Kamis, 23 Januari 2020

Obor Tahun Baru dan Lama

Oleh DHIPA GALUH PURBA

Foto: Agus Bebeng Hadyana



HUJAN rintik di malam Sabtu, sekitar jam 20.00 WIB, di Jalan Terusan Buahbatu, Bandung. Air hujan seakan sedang bersahabat dengan api, karena ratusan batang obor yang dipegang erat oleh rombongan jama’ah Masjid Al-Ikhlas tetap menyala (19/01). Mereka berjalan dengan tenang sambil mengumandangkan pujian atas kebesaran Alloh SWT.

Helaran (iring-iringan/ pawai) obor tersebut merupakan salah satu cara umat Islam dalam menyambut tahun baru 1 Muharam 1428 Hijriyah. Selain di Buahbatu, helaran obor pun berlangsung di sejumlah tempat lainnya. Tentu bukan sekedar helaran yang hampa makna, karena terdapat banyak sisi yang bisa diselami.
         
   Dengan digelarnya helaran obor berarti telah mengadakan silaturahmi, sekaligus syi’ar Islam. Berjalan beriringan, merapatkan barisan, mempererat tali persaudaraan. Memang saat ini di kota Bandung tidak lagi memerlukan obor sebagai alat penerangan. Namun kita juga tidak boleh melupakan bahwa sebelum ada listrik, obor merupakan salah satu media andalan untuk menaklukan kegelapan. Terang selalu berlawanan dengan gelap. Sedangkan berjalan dalam kegelapan pinasti akan menelusuri jalan yang tidak terarah dan tersesat. Oleh karena itu, manusia memerlukan “obor” dalam menempuh kehidupan, agar langkah tidak menjadi salah.

            Nyala api juga sering diumpamakan sebagai semangat yang bergelora. Sepanjang hidup, manusia dituntut untuk selalu bersemangat dalam menghadapi apapun yang terjadi. Bersemangat bisa berarti optimis, atau tidak menjadi orang yang pesimis. Biasanya, orang optimis adalah orang yang merasa yakin arah jalan yang akan dilaluinya. Orang yang bersemangat hanyalah orang yang memiliki tujuan atau cita-cita dalam hidupnya. Sepanjang hidupnya akan ia gunakan untuk meraih cita-cita tersebut. Cita-cita duniawi boleh berbeda namanya. Namun inti dari cita-cita manusia yang telah mendapat petunjuk, tiada lain adalah mengharap rido-Nya, demi mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

Bagi orang Sunda, obor adalah simbol persaudaran. Ada sebuah peribahasa Sunda yang berbunyi “Pareumeun obor” (Terpadam nyala obor), yang artinya kehilangan petunjuk mengenai hubungan dengan nenek-moyang atau kerabatnya sendiri. Ketika ada orang tua yang mengingatkan agar ulah pareumeun obor (jangan sampai terpadam nyala obor), tentu saja maksudnya adalah agar menjaga tali persaudaran, sekaligus mencari kembali yang hampir atau bahkan telah terlupakan. Obor dipilih sebagai simbol persaudaraan, karena terbuat dari bambu. Di tanah Sunda, pohon bambu tumbuh sadapuran (serumpun).

Salah satu penyebab pareumeun obor adalah atah anjang (tidak suka atau jarang bersilaturahmi). Tidak ada peribahasa atau babasan asak anjang, meski lawan atah adalah asak. Hal ini menegaskan akan pentinya silaturahmi. Sebab, kalau saja ada asak anjang, berarti ada pula satengah mateng anjang. Sedangkan silaturahmi tidak mungkin dengan setengah hati.

Di pedesaan, silih anjangan antara kerabat atau tetangga masih menjadi tradisi yang terpelihara. Berbeda dengan di kota besar, atmosfir kehidupan yang penuh dengan kesibukan, mengakibatkan sebagian masyarakatnya semakin melupakan betapa pentingnya makna silaturahmi. Mereka sibuk dengan urusannya masing-masing, sehingga hampir tidak tersedia waktu untuk bersilaturahmi. Bahkan tidak sedikit pula di antaranya yang sama sekali tidak mengenali tetangga sebelah rumahnya.

Atah warah juga bisa menjadi penyebab pareumeun obor. Seorang yang atah warah (tidak terdidik atau kurang mendapatkan didikan) tentunya tidak akan menganggap penting akan makna silaturahmi. Berarti tidak menganggap penting pula pada indahnya persaudaraan. Lebih jauhnya, tidak akan tertarik untuk mengenali nenek-moyangnya, apalagi mengenali agama atau budayanya.dekat pada akhir cerita dunia.  Itulah sebabnya, menyongsong tahun baru mestinya bukan dengan cara berjingkrak sambil berteriak, kebut-kebutan di jalan raya, apalagi main-main dengan narkoba. Tahun baru merupakan momentum untuk muhasabah dan mengukir do’a kepada Sang Maha Penguasa, yang sangat berkuasa untuk menghentikan tahun.


Dari helaran obor, ada simbol tuntunan, semangat, dan pesan persaudaraan. Selain itu, tampak juga suatu perbandingan radikal antara obor dan listrik yang berfungsi sebagai alat penerangan. Obor sebagai tahun-tahun lama, dan listrik sebagai tahun baru. Bukankah ini juga sebagai peringatan dari suatu peringatan?

Saat tahun baru tiba, sebenarnya tahun semakin lama. Usia dunia kian tua. Semakin baru, dunia semakin tua, dan semakin dekat pada akhir cerita dunia.  Itulah sebabnya, menyongsong tahun baru mestinya bukan dengan cara berjingkrak sambil berteriak, kebut-kebutan di jalan raya, apalagi main-main dengan narkoba. Tahun baru merupakan momentum untuk muhasabah dan mengukir do’a kepada Sang Maha Penguasa, yang sangat berkuasa untuk menghentikan tahun.***

Bandung, 18 Desember 2009
Comments
0 Comments

0 komentar: