mah sakabéh carita ogé, di Lautan Dongéng mah pasti nyampak. Apan saluran wahanganna ogé ngaliwatan ka unggal wewengkon di ieu alam dunya, kalayan maké proses Terlalu Rumit Tuk Diterangkan téa,”

            “Naha ieu téh, bet ngadadak sararedih?”

            “Apan di beulah dieu mah, husus dongéng tragédi anggeus-anggeusan,”

            “Ari itu saha, naha siga Yun Lié keur ceurik?”

“Lain, lain Yun Lié. Tapi batur salemburna Yun Lié. Éta téh carita ngeunaan Qin Hua Rizun Nanjing datusha tuji.”

“Ari itu?”

The Rape of Nanking,”

“Tuh, lamun itu mah moal salah deui, pasti Yun Lié …!”

“Mémang enya…”

“Naon judulna?”

“Tragedi  Bulan Méi 98…”

“Ké, ké, ari itu?”

“Carita anu méh sarupa, tapi waktu jeung tempatna béda. Nu hiji mah kaganggasan Hitler ka warga katurunan Yahudi di Jerman. Nu hiji deui, kaganggasan urang Serbia ka wanoja-wanoja di Bosnia Herzegovina,”

*

Foto: Turi Syahdarina


            Rét deui kana surat anu tacan lésot tina leungeunna. Tapi teuteupna semu anu angkeub. Gap, kana Handphone anu tatadi mula aya di luhur méja. Tuluy mencétan tombolna rada lila. Nepi ka dina layar monitor aya tulisan anu unina "Sabaraha taun murangkalih téh?". Geus kitu, jempolna mencét tombol yes. Bréh aya tulisan send. Kecap-kecapna geus dikirimkeun ka Yun Lié  ngaliwatan SMS.

            Kurang leuwih tilu menit ti harita, Handphone Among disada. Puguh baé ngan sakilat, Among mencét tombol yes. Horéng Yun Lié ogé langsung ngabalesan. Bréh dina layar Handphone aya tulisan, anu unina ‘Kantun étang ku Akang. Lahirna ping 13 Pebuari 1999.’ Teuing kumaha, Among ngalempréh kana panyarandéan. Reup panonna peureum. Pikiranna ngalayang deui kana impian anu kasorang sapeuting jeput.

            Sawangan Among beuki manjangan. Nepi ka bras deui ka Lautan Dongéng, luhureun cai dongéng tragédi. Bréh, aya Yun Lié anu keur inghak-inghakan.

            “Yun Lié, kuring bogoh ka anjeun, ibarat kecap anu teu kungsi kakedalkeun suluh ka  seuneu, anu ngalantarankeun jadi lebu…” gerentes Among. Tapi ukur sakédét nétra, karasa aya nu ngajiwir ceulina. Among muringis bari ngalieuk ka gigireun. Kasampak Jin Cai Lamun, rada molotot ka manéhna.

            “Nanaonan ieu téh, maké jeung ngajéwér ceuli sagala?”

            “Teu meunang sangeunahna kitu, ngarebut hak cipta batur!” témbal Lamun.

            “Hak cipta kumaha?”

            “Tong api-api lah. Bieu pisan silaing nyundakeun puisi Sapardi Djoko Damono. Teu meunang éta téh, sabab ngalanggar undang-undang hak cipta. Kajaba lamun meunang idin ti nu ngarangna. Atawa sakurang-kurangna ogé nyebutkeun sumberna. Ilikan geura Undang-Undang No.19 taun 2002, pangpangna pasal 12. Di dinya disebutkeun mun yén hak cipta anu ditangtayungan ku undang-undang téh, nyaéta widang ilmu pengetahuan, seni, jeung sastra,”

            “Ké, ké, na puisi Sapardi ogé kadata?”

            “Itu geura. Di Lautan Dongéng mah sagala carita ogé nyampak. Rék Sapardi Djoko, rék Pramudia Ananta Toer, rék Remi Silado, rék Ajip Rosidi, Acép Zamzam, Soni, …”

            “Ari karya-karya Godi Suwarna, aya di dieu?”

            “Aya pisan. Tuh beulah kidul. Husus cai carita Sunda. Malah lain Godi wungkul. Kaasup Dédén, Dadan, Didin, pokona mah kumplit,”

            “Pasti Dhipa ogé aya, nya?”

            “Acan éta mah. Goréng kénéh karyana,”

            “Mémang sih. Kuring ogé teu pati resep. Komo ka jalmana mah,”

            “Sarua…” Teu kebat, sabab Handphone kaburu disada deui. Sawanganna buyar. Saméméh leungeunna ngarongkong Handphone, Among ngusap heula beungeutna. Yun Lié ngirim deui SMS. Eusina ukur sakecap; "Kumaha? :)".

Sakedapan mah ngahuleng deui baé. Kawasna téh keur mikir-mikir pijawabeunanna. Tapi kalah nyawang deui Lautan Dongéng. Nepi ka "amprok" ka sakitu kalina  jeung Jin Cai Lamun. Sarua di tempat cai tragédi, tapi béda pisan jeung anu saméméhna.

            “Mémang rada béda di dieu mah. Sabab ieu mah carita tragédi anu aya patula-patalina jeung adat,”

            “Siti Nurbaya?”

            “Enya bener, éta ogé kaasup,”

            “Ké, ké, ari itu siga Yun Lié deui baé. Tapi naha sukuna ditalian?”

            “Da kitu caritana. Lain Yun Lié, tapi sasélér jeung Yun Lié. Jaman baheula, wanoja anu sasélér jeung Yun Lié mémang kasiksa pisan ku perkara adat. Sajabana suku ditalian téh, aya nu leuwih ngenes deui,”

            “Naon?”

            “Upama rék kawin, daék teu daék kudu ngabuktikeun kasucianana ka calon…”

            “Salakina?”

            “Lain. Ka calon mitohana…”

            “Beu…”

            “Teu kudu nyebut ‘beu’, da silaing ogé leuwih ganggas, pan?! mending kénéh ngaku lah! Sok baé balakakeun ka Yun Lié, da moal nanaon ieuh…”

Nyel téh, Among ngadadak ambek. Amarah ngabebela, minuhan dadana. Ukur sakilat, leungeunna ngajenggut janggot Jin Lamun. Tuluy diangkat, sarta dibalangkeun satakerna.

            Pré…! Among reuwas, Nyéh beunta. Kasampak Handphone geus paburantak dina téhel. *** (Kainspirasian  ku  Carita Seribu Satu+Semalam, karangan Salman Rushdie).

Ranggon Panyileukan, 1423 H