Sabtu, 02 Juni 2018

Surat dari Cigorowek



Oleh DHIPA GALUH PURBA


KAWANKU adalah seorang penulis amatir yang tinggal nun jauh di kampung halaman, Cigorowek tercinta. Beliau sangat rajin mengirim surat. Hampir setiap jam, beliau mengabarkan perkembangan terakhir di Cigorowek melalui surat elektronik alias e-mail. Belakangan ini, kawanku banyak mengirim kabar tentang kasus pencurian. Seperti yang terjadi pada keluarga Aki Ukro. Malam Rabu kemarin, katanya, rumah Aki Ukro disatroni maling. Begitu santainya maling itu, karena Aki Ukro dan Nini Emeh beserta anak cucunya sedang tidur nyenyak. Kabarnya Aki Ukro bermimpi menikah lagi dengan Nini Uti, pacar lamanya, sekaligus cinta pertamanya saat mereka masih mengenyam pendidikan di Sekolah Rakjat (SR). Kawanku, dalam suratnya, sempat mengkritik Aki Ukro yang bermimpi terlalu romantis dan terkesan mengada-ada. 


Kembali ke masalah pencurian. Menurut hasil penyelidikan Hansip Baron di Tempat Kejadian Perkara (TKP), para maling berjumlah empat orang. Duhaan tersebut berdasarkan jejak kartu remi yang berserakan di atas meja. Mereka, para maling itu, sempat makan malam dulu, main kartu remi, dan nonton siaran tunda antara Timnas Indonesia melawan Bahrain yang akhirnya dimenangkan Timnas Indonesia dengan skor 2-1. Bahkan

Adapun barang yang disikat oleh para maling adalah televisi berwarna 20 inch. Itu pun tidak diambil semua, karena diperkirakan para pencuri merasa kasihan pada Aki Ukro. Televisi 20 inch tersebut, hanya diambil 18 inch saja. Jadi, sampai hari ini Aki Ukro masih memiliki televisi 2 inch, sisa para maling. “Lumayan, daripada kagak punya,” begitu kata Aki Ukro, ketika diwawancara oleh seorang wartawan, teman kakaknya tetangga saudaranya kawanku.

Namun yang lebih mengherankan, kasus maling yang menimpa Bah Dinta, dukun ternama di Cigorowek.  Kabarnya Hansip Baron harus dirawat oleh Mantri Cahyo, karena stress. Pasalnya para maling yang menggerayangi rumah Bah Dinta, tidak mengambil barang apa-apa. Para maling hanya ngoprek dan mengutak-atik televisi Bah Dinta hampir sepanjang malam. Dan ketika keesokan harinya Bah Dinta mau nonton tivi, tiba-tiba gambarnya jadi terbalik. Kasihan sekali, sampai hari ini Bah Dinta sekeluarga harus nonton tivi sambil nonggeng (menungging), atau dalam posisi kepala di bawah, kaki di atas.

Surat terakhir dari kawanku mengabarkan bahwa dia sendiri yang ketiban sial. Katanya ia kehilangan motor barunya, yang baru saja dicicil satu kali. Memang salahnya sendiri, pulang apel dari Neng Lina terlalu malam. Padahal semestinya kawanku langsung pulang saja, lantaran Neng Lina pun tidak ada di rumah. Katanya sih Neng Lina sedang nonton longser sama calon tunangannya.

Namun dasar kawanku, sudah jelas situasinya seperti itu, malah mengadakan PDKT sama neneknya, semacam kandidat gubernur yang mencari dukungan. Kawanku beranggapan, bahwa orang teraniaya itu pasti akan mendapat banyak dukungan. Sayang sekali, bukannya dukungan yang didapat, malah buntungan… eh, maksudku: daripada untung, malah buntung.

Ketika kawanku sedang dalam perjalanan pulang, di tengah jalan dicegat oleh seorang perempuan (jelasnya bukan dicegat, tapi kawanku yang agak gumasep mendadak nginjak rem saat melihat wanita seksi berjalan sendiri). Selain seksi, cantik lagi, katanya. (Ya jelas, namanya perempuan pasti cantik). Sebut saja namanya Neng Cici. Menurut kawanku, Neng Cici mau numpang sampai ke ‘perempatan tiga’ Ranca Katel. Karuan saja kawanku sangat bersedia. Apalagi Neng Cici duduknya begitu merapat, sehingga sampai sekarang pun punggung kawanku agak kentob, di dua tempat yang hampir sejajar.

“Stoop… stooop dulu…!” tiba-tiba Neng Cici berteriak, tepat di depan pintu makam.

“Ada apa?” begitu tanya kawanku, sambil menginjak rem. Motor berhenti.

“Aku ketinggalan dompet,” kata Neng Cici. Kedua tangannya merogoh semua saku baju dan celana jeans-nya.

“Ya sudah, ayo kita balik lagi,” kawanku memang cerdas. Sangat cerdas. Kalau memang ketinggalan, tinggal balik lagi, lalu diambil. Beres kan!

“Bapakku suka marah, kalau aku bareng sama cowok,”

“Terus gimana?”

“Bagaimana kalau kupinjam dulu motornya sebentar. Akang tunggu dulu di sini, sebentar aja,” Neng Cici mulai menebar ilmunya. Sebenarnya modus operandi seperti ini sangat klasik dan mudah ditebak. Namun karena kawanku terlalu cerdas, beliau tidak menaruh curiga apa-apa. Dalam pikirannya: kalau memang Bapaknya tidak suka melihat Neng Cici bawa laki-laki, ya tinggal suruh sendirian aja, biar dia nunggu saja. Beres kan.

Ketika Neng Cici sudah men-start motor, bahkan sudah maju beberapa meter, tiba-tiba kawanku berteriak memanggil Neng Cici.

“Hai, tunggu!”

Tentu saja Neng Cici kaget, wajahnya tampak pucat pasi. Neng Cici mengira jika kawanku sudah bisa menduga maksud jahatnya. Meski demikian, Neng Cici berusaha untuk tetap tenang.

“Kamu pasti kedinginan. Nih… pake  jaketku, biar tidak masuk angin…” begitu kata kawanku sambil melepaskan jaketnya, seraya memberikannya kepada Neng Cici. Tentu saja Neng Cici bernafas lega. Setelah mengucapkan terimakasih, Neng Cici segera menarik gas motor, lalu meninggalkan kawanku, dan tidak pernah kembali lagi. Mungkin yang lebih tepat: tidak akan pernah kembali lagi.

Dalam beberapa hal, kawanku memang cerdas. Namun jika beliau sudah dihadapkan dengan sesuatu hal yang berbau perempuan, maka kecerdasannya bisa berpindah pada lawannya. Betapa tidak, jaket yang diberikan kepada Neng Cici itu berisi uang, STNK motor, surat cinta untuk Neng Lina, rokok sebungkus plus korek api, dan  isim pelet sakti pemberian Bah Dinta.

Wahai kawan, aku turut bela sungkawa atas musibah yang menimpamu.***


Ranggon Panyileukan, 2007

Comments
0 Comments

0 komentar: