Rabu, 29 Januari 2020

Berburu di Belantara Ilmu




Oleh DHIPA GALUH PURBA

TIDAK perlu memaksakan diri pergi ke Negeri China untuk menunutut ilmu. Terlebih lagi kalau tidak punya buat ongkosnya. Sebab, orang China sendiri yang berbondong-bondong datang ke tanah air, dan kemudian banyak yang akhirnya memilih menjadi Warga Negara Indonesia (WNI). Tentu, ada banyak hal menarik di bumi Indonesia, yang membuat mereka “jatuh cinta” kepada tanah air tercinta ini. Harta, tahta, atau wanita, kemungkinan bukan daya tarik utama. Sebagai keturunan negeri yang direkomendasikan Arab menjadi lautan ilmu, maka penghuninya pun tentu didominasi oleh orang-orang yang haus akan ilmu. Berarti, mereka memandang Indonesia sebagai belantara ilmu yang harus diburu berpacu dengan waktu.

Ada banyak hal yang perlu dibaca di Negeri Indonesia. Khususnya di tatar Sunda, nenek moyang tidak terlalu berambisi mewariskan barang-barang pusaka atau bangunan megah. Para leluhur Sunda lebih banyak mewariskan untaian kata-kata melaui aksara, yang kemudian disebut dengan nama naskah Sunda kuna dan prasasti. Naskah Sunda tertua adalah Sanghyang Siksakandang Karesian (1518 M). Naskah-naskah lainnya ada Bujangga Manik, Ramayana, Carita Parahiyangan, Amanat Galunggung, Sewaka Darma, Sanghiayang Ragadewata, Dharmajati, dsb. Sedangkan prasasti yang telah ditemukan diantaranya Juru Pangambat, Nyalindung, Batutulis (Bogor), Sanghiyang Tapak, Pasir Datar (Sukabumi), Cikapundung (Bandung), Cikajang (Garut), Geger Hanjuang (Tasikmalaya), Kawali, Galuh, Mandiwuna. Sadapaingan (Ciamais), Huludayeuh (Cirebon) Kebantenan (Bekasi), dsb.

Selain memiliki bahasa Sunda, nenek moyang Sunda pun berhasil menciptakan huruf tersendiri: huruf Sunda Kuno. Menurut catatan sejarah, sebelum abad 19 sampai sekarang di tatar Sunda menggunakan huruf latin, ada beberapa huruf yang pernah dipakai, seperti Pallawa, Pranagari, Jawa (cacarakan), Arab (Pegon), dan tentunya huruf Sunda kuno yang jelas merupakan hasil karya leluhur Sunda.

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka pada tahun 2008 huruf Sunda pun telah resmi diakui oleh unicode. Ini adalah hasil kerja keras Dadan Sutisna dan kawan-kawan yang tergabung dalam “Tim Unicode Aksara Sunda”, dibawah koordinasi Balai Pengembangan Bahasa Daerah (BPBD) Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Barat

Sekedar catatan, Unicode Consortium adalah sebuah lembaga independen yang berdiri pada tahun 1991. Lembaga tersebut dirintis oleh perusahaan-perusahaan komputer ternama di dunia, seperti Apple Computer, Microsoft, IBM, Xerox, HewletPackard Adobe Inc, dsb. Lembaga inilah yang selanjutnya membuat standar encoding character set dalam sistem komputer, yang bisa menampilkan berbagai jenis huruf dalam komputer.

Dengan resminya huruf Sunda masuk dalam unicode, berarti huruf Sunda sudah sejajar dengan huruf lainnya di Indonésia yang sudah lebih dulu diakui unicode, seperti huruf Bali, Bugis, Rejang, dsb. Hal-hal semacam inilah yang menjadi penyumbang bagi khazanah kekayaan budaya Indonesia. Maka dalam revisi keempat UUD 1945, dipaparkan bahwa negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah-tengah peradaban dunia dan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya (Pasal 32, ayat 2).

