Minggu, 26 Januari 2020

Sepanjang Jalan Sandiwara


Oleh DHIPA GALUH PURBA

SEORANG anggota Reserse Kriminal Polda Jabar mencari-cari saya. Tentu saja terkejut, karena saya tidak merasa melakukan perbuatan yang melanggar hukum. Tetapi sungguh di luar dugaan, sebab ia bukan mau menangkap saya, melainkan hanya meminta informasi mengenai pertunjukan Sandiwara Sunda Gogonjakan (Sasagon). Sudah cukup lama ia menjadi fans berat Sasagon, hampir tidak pernah terlewatkan menonton di layar kaca. Dan ia sangat berharap untuk menyaksikan secara langsung di Gedung Kesenian Rumentang Siang (GKRS), Bandung.

“Karcisnya mahal, Pak,” ucap saya, untuk memastikan keseriusannya. Padahal saya sangat tahu, nonton langsung di GKRS kalau tidak salah tanpa pungutan tiket.

“Berapa pun karcisnya, akan saya bayar…” rupanya ia memang benar-benar tertarik mau nonton Sasagon, di tengah kesibukannya mengungkap berbagai kasus kriminal. Maka, saya pun mengajaknya menonton sasagon ke Gedung Kesenian Rumentangsiang, Jl. Baranang Siang No. 1, Kosambi, Bandung.

Antusias masyarakat terhadap pertunjukan Sasagon tampaknya cukup menggembirakan. Setiap kali Sasagon manggung—sekaligus proses shooting—ruangan GKRS selalu dipadati penonton. Bahkan ada yang rela berdiri, karena tidak kebagian kursi.

            Kehadiran Sasagon merupakan terobosan baru yang sanggup mendobrak kebekuan Sandiwara Sunda selama ini. Sasagon lahir pada saat masyarakat sudah terpukau oleh berbagai pintonan di layar kaca. Ia harus bersaing ketat dengan acara-acara menarik lainnya yang dipidangkeun televisi. Dan ternyata Sasagon berhasil menyedot perhatian pemirsa, dengan daya tarik tersendiri. Jutaan orang menertawakan Sasagon.

            Menurut hemat saya, ada tiga hal yang mendongkrak kesuksesan Sasagon. Yakni kemasan, personil, dan rutinitasnya. Ketiganya saling berkaitan dan saling mendukung satu sama lainnya.

            Kemasan Sasagon yang ngindung ka waktu, ngabapa ka jaman, sangat “pas” dengan “trend” tontonan zaman sekarang. Tanpa harus kehilangan identitas kesundaan, Sasagon tampil dengan konsep banyolan segar yang penuh kritikan sosial; mudah dimengerti; menggelitik; mengundang tawa.

            Masyarakat di “Nagara Sasagon” dituntut untuk memiliki kemampuan ber-improvisasi (dialog atau adegan sepontan). Artinya para pemain Sasagon harus cerdas, sebab tidak semua aktor memiliki kemampuan ber-improvisasi. Saya yakin, konsep ceritanya sudah di-plot dengan matang. Namun dialog dan pengadegannya sarat dengan improvisasi. Bahkan hampir setiap manggung, selalu saja ada hal menarik yang justru ke luar dari skenario—diakui dalam dialog aktornya.

            Kehadiran pemain sasagon yang sudah dikenal masyarakat, menjadi daya tarik tersendiri. Sebut saja Asep Taruna atau Dadan Sunandar, yang dikenal sebagai dalang wayang golek. Masyarakat pun semakin akrab dengan wajah Deni “Pohang”, Dadang “Daus” Usman, Popon Tembem, Anton, Jenong, dan sebagainya. Aktor sasagon telah berhasil membangun karakternya masing-masing.

            Kata orang tua di kampung saya, lamun hayang matih, kudu matuh. Hal itu terbukti juga pada proses perjalanan Sasagon, yang  menjalankan rutinitas pergelarannya secara konsisten. Peran TVRI Jabar dan Banten, sangat besar dalam memperkenalkan Sasagon. Logikanya, jika di GKRS hanya disaksikan ratusan penonton, maka pemirsa televisi bisa mencapai jutaan orang. Saat ini, tayangan Sasagon sudah menjadi tontonan favorit masyarakat Sunda, baik di kota atau pedesaan. Kang Daus harus bersiap-siap dikerubuti fans Sasagon, kalau suatu saat misalnya berkunjung ke kampung saya.

**




BEBERAPA waktu yang lalu, saya membaca sebuah kolom Holisoh M.E yang berjudul “Ka mana Sandiwara Sunda?”, dimuat pada sebuah majalah Sunda. Isinya cukup mengejutkan, karena semacam “curhat” kerinduannya terhadap Sandiwara Sunda (SS).

Ternyata ia seorang maniak SS sejak usianya masih remaja. Sekitar tahun 1964, Holisoh—saya memanggilnya Ceu Olis—suka menonton SS di daerah Dangdeur. Bahkan pait-peuheur nonton SS pernah dialami Ceu Olis. Beliau yang saat itu tinggal di Cileunyi, harus main “kucing-kucingan” dengan orang tuanya, setiap kali mau nonton SS. Sebab, kalau pun minta izin, pasti tidak akan dijurungkeun (maklum saat itu Ceu Olis masih perawan).

Pada saat pulang nonton SS, Ceu Olis juga harus ngadedeluk menunggu  oplet. Ia tidak berani jalan kaki, karena  zaman dulu, sepanjang Jalan Rancaekek-Cileunyi sangat pikakeueungeun. Jauh berbeda dengan keadaan zaman sekarang.

 Lamun entas lalajo sandiwara, peutingna Teteh sok ngalamun bari ngabayangkeun jadi putri saperti anu geus dilalajoanan tea; bajuna hurung-herang, mastaka make makuta emas, buuk panjang pinuh ke kembang sedep malem. Mapah andalemi kalayan nyaritana oge ancad laer, ngagedengkeun raja nu kasep tur gagah…” begitu di antara isi tulisan Ceu Olis.

Kolom Ceu Olis sepertinya akan lebih apdol jika ditujukan kepada Wa Kabul, Yayat Ras, Edeng Kertapriatna, Aji Kurnia, Maman "Esex" Sutarman, atau Dadang Reza. Kendati demikian, tulisan Ceu Olis membuka kembali memori saya tahun 1999, saat masih aktif di Paguyuban Sandiwara Sunda Bandung (PSSB).

Saat itu PSSB terdiri dari SS; Ringkang Gumiwang, Dewi Murni, Sri Murni, dan Victa. Saya sendiri bergabung  dengan Ringkang Gumiwang. Kehidupan SS sangat memprihatinkan, jauh berbeda dengan ilustrasi SS zaman Ceu Olis.  Hampir setiap malam Minggu, SS digelar di GKRS. Lakon yang disuguhkan memang hampir mirip dengan SS zaman Ceu Olis, seputar cerita klasik atau pawayangan. Saperti “Jaka Sundang”, “Jabang Tutuka”, “Hanoman Trigangga”, “Palagan Galuh”, “Lutung Kasarung”, “Srikandi Kawisaya”, “Aji Setra Geni”, dsb. Namun hampir setiap pergelaran, peminatnya bisa dihitung dengan jari.

Memang PSSB juga pernah ikhtiar untuk mendatangkan penonton dari berbagai sekolahan. Beberapa kali GKRS dipadati para siswa yang menonton pertunjukan SS. Terlepas dari campur tangan para guru, usaha tersebut memang cukup efektif. Terutama untuk memperkenalkan serta melatih afresiasi siswa terhadap SS. Namun entah kenapa tradisi itu tiba-tiba terputus.

PSSB juga pernah memperkenalkan SS melalui layar kaca TVRI Bandung. Sayang sekali, SS tidak konsisten menjaga rutinitas tayangannya. Tentunya tidak akan matih, karena tidak matuh.

Apa yang diceritakan Ceu Olis, tidak jauh berbeda dengan pengalaman Aan Merdeka Permana (Pengarang Sunda).  Seandainya dulu Ceu Olis bertemu dengan Kang Aan, tentu akan menjadi balad nongton SS.

Aan Merdeka—saya memanggilnya Kang Aan—ngalanggan nonton SS di Liberty, Cahaya, Taman Gumbira, Bioskop Tripoli, dsb. Menurut Kang Aan,  saat itu grup SS yang paling beken adalah Sri Murni. Bahkan ada anggapan, Sri Murni merupakan tontonan kelas elit, karena karcisnya agak mahal. Meski mahal, Kang Aan tetap menonton, karena sudah kabungbulengan SS. Selain Sri Murni, Kang Aan juga suka nonton SS Miss Euis Muda, Sriwedari, dsb.

SS Sri Murni sangat populer, karena didukung oleh para pemain yang “berkaliber”. Contohna Kang Usman suargi, yang pernah menjadi juara ibing satatar Sunda. Banyak penonton yang tergila-gila oleh Kang Usman, karena selalu memerankan  tokoh satria (dalam lakon roman) atau jadi tokoh Arjuna (dalam cerita pewayangan). Tidak jauh berbeda dengan Kang Aman, yang menjadi idola dalam SS Miss Euis Muda.
        
    Dari penuturan Ceu Olis dan Kang Aan,  bisa kapaluruh bahwa  lakon SS yang sering  dipentaskan  berkisar babad, pewayangan, dezig, dan roman. Cerita Misteri merupakan tontonan favorit, seperti “Beranak dalam Kubur”, “Mistéri Kain Kapan”, “Si Manis Jembatan Ancol”, “Kuntilanak Waru Doyong”, “Jembatan Sirotol Mustaqim”, dsb.

            Jika Ceu Olis suka mengumbar imajinasi  menjadi putri atau permaisuri, maka Kang Aan bukan lagi mengkhayal. Kang Aan dan kawan-kawan suka mempraktikkannya langsung dalam kaulinan barudak sasandiwaraan. Kang Aan dan teman bermainnya, selalu berebutan untuk memerankan tokoh satria atau Arjuna, seperti Kang Usman atau Kang Aman.

            Sandiwara Cirebon dan Sandiwara Indramayu juga pernah mengalami puncak kejayaan di masa lalu (Ganjar Kurnia & Arthur S Nalan, “Deskripsi Kesenian Jawa Barat”, Disbudpar Jabar & PDP Unpad, 2003). Sandiwara Cirebon yang lebih dikenal dengan “masres” berjaya pada tahun 1970-an. Hampir di setiap desa atau kecamatan, bisa dipastikan terdapat kelompok sandiwara. Biasanya Sandiwara Cirebon dipergelarkan untuk memeriahkan upacara perkawinan, khitanan, kaul, dan lain-lain.

            Sebagaimana yang dituturkan dalam “Deskripsi Kesenian Jawa Barat”, perkembangan sandiwara Indramayu tidak terlepas dari perkembangan ketoprak dan SS Cirebon, sekitar tahun 1950-an. Beberapa grup sandiwara Indramayu yang dikenal, di antaranya Darma Saputra, Aneka Tunggal, Gema Nusantara, Sang Putra Darma, Panca Tunggal, dan lain-lain.

**
BEBERAPA waktu yang lalu, saya juga sempat mengunjungi Gedung Kesenian Miss Tjitjih, yang terletak di Jln. Cempaka Baru IV, Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Sengaja memilih malam Minggu, supaya bisa menyaksikan pergelaran SS .

Saya terkagum-kagum ketika pertama kali memasuki halaman Gedung Miss Tjitjih.. Bangunan megah tersebut didirikan di atas tanah seluas  4000 m2, terdiri dari  bangunan dua lantai, dengan panggung seluas 15 x 4 M2, kursi lipat penonton berjumlah sekitar 234. Lengkap dengan fasilitas lainnya, seperti kamar rias, toilet, dsb.  Di belakang gedung kesenian, dibangun juga asrama yang berjumlah 20 kamar, rata-rata berukuran 5 x 4 M2.  Gedung kesenian yang menghabiskan dana Rp 14 miliar tersebut, diresmikan oleh Presiden (saat itu Megawati Soekarnoputri), tanggal 26 Maret 2004.

Malam Minggu yang cerah itu, Miss Tjitjih menggelar  lakon SS “Setan Kridit”.  Penontonnya tidak sampai limapuluh orang. Meskipun karcisnya hanya  Rp 10.000,-, tetapi masyarakat sekitar tampaknya tidak begitu tertarik pada SS Miss Tjitjih. Saya pikir wajar, karena gedung kesenian tersebut berdiri di lingkungan masarakat Jakarta. Namun, apakah penontonnya akan membludak, jika berdiri di Jawa Barat? Belum tentu juga.

Ada banyak hal yang perlu  dibebenah (lagi) oleh Miss Tjitjih. Di antaranya masalah publikasi dan pengemasan. Meskipun Miss Tjitjih sudah memiliki ciri khas yang populer sekitar tahun 1920-1970, tetapi zaman sekarang  belum menemukan pola yang “pas” untuk menarik perhatian masyarakat.

Selanjutnya Miss Tjitjih telah berikhtiar  dengan mengundang nonoman jebolan STSI Bandung, Hendra Permana alias Oding, yang  dikenal sebagai personil Longser Antar Pulau. Namun masalah publikasi belum digarap secara serius. Setiap Miss Tjitjih mau manggung, masih mengandalkan cara yang konvensional, yaitu menggunakan “halow-halow”, seperti pada zaman Ceu Olis masih perawan.

Tidak adil jika membandingkan penonton SS zaman dulu dengan zaman sekarang. Sebab, dulu belum marak televisi swasta. Adapun tontonan TVRI sangat monoton dan kurang menarik. Tentu masyarakat akan mencari hiburan yang lebih menarik untuk ditonton.

Berbeda dengan zaman sekarang, disaat televisi berlomba-lomba menyuguhkan kemasan acara yang mempesona. Masyarakat  lebih memilih berbagai tontonan praktis;  gratis dan tidak usah ke luar rumah. Sangat wajar jika peminat SS berkurang. Kini SS—meminjam istilah Yayat Hendayana—tidak lagi menjadi boga lalakon.

Lantas kenapa tiba-tiba Ceu Olis merindukan SS masa lalu? Saya yakin, bukan hanya Ceu Olis dan Kang Aan, yang memiliki nostalgia sandiwara Sunda. Namun yang lebih penting, saya pikir jangan-jangan kerinduan Ceu Olis itu kahudang setelah menyaksikan pintonan Sasagon.***

Bandung, 2005

Comments
0 Comments

0 komentar: