Suatu Hari di Bulan Maret 2007 - Catatan Seorang Penyiar Radio




Catatan DHIPA GALUH PURBA
(2007)


MULANYA saya agak pesimis untuk menjadi seorang penyiar radio. hal itu dikarenakan begitu maraknya perkembangan televisi swasta di Indonesia yang menyuguhkan acara-acara interaktif yang menarik. Saya sempat bertanya-tanya, apakah masih ada pendengar radio di zaman ini? 

Jawabannya ternyata tetap ada dan sangat banyak. Tentu, jawaban itu saya temukan setelah saya menjalani langsung bersuara di jomantara. 

Saya sangat menikmati profesi penyiar radio, dan semakin yakin bahwa ada masyarakat yang mendengar suara saya dengan segala kekurangan dan kelemahannya. 

Alhamdulillah, dengan menjadi seorang penyiar radio, saya mendapat banyak saudara, meski sebagian besar hanya saling mengenali di frekuensi. Tentu, saya membiarkan hal itu, dengan cara tidak berusaha menemui para pendengar, kecuali pada saat-saat tertentu. 

Saya ingin membiarkan para pendengar untuk memainkan imajinasinya tentang suara saya, tanpa harus bertemu muka dengan saya. Kalaupun ada pertemuan, saya biarkan pertemuan itu terjadi seperti air yang mengalir, karena jika sudah waktunya bertemu ya pasti bertemu juga. Pertemuan antara suara dengan suara, ternyata terasa lebih indah. 

Namun tidak demikian jika ada pendengar yang sakit. Saya selalu berusaha mencari alamatnya, dan menengoknya. Oleh karena itu, pertemuan itu selalu ada. Tidak selamanya saya selalu menghindar dari pertemuan. Dalam berbagai kesempatan, saya pun akhirnya berjumpa langsung dengan para pendengar. 

Selama siaran di radio, saya pernah dikejar-kejar oleh beberapa pendengar wanita. Diantaranya ada yang mengajak saya untuk umroh ke tanah suci (syaratnya saya harus menikah dengannya), ada yang mau ngasih rumah, ada yang mau ngasih sepeda motor, dan sebagainya. 

Jujur saja, saya sangat butuh rumah atau sepeda motor, tetapi saya tidak mampu melakukan persyaratannya. Jadi, semuanya tidak saya dapatkan. Beberapa kawan pernah menyindir-nyindir saya sebagai orang yang terlalu ja-im, sombong, dan sebagainya. 

Tapi… saya tidak peduli. Yang pasti, itulah sikap saya. Saya ingin menjadi orang kaya. Oleh karena itu, saya harus belajar menjadi orang kaya. Saya yakin, belajar menjadi orang kaya adalah lebih banyak memberi daripada menerima. Jika saya pelit dan selalu ingin diberi, maka saya sedang belajar menjadi orang miskin.

Suatu hari di Bulan Maret 2007, ketika saya sedang siaran di Radio Antassalam FM Bandung, saya menerima telepon dari seorang ibu bersuara serak, yang saya taksir usianya sekitar 60 tahun lebih. 

Sebut saja namanya Ambu. Ambu mengatakan bahwa sudah cukup lama menyimak acara yang saya asuh. Dan selanjutnya, setelah menyimak berbulan-bulan, barulah Ambu tertarik untuk menelpon dan berbincang-bincang dengan saya di radio. Selain itu, Ambu pun sangat mengharapkan kedatangan saya ke rumahnya, di Komplek Tirtawening, Cilengkrang 1, Cibiru, Bandung.

Seperti biasa, saya tidak memenuhi undangan dari pendengar radio. Namun setelah berkali-kali Ambu mengontak saya, akhirnya saya mau menurut. Masalahnya, Ambu mengatakan bahwa beliau sedang sakit, dan sebelum meninggal mau bertemu dulu dengan saya. 

Tentu saja saya kaget, dan keesokan harinya saya menemui Ambu ke rumahnya. Saya percaya kepada Ambu, karena hampir setiap siaran, Ambu selalu menelpon dan menanggapi tema yang saya bahas, dengan memperlihatkan cara berpikir yang rapi.

Saya yakin Ambu adalah seorang yang berwawasan luas. Yang lebih penting lagi, saya percaya kalau Ambu sangat mencintai seni budaya Sunda.

Ambu memang sudah sepuh dan benar-benar ingin bersilaturahmi. Nama aslinya adalah Hj. Tuti Wiartiningsih (l. Bandung, 1 Januari 1934). 

Sehari-harinya memang lebih dikenal Ambu. Beliau adalah pensiunan dosen di Sekolah Guru Pendidikan Luar Biasa (SGPLB). Ambu tidak mempunyai anak kandung, tetapi punya beberapa orang anak angkat. Suaminya telah lebih dulu dipanggil Yang Maha Kuasa.

Saya disambut dengan ramah oleh Ambu dan anak-anak angkatnya. Saya sangat terharu mendapat perlakuan istimewa, yang penuh kasih sayang, tampak tulus, dan bergembira. 

Dan saya benar-benar kaget ketika Ambu mengatakan bahwa ia telah menyiapkan uang sebesar Rp 5.000.000,- untuk saya. “Ambu tidak punya apa-apa. Tapi Ambu punya simpanan uang 5 juta, mudah-mudahan bermanfaat…” demikian kata Ambu. 

“Ambu, mohon maaf yang sebesar-besarnya, dan bukan berarti saya menolak rezeki. Namun, saya tidak biasa menerima uang yang bukan hasil keringat saya. Lebih baik, uang Ambu diberikan kepada orang yang lebih membutuhkan…” jawab saya. 

Memang, sejujurnya saya sedang butuh uang untuk bayar kost dan tunggakan uang bayaran ke kampus. Tapi… saya benar-benar tidak berani menerima uang itu. 

Bagi saya, uang Rp 5 juta itu jumlahnya sangat besar. Saya butuh waktu berbulan-bulan untuk bisa mengumpulkan uang Rp 5 juta.

Ambu termenung beberapa saat. Kemudian berkata lagi, “Kalau begitu, sumbangkan saja sebagian ke Majalah Bina Da’wah dan Cupumanik. Orang tua Ambu dulu sangat suka dengan Majalah Bina Da’wah…” begitu kata Ambu.  

Selanjutnya saya berikan kepada Majalah Bina Da’wah dan Majalah Cupumanik.***

0/Post a Comment/Comments

Previous Post Next Post