Tentu tidak cukup hanya sekedar diakui unicode. Langkah selanjutnya yang lebih penting adalah realisasinya dalam kehidupan nyata di zaman sekarang. Memang beberapa nama-nama jalan di Jawa Barat telah menggunakan huruf Sunda (disamping huruf latin), tetapi para sineas sinematografi Sunda belum terketuk hatinya untuk merasa bangga dengan huruf miliknya sendiri. Coba perhatikan film-film Jepang, China, Korea, atau India. Selain huruf latin, mereka tetap bangga dan sangat percaya diri menghiasai film-film mereka dengan huruf Hiragana, Katakana, Kanji, Hangul, dsb.

Tradisi menulis dan membaca sudah tertanam sejak zaman baheula, yang kemudian diwariskan dari generasi ke generasi. Sudah sepantasnya jika disebutkan bahwa nenek moyang Sunda gemar membaca, para leluhur perintis buku. Berburu ilmu salahsatunya bisa melalui buku. Kenapa harus berilmu? Sebab, pada sisi tertentu, kualitas manusa sangat ditentukan oleh ilmu yang dimilikinya. Ilmu dapat menjadikan seorang manusia lebih mulia dari yang lainnya. Dengan ilmu, seseorang bisa memiliki iman, taqwa, dan pandai bersyukur. Singkatnya, kedudukan ilmu sangat tinggi. Dan ilmu bukan merupakan hasil manusia secara otonom, sebab dalam proses perburuannya ada keterlibatan Yang Maha Kuasa. Akal menjadi semacam jendela atau pintu untuk masuknya ilmu, seperti halnya juga hati yang menjadi penerima pancaran Illahi. Dengan membaca, berarti telah berupaya untuk membuka jendela atau pintu manusia dalam proses transper ilmu. Sebab dunia ilmu bukanlah dunia berbicara, melainkan dunia membaca. Jadi, bacalah buku untuk berburu ilmu.

Buku tetap menjadi bacaan yang praktis dan aman, untuk sekarang, sepuluh tahun kedepan, duapuluh tahun, dan mungkin puluhan atau ratusan tahun lagi. Perkembangan website yang begitu marak, tidak akan mampu mematikan peran buku. Memang banyak para pengamat yang memprediksi bahwa buku cetakan akan segera tersisih oleh e-book (buku elektronik). Namun prediksi mereka hanya berdasarkan fenomena sekilas. Buktinya, maraknya perkembangan dunia maya justru lebih menguntungkan  bagi dunia perbukuan. Semua orang bisa membuat blog atau fortal yang memuat konten seputar buku, baik membedah, mengupas, mendiskusikan isi buku, maupun menjual buku via internet. Jadi, dunia maya dan buku cetak sama-sekali tidak bermusuhan, bahkan bisa menjadi partner dalam meningkatkan minat baca masyarakat. Keduanya memiliki kelemahan dan kelebihan masing-masing, saling melengkapi, seperti halnya sepasang kekasih yang selalu saja ada kekurangan disamping kelebihannya.

Contoh nyata kelemahan file komputer adalah sangat rentan oleh serangan virus. Jangan lupa, perkembangan virus komputer pun semakin pesat dan ganas. Dengan sekali “klik” saja, maka semua file di komputer bisa menjadi hilang atau rusak. Buku cetak cenderung lebih aman, karena sulit ditembus virus. Namun Buku cetak pun bisa rusak atau hilang jika dicuri, kebakaran, kebanjiran, atau dimakan rinyuh.  Nah, untuk menghindari virus, pencuri, kebakaran, kebanjiran, dan rinyuh, pelajarilah ilmunya dalam buku-buku. Menurut sahabat saya, Dadan Sutisna, anti virus yang paling mujarab adalah: ilmu pengetahuan  tentang komputer. Jadi, kembali lagi kepada ilmu; kembali lagi kepada buku; dan mari berburu ilmu lewat buku!***


Kaki Gunung Manglayang, 21 Januari 2009

Comments
0 Comments

0 komentar: