Rabu, 29 Januari 2020

Dari Galuh Menjadi Ciamis

Kampung Kuta, Ciamis



Kabupaten Ciamis adalah sebuah  wilayah priangan yang terletak di bagian timur. Ciamis ber­batasan dengan Kabupaten Kuningan  dan Kabu­paten Majalengka di sebelah utara. Sementara di bagian timurnya berbatasan dengan Ka­bupaten Cilacap (Propinsi Jawa Te­ngah), dan berbatasan dengan Kabupaten Tasikmalaya  di sebelah ba­rat, serta berbatasan dengan Samudera Hindia atau Laut Kidul di sebelah sela­tan.

Luas wilayah Ciamis kira-kira 255.910 ha, yang terdiri dari da­taran tinggi, pegu­nungan (Gunung Syawal, Gunung Cakrabuana), dan sedikit da­ta­ran rendah di daerah pesisir timur. Berpenduduk 1.460.020 ji­wa pada tahun 1992. Administrasi pemerintahan terbagi atas sa­­tu kota administratif (Banjar), 7 kewadanan, 32 kecamatan, 358 desa, dan 7 kelurahan.

Ciamis memiliki se­jarah yang panjang di­mu­lai dari Kera­jaan Galuh yang keberadaannya dike­tahui sejak abad ke-7. Dalam cerita legenda, lahirnya Ciamis bahkan dimulai dari keberadaan Bojong Galuh yang muncul sesudah banjir besar dunia pada za­man Nabi Nuh.

Bukti bahwa Ciamis memiliki sejarah yang pan­­jang, ditandai oleh situs-situs peninggalan sejarah yang cukup banyak dan memiliki ciri masa kuna, seperti situs-si­tus: Bojong Galuh, Kawali,  Panjalu, Gunung Padang, dan lain-lain.

Pada awal abad ke-17, status Ciamis berubah dari kerajaan menjadi kabupaten seiring dengan masuknya kekuasaan Mata­ram. Namanya adalah Kabupaten Galuh. Pada tahun 1916, nama kabupaten Galuh diubah menjadi Ciamis atas pra­karsa Bupati R.T.A. Sastrawinata (1914-1935).

Luas wi­layah dan ibukota Kabupaten Galuh mengalami beberapa kali pe­r­ubahan termasuk jumlah distriknya. Pernah ada beberapa ka­bupaten di wilayah Galuh itu, walaupun tak sezaman, yaitu Ka­wasén, Utama, Kertabumi, Gara Tengah, Imba­nagara, dan Ciamis.

Pada tahun 1922, Kabupaten Ciamis hanya memiliki 4 distrik, yai­tu distrik-distrik: Ciamis, Kawali, Rancah, dan Panjalu. Sedangkan distrik-distrik Banjar, Pangandaran, dan Cijulang yang sekarang menjadi bagian daerah Kabupaten Ciamis. Waktu itu masuk daerah Kabupaten Tasikmalaya.

Dulu Ciamis meru­pa­kan penghasil kelapa dan minyak kelapa yang besar. Pangan­da­ran dengan pesisirnya menjadi obyek wisata popu­ler. Bagian tenggara daerah Ciamis ini yang berbatasan dengan daerah Cilacap dan sampai ke daerah pesisir merupakan daerah rawa cu­kup luas sejak dulu yang dinamai Rawalakbok.

Sebagian dae­rah rawa ini sejak pertengahan abad ke-19 dijadikan tanah pe­sa­wahan. Menurut kepercayaan penduduk setempat, daerah ra­wa ini dihuni oleh mahluk halus yang disebut Onom. Maka terkenalah daerah Rawa Onom. Berbagai versi cerita Rawa Onom menyebar di masyarakat.

Pada be­be­rapa dekade terakhir daerah rawa ini men­jadi langganan ben­cana banjir pada musim hujan. Hal itu dikibatkan erosi yang telah ber­lang­sung lama yang berdampak mendangkalnya air laut di muara Su­ngai Citanduy.***(didukung sumber dari Ensiklopedi Sunda, Pustaka Jaya, 2000)


Comments
0 Comments

0 komentar: